
Berjam-jam sudah aku berada di bawah kucuran air kran. Dinginnya air malam tak sedingin luka yang membuatku meradang. Lampu telah lama menyala, tapi hatiku masih gelap gulita.
Mataku membelalak tatkala menemukan sesuatu berwarna kemerahan membekas di tubuhku. Tidak hanya satu, ada beberapa noda yang tersemat di sana.
“Tidaaak ...!”
Aku meraung seperti orang kesetanan, mengutuk diriku sendiri yang begitu lemah, tidak berdaya menangkis rengkuhan demi rengkuhan kokoh lengan bapak. Jemariku memainkan rambut panjang yang basah berantakan. Lagi-lagi aku menangis di buatnya. Rambut yang selama ini aku jaga, aku ingat betul saat bapak membuka hijabnya. Seringai bejatnya, tindakan amoralnya.
“Huaaa ...!” Aku hina. Aku benar-benar hinaaa ...!
Bulir bening di mataku kian deras, kejadian memilukan itu terus membekas. Terputar-putar bak tontonan video layar lebar yang terus saja membuat ingatanku berlayar. Sakit! Tempurung kepalaku berasa mau pecah dibuatnya. Cukup lama dalam situasi seperti itu, aku pun mulai menggigil.
Lelah! Lemah! Pandangan mata mendadak berkunang-kunang. Tiba-tiba saja, pertahananku luruh. Tubuhku kian tidak berdaya. Aku menyelorot, bersender pada bak dinding kamar mandi, tangan menggapai stok kran, berusaha mencari pegangan. Percuma! Tenagaku sudah tidak bersisa. Aku benar-benar lemas. Semakin lemah. Lalu setelah itu, gelap.
--
Cukup lama pingsan di kamar mandi, Aku kini terjaga dengan sendirinya. Masih sama. Perasaan jijik ini enggan enyah meski berkali-kali aku mengusirnya. Kutatap pantulan diri di cermin, benar-benar kacau. Tertatih-tatih ke arah kamar, mengambil handuk untuk mengeringkan tubuh.
Baru beberapa menit aku berada di kamar, hal yang teramat aku takuti itu terjadi. Cerobohnya aku sampai tidak mengunci pintu. Kacaunya pikiran membuatku bertindak semakin tak karuan.
“Jangan sampai kau katakan tentang hal ini pada siapa pun, atau kau akan binasa!” ancam bapak padaku.
Mati itu mungkin lebih baik untukku daripada harus hidup seperti ini. Apa kata bapak barusan? Binasa? Aku tidak takut binasa. Biarlah bapak membinasakanku agar aku tidak lagi menderita. Hidup berkalungkan hina dan nista seperti ini justru lebih menyakitkan bagiku.
Aku mengacuhkan ancaman bapak. Kali ini mencoba lebih sigap. Meski takut melanda, aku harus terus siaga. Khawatir kalau-kalau bapak kembali melakukannya.
“Kalau kamu berani bertindak selain dari kemauan bapak, jangan salahkan bapak jika Mia akan bernasib sama sepertimu!”
Mia? Mendengar nama itu disebut, air mataku luruh begitu saja. Peluru yang dibidik bapak begitu tepat mengenai jantungku. Aku lumpuh. Bukan hanya darah, nanah kini memenuhi seluruh rongga tubuhku.
Meski sakit, aku mencoba memberanikan diri menatap orang tua lelakiku itu, berharap ada seutas cinta yang masih bersemayam di sana. Lamat kupandangi wajah paruh bayanya, tidak ada! Tidak kutemukan cinta di sana. Hancur. Hatiku teramat hancur.
Oh, Bapak! Apakah ini benar-benar bapakku?
Mia, seorang gadis yang begitu imut dan lucu dengan pipi gembilnya terpampang seketika. Celotehnya yang manja dan ceria kerap kali membuat bibirku ikut tersenyum gembira. Adik bungsuku itu baru menginjak kelas empat SD, bagaimana mungkin bapak akan melakukannya?
“Tidak! Jangan lakukan itu, Pak,” pintaku dengan suara lemah. Bahuku terguncang mengiringi derasnya air mata yang semakin berlinang.
“Kalau kau masih berharap bapak tidak melakukannya, tutup mulutmu rapat-rapat. Paham!” gertak bapak dengan intonasi meninggi. Aku mengangguk terpaksa. Sesak memenuhi seluruh rongga dada.
“Jangan pernah kau menangis di hadapan keluarga yang lainnya kalau kau tidak mau apa yang kamu alami itu kembali terulang lagi. Ingat! Kamu harus terlihat ceria seperti bisanya. Bapak tidak mau kalau sampai mereka curiga!” Lelaki yang selama ini kupanggil dengan sebutan ‘Bapak’ itu terus saja mengancam.
Bagaimana aku bisa ceria jika bapakku sendiri yang merajamku dengan ribuan luka? Bagaimana aku bisa ceria jika lelaki yang selama ini aku hormati justru ia pula yang telah merenggut harga diri ini?
Bapak telah sukses memenjarakanku di jurang derita. Rantai-rantai kehinaan telah membelengguku, melumpuhkan bagian terdalam dari hidupku. Di balik kisi-kisi kalbu aku kini bertemankan pilu. Langit telah runtuh. Angan dan mimpi lumpuh. Bintang tak lagi bersinar, tertutup pekatnya kabut kehidupan.
