RAHAYU

RAHAYU
Apa yang Harus Aku Lakukan?



"Mbak Hayuuu ...!” teriak Mia dengan suara cemprengnya. Dari tangannya kulihat ia memegang beberapa makanan khas Madura. Kerupuk super jumbo tak luput dari perhatianku. Kerupuk ikan dengan diameter sekitar empat puluh centimeter itu adalah makanan favorit Mia. Tak ayal jika dia selalu membeli itu saat berkunjung ke Madura.


Tidak jauh dari Mia berada, bapak tengah berdiri di dekat bufet sembari memandang ke arahku. Tatapan matanya tajam, mengisyaratkan sebuah peringatan. Aku yang tadinya hendak bercerita menjadi lemah seketika. Seperti seorang tawanan yang mengetahui strategi perang, tetapi tidak dapat mengungkapkan. Tangisku pecah. Jiwaku kian resah.


“Ditanya kok malah semakin jadi tangisnya. Ada apa sih, Yu?” Ibu kian penasaran.


Aku kelimpungan. Andai mulut ini tidak kaku untuk berkata, ingin segera kulampiaskan segala rasa.


“A-anu, Bu. Teman sekelas Hayu ada yang meninggal hari ini,” sahutku kemudian.


Aku memang tidak sedang berbohong. Beberapa jam yang lalu aku mendapat pesan di grup WA alumni kalau Anto, teman seangkatanku sewaktu SMA telah meninggal dunia disebabkan kecelakaan. Kabarnya, Anto menghindar dari kecelakaan yang terjadi di depannya. Nahas, truk dari arah berlawanan yang memuat batu bata tak lagi mampu menguasai situasi, hingga ia menabrak motor yang dikendarai Anto. Kecelakaan beruntun pun terjadi. Anto yang malang tidak dapat diselamatkan.


Mendengar jawabanku, seutas senyum melengkung di bibir tebal bapak. Setan-setan kembali bersorak riang sebab permainnya telah sempurna dijalankan. Mia yang sedari tadi menungguku di ruang keluarga kini mendekat membawa kerupuk super jumbo yang masih terus ia makan.


Meski terlihat kurang yakin atas penyebab dari tangisku, ibu mencoba bertanya, “Siapa?” pertanyaan yang cukup singkat dan padat. Kuharap ibu tidak curiga.


“Anto, Bu. Teman SMA Hayu.”


Ibu terlihat sedang berpikir. “Anto anaknya Pak Dibyo itu?”


Aku mengangguk.


“ Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Kasian benar. Dia dulu dekat dengan kamu, ‘kan? Sering main ke sini buat tugas kelompok. Kalau tidak salah, Anto yang ganteng itu, ‘kan? Rambutnya selalu kinyis-kinyis dengan parfum yang semerbak sekali itu!” Kali ini ibu terlihat antusias. Aku mengangguk.


Benar sekali. Anto memang sering datang ke rumah ini. Biasanya bersama Amoy dan Lolita. Bukan hanya untuk kerja kelompok, mereka juga sering datang untuk makan masakan ibu. Masakan ibu memang paling top, kata mereka. Ibu pun senang melakukannya. Namun sayang, keakraban kami harus terputus sampai di SMA. Anto berhenti sekolah, memilih kerja di bengkel membantu orang tuanya. Hanya aku dan Amoy yang masih bersama, melanjutkan kuliah ke Universitas Brawijaya. Sedangkan Lolita kini berada di salah satu pondok pesantren di Banyuwangi.


Ibu memang wanita yang teramat peka. Beliau juga luwes dan ramah. Menjadikan teman-temanku adalah bagian dari dirinya juga. Ibu, wanita sederhana yang selalu menjagaku dengan penuh wibawa. Tidak mengekang, tidak pula melepaskan. Ia mendidikku laksana layangan, yang boleh terbang ke mana saja mengikuti arah angin untuk mencari kebahagiaan. Sesekali ia memegang benang tanganku dengan nasihat-nasihat keimanan agar aku tidak terbang ke jalur yang tidak diinginkan. Sesekali pula ibu mengulur benang dengan penuh kepercayaan agar aku bebas tumbuh mengikuti perkembangan zaman.


Ibu mendidikku dengan sentuhan penuh cinta dan kasih sayang. Sangat bertolak belakang dengan bapak yang keras dan juga sering meledak-ledak amarahnya.


Oh Ibu ....


Andai ibu tahu perihal apa yang membuatku menangis, mungkin ibu tidak akan setenang ini. Mungkin ibu tidak akan lagi bercerita seputar kemewahan di acara pesta pernikahan yang baru saja di gelar hingga aku pun tidak harus bersandiwara untuk mengukir senyuman. Andai mereka tahu akan apa yang terjadi sebenarnya, mungkin Mia tidak akan berceloteh semanja ini sebab dirinya tengah terancam akan bernasib sama sepertiku.


Mas Anom, lelaki yang usianya terpaut empat tahun dariku itu ikut bergabung dengan kami di ruang keluarga. Tatapan matanya tajam, menilik ke arahku, seolah-olah meminta penjelasan terhadap apa yang sedang terjadi. Ia yang sedikit mendengar penjelasan tentang Anto yang kuceritakan barusan, sepertinya tidak langsung percaya begitu saja. Mas Anom, kakak pendiam yang juga teramat sayang padaku. Ia mempunyai cara tersendiri dalam menjagaku. Kadang bersikap cuek, kadang pula tiba-tiba perhatian, membuat sisi melankolisku tersentuh dengan tindakan bijaksananya.


