RAHAYU

RAHAYU
Pandai Bersandiwara



Mentari pagi menyapa, mencoba menghangatkan jiwa yang masih terkurung nestapa. Dari jendela kamar yang baru saja aku buka, hawa sejuk berembus.


Kupandangi diri dari pantulan cermin, tunik berwarna kuning dengan hijab senada aku kenakan. Aku tersenyum. Berharap kuning menjadi pilihan yang tepat untuk menutupi sedihku dengan kecerahan warnanya. Seperti menteri yang rela menerangi meski tubuhnya tergerus api. Mentari tetap bangkit, setiap hari menghangatkan, tidak peduli pada dirinya yang terbakar.


Senyum kuhadirkan sesempurna mungkin, berharap mendapatkan kekuatan dari sang surya. Sebisa mungkin aku menekan luka dari kerasnya dunia yang penuh dengan sandiwara.


“Mbak Hayu, sarapannn!” suara cempreng Mia mimanggilku.


“Siap!” Aku menyambutnya.


Kemarin, dia tidak jadi diapa-apakan bapak. Aku bersyukur, adikku yang imut itu pulang dengan selamat. Dia bercerita banyak hal, dimulai dari menghabiskan beberapa es krim, sampai membeli beberapa boneka kesukaannya. Pink, warna favoritnya. Boneka berbahan bulu rafsur itu pun sudah ia tunjukkan padaku.


“Kamu mau kuliah, Nak?” tanya ibu.


“Iya, Bu.”


“Sudah sehatkah?”


“Sudah, Bu.”


Beberapa hari ini aku memang tidak masuk kuliah dengan alasan tidak enak badan. Badanku yang panas pun sempat diperiksakan ke dokter. Efek beban pikiran itu memang teramat dahsyat ternyata. Bukan hanya batin yang bisa saja menderita, fisikku bisa ikutan terluka karenanya.


“Anom? Kenapa terburu-buru, Nak? Sarapan dulu, gih,” pinta ibu yang melihat Mas Anom berjalan dengan tergesa-gesa.


“Tidak usah, Bu. Hari ini aku harus bertemu dengan klien. Ada hal penting yang harus diselesaikan.”


“Bapakmu saja belum berangkat, kan? Sudah ayo, sarapan dulu.”


Mas Anom tidak bisa lagi mengatakan tidak. Ia menarik kursi, lalu duduk di sebelah Mia. Sesekali ia menatapku. Namun, aku beralih melihat ke arah lain. Entah apa yang ada di pikirannya. Akhir-akhir ini, dia ada seolah untuk mengawasiku.


Tidak begitu lama, lelaki yang kami panggil dengan sebutan ‘Bapak’ itu pun datang. “Pagi anak-anak,” ucapnya.


Dia bergabung bersama kami, dengan santainya, seolah tidak terjadi apa-apa. Begitu lihai ia bersandiwara, menutup banyak fakta dengan perhatian semunya.


Aku menatapnya sekilas. Beribu kebencian bergemuruh di dada. Ia tersenyum, seolah menang dengan aksinya.


“Pagi Bapak,” sahut Mia.


Ibu menyambut senyumannya. Mas Anom tetap dengan sikap dinginnya. Fokus pada apa yang ada di hadapan. Nasi dengan lauk gurami, sayur terong, dan sambal goreng telah ia lahap. Ia makan tidak terlalu banyak.


Aku masih terdiam. Berusaha menyendok makanan, memasukkannya ke dalam mulut. Meski tidak enak, aku harus makan. Bukankah aku membutuhkan amunisi untuk berpikir? Menyiasati diri melawan bapak sendiri itu tidak mudah, bukan? Aku perlu makan. Harus sehat. Harus kuat. 


“Hayu sudah selesai,” ucapku saat makanan telah habis kusantap.


“Waah! Mbak Hayu cepet bener? Mia kalah hari ini.”


Aku hanya tersenyum, menutupi luka.


“Aku juga sudah,” timpal Mas Anom.


“Mau kuliah, Yu?” tanya bapak. Pura-pura perhatian.


Puzzel ini sudah retak, menjadi berkeping-keping. Menyusunnya pun tidak akan semudah bayangan. Meski mampu ditata dan berhasil, pastilah retakan itu akan terlihat. Tidak mungkin untuk terhapus begitu saja.


Aku masih marah padanya. Akan tetap marah.


“Iya.”


“Mau berangkat sama bapak?”


Aku menggeleng. “Tidak usah.”


“Sudahlah, jangan dihiraukan. Efek tidak enak badan, atau masih terkenang dengan Anto, anak itu jadi rada pendiam akhir-akhir ini.” Ibu menengahi.


Aku mengatakan ‘tidak’ dalam hati. Bukan. Tebakan ibu salah. Bukan karena Anto. Bukan! Luka ini, derita ini, penyebabku murung, lebih banyak diam, itu karena dia! Lelaki di sampingmu!


Mas Anom menoleh ke arahku. Lagi-lagi aku tak mampu menatap matanya.