Oh, Allah. Kenapa? Mengapa? Haruskah semua ini terjadi padaku?
Bapak berlalu meninggalkanku yang kini menyelorot, menyelonjorkan kaki dengan bersender pada dinding kamar dekat jendela. Aku tak mampu lagi menopang tubuh meski hanya sekadar untuk bangun menuju ranjang. Luka ini, sakit ini, benar-benar melumpuhkanku.
Mengapa kau setega itu, Pak?
“Mbak Hayuuu ...!”
Entah sudah kali ke berapa aku pingsan, kali ini suara cempreng Mia membangunkanku. Bergegas aku membuka jendela, memastikan kalau itu benar dirinya. Aku melongok, menyisir halaman, memerhatikan siapa saja yang ada di sana.
Sedan sudah terparkir sempurna di garasi. Aku melihat sekilas Ibu tampak kewalahan membawa barang bawaannya, pun dengan Mas Anom yang menggendong tas di punggungnya. Entah apa itu, mereka terlihat benar-benar sibuk. Aku bergegas untuk menghampiri. Namun, sejurus kemudian langkah kakiku mendadak terhenti. Bulir bening tiba-tiba luruh, lolos begitu saja membobol pertahanan kelopak mata.
Bahuku terguncang. Aku sesenggukan. Tanpa suara. Namun, ini benar-benar menyiksa.
Kupandangi pantulan tubuhku dari arah cermin, miris! Jemari bergetar memegang bibir, ada bekas bibir tebal bapak di sana. Ingin segera aku mencakarnya agar bekas itu lekas sirna. Namun, apa kata mereka jika melihat tubuhku tidak baik-baik saja? Mengingat hal itu, aku kembali dibanjiri air mata.
Beralih aku memegang hidung, lemau, tak lagi seperti kuntum seroja. Alis lentikku, mata bulat ini, pipi yang biasanya selalu bersemu kemerahan, semuanya aku sisir secara bergantian. Aku tersedu, meratapi nasib yang mendadak pilu.
Mentari Rahayu itulah namaku. Rahayu yang berarti cantik menjadi nama tengahku. Kata sebagian orang, aku anak yang begitu istimewa. Selain mewarisi kecantikan dari ibuku yang memang berparas ayu, lembut perangai dan santun penutur menjadi nilai tambah dalam diriku.
Mentari Bersinar, kakak lelakiku menyebutnya. Entah apa itu maknanya. Yang jelas aku dan Mia berbeda. Mia terlihat lucu dengan pipi gembil dan kulit yang sedikit gelap mewarisi bapak, sedangkan aku hadir dengan kulit kuning langsat dengan tubuh ramping khas wanita Jawa umumnya.
Mentari Rahayu kini hanya tinggal nama, sebab kecantikan itu justru telah menjadi bencana. Rahayu tak lagi bersinar laksana Mentari. Redup, layu, membersamai kasih sayang yang menipu.
“Nduk? Hayu?” ketukan di pintu membuyarkan lamunanku.
Mataku merah dan bengkak, itu pasti karena aku menangis hampir seharian. Mendengar panggilan ibu, aku panik! Bergegas ke altar, kupolesi wajah kusutku dengan bedak tipis dan sedikit sapuan blush on. Meski masih terlihat bekas kesedihannya, setidaknya tidak terlalu kentara.
“Nduk?” Ibu kembali memanggil. Nada khawatir terdengar dari kalimatnya.
“Iya, Bu. Tunggu sebentar,” pintaku dengan sedikit gugup. Sejurus kemudian aku segera membuka pintu. Terpampanglah wajah ibu yang teramat kurindu.
“Kamu kenapa, Nduk?” Ibu bertanya dengan penuh curiga. Tatapan matanya menyapu seluruh bagian wajahku. “Kamu nangis?” selidiknya.
Aku mengangguk. Menekan seluruh sesak di dada.
“Ada apa, hah? Tidak biasanya kamu seperti ini.”
Mendengar sikap ibu yang seperti itu, runtuh sudah seluruh pertahananku. Aku lekas menghambur ke pelukan wanitaku, memeluknya erat dengan kucuran air mata yang begitu deras. Tubuhku terguncang sambil sesenggukan. Sesak!
“Ono opo tho, Nduk?” Ibu mengelus punggungku lembut.
Ibu ... aku ingin bercerita, Bu! Hayu ingin mengatakan banyak hal pada ibu. Hayu ... sudah tidak suci, Bu. Hayu anak ibu tak mampu menjaga diri seperti yang selalu ibu sarankan. Hayu takut, Bu. Hayu takuuut ...!
Aku semakin sesenggukan hingga begitu kesulitan untuk berbicara. Ibu terus mengelus punggungku, membiarkanku mengurai pilu dalam dekap hangatnya. Tak banyak yang bisa aku lakukan. Perasaan takut ini, kecewa ini, cinta ini, sayang ini, dan juga banyak hal yang terus aku pikirkan. Andaikan begini, andaikan begitu, jika seperti ini, jika seperti itu, semuanya berdesakan seperti orang yang sedang bertengkar di dalam ruang imajinasiku. Tempurung kepalaku mau pecah rasanya. Beban ini terlalu berat untuk kupikul sendirian. Akan tetapi, bagaimana caraku untuk membagi rasa?
Pergilah resah ....
Sirnalah gundah ....
Aku lelah!
Hiks.