RAHAYU

RAHAYU
Hayu Anakmu, Pak! Jangan!



KEJAM! LELAKI YANG MENGOYAK HARGA DIRIKU ADALAH IA YANG SELAMA INI KUPANGGIL DENGAN SEBUTAN ‘BAPAK’.


“Hayu!” teriak suara yang sudah tidak asing lagi bagiku. Di sana, dari arah kamar belakang panggilan itu berasal.


“Iya, Pak. Tunggu sebentar,” jawabku sembari menutup tugas kuliah yang belum terselesaikan.


Secepat mungkin aku melangkah agar lekas sampai. Bapak terlihat meringkuk di bibir ranjang dengan sarung yang beralih fungsi menjadi selimut. Tubuhnya menggigil. 


“Astagfirullah Bapak! Bapak kenapa?” Aku mendekat, memegang keningnya. “Bapak sakit?” Dahiku mengernyit sebab tidak terdeteksi panas di tubuh bapak.


Bapak mengangguk lemah. “Tolong keroki bapak, Nduk. Hujan seperti ini badan bapak terasa tidak enak. Meriang,” pinta lelaki paruh baya yang usianya sudah menginjak kepala lima.


“Bagaimana kalau kita periksa saja ke dokter?” tawarku.


Bapak menggeleng. “Tidak usah, Nduk. Bapak tidak mau minum obat. Cukup dikeroki saja sebentar lagi pasti sudah baikan.”


Aku mengangguk. Bapak orangnya memang seperti itu. Pria bertubuh jangkung dengan kulit hitam legam itu memang lebih suka dikeroki ataupun memilih untuk berobat alternatif daripada ke dokter. Bapak fobia pada jarum suntik. Alih-alih untuk sembuh, biasanya dia akan semakin sakit jika terpaksa harus berobat ke dokter. Aneh memang! Tapi,  seperti itulah bapak.


“Tunggu dulu ya, Pak. Hayu masih mau ambil minyak dan alat untuk kerokan dulu di dapur.”


Bapak mengangguk.


Aku bergegas menuju ke dapur untuk mencari sendok tebal yang memang biasa keluarga kami gunakan untuk kerokan. Belum jua aku menemukan, lampu mendadak padam. Ini semua disebabkan oleh hujan besar yang mengguyur hampir seharian. Mungkin, di luaran sana tengah ada pohon tumbang hingga membuat aliran listrik terpaksa harus terputus secara bersamaan. Belum lagi, kilat dan petir kian menyambar-nyambar. Suasana menjadi semakin mencekam.


Tangan meraba, berusaha mencari kulkas, lalu menuju rak piring yang di atasnya biasa diletakkannya lilin. Yes! Ketemu.


Lalu, dengan perlahan aku meraba ke arah yang lain. Sadar benda yang aku inginkan telah berada di pegangan, aku segera mencari knop, memutarnya, kemudian api kompor menyala, menerangi dapur yang gulita. Segera aku menyulut lilin dan meletakkannya pada asbak agar berdiri kokoh untuk siap di bawa ke kamar bapak.


Dari kejauhan, bapak sudah terlihat bertelanjang dada. Sarung yang dikenakan hanya dipakai setengah badan. Ia sepertinya memang lagi menungguku untuk segera dikerok. Kamar bapak lumayan terang. Ada cahaya dari lampu emergency yang telah ia nyalakan.


“Matikan saja lilinnya, Nduk,” pintanya. Aku segera melaksanakan.


Baru saja aku melangkah untuk menaruh lilin yang sudah padam, sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan terjadi. Bapak, dengan tubuh telanjangnya tiba-tiba memelukku dari belakang.


“Bapak! Apa yang Bapak lakukan?” pekikku dengan begitu terkejut.


“Bapak menginginkanmu, Hayu. Temani Bapak malam ini, ya?” ajaknya.


Guntur dan kilat bersahutan, seakan turut murka akan ucapan bapak yang tidak sepantasnya dilayangkan. Bagai disambar petir dengan guruh yang begitu memekakkan, aku tercengang dibuatnya. Kening terangkat dan tertarik secara bersamaan, mata bulatku melebar. Aku menggeleng cepat, sangat tidak percaya! Sekuat tenaga aku melakukan perlawanan. Akan tetapi, bapak begitu sigap. Ia mengatupkan tanganku di dada, lalu mengunci dengan ke dua tangan kasarnya.


“Jangan berontak.! Ayolah ... temani bapak malam iniii saja,” rayunya.


Aku menggeleng. “Tidak, Pak! Itu tidak mungkin Hayu lakukan. Bapak orang tua Hayu. Ini tidak benar, Pak,” tolakku tegas. “Lepaskan Hayu, Pak. Lepaskaaan!” raungku dengan tangan digerak-gerakkan agar lekas terbebas dari jerat bapak.


“Temani Bapak!” Bentakannya tidak kalah nyaring. Permintaannya benar-benar menohokku.


