Reborn To Tiger Demon

Reborn To Tiger Demon
Shanni Sang Dewi Pelindung Siluman



“Kalian?” ujar Anming setengah kaget. Ia duduk di tempat tidurnya sambil menatap mereka berlima.


5 ekor siluman kucing yang tadi pagi mengejarnya dan hampir celaka karenanya, menatap Anming dengan ragu. Salah satu dari mereka yang membawa keranjang anyaman bambu menaruhnya di atas lantai dan berucap.


“Kami bukan siluman kucing yang tidak tahu diri.” Ujarnya.


“Keranjang itu berisi buah – buahan, anggap saja sebagai rasa terimakasih.” Sambung saudarinya yang lain.


Anming terhenyak ‘Ku kira mereka selalu berucap dengan kompak, ternyata bisa juga sepenggal – sepenggal begitu.’ Gumamnya dalam hati.


Anming pun menerimanya. “Terimakasih.” Ucapnya.


“Seharunya kamu jangan lari.” Ujar salah satu dari 5 siluman itu. Anming menatapnya dan dia adalah anak yang berdiri di tengah. “Nona Li bukan dewi yang jahat, dia hanya ingin melindungi kita para siluman.”


Anming terpingkal bingung. “Nona Li? Maksudmu Shanni? Dia seorang Dewi?” Kelima siluman kucing itu menganggukkan kepala. ‘Itu sesuatu yang gak ku duga, ku kira dia sejenis siluman karena mata anehnya.’ Ujar Anming dalam hati. ‘Dewi huh? apa karena itu juga aku merasa takut tadi pagi?’


“Lalu apa maksudmu dengan melindungi para siluman?” tanya Anming lagi.


“Kamu manusia tidak tahu?” ujar salah satu dari siluman kucin g.


“Dari jaman dahulu, manusia dan siluman tidak pernah akur. Kami para siluman selalu dianggap perusak, pembunuh, pembawa bencana, malapetaka, dan itu sebabnya kami di buru dan di bunuh. Padahal gak semua dari kami seperti itu.” Kata siluman kucing yang paling kiri.


“Benar, tapi kemudian kami berdoa kepada Dewa Mofan dan dia memberitahu kami untuk pergi ke pegunungan bersalju yang ada diantara 2 negara yang saling bermusuhan dan bertemu dengan Dewi bernama Li Shanni.” Kata siluman kucing yang di sebelahnya.


“Nona melindungi kami dari para manusia yang ingin membunuh kami. Dia juga selalu mengingatkan kami untuk tidak keluar dari kuil agar para pemburu siluman dan manusia lain tidak mencelakai kami.” Lanjut siluman kucing di paling kanan.


Anming terhenyak ‘Sebenarnya gak sekali dua kali aku mendengar soal Pemburu Siluman. Jujur aku selalu bersikap apatis dengan mereka karena aku melihat mereka sebagai Fanatik keagamaan.’ Gumam Anming dalam hati. ‘Tapi melihat diriku yang sekarang dan mereka, serta beberapa orang di kuil ini yang memiliki bentuk dan rupa yang aneh, aku merasa selama ini aku begitu bodoh.’


“Tolong pikirkan ulang lagi tuan Zhou, tidak buruk untuk tinggal di kuil ini karena segala kebutuhanmu bisa tercukupi. Disini kamu juga gak akan sendirian karena hampir semua dari kami adalah siluman.” Ujar siluman kucing di tengah.


“Benar, disini juga ada festival, sekolah, rumah makan, dan lain – lain seperti kota serta desa di dunia Manusia.” Tambah siluman kucing di paling kanan.


Anming tersenyum kecil. Melihat mereka berlima menatapnya penuh harap membuatnya teringat oleh adik – adik yang sangat ia sayangi. Tapi bagaimanapun Anming juga punya keluarga dirumahnya dan dia harus pulang untuk melindungi mereka dan juga negara Zhou.


“Aku gak bisa.” kata Anming dengan lemah, “Aku punya keluarga yang menungguku dirumah, dan aku yakin mereka pasti merasa sangat sedih karena berfikir aku sudah mati.”


