RAHAYU

RAHAYU
Jangan, Pak!



Ratu eros, ratu syahwat. Hadir tanpa diundang, menyisakan limbah dari pabrik kebejatan.


Lemah! Aku hanya mematung memandangi gawai dengan beragam perasaan kacau yang menggelayuti hati.


Ancaman bapak tentang Mia terpatri dalam ingatanku. Namun, jika aku tetap diam, akankah semua akan baik-baik saja? Tidak menutup kemungkinan, bukan, kejadian seperti ini akan terjadi lagi di lain kesempatan?


Pesan Mas Anom masih saja aku biarkan. Hingga akhirnya, aku pun membalasnya.


[Jangan khawatir, Mas. Aku baik-baik saja]


Terpaksa aku berdusta. Bapak terlihat begitu licik. Dia pandai bersandiwara. Aku pun harus menyusun rencana.


[Benarkah itu, Dek?]


Aku bingung. [Ya]


[Baiklah. Jangan lupa ceritakan padaku jika kau sudah siap]. Pesan dari Mas Anom.


Aku tersenyum getir. [Ok]


Setelah itu, aku ambruk. Kembali menyelorot, bersender pada tembok, duduk dengan memangku lutut.


“Arrrghhh! Sialll!”


Aku mengumpat diriku sendiri akan sebuah kelalaian. Aku begitu lemah. Kenapa aku tidak belajar karate saja dari dulu agar bisa melindungi diri saat ada bahaya yang mengancam seperti ini? Andai aku kuat, kejadiannya tidak mungkin begini. Bapak pasti akan babak belur sudah kuhajar waktu itu.


Tapi faktanya? Tenagaku kalah telak untuk melakukan perlawanan. Lalu sekarang?


Oke. Aku akan cerita saja ke Mas Anom.


[Mas, bisakah kita bicara sebentar?]


Aku mengetik dengan jari gemetar.


[Katakan]


[Mas, Anu, itu, Bapak,]


Belum selesai aku mengetik, pesan tanpa sengaja aku pencet. Terkirim. Aku masih sibuk mengetik. Ya. Aku harus bercerita. Kebenaran ini tidak boleh disembunyikan. Setidaknya, aku dapat perlindungan. Setidaknya, aku ada teman untuk menolong Mia dari ancaman bapak.


Belum usai aku mengetik, seakan-akan ada bayangan yang mengawasi setiap gerak-gerikku. Aku menjadi was-was. Menulis kalimat selalu typo. Hingga ....


“Tidak!”


Aku menggeleng, menatap foto gadis imut itu.


[Kalau kau sampai bercerita, dalam hitungan detik Mia sudah akan aku jadikan sepertimu]


Bapak yang barusan aku lihat di depan jendela kamarku, kini sudah pergi entah ke mana.


Aku ketakutan. Bergegas aku melangkah, tidak peduli akan diriku yang awut-awutan. Aku berlari menuruni tangga, kucari Mia di kamarnya, tidak ada.


Berlari aku menuju ruang tengah, tempat biasa keluarga berkumpul. Kadang, Mia menonton TV di sana. Juga, tidak ada. Aku melangkah menuju halaman, sepintas kulihat punggung Mia di boncengan bapak berjalan meninggalkanku. Aku terlambat. Bapak sudah membawa Mia. Entah ke mana dia dengan mengendarai motor Vario putihnya.


[Bapak tidak sedang bercanda, Hayu. Lupakan kejadian malam itu agar Mia selamat]


“Dasar edan!”


Aku berlari kembali ke kamar, berjalan ke sana kemari, bingung harus bertindak bagaimana.


[Bapak kenapa?] pesan Mas Anom semakin membuatku kacau.


Bapak mengirim foto Mia yang sedang berbelanja es krim. Itu menunjukkan mereka masih ada di alfam.t.


Aku masih memandangi gawai. Tertera di layar bapak kembali mengirim foto, foto Mia yang sedang tidur pulas tanpa selimut, hanya menggunakan baju main yang biasa ia kenakan. Dia terlihat tidak lucu lagi, melainkan seperti gadis remaja yang sudah tumbuh dengan sempurna. Entah itu foto kapan yang diambil bapak. Yang jelas, aku menjadi semakin ketakutan.


[Kami akan jalan-jalan dulu, Hayu. Lalu setelah itu....]


“Jangannn!” teriakku.


Aku kelimpungan. Darahku mendidih ingin segera menghajar bapak. Tak peduli meski ia adalah bapakku, lelaki yang selama ini membesarkanku. Kebencianku kini sudah tertanam. Dia musuhku sekarang.


Akan tetapi? Mia? Dia kini bersamanya.


[Yu?] Mas Anom kembali bertanya.


Dengan jari gemetar aku mengetik, [Jangan lakukan itu, Pak! Bawa Mia pulang sekarang! Atau aku akan ....]


Ponselku berdering, bapak menelepon. Aku mengangkatnya.


“Bapak. Mia suka dengan es krimnya. Kita mau ke mana setelah ini? Jadi jalan-jalannya, Pak?”


Aku terbungkam seketika. Air mataku luruh. Mia?


