Our Promise Together

Our Promise Together
Chapter 5



25 Desember 2015


Jreng...


Jreng...


Jreng...


Itu adalah suara permainan gitar dari Kak Levi. Dia adalah seorang musisi yang berbakat, dia selalu memainkan gitar untukku dan Kak Richard.


"Keren kak-!"Pujiku


"Ahahaha, terima kasih"


"Aku juga mau diajarkan main gitar-"Pintaku


"Uwah, boleh saja, besok akan aku ajarkan ya"


"Yeaaayyy-!!"


Aku pun diajarkan bermain gitar oleh Kak Levi, meskipun tanganku terluka karenanya. Tetapi hasilnya sangat sebanding, dua tahun kemudian aku bisa bermain gitar meskipun hasilnya tidak lebih baik dari Kak Levi


20 Juni 2015


"Kakak, kakak, tunjukkan permainan gitarmu lagi kak" Kataku sambil merangkul Kak Levi yang sedang belajar di ruang belajarnya


"Lyliaaa-!!"Teriak Kak Richard sambil berlari ke arah kami berdua "Kau tidak boleh mengganggu Kak Levi yang sedang belajar-!"Serunya sambil melepas rangkulan ku dari kak Levi


"Apaan sih kak? Aku cuma mau mendengar permainan gitar kak Levi saja kok-!"


"Kak Levi sedang belajar, jangan mengganggu-! Nanti dia tidak fokus belajarnya tau-!"Kami berdua pun beradu argumen, kak Levi hanya melihat kami berdua sambil tersenyum.


"Sudah sudah kalian berdua, jangan ribut lagi, aku akan memainkan sebuah lagu yang baru ku buat" Ucap kak Levi mengelus rambut kami. Kami hanya terdiam sementara Kak Levi mengambil gitarnya lalu duduk di depan kami.


"Judulnya adalah, Farewell Song"


Tangannya pun memetik senar gitar dan memainkan intro dari lagu tersebut


"Waahh..."Mataku dan Kak Richard berbinar-binar melihat permainan kak Levi


Nada, dan suara kak Levi membuatku merasakan kesedihan yang ada di dalam lagu itu, bahkan baru saja awal lagu aku sudah berkaca-kaca


Kak Levi pun memetik senarnya untuk menutup lagu tersebut


"Ke... Kereeennnn-!!"Puji Kak Richard sambil menyeka air mata yang hampir menetes


"K... Kak Richard menangis, hiks hiks..."Tangisku


"Apa? Aku tidak menangis-!"Bantah Kak Richard sambil menyeka lagi air mata yang hampir menetes


"Aku melihatnya hiks, tadi kakak menyekanya"


"Aku tidak cengeng sepertimu-!"


"Huwaaaaa, lagunya sedih"Jeritku sambil menangis


"Ahahaha, kalian sangat lucu"Ucap kak Levi sambil mengelus surai kami berdua. Kak Richard yang diberi afeksi tersebut langsung ikut menangis meskipun tak bersuara.


"Nanti mainkan lagi ya untukku, hiks, janji-!"


"Iya iya janji"Katanya sambil tersenyum


"Hiks, huwaaa"


30 Juni 1****015


"Aku mau ke Italia-!!!"Paksaku kepada Kak Richard dan Kak Levi


"Apa? Kak Levi sedang tidak bisa kau tau?!"


"Tidak mau tidak mau, pokoknya harus liburan ke Italia-!"


"Uhh... Baiklah baiklah, Lylia dengan Richard saja yang berlibur, akan ku titipkan kalian kepada sahabatku yang ada di sana


"Benarkah?!"Mataku langsung berbinar-binar mendengar perkataan Kak Levi


"Tapi kak, bagaimana dengan kakak?"Tanya Richard khawatir


"Tak apa, kalian akan berangkat pada tanggal 1 Juli nanti, dan akan berlibur selama 8 hari"


"Asyikkkk!!!"Teriakku sambil melompat-lompat kegirangan


1 Juli 2015


Sesuai yang dijadwalkan, aku dan Kak Richard pun pergi ke bandara untuk terbang ke Italia, diantar oleh Kak Levi


"Asyik Asyik Italia~"


"Huh dasar"


Sesampainya di bandara, kami berpamitan pada Kak Levi dan menaiki pesawat tersebut. Kami pun memulai liburan kami dan menikmatinya hingga tanggal 8, karena tanggal 8 Sore kami harus berangkat ke Jerman lagi, ulang tahunku tanggal 9 Juli jadi aku harus merakayannya bersama kak Levi juga.