Kelima siluman kucing itu kelihatan kecewa dengan jawaban Anming. Tapi kemudian ia mengelus kepala mereka berlima dan mendengus.


“Aku akan tetap pulang. Aku harus memastikan keluargaku baik – baik saja dan mempertahankan benteng negeriku dari negara Meng.” Ujar Anming.


\~\~**\~\~


“Nona Li gak akan luluh walau kau bilang begitu loh.” Kata Taoshu si pria tua yang memiliki kulit seperti pohon.


Anming terkesiap kaget dan reflek berteriak. “KAKEK,” “POHON!”


5 siluman kucing menatap Taoshu dan menyapa. “Dewa Taoshu.” (Taoshu berarti Pohon Persik, jadi jika diindonesiakan berarti Dewa Pohon Persik)


Anming menoleh dengan cepat. “Dewa?!” serunya.


“Wajar kalau kamu gak kenal, aku hanya sebuah pohon persik tua yang tinggal di tengah kota siluman.” Taoshu mengetuk dada bidang Anming dengan senyum licik “Heh, aku penggemarmu, aku melihatmu membuat longsor di lokasi penyeberangan dan membuat Nona Li marah besar loh.”


Wajah Anming berubah pucat dan ia teringat oleh wajah seram Shanni ketika marah. ‘Ohya, aku sampai lupa kalau aku merusak kuilnya.’ Gumam Anming dalam hati. ‘D-dia pasti marah banget denganku.’


“Nona Li orang yang terpelajar dan lebih sering berfikir logis. Orang lembek sepertimu akan sulit untuk menaklukkannya.” Ujar Taoshu dengan senyum liciknya. “Kalau kau mau keluar dari kuil ini, aku menyarankanmu untuk membuat perjanjian dengan nona Li.” Ujar Taoshu.


“Perjanjian?” ulang Anming dengan bingung.


“Iya perjanjian.” Jawab Taoshu sambil menumbuhkan kursi dari batang pohon untuk dia duduk. “Contohnya seperti, jika nona Li membiarkanmu keluar dari kuil dalam waktu tertentu kamu berjanji akan tinggal selamanya dikuil ini dan tidak akan pernah berurusan dengan kehidupan manusia lagi.”


Anming diam berfikir ‘Perjanjian semacam itu kenapa gak kupikirkan saja dari awal?’


Dewa Taoshu menyangga dagunya diatas tongkat kayunya. “Tapi aku gak bisa jamin dia akan setuju ya, karena bagaimanapun membiarkan siluman berada di dunia manusia bisa mencelakai kedua belah pihak.” “Apalagi kamu siluman harimau yang baru lahir.”


Anming terpingkal bingung “Memang apa yang akan terjadi kalau aku baru lahir menjadi siluman?” tanyanya.


“Biasanya siluman buas seperti Harimau yang baru lahir memiliki nafsu memakan daging manusia yang tinggi apalagi ketika lapar.” Jawab siluman kucing yang ada di tengah.


“Mereka juga memiliki Aura, Energi, dan juga Kekuatan yang sangat besar.” Tambah siluman kucing yang ada di sebelah kirinya.


“Dan mereka juga sulit mengendalikan emosi dan kekuatanya!” Tambah siluman kucing yang ada di sebelah kanan dari tengah.


Ucapan ketiga siluman kucing itu membuat Anming teringat oleh beberapa kejadian yang ia alami 2 hari terakhir. Seperti kendi madu dan ucapan Shanni soal dia tidak ingin Anming memakan orang – orangnya yang tinggal di kuil, barang – barang yang Anming pegang yang patah atau rusak, siluman lain yang kelihatan takut padanya, dia yang gak sengaja menciptakan longsor di tebing, dan juga ia menjadi gampang emosi.


‘Sekarang, semua itu menjadi masuk akal.’ Pikir Anming.


“Tapi sebelum melakukan perjanjian, ada baiknya kamu minta maaf dulu dengan nona Li. Bagaimanapun kau merusak satu – satunya akses Kota dan Desa Siluman ke kuil serta menghambat para siluman untuk mengikuti ibadah malam ini.” Ujar Taoshu tanpa rasa bersalah.