“Jadi, dong, sayang. Apa, sih, yang nggak buat Mia. Asal, Mia nurut ke bapak, pasti akan bapak lakukan semua permintaan Mia,” ucap bapak.


“Jangan!” pekikku.


“Halo, Mia? Iya, ini, Mbak Hayu Mia. Mia di mana?”


“Mia lagi jalan-jalan diajak bapak.”


Panggilan terputus. Bapak mematikannya.


[Atau kamu akan apa, Hayu? Melaporkan Bapak? Iya? Begitukah?]


Pesan dari bapak membuatku mati kutu.


[Silakan saja laporkan. Mia bersamaku sekarang. Kamu tinggal pilih, memilih melaporkan, atau menjaga keutuhan keluarga kita?”


Biadabbb! Aku memukul bantal. Keutuhan keluarga yang mana? Keluarga ini sudah hancur.


[Daripada semakin hancur?] bapak seolah mengerti jalan pikiranku.


Sialll! Aku benar-benar terjebak sekarang. Tidak ada pilihan lagi, demi menyelamatkan Mia.


[Baik, Pak] balasku terpaksa.


Centang dua warna biru, pesan sudah dibaca oleh bapak.


[Bawa Mia pulang. Jangan apa-apakan dia] kirimku lagi.


[Asal kau tetap jadi anak penurut, bapak akan lakukan itu]


[Hayu akan lakukan perintah Bapak. Tolong. Jangan Mia]


Entah bagaimana di sana, mungkin bapak sedang tertawa merayakan kemenangannya. Aku di sini merutuk diriku sendiri. Lemah! Mengapa aku selemah ini? Bukan hanya tak mampu melindungi diri, kini Mia?


Ya Allah. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?


[Dek] pesan dari Mas Anom.


Aku meradang. Kubaca ulang percakapan kami sebelumnya. Duh. gimana ini?


[Itu, Bapak, tadi pamit buat ajak Mia jalan-jalan. Aku mau nitip kertas folio bergaris, tapi dompetnya malah ketinggalan katanya.


Mas di mana? Masih di mebel, kah? Ntar, pulangnya aku nitip ke Mas saja, ya? Lagi malas keluar]


Kusisipkan emoticon kepala dengan tangan menutup mulut agar tidak mengundang curiga.


Apakah tindakanku ini benar? Entahlah. Aku benar-benar khawatir terhadap Mia.


[Ok] balas Mas Anom. Singkat.


Aku mematung, seperti orang linglung. Rumah ini terasa pengap. Sempit. Tidak sehangat sebelumnya. Entah itu pikiranku sendiri, atau ketakutan-ketakutanku atas ancaman bapak. Ya Allah, tolong ....


“Semoga saja Mia baik-baik saja,” harapku.


[Woooiii!]


Amoy, teman kampusku mengirim pesan setelah beberapa panggilannya kuabaikan.


[Kamu masih hidup, kan, yu?]


Sepertinya ia kesal. Pantas saja, empat puluh lima missed call.


[Kenapa panggilanku tidak kau angkat, hah?]


Aku terdiam. Dia datang di waktu yang tidak tepat.


[Yaelah ... pesanku juga cuma di read saja. Balas Woooi!]


Aku memang sengaja. Jika ia mendengar suaraku yang parau, atau melihat mataku yang bengkak saat video cal, jiwa keponya akan meronta. Perempuan bermata sipit dengan tubuh bulat itu akan memberondongku dengan ribuan pertanyaan.


Masalahku sudah cukup membuatku pusing. Jangan lagi ditambah dengan dia.


[Laporan keuanganmu sudah balance belum?]


Astaga! Laporan keuangan? Aku tidak sempat berpikir ke sana.


[Aku bingung bener nih , Yu. Kamu bisa bantuin aku, nggak? Angkaku tidak klop. Mentok. Rumit bener tugas kali ini. Mana ada salah tulis lagi! Terpaksa deh harus nyalin dari awal]


Emoticon perempuan dengan tangan menelungkup dahi berjejer setelahnya.


Amoy dan aku memang sama-sama mengambil jurusan ekonomi dan bisnis. Akuntansi, adalah pilihan kami.


Aku dan Amoy adalah dua sahabat yang begitu kental. Tidak hanya seseimbang  aktiva-pasiva, kami juga sama-sama pecinta bakso dan penyuka kopi. Hobiku dan hobinya pun hampir sama. Sama-sama senang membaca. Hanya saja yang menjadi pembeda adalah agama.


Amoy merupakan gadis keturunan Tionghoa dengan suku Hokkian. Rambutnya pirang, orangnya pun periang. Meski  kita beda, Amoy tahu betul waktu salatku. Kadang, saat terlalu sibuk berkutat dengan tugas, dia sering mengingatkanku agar tak lupa untuk salat. Katanya, dia mencintaiku sebagai sahabat. Sebab itulah kita saling menghargai, menghormati keyakinan masing-masing.


Bagaimana kalau aku ceritakan saja masalahku padanya? Siapa tahu bisa mengurangi bebanku? Bukankah dia orang luar? Bapak tidak mungkin curiga, kan?