Reborn To Tiger Demon

Reborn To Tiger Demon
Anming Gak Sengaja Menciptakan Longsor Salju Dashyat



\~\~\~\~****\~\~\~\~


Shanni minum teh dengan tenang sambil membaca gulungan tua. Dia duduk di depan meja kerja yang terbuat dari kayu merah kokoh dengan ukiran naga. Dalam ruangan yang sama, terdapat puluhan lebih rak buku yang berjejer di tembok. Ada perapian yang menyala untuk menghangatkan ruangan serta lukisan dan patung hiasan diatas meja hias.


Tiba – tiba seseorang membuka pintu besar ruangan itu.


“Shanni?” Panggil Anming.


Shanni menatap pria dewasa itu sejenak dan menaruh cangkir tehnya yang terbuat dari jade. “Aku kaget kamu bisa menemukanku disini.”


Anming menatap Shanni dengan serius. “Tanpa sebab yang jelas aku mencium bau obat dari arah sini yang ku ingat itu adalah baumu.” Ujarnya.


“Oh, lalu kenapa kau mencariku?”


Anming kelihatan ragu, tapi dia bertanya. “Apa yang terjadi padaku? Ini bukan diriku yang seharusnya. Wajahku memang sama seperti sebelumnya, tapi rambut, bola mata, telinga—”


“Kekuatan supermu bertambah?” potong Shanni.


Anming mengkerutkan alis. “Kau tahu darimana?”


“Aku sering mendengar namamu diantara para pedagang di kota Binglin, Pangeran Ming dari Zhou yang diberkahi oleh kekuatan super yang dashyat.”


Anming tersipu malu karena namanya cukup dikenal di kota terpinggir seperti Binglin.


“Tapi tentang apa yang terjadi padamu, aku hanya bisa menyimpulkan kalau kamu sebenarnya menolak untuk mati dan kamu dimakan oleh para harimau itu. Tanpa sengaja jiwa kalian terkoneksi dan menjadi satu, yang akhirnya mengubahmu menjadi siluman harimau.”


Mata Anming berubah penuh teror “Jadi aku beneran siluman?” gumamnya. Ia memegang kepalanya penuh ketakutan. “Ini gak masuk akal! Aku ini pangeran dari Zhou, bagaimana bisa aku menjadi siluman setelah mati?!”


Shanni tersenyum sinis sambil menyangga kepalanya pada telapak tangan.


“Lalu kau berharap jadi apa? Dewa Langit?” ejek Shanni,


Anming menatap Shanni dengan wajah yang pucat. “Kau berbohong kan?”


Shanni mengkerutkan dahi dan menatap Anming dengan sinis “wajahku kelihatan seperti orang yang suka berbohong?” geramnya.


Melihat ekspresi itu, Anming langsung menggigil ketakutan. Dia sendiri bingung kenapa dia merasa takut dan terintimidasi oleh Shanni. ‘Aku ketakutan?’ gumam Anming dalam hati. ‘Ini mustahil, aku Zhou Anming, jenderal perang yang telah berperang sejak berumur 16 tahun, yang tidak pernah takut oleh apapun bahkan oleh Harimau. Tapi sekarang aku takut oleh seorang wanita?’


“Anggap saja ini adalah hukuman karena nenek moyangmu sering menggunakan atas nama Kerajaan Langit untuk menghukum orang – orang yang tidak bersalah.” Ujar Shanni. Ia meminum tehnya lagi dengan tenang lalu kembali menulis diatas kertas.


Anming mendengarkan Shanni, tapi karena ia menyebut nenek moyang, Anming teringat oleh keluarganya. “Aku harus kembali.” ujarnya.


Shanni berhenti menulis dan menatap Anming. “Apa kau bilang?” sahutnya.


Anming mengulanginya dengan mata berkaca – kaca. “Aku harus kembali, ini bukan tempatku.” katanya.


Anming langsung balik badan ke arah pintu, tapi Shanni menutup pintu itu rapat – rapat dengan kekuatanya. “Kau pikir aku akan setuju begitu saja?” geram Shanni. “Apa kau kira orang – orang bisa menerimamu yang sekarang?”


Anming menatap Shanni penuh harap “Aku adalah Pangeran Ming dari Zhou,” katanya. “Aku jenderal pasukan yang hidup dan matiku hanya—”


“Jangan lupaa diri, kau sekarang adalah Siluman Harimau! Musuh dari semua biksu dan masyarakat!” potong Shanni.