Aku mencium punggung tangan ibu, Namun tidak dengan Bapak. Mas Anom masih saja  memperhatikan tingkahku. Sepertinya, dia mulai curiga.


Bapak menatapku, tanpa sengaja pandangan kami beradu. Alisnya naik turun, dengan mata melotot tajam. Sekilas, lalu berubah seperti sedia kala. Jelas itu mengisyaratkan sesuatu.


Akhirnya, dengan terpaksa aku menyalaminya. Menghilangkan jejak kecurigaan.


Bapak benar-benar licik! Begitu pandai bersandiwara. Bodohnya, kini aku terjebak dalam perangkapnya.


Sial!


Aku memilih lekas berangkat. Berusaha menjalani peran baru, belajar meniti hari seperti semula meski kutahu harus lebih ekstra menekan luka. Tapi masih ada niat di hati, esok kebusukan bapak pasti akan aku ungkap tanpa harus mengundang korban lainnya. Cukup aku, hanya aku.


Aku pun melangkah meninggalkan  meja makan.


“Apa kau baik-baik saja?” Pertanyaan Mas Anom mengagetkanku. Tiba-tiba ia sudah berada di garasi lebih dulu daripada aku.


“I-iya. Kenapa?” sahutku gugup.


“Sepertinya kau sedang menyembunyikan sesuatu.”


Belum juga aku menjawab, bapak tiba-tiba lewat. Ia berjalan melewatiku, menuju mobilnya, menghangatkan mesin. Tidak begitu lama ia memanggil namaku, “Hayu? Apakah tidak sebaiknya berangkat sama bapak? Kamu, kan, masih tidak enak badan?” ajaknya.


Benar-benar cerdik.


“Tidak usah, Pak,” tolakku.


“Hayu berangkat, ya, Mas? Jangan khawatir. Aku tidak apa.” Aku berusaha memastikan.


Sulit memang memendam ini seorang diri. Ingin segera aku lekas bercerita. Namun, bayangan Mia masih saja mengganggu pikiranku. Bapak bermain cerdik. Aku pun harus memiliki politik.


Berpikirlah jernih, Rahayu. Tenangkan dirimu!


Vario putih kini keluar dari rumah. Aku mengendarainya dengan kecepatan sedang. Jarak antara rumah ke kampus tidak terlalu lama, hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit saja.


Aku menyusuri jalan Borobudur, melewati jalan Soekarno Hatta, lalu kini aku berada di bundaran jalan Universitas Brawijaya. Lajur kiri terus aku susuri, menuju Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang begitu asri.


Seusai memarkirkan motor, aku melangkah menuju ruang kelas. Punggung menggendong tas yang berisi beberapa buku tebal dan tumpukan kertas tugas, sedangkan tangan memegang buku besar, buku wajib untuk anak akuntansi.


“Hayu ....!” Amoy berteriak. Suara cemprengnya membuat telingaku berdenging. Aku menutupnya dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya masih tetap memegang buku besar.


“Hh....”


Aku menarik napas dalam, membutuhkannya sebagai amunisi untuk kesiapanku diberondong beragam pertanyaan. Tenang. Aku harus tenang.


“Kamu sakit?” entah mengapa pertanyaan itu yang menjadi menu pembuka. Apakah wajahku masih pucat?


“Iya, sedikit,” jawabku singkat.


Amoy memegang keningku, refleks aku menjauh. “Gak panas, kok.” Dia mengernyit.


Aku memang sedikit tidak enak badan sebab sering begadang. Menangis membuat seluruh tubuhku remuk. Belum lagi lelahnya jiwa yang memang memberi kesempatan penyakit untuk datang kapan saja. Tapi, tidak apa. Aku akan tetap tampil seperti biasanya. Bukankah aku sudah berjanji akan baik-baik saja?


“Sudah baikan, lah. Lawong sudah beberapa hari juga, ‘kan?” jelasku mencoba mengalihkan kecurigaannya.


“Benar juga. Hampir saja aku mendatangi rumahmu. Tapi, pas ketemu sama Mas Anom kemarin di bengkel, kamu katanya kurang enak badan. Butuh istirahat dan tidak lagi mau diganggu. Ya sudah aku urung,” cerocosnya dengan panjang kali lebar.


Aku mengernyit. Mas Anom?


“Napa bengong?” Pertanyaan Amoy membuyarkan lamunanku. Alih-alih menjawab, aku lebih memilih melangkah menyusuri halaman luas agar lekas sampai ke kelas. Sepertinya aku memang butuh menyibukkan diri dengan angka-angka agar semua bayangan itu lekas sirna.


Amoy membuntutiku, berjalan cepat mencoba menyeimbangi langkah kakiku yang jenjang. Sebelum sampai ke tujuan, di depan sana, di bawah pohon palem tampak seorang lelaki yang tidak asing dengan kaos hitam dan jins panjang tengah memerhatikanku.


“Hayu!” Merdu suara pria bertubuh jangkung itu memanggil sembari melambaikan tangan. Ia berjalan ke arahku.


Dia? Ada apa?