Anming tertunduk menyesal dan seluruh pikiranya diliputi oleh rasa bersalah. “B-Baik.” Jawabnya. Karena waktu itu sudah terlalu malam, Anming merasa tidak enak mengganggu Shanni. Jadi ia memutuskan untuk pergi mencari Shanni di ruanganya besok pagi.


*********


Besok paginya, langit terlihat mendung dan salju tipis turun dari langit. Karena cuacanya jadi semakin dingin, Anming terpaksa memakai mantel bulu putih yang ada di kamarnya. Dia terlihat sangat cocok dengan pakaianya yang sekarang dan rambut yang di kuncir satu.


‘Duh, aku jadi gugup kan.’ Ujar Anming dalam hati.


Ia berjalan menyusuri lorong halaman samping yang terdapat air mancur dan sampai di perpustakaan. Ia lalu mengetuk pintu perpustakaan dan siluman kelinci bernama Wanwan yang membukanya. Ia terkesiap kaget melihat Anming.


“WAAA!!!” Pekik Wanwan.


Anming juga ikut kaget karena suaranya.


“Apa yang kau lakukan disini?” ketus gadis siluman kelinci itu. Kedua telinganya menunduk takut.


“Aku mencari Shanni, apa dia ada didalam?” tanya Anming.


Wanwan mengkerutkan alis, tapi ia tidak bisa menyembunyikan ketakutan dalam matanya. “Nona Li ada di Kota, untuk apa kamu mencari nona?” jawabnya.


Anming tersenyum lemah “Ada yang ingin kubicarakan denganya.” Balasnya.


Wanwan menatap pria dewasa itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Dia gak ada di perpustakaan, tadi dia sudah pergi ke Kota Siluman untuk mengobrol dengan walikota.” Wanwan menutup pintu dan berjalan pergi.


‘Dia kelihatan membenciku.’ Gumam Anming dalam hati. Ia lalu menatap tebing yang kemarin ia buat longsor. ‘Aku harus ke kota.’


 **************


Setelah puluhan menit berjalan kaki, akhirnya Anming sampai di sisi tebing yang merupakan lokasi penyebrangan antara kuil dengan kota. Masih ada banyak siluman yang mengeruk salju, tapi jalanan sudah terbuka dan sudah bisa dilewati.


‘Mereka bekerja seperti manusia pada umumnya.’ Pikir Anming. ‘Tapi kenapa mereka disebut sebagai makhluk pembawa bencana?’


Belasan menit melewati jalan penyebrangan, Anming sampai di tanah luas yang basah dan berumput. Itu membuat Anming terkesima.


‘Rumput! Ku kira aku tidak akan menemukan tanah berumput di gunung es ini.’ seru Anming dalam hati. Harus ia akui, ia rindu dengan tanah berumput.


Tidak lama, Anming akhirnya sampai di pintu masuk Kota Siluman. Kotanya di dindingi oleh tembok besar dengan papan nama ‘Kota Siluman’ di pintu masuknya. Diatas tembok kota ada banyak prajurit yang memakai baju zirah dan di pintu masuk ada banyak siluman yang berlalu lalang.


“Ini kota siluman?” Ujar Anming dengan perasaan tidak percaya. Ia melihat mereka berpakaian petani dan membawa hasil panen, ada juga para wanita yang menaiki kereta kuda, para pedagang, dan anak – anak yang bermain layangan. “Ini lebih mirip kota manusia!” ujar Anming dengan girang.


Ia berlari memasuki pintu kota dan dia tidak bisa berhenti menatap sekelilingnya. Bangunan kota yang terbuat dari tembok berjejer dengan rapih di dalam kota. Restoran, pedagang, pembeli, anak – anak, dan lainya.


‘Ini aneh, aku melihat kota ini seperti kota di dunia manusia.’ ucapnya dalam hati. ‘mereka berdagang, bermain, ada restoran, dan apa ini beneran kotanya para siluman?’


“Dibeli! Dibeli! Ayo beli ikan segarnya!!” teriak para penjual ikan.


