Porta Magica

Porta Magica
BAB 28 PINTU RUSAK



PINTU RUSAK


Bastia, seorang wanita yang berasal dari Kalimantan Selatan, telah melakukan perjalanan yang panjang dan penuh petualangan. Dia telah menjelajahi dunia sihir dan menghadapi berbagai rintangan yang sulit. Namun, saat dia berusaha kembali ke rumah, dia menghadapi masalah yang tak terduga.


Setelah berbulan-bulan petualangan yang melelahkan, Bastia tiba di pintu ajaib yang selama ini menjadi jembatan antara dunia manusia dan dunia sihir. Namun, ketika dia mencoba melewati pintu itu, dia menyadari bahwa pintu itu rusak parah. Pintu ajaib yang biasanya memancarkan kekuatan magis sekarang tampak lemah dan hancur.


Bastia merasakan kekecewaan dan kebingungan yang mendalam. Dia tidak bisa memahami mengapa pintu ajaib ini rusak dan bagaimana dia bisa kembali ke rumahnya di Kalimantan Selatan.


"Bastia (dengan kecewa): Oh tidak, pintu ajaib ini rusak parah. Bagaimana aku bisa pulang?"


Bastia berjongkok di depan pintu ajaib yang hancur. Dia melihat kerusakan yang parah, dengan retakan-retakan besar yang melintasi permukaannya. Pintu ajaib itu memancarkan aura magis yang lemah, memberi tahu Bastia bahwa memperbaikinya akan membutuhkan waktu yang lama.


"Bastia (dengan kepala tertunduk): Aku tidak bisa pulang sekarang. Aku harus mencari cara untuk memperbaiki pintu ajaib ini."


Dengan tekad yang kuat, Bastia memutuskan untuk menunda perjalanannya pulang dan memfokuskan diri pada perbaikan pintu ajaib. Dia menyadari bahwa ini adalah tugas yang sulit, namun dia tidak akan menyerah.


Bastia memulai pencarian yang panjang dan rumit untuk mencari solusi. Dia mengunjungi para ahli sihir, perpustakaan kuno, dan tempat-tempat magis tersembunyi di seluruh dunia. Dia mempelajari pengetahuan kuno tentang sihir dan meminta bantuan dari makhluk magis yang bijaksana.


Namun, semakin Bastia mencari, semakin terasa sulit untuk menemukan solusi yang tepat. Pintu ajaib ini rusak dengan cara yang tidak biasa, dan tidak banyak yang tahu bagaimana memperbaikinya. Bastia merasa putus asa dan merasa seperti dia terjebak dalam dunia sihir tanpa bisa kembali.


"Bastia (dengan keputusasaan): Apakah aku benar-benar terjebak di sini? Bagaimana aku bisa pulang?"


Namun, di tengah keputusasaan, Bastia bertemu dengan seorang penyihir tua yang memiliki pengetahuan yang mendalam tentang pintu ajaib. Dia memberi tahu Bastia tentang ritual kuno yang dapat memperbaiki pintu ajaib, namun ritual itu membutuhkan bahan-bahan langka dan waktu yang lama untuk dilakukan.


Bastia mengambil keputusan yang sulit namun penting. Dia memutuskan untuk mengikuti ritual itu, meskipun itu berarti dia harus menunda perjalanannya pulang ke Kalimantan Selatan.


Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu. Bastia dengan sabar melanjutkan ritualnya, berharap bahwa pintu ajaib akan pulih dan dia bisa kembali ke rumahnya.


Namun, saat waktu berlalu, Bastia menyadari bahwa pintu ajaib ini membutuhkan lebih banyak waktu dan upaya daripada yang dia perkirakan. Pintu itu masih tetap rusak, dan dia belum bisa menemukan cara untuk memperbaikinya sepenuhnya.


"Bastia (dengan sedih): Aku telah mencoba sekuat tenaga, namun pintu ajaib ini masih rusak. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan."


Bastia merasa putus asa dan hampir kehilangan harapan. Namun, dalam keputusasaannya, dia mendapatkan dukungan dari teman-teman yang setia. Mereka memberikan semangat dan dorongan padanya untuk terus mencoba.


Mereka bersama-sama mencari solusi baru dan meminta bantuan dari penyihir dan makhluk magis yang bijaksana. Mereka menggali lebih dalam ke dalam pengetahuan kuno dan eksperimen dengan berbagai mantra dan sihir.


Akhirnya, setelah bertahun-tahun upaya dan perjuangan, mereka menemukan solusi yang mungkin. Mereka menemukan mantra kuno yang, jika diucapkan dengan tepat, dapat memperbaiki pintu ajaib secara sementara.


Bastia dan teman-temannya dengan hati-hati mengucapkan mantra itu di depan pintu ajaib yang rusak. Cahaya magis menyelimuti pintu, dan perlahan-lahan, retakan-retakan mulai memudar dan pintu ajaib itu tampak lebih utuh.


"Bastia (dengan gembira): Ini berhasil! Pintu ajaib ini telah diperbaiki!"


Mereka merayakan kesuksesan mereka dengan sukacita. Pintu ajaib yang telah diperbaiki memberi harapan baru bagi Bastia untuk kembali ke rumahnya di Kalimantan Selatan.


Namun, mereka sadar bahwa perbaikan ini hanya sementara. Pintu ajaib ini masih rapuh, dan akan membutuhkan perawatan yang teratur agar tetap berfungsi dengan baik.


Dengan hati yang berat, Bastia memutuskan untuk menunda perjalanannya pulang dan bertekad untuk menjaga pintu ajaib ini agar tetap utuh. Dia tahu bahwa tugasnya belum selesai, dan dia tidak akan berhenti sampai pintu ajaib ini benar-benar pulih.


Bastia melanjutkan petualangannya, mencari cara untuk memperbaiki pintu ajaib secara permanen. Dia berharap suatu hari dia akan berhasil, dan dia akan dapat kembali ke rumahnya dengan selamat.