
HAPPY READING 😊
Di hari minggu ini, Dinda memulai pekerjaannya setelah membereskan perlengkapan sarapan.
"BUNDAAAA!" Teriakan itu berasal dari si kecil yang berjalan terlebih dahulu setelah berhasil memaksa ayahnya untuk jogging.
Ya pagi tadi Biru datang ke kamar orangtuanya dan memaksa Andra yang masih di alam tidur untuk bangun menemaninya jogging, sedangkan Andra hanya mampu mengiyakan permintaan putra bandel nya itu.
Dinda berjalan kearah sang putra yang datang dengan makanan di tangannya. "Bunda liyat Bilu matan syilok. Bunda au?" ucap Biru.
"Cilok sayang bukan syilok," ucap Dinda membenarkan.
"Iya Bunda syilok." Tiru Biru.
"Ikuti Bunda ya," ujar Dinda.
"Ci."
"Ci." ulang Biru sambil merapatkan giginya.
"Lok."
"Lok."
"Cilok," sambung Dinda.
"Syilok!"
"Aish, Cilok dek bukan Syilok," ujar Dinda gemes.
"Iya toh Bunda syilok," sewot Biru.
"Terserah kamu dek." Dinda menyerah mengajari anaknya yang keras kepala itu. Lebih baik mengalah untuk si kecil, daripada ngambek.
"Masih pagi kok Adek makan cilok sih?" tanya Dinda bingung.
"Iya toh Bunda, Bilu tan lapel. padi tadi matan na tan Bilu ikit, adi lapel don," jelas Biru sambil memakan sebiji ciloknya.
"Jadi yang tadi pagi makan nya sampai tambah bukan kamu Dek?" tanya Andra yang baru masuk ke rumah.
"Bilu dak tana Ayah toh. Adi iem deh," sewot Biru kesal.
Andra yang melihat respon sang anak terbahak dengan kencang.
"Kan adek pagi tadi makanannya sudah banyak, nanti kekenyangan loh," ujar Dinda memberi pengertian.
"Adi nih salah Bilu Bunda?" tanya Biru kesal.
"Butan salah Biru lah, salah mamang na lah napa ualan di epan. Tan Bilu adi engen," sewot Biru kesal.
"Terserah kamu dek. Cepat makan ciloknya, lalu mandi bareng Ayah ya." ujar Dinda mengusap rambut Biru.
"Ofa na tindi anget sih, Bilu tan dak bisa aik." gerutu Biru yang tidak bisa naik.
Andra tertawa terbahak melihat si kecil jatuh berguling ke lantai. Dinda memukul lengannya untuk memperingati.
"Di bantu Mas anaknya, bukan malah di tertawai. Kamu ini," ucap Dinda gemes melihat suaminya.
"Iya yang, lagian Adek gak mau minta tolong. Lagian biar aja yang, biar Adek belajar sendiri," jawab Andra sambil memeluk Dinda dari samping.
"Kamu ini, masih ada anaknya kok peluk-pelukan. Malu sama umur," kesal Dinda sambil memeluk balik.
"Ucapan mu yang, tapi meluk balik." ejek Andra sinis.
"Kangen Mas," rajuk Dinda manja.
"Bunda janan peyuk Ayah. Ayah lum andi, adi Bunda peyuk Bilu aja," ucap Biru sambil memeluk sang bunda.
"Emang kamu udah mandi dek? Masa sih, bau gini." ledek Andra sambil mencepit hidungnya sambil memegang baju Biru dengan ujung jarinya.
"Suta-suta Bilu lah Ayah. Ini tan Bunda Bilu, Ayah dak oleh peyuk don," sinis Biru kepada Andra.
"Ladian, Biyu wani tok. Tan Bunda?" tanya Biru meminta pembelaan kepada Dinda.
"Iya dong, anak nya Bunda kan selalu wangi." jawab Dinda sambil mencium pipi Biru.
Biru tertawa senang mendengar jawaban sang Bunda, lalu meledek sang Ayah.
"Wle, Bunda cayang Bilu Ayah. Ayah dak, hihihi." ejeknya tertawa senang.
"Wah kamu mau Ayah sayang yah?" tanya Andra sambil tersenyum kecil.
Biru menggeleng dan turun dari gendongan sang Bunda saat sang Ayah mencoba menggelitikinya.
"Stop Ayah, Bilu cape. Belenti dong, nti Bilu nompol Ayah," ucap Biru di sela tawanya.
Dan tak lama, celana Biru basah dan membuat sang pemilik malu.
"Wah, anak Ayah ngompol toh, ihh malu dong." ledek Andra iseng.
"Ihhh Ayah Bilu malu," ujar Biru sambil menutup wajahnya.
Andra yang melihat respon Biru tertawa terbahak.
Dinda yang sedari tadi menonton menggelengkan kepala nya melihat keduanya.
"Ayah, bawa adek masuk. Mandiin sekalian," ucap Dinda.
"Siap Ibu negara."