Anming menitihkan airmata dan hatinya masih menolak kenyataan itu. “Aku gak percaya ucapanmu!” geramnya. Ia berlari dan lalu mendobrak pintu hingga rusak.


BRAKKK!!!!


Shanni terkesiap kaget “Orang ini!” geramnya. Ia berlari mengejar sambil membawa seruling bambu yang ada di atas meja.


\~\~**\~\~


Sementara itu Anming yang sudah ada di luar berlari dengan segenap kekuatanya. Ia menerjang tumpukkan salju yang tinggi dan melompati beberapa tembok pagar kediaman. Di depan ia melihat 5 ekor siluman kelinci dan Anming yang buru – buru langsung menerjang mereka.


“Kyaaa!!!” pekik para siluman kelinci.


“Maaf!” teriak Anming ketika sudah jauh.


Matanya terus tertuju pada jalan di depanya. ‘Apapun yang terjadi, aku harus pulang, aku harus kembali ke istana dan bertemu dengan yang lain.’ ujarnya dalam hati.


Tapi tiba – tiba saja 5 ekor siluman berwujud anak perempuan muncul menghadang Anming. Mereka masing – masing memiliki sepasang telinga kucing hitam dan mengkalungkan lonceng di leher mereka. Setelan hanfu mereka terlihat sedikit berbeda dengan hanfu biasaya, dimana lebih menunjukkan pergelangan tangan dan kuku mereka yang berwarna hitam dan panjang sekali.


“Zhou Anming, jika kau tidak berhenti sekarang juga, kami akan menghentikanmu dengan paksa.” Ujar kelima siluman itu.


Anming tidak mendengarkan teguran mereka dan malah menambah kecepatan larinya. Kelima siluman kucing itu dengan kompak menjulurkan kedua tanganya kedepan dan menciptakan 5 buah bola energi dari masing – masing.


Anming terpaku di tempat “A-Apa itu?” gumamnya keheranan.


5 bola itu lepas dan menerjang ke arah Anming. Pria itu mengubah arah larinya kesamping dengan cepat dan menghindari serangan itu. Ia lalu berlari memutari 5 siluman kucing itu dan melompati pagar kuil yang tinggi. Tapi 5 siluman itu tidak menyerah dan mengejar Anming dengan kecepatan mereka.


“Peringatan kedua, Zhou Anming, jika kau tidak berhenti berlari sekarang juga, kami akan menghentikanmu secara paksa.” Ujar mereka kompak.


Anming menambah kecepatanya ketika akan melewati bukit. Tapi dibelakang, 2 siluman kucing menyiapkan serangan dan kali ini mereka mengarahkanya ke tebing yang akan Anming lewati.


BLAST!


Bola energi itu menerjang ke arah dinding salju dan menjatuhkan bebatuan. Anming membelalak kaget dan seketika berhenti berlari. Ia menatap jalan setapak bukit itu yang akhirnya tertimbun salju.


‘Oh tidak.’ ujar Anming dalam hati.


Ia menoleh kebelakang dan melihat 5 siluman kucing sudah sampai di tempatnya.


“Peringatan ketiga, Zhou Anming, Jika kau tidak berhenti berlari sekarang juga, kami akan Langsung Mengeksekusimu.” Ujar 5 siluman kucing itu.


Wajah Anming berubah horor. “Eksekusi?” ujarnya, “Aku hanya ingin pulang ke rumahku, apakah itu salah?” serunya.


“Hidup dan Mati telah di tentukan, dirimu yang dulu dan yang sekarang telah berbeda.” Ujar 5 siluman kucing itu dengan kompak, “Siluman yang tinggal bersama manusia hanya akan membawa malapetaka bagi kedua belah pihak. Kembali ke kuil Jinlong adalah pilihan terbaik.”


Anming mengatur nafas. Hatinya di penuhi oleh kemarahan dan ia tidak bisa menerima takdir seperti itu. Tapi di benaknya, ia hanya memikirkan ‘Aku Harus Pulang Ke Rumah.’


Ia menatap para siluman dengan penuh kemarahan.


“Aku Hanya Ingin Pulang Ke Rumahku!!!” pekiknya.


Suaranya menggelegar hingga tanah berguncang. 5 siluman kucing yang mengejar Anming menunduk agak ngeri seiring dengan jatuhnya salju dari tebing di sebelah mereka. Tidak lama, tumpukan salju yang ada di puncak tebing pun longsor dan Anming membelalak kaget karena baru sadar apa yang terjadi.


“AWAS!” pekik Anming.


