Possessive Arka

Possessive Arka
Sasing



HAPPY READING 😊


Setelah kejadian seminggu lalu yang mengakibatkan Andra harus membeli ponsel baru, membuat nya lebih berjaga terhadap si kecil.


Albiru yang sudah berumur setengah 4 tahun itu, semakin lincah saja.


Siang ini, Andra mengajak si anak untuk bermain di belakang rumah.


"~Sasing... sasing... di peyut...matan asi Bilu... janan isau, inum ontyaksin~"


Andra terbahak mendengar lagu yang Biru nyanyikan. "Bukan kontraksin Dek. Kontaksin mah bukan obat cacing," ujar Andra.


"Teyus apa Ayah?" tanya Biru dengan tanah di tangannya.


"Antangin," jawab Andra ngawur.


Biru mengangguk mendengar jawaban Ayah.


"~Sasing... sasing... di peyut... matan mua asi Bilu... Janan isau, inum atangin~"


Andra kembali terbahak mendengar lagu Biru. Andra sengaja membawa dan membiarkan putra nya itu bermain di tanah. Selagi ibu negara tidak tau, pasti nya aman.


Kecil-kecil korban iklan.


"Ayah ihat, ada sasing!" seru Biru antusias.


"Cacing bukan sasing," ejek Andra.


"Iya Ayah, sasing!" ujar Biru sewot.


Andra kembali terbahak melihat muka sang anak yang mulai kesal.


"Buang Dek, kasihan cacingnya," perintah Andra sambil bergidik jijik.


"Dak ah, sasing na tan mau ain ama Bilu Ayah," ujar Biru dengan polosnya.


"Mana ada! Buang dek," ucap Andra lagi.


Biru yang melihat reaksi berlebihan dari sang ayah tersenyum miring.


Biru melempar cacing itu ke arah Andra dan jatuh di pangkuan sang ayah.


"ANJ-YAAANGG!!" Andra berseru kuat lalu berlari masuk ke dalam mencari Dinda.


"Apa sih berisik banget?" tanya Dinda yang baru turun dari kamar.


Andra sontak memeluk Dinda, "anak kamu itu yang, jorok banget. Mainnya cacing," adu Andra kepada Dinda.


"Ngadu ya ngadu, tapi jangan peluk juga dong Mas, gak lihat apa itu anak kamu cemberut." ucap Dinda dan melirik ke Albiru.


Albiru cemberut melihat sang ayah memeluk bundanya dengan erat. "Ayah epas Bunda na Bilu, janan peyuk-peyuk uja dong!!" seru biru tak santai.


Andra memeletkan lidahnya mengejek Biru dan semakin memeluk Dinda erat.


"Adek kok main tanah?" tanya Dinda khawatir. Dinda takut putranya itu sakit karena bakteri.


"Tan di bolehin cama Ayah toh Bunda," jawab Biru santai.


Dinda langsung melirik sinis Andra yang cengengesan di tatap Dinda.


"Kan biar anteng gitu loh yang," jelas Andra yang tidak mau di salahkan.


"Adek itu kok cacingnya di bawa-bawa? Kembalikan yah, kasihan loh. Kotor banget sih," ujar Dinda sambil mengusap pipi Albiru.


"Hihihi, sasing na au ain ama Bilu Bunda," balas Biru dengan polos nya.


"Kalo Adek ajak main, kasihan dong Ayah sama Bunda nya cacing nyariin dia. Cacing... Cacing... gitu." jawab Dinda sambil menirukan ucapannya.


"Gitu toh Bunda?" tanya Biru.


Dinda mengangguk dan tersenyum. Biru menghela napas kecewa, padahal tadinya ia ingin mengisengi ayah saja.


Biru berlari sambil menenteng cacing yang menjadi bahan pembelajaran dari sang bunda.


"Kamu nih, masa mantan badboy takut cacing," sindir Dinda kepada Andra.


Andra mendegus lalu memeluk Dinda lagi, "bukan takut yang, tapi geli." jawabnya.


"Sama aja." ucap Dinda sambil mencubit kedua pipi Andra.


"Udah sana mandiin anaknya sekalian kamu nya juga," perintah Dinda.


"Heem." balas Andra.