“Jangan, Pak! Jangan lakukan itu. Hayu mohon, jangan Paaak!” Tersengat-sengut aku mengiba, berharap ada sisi baik di hati bapak yang masih bisa mencerna kebenaran kalau aku ini adalah anaknya. Putri yang selama ini dibesarkannya. Wanita yang seharusnya ia jaga dan lindungi kehormatan serta harga dirinya.


Bukannya sadar, orang tua lelakiku itu justru mendorong keras tubuhku hingga membentur dinding. Ia melemparkan hijabku, mengunci gerakanku.


“Astagfirullah, Bapak! Nyebut, Pak. Hayu anakmu, Pak. Jangan lakukan itu, Pak!” Aku merintih.


Alih-alih mengabulkan permintaanku, tangan kasarnya justru semakin cekatan mengelus satu persatu inci di setiap lekuk tubuhku. Aku memberontak! Namun, tenagaku kalah telak.  Gamis yang aku kenakan berusaha bapak lepaskan. Aku menjerit, “Jangan Paaak! Tolong, jangan lakukan! ini tidak benar. Huuu ....!” Bapak masih tetap dengan aksinya. “Jangan, Pak! Jangan lakukan! Hayu mohon, jangan Paaak!”


Aku meraung tidak karuan. Memukul, menendang, mencakar, melakukan apa saja yang bisa aku kerjakan sebagai bentuk perlawanan. Namun, lagi-lagi, aku kalah dengan rengkuhan tubuh kokoh bapak. 


Tangannya semakin kuat mencengkeram lenganku agar aku tidak melakukan perlawanan. Bapak begitu kasar mengoyak satu-persatu bagian terlarang dari tubuhku. Aku terluka. Aku menderita.


Lihatlah ....


iblis telah menjalankan perannya. Setan-setan tengah bersenandung ria. Meniup hawa nafsu yang selama ini dijaga agar lekas membekaskan noda.


Lihatlah ....


Anak yang tidak berdosa tengah menjadi korban kebinalan yang tidak seharusnya. Homo homini lupus, manusia adalah serigala atas manusia yang lainnya. Kebenaran tersamarkan, kenikmatan sesaat didatangkan.


“Tolooong!” Aku melolong, berharap bala bantuan segera datang. Aku benar-benar kalut. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhku. Cemas. Sekuat tenaga aku terus berontak. Bapak kian beringas.


“Percuma kamu berteriak, Sayang. Tidak akan ada orang yang mendengar," ucapnya.


Rumah yang memang tengah lagi sepi membuatku menjadi bergidik ngeri. Bulu kuduk merinding secara tiba-tiba. Perasaan waswas kian membuncah.


Seluruh orang rumah sedang pergi ke kota Madura, menghadiri acara pernikahan sepupu yang digelar hari ini. Bapak memang sengaja tidak ikut sebab katanya banyak urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Sedangkan aku? Tugas kuliah sepekan ini benar-benar menumpuk. Jika aku menginap di rumah sepupu selama tiga hari seperti yang Ibu, Mas Anom, dan Mia lakukan, aku akan sangat keteteran.


Aksi bapak semakin menjadi. Seringai bejatnya begitu menakutkan. Mata nuraninya telah buta dikuasai nafsu. Bapak menerkamku layaknya harimau yang menemukan mangsa. Tanpa ingat akan dosa, lelaki yang usianya sudah kepala lima itu mengoyak gamisku hingga aku benar-benar ternoda. Luka seiring robeknya selaput dara menjadi saksi nyata bahwa harga diriku telah sirna.


Orang tua yang seharusnya melindungi sang buah hati, lelaki yang selama ini kupanggil dengan sebutan 'Bapak' itu merampas keperawananku. Mengoyak harga diriku. Merenggut harta paling berharga dalam hidupku.


Aku menangis. Benar-benar menangis!


Hancur sudah. Aku tergugu, meringkuk di bibir ranjang dengan hati pilu. Aku benar-benar tak menyangka semua ini terjadi dengan begitu cepatnya. Andai aku tahu akan begini, aku tidak akan tinggal di rumah seorang diri hanya berdua bersama bapak. Aku akan lebih memilih ikut bersama ibu dan yang lainnya. Semua di luar logika. Aku begitu tak menyangka kalau lelaki yang sudah dua puluh tahun ini kupanggil dengan sebutan ‘Bapak’ begitu tega menodai anaknya sendiri.


Tertatih aku melangkah, tak peduli pada perih yang masih menyisakan darah. Aku meraba, menembus kegelapan, berharap segera sampai ke kamar mandi. Aku hendak membersihkan sisa-sisa kebejatan terlarang ini. Aku merasa teramat najis. Jijik. Aku kotor. Aku hina.


Andai kalian tahu bagaimana perasaanku sekarang? Sungguh, sakit! Sakit sekali! Oh, Allah. Haruskah ini terjadi?


Kuatkan aku. Tolong! Aku butuh bantuan kalian ....