Ia melompat dan memeluk kelima siluman kucing itu. Longsor salju pun terjadi dan menimbun mereka semua. Tapi tubuh Anming seolah seperti batu pemberat yang bahkan tidak bergeser oleh dashyatnya longsor. Anming menyadari hal itu dan dia hanya bisa terpaku di tempat.


‘bahkan teriakanku bisa mengguncang tanah dan tubuhku tidak ikut terseret oleh longsor salju.’ ujar Anming dalam hati.


5 siluman kucing yang ia lindungi mencengkram baju Anming dengan sangat kuat dan ia merasa bersalah kepada mereka. ‘ini semua karenaku, dan aku ini benar – benar sudah bukan manusia lagi.’ ujarnya dalam hati. ‘aku ini siluman.’


‘siluman yang jahat, siluman yang di benci oleh rakyatku sendiri, dan siluman yang akan diburu oleh para biksu pemburu siluman.’ ujarnya dalam hati.


Ia tidak bisa berhenti menitihkan air mata seiring dengan longsornya salju.


\~\~\~\~****\~\~\~\~


13 menit berlalu dengan lambat. Longsor telah berhenti dan menyisahkan kehancuran bagi bangunan yang ia lalui, termasuk bagian belakang kuil Jinlong. Shanni baru sampai disana karena ia ditahan oleh siluman lain yang khawatir kalau Shanni akan terluka.


“Nona Li.” Ujar WanWan.


“Mereka ditemukan?” tanya Shanni dengan nada yang menekan.


Wanwan kelihatan gugup mendengar nada suara Shanni “Sudah, pengawal pribadi anda baik – baik saja. Tapi tuan Ming masih ada di depan.” jawabnya.


Shanni diam dengan ekspresi wajah yang garang. Tanganya terkepal dengan kuat..


“Nona…” ujar 5 siluman kucing yang Anming selamatkan tadi.


Tubuh mereka kotor oleh salju, tapi mereka tidak terluka sedikitpun. Shanni merasa lega setelah melihat mereka baik – baik saja. “Bersihkan diri kalian dan istirahat, sisanya biar siluman lain yang membereskanya.”


“Baik.” jawab mereka.


Shanni berjalan pergi dan dia kelihatan marah sekali. Tapi 5 siluman kucing hanya menatapnya dan lalu menatap Anming yang mematung di depan tanah yang longsor.


Malam menjelang, bulan tidak menampakkan dirinya pada malam itu. Beberapa siluman bergotong royong menyingkirkan longsor salju dari dua sisi jalur. Nyatanya jalur tersebut menghubungkan kuil Jinlong dengan Kota dan Desa Siluman. Sehingga mereka yang tinggal di kuil dan mereka yang tinggal di desa saling bergotong royong membersihkan jalur.


TONG… TONG … TONG …


Suara lonceng kuil yang bergema pada malam hari. Para siluman yang berprofesi sebagai biksu menyanyikan syair sutera di kuil utama sebagai rangkaian dari ibadah mereka malam itu. Suaranya sampai terdengar di kamar Anming sekalipun ia tidak menggunakan telinga harimaunya yang sensitif.


Ia berbaring diatas tempat tidur beralaskan bulu domba tebal dan membelakangi pintu.


“Hari ketiga aku disini dan aku berusaha kabur.” ujar Anming dalam hati, “aku ingin lari! Aku ingin pergi dari sini! Aku ingin kembali ke Zhou!”


Ia kembali teringat oleh 5 siluman kucing yang ketakutan itu. ‘Mau bagaimanapun aku tidak bisa mengabaikan mereka berlima dan semua itu karenaku. 5 siluman itu hampir celaka karenaku dan bagian belakang kuil rusak berat karenaku. Aku sungguh menyesalinya.’ Isak Anming dalam hati, ‘Kalau aku tahu akan jadi seperti itu, aku tidak akan berteriak dan membuat tebing longsor.’


‘Aku mengelak bahwa aku siluman, dan sekarang terbukti bahwa aku memang Siluman.’


~*~


Tiba – tiba sebuah kerikil masuk ke dalam kamar Anming dan mengenai pinggangnya yang ramping. Anming merasa bingung dan ia membalikkan badan untuk menghadap pintu. Disana ia melihat 5 ekor siluman kucing yang tadi pagi ia selamatkan. Mereka menatap Anming dengan ragu, dan salah satu dari mereka membawa keranjang anyaman bambu berisi buah.


“Kalian?” ujar Anming.