
"Sayang!!"
Hening.
Arka bingung dengan sepinya keadaan rumah, tak biasanya rumah mereka akan sepi tak berpenghuni seperti sekarang ini.
"SAYANG!!"
Arka mencoba berteriak lebih keras memanggil istrinya. Lagi dan lagi suaranya bergema.
Arka berdecak kesal karena Reyna masih tak menjawab panggilan nya.
Arka berjalan masuk menuju kamar untuk mengecek keberadaan sang istri.
Arka menghela napas lega saat melihat Reyna berada di tempat tidur mereka sedang berbaring dengan ponsel di tangannya.
"Aaaaa!! Kenapa Ji Juan romantis sekali. Ku juga ingin!!"
Arka mendelik tajam ke arah Reyna yang berteriak keras. Arka mendekat tanpa suara ke Reyna.
Ia sungguh penasaran dengan nama yang istrinya itu sebutkan. Sungguh, ia sangat cemburu akan hal itu.
Arka memanjangkan lehernya mencoba mengintip ponsel Reyna.
Arka melihat gambar anime manga yang menampilkan pameran cowo ganteng.
Bertepatan dengan itu, Reyna yang gemas akan tokoh tersebut mengibaskan tangannya dan mengenai Arka.
"Auu."
Reyna terkejut dan spontan mematikan ponselnya lalu berbalik melihat Arka yang mengelus dagunya yang terkena sikut-an Reyna.
"Arka!"
Reyna terpekik keras melihat Arka memeluknya dengan wajah kesal. Reyna menelan ludah nya dengan susah payah.
Sepertinya aku membangunkan iblis dalam cemburu Arka. Aduh, habislah aku.
Arka mengunci pergerakan Reyna dengan memeluk nya lebih erat. Hawa tak enak mulai Reyna rasakan saat ini. Berada di dekat Arka saat ini sungguh tak nyaman.
Reyna mencoba menggeliat lagi berusaha melepas diri.
"Berhenti bergerak sayang!" desis Arka.
Reyna berhenti menggeliat lalu melihat Arka dengan senyum manisnya. Reyna harus mencoba memadamkan api kecemburuan yang membakar Arka saat ini.
"Kenapa kalau aku udah pulang? Kamu gak senang? Ooo aku tau, kamu pasti terganggu karena aku merusak waktu mu dengan si Jin jin itu kan?" tanya Arka dengan sinis.
Reyna menggeleng pelan menjawab pertanyaan Arka. "Enggak Arka, kamu salah. Aku malah senang kalau kamu pulang lebih cepat, aku jadi tidak kesepian."
Reyna mencoba menyentuh rahang Arka yang mengeras, pertanda kemarahan Arka ada di level akhir versi cemburu.
"Aku tidak merasa kalau kau merindukanku. Kalau kau merindukanku, pasti kau akan menyambut ku pulang tadi. Tapi apa?" tanya Arka sinis.
Reyna tertawa kecil untuk menutupi rasa takutnya. Dengan santai Reyna mencoba mengalungkan tangannya ke leher Arka.
"Aku tidak tau kalau kamu akan pulang lebih cepat Arka, aku sungguh-sungguh senang kalau kau sudah pulang. Aku kesepian Arka," ucap Reyna pelan sambil meletakkan kepalanya ke dada Arka.
Arka diam mendengar penjelasan istrinya itu. Reyna kesepian di rumah, hanya itu yang Arka tanggap.
"Kalau begitu kenapa kita tak menambah anggota baru? Agar kamu tidak kesepian." Arka memeluk Reyna.
Reyna melepaskan pelukan itu secara spontan dan membuat Arka menggeram marah.
"Tapi, ini masih sore Arka, masih terlalu cepat," ucap Reyna pelan.
Reyna yang tak tahan dengan tatapan menusuk Arka langsung memeluk Arka erat.
"Maaf Arka, maaf. Aku minta maaf tak menyambut mu pulang tadi. Aku terlalu sibuk dengan novel ku, maaf," ucap Reyna pelan.
Tak ada sahutan dari Arka dan itu membuat Reyna gemetar, kemarahan Arka sampai di level dingin.
"Maaf Arka, hiks... maaf...." Reyna menangis karena merasa takut.
"Aku, aku berjanji tidak akan terlalu sibuk dengan novel-ku, maaf Arka," lanjut Reyna masih dengan tangisnya.
Arka menghela napas kasar, Reyna menangis lagi. "Iya, aku udah maafin kamu sayang. Tapi, ingat jangan terlalu sibuk dengan novel-mu itu."
Reyna mengangguk di pelukan Arka sambil sesekali menghapus air mata nya.
"Aku janji gak akan mengulanginya lagi Arka, aku gak mau buat kamu marah. Aku janji," ujar Reyna dengan keras sambil mengusap air mata nya.
Arka tertawa pelan melihat kelakuan istinya itu. "Iya sayang, aku percaya."
"Tapi kamu tetap harus dapat hukuman baby," ujar Arka berbisik pelan.
Dengan sigap, Arka menggendong Reyna bagai bayi dan memulai hukuman bagi istri nakalnya itu.
Tbc