"Kak, aku sudah sampai di bandara, tolony jemput ya"Kata Kak Richard di telepon


Kami sampai di Berlin pukul 3 dini hari. Kak Richard pun memberitahu kak Levi agar segera menjemput kami


Pukul 05:00 AM


"Kak Levi kemana?"Tanyaku khawatir


Sedari tadi aku merasa tidak enak sejak kak Richard menutup telepon Kak Levi, apalagi kak Levi sampai sekarang belum juga sampai, semoga semuanya baik-baik saja


"Uhh seharusnya dia sudah sampai"Kak Richard pun mulai gelisah "Akan ku telepon lagi"


Pippp...


Pippp...


Pippp...


"Halo*"Suara yang tidak di kenal pun terdengar dari seberang telepon


"ini siapa? Apakah kakakku ada di sana? Bisakah aku berbicara padanya?"Setelah kak Richard bertanya seperti itu, raut wajahnya berubah, dari gelisah menjadi ketakutan, tangannya mulai lemas dan....


Prang...


Handphone yang ia pegang sekarang sudah jatuh ke tanah.


"Ada apa kak??"Tanyaku yang merasa khawatir pada kak Richard. Kak Richard hanya menarik tanganku dan pergi menuju keluar bandara. Ia menghentikan taksi yang lewat dan membawaku pergi entah kemana.


Sesampainya di tempat tujuan, aku sangat bingung, bukan rumah kami yang terlihat tetapi sebuah bangunan rumah sakit. Memangnya ada yang sakit? Atau kita pindah rumah ke dekat rumah sakit?


Kak Richard kembali menarik tanganku lagi menuju ke dalam rumah sakit, tepatnya ke ruang ICU


"Kak, kenapa ke sini?"Tanyaku, dia hanya diam


Seorang dokter pun keluar dari ruangan itu


"Bagaimana keadaan Kak Levi?"


Tunggu, Kak Levi? Dia kenapa? Wajahku pun mulai memucat


"Apa anda saudara beliau?"


"Ya, saya adiknya-!"


"Baiklah... Maafkan saya tidak bisa memberikan pertolongan pertama dengan baik sehingga dia...."


Apa? Tidak, tidak mungkin kan? Aku pasti sedang bermimpi... Ya benar, aku sedang bermimpi.. Aku akan terbangun dan mendengar permainan gitar Kak Levi lagi.


....


....


*Terjadi kecelakaan pada pukul 03.00 dini hari yang menimpa penerus dari Andersen Group, Levi Van Andersen.


Korban dinyatakan meninggal di tempat kejadian


Diduga kecelakaan tersebut disengaja oleh oknum yang memiliki dendam kepada korban*.


...


....


"AHHHH TIDAAAAKKKKK-!!"Jeritku saat prosesi pemakaman


"KAKAK SUDAH BERJANJI PADAKU AKAN MEMAINKAN GITAR UNTUKKU-!! JANGAN PERGI KAK HUWAAAA"


"Lylia sudah Lylia...."Ucap Mey yang berusaha menenangkanku. Kak Richard hanya terdiam melihat kak Levi yang dikuburkan, sementara Papa menenangkan Mama yang histeris.


"KAK JANGAN PERGI, BANGUN KAK-! JANGAN MAU DIKUBURKAN, Di sana... Di sana gelap huhu... Kakak... Hiks"Tangisku


"Lylia.... tenangkan dirimu"


"Bagaimana aku bisa tenang Mey-! Itu Kakakku-! Dia akan dikuburkan... Dia pasti akan kesepian kan?"


"Tidak, dia akan ke tempat dimana dia seharusnya berada"


"Dia akan kesepian Mey-! Ah... Bagaimana kalau aku juga ikut bersamanya, dengan begitu dia tidak akan kesepian lagi"


"Lylia kumohon jangan berkata seperti itu-!" Katanya sambil mendekapku. Didekap seperti itu, malah membuatku semakin sakit. Saat itu, aku menangis sangat keras, aku bahkan tak pernah seperti ini sebelumnya


***


Tch, dasar kak Levi pembohong


Katanya ingin memainkan gitar lagi untukku, kenapa kau malah pergi meninggalkanku?


Jahat....


Tapi, ini semua salahku, seharusnya aku tidak mamaksa berlibur ke Italia, jika aku tidak pergi pasti Kak Levi masih ada bersamaku. Aku memang egois. Aku takkan bisa memaafkan diriku sendiri...