“Hanfunya, ini warna yang baru dan cantik!” teriak para penjual pakaian.


“Ayo tuan tahu suteranya!” teriak penjual tahu.


Anming bengong dan lalu berjalan pergi. Wajahnya masih kelihatan shok, tapi juga kagum disaat yang bersamaan. ‘Kota ini terasa lebih damai dibanding Luoyang. Ini aneh, tapi kenyataan!’ ujar Anming dalam hati.


 *****


Disisi lain, disebuah restoran mewah yang ada di kota. Shanni menaruh cangkir tehnya di atas meja dan lalu menatap seorang pria bertubuh kekar yang memiliki telinga harimau berwarna oranye. Rambutnya mekar dan hidunya lebar dengan kumis dan janggut panjang.


“Tentang siluman harimau yang baru lahir itu,” ujar pria itu dengan tenang, “hamba sudah memikirkanya betul – betul dan hamba rasa hamba tidak akan mampu mengajarinya.”


Shanni menyangga dagunya di sisi jendela. Hari itu ia memakai hanfu putih dengan  warna emas di pinggir bajunya serta mengenakan kerudung putih tembus pandang yang menutupi bagian belakang rambutnya. Rambut hitamnya yang panjang di gerai kebelakang dengan konde tinggi berhias mahkota perak.


“Kenapa kau merasa tidak mampu? Kau adalah guru dari para jenderal dan prajurit dari kota ini.” Katanya. “Aku memilihmu juga bukan tanpa alasan.” Jawab Shanni.


Pria itu diam dengan kepala tertunduk. “Nonaku, engkau bisa memintaku melakukan apa saja tapi aku tidak akan pernah mampu melatih seekor siluman harimau.”


Shanni melirik pria itu dari ekor matanya. “Apa karena Puteramu?” jawabnya.


Pria itu diam membisu dan mengepalkan kedua tanganya. “Iya.”


Shanni menghela nafas. “Aku tidak bisa memaksamu kalau itu adalah alasanmu.” Jawab Shanni. “Tapi perlu kau ingat, hidup harus tetap berjalan dan jangan pernah terjebak dalam masa lalu itu.”


Pria itu membungkuk dengan tangan posisi hormat. “Terimakasih nona, atas pengertianmu.” Katanya.


Shanni berdiri dan si pria ikut berdiri. Shanni lalu mengambil seruling bambu yang ia taruh diatas meja. “Aku akan kembali sekarang, beritahu isterimu kalau dia tidak perlu membawakan kue lotus ke kuil setiap hari.”


“Baik nona.” Jawab pria itu lagi.


Shanni berjalan ke arah pintu bersama si pria yang merupakan siluman harimau. 2 ekor siluman kucing pengawal Shanni membukakan pintu dan tepat pada saat itu, Anming ada di depan pintu dan mematung kaget.


“Eh?” ujar Anming.


Shanni dan si pria yang lebih tua membelalak kaget. “Huh?” sahut mereka berdua dari dalam ruangan.


Anming tertawa garing. “Eh hahaha… anu … aku mencarimu tadi di kuil.” ujar Anming dengan wajah yang merah. ‘Malu!’ ujar Anming dalam hati. Ia lalu menatap pria tua yang merupakan siluman harimau juga. ‘Tapi dia siapa? baunya mirip seperti bauku.’ (Anming sudah mulai terbiasa)


Shanni memberi Anming tatapan marah. “Ada apa? kau melongsorkan gunung es lagi?” cetus Shanni.


Wajah Anming berubah merah dan dia panik. “Engga, bukan, kau salah paham bukan karena itu!” sahutnya. 2 siluman kucing mendengus dibalik senyum mereka dan Anming jadi merasa sangat malu. ‘Dia beneran marah padaku.’ gumam Anming dalam hati.


“A-Aku ingin berbicara denganmu. Empat mata, ini masalah penting.” Kata Anming. Shanni masih memberi Anming tatapan marahnya


Si pria yang ada di sebelah Shanni membungkuk. “Nona, anda bisa menggunakan ruangan ini jika anda berkenan.” Ujar si pria.


