
"Selamat Pagi."
Sapaan hangat itu menyambut paginya dengan riang. Laki-laki yang masih berbaring di kasur itu menutup wajahnya karena terkena sinar matahari.
"Sayang, tutup tirai nya. Silau baby, pliss," pintanya.
"No. Bangun dan segera bersiap Arka. Kau harus pergi bekerja sekarang, kau sudah membolos selama empat hari. Jadi harus bekerja hari ini," perintah wanita itu.
Arka menggeleng dalam balutan selimutnya. Ia terlalu malas bergerak dan bekerja. Ia hanya ingin bermanja dengan wanita itu.
"Bangun Arka. Ck, mengapa sulit sekali membangunkan mu huh?" tanya wanita itu.
"Oh, ayolah. Ini masih terlalu pagi untuk bangun sayang. Biarkan aku tidur dan libur untuk hari ini, besok sudah weekend biarkan aku bermanja lebih lama denganmu sayang," pinta laki-laki itu.
"Tidak. Bangun dan bersiap untuk kerja Arka. Atau aku ak--"
Arka menarik wanita itu masuk kedalam selimut. Memeluknya erat dan memaksa wanita itu di pelukannya.
"Arka... aku tidak bisa bernapas," ucap Reyna.
Arka melonggarkan sedikit pelukannya. Hanya sedikit. Reyna mendegus kesal lalu memeluk Arka erat.
"Bangun dan bersiap Arka, mau harus bekerja. Jangan sampai terlambat atau kau akan ku hukum," ucap Reyna.
"Kau berani sayang? Coba, aku ingin merasakan hukuman dari istri ku." ejek Arka.
Reyna memukul Arka pelan. Reyna selalu kalah. Ia tak pernah menang melawan Arka.
"Aku menantikan hukuman dari mu sayang, sungguh." Arka mengecup kening Reyna singkat.
Lalu menyembunyikan kepalanya di leher Reyna. Reyna mengusap rambut Arka yang sangat lembut di tangannya.
"Ayo lah, sudah hampir jam 7 Arka. Kau bisa terlambat berkerja kalau kau masih belum bersi--"
Arka menutup mulut istrinya dengan dasinya yang ia simpan di laci. Sangat berguna ternyata.
"Kau terlalu berisik sayang. Aku harus menghukum mu untuk perbuatan mu kali ini. So, mari bersenang-senang baby."
"ARKA!!"
***
"Kenapa menggunakan baju itu? Ganti!" titah Arka.
Reyna melotot protes tapi ia tak bisa melakukan apapun, bahkan hanya untuk membalas perkataan Arka.
"Terlalu terbuka... ganti!"
"Terlalu kekecilan... ganti!"
"Terlalu pendek... ganti sayang!
Reyna mendegus kesal menerima penolakan dari Arka setiap ia mengganti bajunya.
Arka mengalihkan perhatian dari tab-nya menatap Reyna. Arka berdiri dan berjalan mendekati Reyna lalu menariknya ke dalam kamar.
"Aku yang akan pilih pakaian kamu, jangan protes atau aku akan menghukum mu baby," titah Arka.
Reyna pasrah dan memutuskan duduk menunggu di kasur. Arka berjalan menuju lemari pakaian dan mencari pakaian yang cocok untuk Reyna-nya.
"Nah dapat. Pakai ini aja sayang," ucap Arka sambil membawa baju.
Reyna berdiri dari duduknya dan mengambil baju pilihan Arka. Dengan kesal, Reyna membawa baju itu ke ruang ganti dan meninggalkan Arka yang tersenyum melihat tingkah istrinya itu.
"Arka, bajunya masa begini sih?" protes Reyna sambil mendegus kesal.
Ah ayolah, baju itu hanya sepanjang lutut di bawahnya sedikit dan se-siku tangan Reyna, apa yang salah.
"Itu sangat pas untukmu sayang. Tidak terlalu terbuka dan tidak terlalu tertutup," jawab Arka santai.
"ARKA!!"
Reyna kesal dengan jawaban santai Arka, Arka itu terlalu posesif sampai sejauh ini. Reyna mendegus kesal lalu melipat kedua tangannya di dada.
Arka mendegus kasar melihat kelakuan istrinya itu, kesal aja pakai acara merajuk.
"Diam lah baby, itu cocok untukmu. Membuat mu terlihat cantik dan... sexy," bisik Arka di akhir.
Reyna memerah malu lalu memukul lengan Arka kesal. Hello, Reyna tak bisa di goda atau ia akan memerah menahan malu.
"Kau harus ingat satu hal sayang...," ujar Arka menarik Reyna ke pelukan nya.
"Kalau aku tak suka membagi milikku dengan orang lain, bahkan untuk keluarganya sendiri baby. Kau tau itu bukan?" tanya Arka.
Reyna mengangguk di pelukan Arka, Reyna cukup mengerti dengan kalimat itu. Mencerminkan sikap asli seorang Arka.
"Karena kau sudah paham, bisakah kita berangkat sekarang Nyonya?" tanya Arka.
Reyna melotot lalu mengangguk girang.
"Ayo!" serunya.
"Dan ingat satu hal, jangan genit kepada laki-laki lain, atau hukuman manis menanti dirimu Nyonya," ucap Arka datar.
"Baiklah, baiklah aku gak akan genit, paling cuma senyum dikit aja kok," ujar Reyna mengedipkan matanya kepada Arka.
"Reyna, awas saja kalau berani!!"
"Aku berani sayang, apa sih yang seorang Reyna gak berani. Memancing emosi seorang Arka aja, aku berani," goda Reyna lagi.
"Sialan," decak Arka pelan.
Reyna terbahak melihat respon Arka, menggoda Arka akan menjadi kegiatan tambahan nya selanjutnya.
Tbc