
"Cla, bersikaplah lebih natural!" teriak Farhan. Fotographer Clara yang bertanggung jawab untuk foto model salah satu brand fashion Indonesia yang terkenal, yang kebetulan tiap seasonnya selalu menggunakan Clara sebagai wajah katalognya.
"Bagaimana aku bisa natural. Dia terus menatapku. Bagaimana nih.." bisik Clara kepada Farhan sembari melirik kearah laki-laki berjas yang tengah duduk dimeja cafe samping tempat Clara melakukan photoshot.
Clara yang memakai baju sedikit terbuka merasa sedikit takut dan risih. Bagaimana tidak, laki-laki itu terus melihatnya tanpa mengedipkan mata sembari menyesap kopi panasnya.
Clara akhirnya dengan cepat menyelesaikan sesi fotonya saat Farhan membalas bisikannya.
"Mungkin dia ingin mengajakmu check in" bisik Farhan dengan tawa kecilnya.
***
Pagi ini cuaca menunjukkan angka -2 derajat celcius. Clara yang tengah tertidur akhirnya bangun karena sinar matahari yang menyinari wajahnya karena lupa menutup horden kamar hotelnya.
Hari ini dia tidak memiliki rencana apapun. Walaupun diluar negri, tp ini adalah perjalanan ke empatnya dalam satu bulan. Kepalanya bahkan masih pusing karena jetlag.
Setelah benar-benar mengembalikan nyawanya, Clara segera beranjak dari kasurnya dan berjalan malas menuju kamar mandi.
Walaupun diluar cuaca sangat dingin, namun hotelnya benar-benar hangat. Ia bahkan dengan santai menggunakan hotpants dan kaos polos croptop untuk turun dan sarapan.
Clara sendirian. Farhan, sang fotographer yang menemaninya harus pulang terlebih dahulu karena harus menemani ibunya kerumah sakit. Namun bukan hal luar biasa bagi Clara. Karena sendirian memang keseharian Clara.
Clara adalah anak tunggal kaya raya yang ditinggal kedua orang tuanya dalam kecelakaan 12 tahun lalu. Bersama dengan Clara dalam mobil, kedua orang tuanya harus meninggal dalam luka yang sangat parah, dan hanya Clara yang tertinggal.
Bagaimana dengan keluarga lainnya?
Tidak ada.
Kedua orang tua Clara adalah kisah romansa yang tidak direstui oleh keluarga manapun. Jadi dengan otomatis, Clara sama sekali tidak dianggap sebagai keluarga.
***
Terlihat restourant sangat ramai. Ya, karena ini adalah salah satu hotel terbaik di LA.
Clara sedikit tersedak. Segera meminum air putihnya dan meletakkan garpunya. Ia terkejut melihat ada laki-laki mesum yang terus melihatnya kemarin.
Kini laki-laki itu tidak menatapnya lama. Hanya sekilas. Melihat Clara yang masih menyeka mulutnya dengan tisu.
Seperti kemarin, laki-laki itu terlihat santai dan rapi. Mengenakan jas hitam namun tidak terlihat kaku. Terlihat satu kancing kemejanya tidak ditautkan. Sedikit memperlihatkan dadanya yang bidang dan terlihat atletis.
Pria ideal Clara. Pikirnya dalam hati.
"Nggak. Dia kelihatan mencurigakan" gumam Clara lagi. Menolak perhatiannya terus tercurah pada laki-laki itu.
Tak lama laki-laki itu bergegas membawa tas kecil miliknya yang berisi lumayan padat. Entah apa yang dibawanya.
Melihat kepergiannya, Clara melanjutkan makannya dan menghabiskan dengan seluruh tenaga. Clara adalah model yang sangat suka makan. Entah bagaimana tubuhnya bisa selalu ideal dan bagus.
Clara sudah kembali ke kamarnya. Mengemas tiap barangnya yang sedikit itu sembari bernyanyi.
Nyanyiannya terhenti karena suara ketukan di pintu kamar hotelnya. Sedikit bingung. Karena Ia tidak merasa memesan layanan apapun.
Tanpa mengikat rambutnya yang panjang dan hitam itu, Clara membuka pintu perlahan.
Melihat laki-laki mesum yang terus menghantuinya dari kemarin, berdiri hanya menggunakan kemeja dan celana hitam didepan pintunya.
Rambutnya sedikit berantakan, namun terlihat tetap tampan.
Laki-laki itu menunduk perlahan dan mengucapkan suatu kalimat dengan perlahan.
"Menikahlah denganku!"