Shanni menghela nafas. “Baiklah.” jawab Shanni.


Pria itu membungkuk lagi dan lalu keluar. Ia kelihatan gugup sekali dan langsung pergi dari lorong itu. ‘Kenapa harus begini jadinya? Aku gak bermaksud menolak permintaan nona Li.’ Pikirnya. Ia jadi teringat oleh wajah Anming dan ia jadi teringat oleh seorang anak laki – laki bermata kuning dan berambut oranye. ‘Aku … aku tidak akan mampu mengajarinya.’


 ******


Shanni kembali duduk di kursi pinggir jendela dan Anming berdiri dengan gugup. Tapi ia menyadari bahwa penampilan Shanni terlihat lebih cantik hari itu. Dan dia bertanya – tanya. ‘kenapa dia memakai kerudung yang menutupi seluruh rambutnya kemarin ya?’ tanya Anming dalam hati.


“Jangan buang – buang waktuku, apa yang mau kau bicarakan?” tanya Shanni.


Anming terkesiap kaget. “A-Aku ingin minta maaf soal kuilmu. Sungguh, aku gak sengaja melakukanya karena aku gak tahu kalau aku bisa melakukan itu.” Jawab Anming.


Shanni diam, tapi wajahnya kelihatan lebih lembut dari sebelumnya. Anming menghela nafas lega ketika melihatnya. ‘Syukurlah, aku merasa kalau jantungku akan di tebas.’ Ucapnya dalam hati.


“Aku juga mau minta maaf karena aku berusaha kabur dan aku gak akan melakukan hal itu lagi, aku janji.” Ujarnya.


“Baiklah.” Jawab Shanni.


Anming tersenyum lega “lalu aku ingin membuat perjanjian denganmu,” kata Anming, Wajah Shanni berubah tenang. “Aku masih ingin keluar dari tempat ini dan bertemu dengan keluargaku, tapi hanya sampai 49 hari Ayahku wafat. Setelah 49 hari ayahku wafat, aku akan kembali ke kuil ini dan tidak akan mencampuri urusan keluargaku lagi.”


Seketika wajah Shanni berubah gelap. Anming yang melihatnya terkesiap kaget. ‘Dia Marah?!’ serunya dalam hati.


“Sudahku bilang, kamu gak boleh keluar dari tempat ini.” Cetus Shanni.


Anming memanik “A-aku tahu, tapi aku sudah berjanji padamu dan aku pria yang selalu menepati janji.” Katanya. 2 siluman kucing mulai merasa tidak nyaman. “Aku sungguhan akan kembali ke kuil Jinlong, aku tidak akan kabur dan mencampuri urusan keluargaku lagi setelah perjanjianya disepakati.”


Shanni masih memberi Anming tatapan tajamnya dan Anming mulai pasrah.


“Baiklah,” Mata Anming berbinar senang “tapi sebelum aku mensepakati perjanjian darimu, aku ingin kau belajar mengendalikan kekuatanmu terlebih dahulu.”


Anming mengangguk dengan semangat “Tentu saja, tentu saja!” jawabnya.


Shanni memalingkan wajah dan menatap keluar jendela. “Tapi sayangnya calon gurumu yang bernama Honghu menolak untuk melatihmu karena alasan pribadi. Kalau kau benar – benar ingin keluar, kau harus merayu Honghu dulu untuk menjadi pelatihmu.”


Anming diam “Tapi Honghu itu siapa?” tanyanya.


Shanni menyangga dagunya pada telapak tangan. “Pria tua berambut oranye yang tadi bersamaku. Dia Honghu, walikota sekaligus pelatih prajurit generasi pertama dan kedua dari kota ini.”


Anming mengingat pria tadi yang memberikan ruangan ini untuknya dan Shanni berbicara. ‘Oh dia ternyata.’ Pikirnya.


“Sebaiknya kau mulai merayu Honghu dari sekarang atau kau akan terlambat.”


“Baik!” jawabnya. ‘Honghu, aku harus merayumu untuk menjadi guruku baru aku bisa mengambil perjanjian dengan Shanni!’ seru Anming dalam hati.