“Kalau memang begitu, berarti nanti Natasha akan ikut suaminya dong, ke Jogja?” Bapak menanggapi cerita ibu yang sedari tadi antara didengar dan tidak olehku. Aku tidak berani menoleh ke arah bapak. Perasaan ini, luka ini, kecewa ini, masih kian menganga. Bahkan, kini semakin dalam menghunjam raga.


“Iya, Pak. Suaminya, kan, kerjanya di Jogja. Di perkebunan katanya ya, Nom?” lempar ibu ke Mas Anom. Pria berkepala plontos itu pun mengangguk.


“Sayang sekali bapak tidak ikut. Coba saja konsumen tidak menuntut pesanannya untuk segera di selesaikan, mungkin bapak sudah tahu seperti apa suaminya Natasha,” timpal bapak kemudian.


Bapak yang bekerja di bidang furnitur, akhir-akhir ini memang lagi pesat permintaan. Perusahaan mebel kami memang lagi berada di posisi bagus. Mas Anom yang membantunya pun kerap kali aku dapati terlihat kelelahan. Dia juga sering pulang larut malam. Saat kutanya, “Biasa, lembur,” itu selalu yang menjadi jawaban.


Aku hanya tidak habis pikir, mengapa bapak bisa bertindak setenang itu setelah apa yang ia lakukan terhadapku? Tidakkah ada perasaan takut di sana? Tidakkah ia merasa bersalah? Atau mungkin, bapak memang salah satu orang yang lihai dalam bersandiwara?


Entah mengapa pertanyaan itu muncul secara tiba-tiba. Aku hanya bisa menunduk dengan mata berkaca-kaca. Menekan segala sesak ini seorang diri. Mas Anom memandangku. Lekat. Aku segera menatap ke arah lain, pura-pura melihat Mia yang kini berubah mengambil rengginang rasa udang yang gurihnya selalu bikin si penikmat merasa kurang.


“Mbak Hayu boleh minta rengginangnya?” pintaku untuk segera menutup gelagat yang mencurigakan ini.


“Kan dari tadi sudah Mia tawarin. Kenapa baru nyadar, tho?” jawabnya dengan suara sedikit tidak jelas sebab mulutnya sibuk mengunyah rengginang.


“Oalah. Saking asyiknya memerhatikan cerita Ibu mbak jadi menghiraukanmu. Maaf ya, Dek,” ucapku kemudian. Mia memonyongkan bibirnya. Aku menowel hidung peseknya. Mengambil rengginang, lalu berpamitan untuk membawanya ke kamar. Aku beralasan masih ada tugas kuliah yang perlu di selesaikan.


Setelah tiba di kamar, secepat mungkin aku mengunci pintu. Merebahkan diri di bibir ranjang, menutup mulut dengan bantal agar tangisku tidak menggema hingga mengundang kecurigaan.


Oh, Allah. Mengapa aku harus berperan seperti ini?


“Ting!”


Suara notifikasi gawai berwarna putih dari atas nakas. Aku meraba malas. Tangan mengusap layar.


[Kamu kenapa?]


Pesan dari Mas Anom membuat jantungku berdegup kencang.


Sejenak aku terdiam. Kakakku ini tidak akan menghubungiku jika tidak benar-benar penting. Aku bingung harus menjawab apa. Di sisi lain aku suka akan perhatiannya. Dia memang begitu peka terhadap segala hal tentangku. Bahkan urusan cinta pun, dia selalu mewanti-wanti agar aku tidak terluka. Akan tetapi, untuk masalah ini? Bagaimana aku mengatakannya? Sungguh ini tidak sesederhana yang ia kira.


[Kalau ada yang menyakitimu, meski salah satu anggota keluarga ini sekalipun, bilang padaku!]


Tubuhku terguncang. Bulir bening jatuh bersamaan.


[Jangan sungkan, cerita saja]


[Matamu bengkak, itu bukan karena Anto]


[Benar, ‘kan?]


Aku kehabisan kata-kata untuk menerjemahkan rasa. Sikap Mas Anom benar-benar menyentuh sisi melankolisku. Aku menangis. Benar-benar menangis.


Mas Anom, kakakku, tengah mencoba melindungiku. Khawatirnya menjadi bukti kalau ia berusaha sekuat semampunya untuk selalu menjagaku. Pesan-pesannya menjadi tanda kalau ia tengah memastikan diriku baik-baik saja. Tidak terluka. Tidak kecewa. Kalimat ‘Meski salah satu anggota keluarga ini pun’ menjadi penekan atas kepeduliannya.


Bagaimana jika kekhawatiranmu memang benar, Mas? Jika sumber ancaman itu justru memang orang terdekat kita? Bapak! Dia yang kita panggil dengan sebutan ‘Bapak’. Dia bapakku. Bapak Mia. Bapakmu juga, ‘kan?


Bapak telah mengoyak harga diriku, menelanjangi satu persatu mahkota yang selama ini selalu aku jaga. Bapak telah merenggut kebahagiaanku, menyisakan noda yang bekasnya enggan sirna. Bapak telah mengambil seluruh mimpi-mimpiku. Dengan merenggut kesucianku bapak membuatku lumpuh. Bapak membunuhku meski tidak terang mengubur jasadku.


Oh, Mas Anom. Apakah aku harus berbagi rasa denganmu? Agar sedikit lega segala sesak yang merongrong jiwa? Aku takut, Mas. Aku takut!


Jika ini terjadi pada kalian, anak, adik, kakak, saudara, ataupun tetangga, apa yang akan kalian lakukan?