Our Promise Together

Our Promise Together
Chapter 4



14 Oktober 2018


Setelah berkali-kali berlatih membuat Onigiri dan Tamagoyaki, akhirnya aku berhasil membuatnya dengan sempurna. Tidak gosong, dan rapih, rasanya juga lumayan.


Malam ini Mama dan Papa akan pulang ke rumah, aku ingin memberikan masakanku kepada mereka.


"Nona, Tuan dan Nyonya sudah datang"


"Ah baik, aku akan ke sana-!"


Aku pun melepas apron unguku lalu berlari menuju ruang tamu untuk menghampiri Mama dan Papa


"Mama, Papa-!"Panggilku sambil memeluk mama dan papa.


"Kami pulang Lylia"Kata Mama dan Papa memelukku juga


"Selamat datang kembali-!"Sahutku. Saat sedang asyik memeluk mama dan papa, manikku malah tertuju kepada seorang pria dengan surai dan manik yang sama denganku. Ya, dia tidak lain adalah kakakku, Richard Van Andersen.


"Eh? Kakak?"Panggilku melepas pelukan mama dan papa"Kakak-!"Teriakku sambil berlari ke arahnya lalu memeluknya


"Halo Lylia"Sapanya, memelukku lalu mengelus surai putihku


"Uwah, rambutmu semakin panjang ya? Sudah berapa lama kita tidak bertemu?"


Kak Richard adalah kakakku, selisih umur kami adalah 4 tahun. Saat umurnya 17 tahun, kami terpaksa berpisah karena dia akan melanjutkan kuliahnya di Universitas Harvard, Inggris.


"Sudah 2 tahun, aku merindukanmu kak"


"Aku juga hahaha"


"Oh ya, mama, papa, dan kakak. Ada yang ingin aku tunjukkan"Kataku melepas pelukan kakak


"Wah, surprise untuk kami?"Tanya Mama dengan mata berbinar-binar


"Ya-! Ayo kita ke ruang makan-!"


Aku pun berjalan menuju ruang makan, disusul Mama, Papa, dan Kakak.


"Tadaaaa-!"Seruku sambil membuka tudung makanan yang ada di atas meja "Tamagoyaki, dan Onigiri buatanku sendiri-!"


"Wahhh, sepertinya enak, papa jadi lapar"Ucap Papa sambil melonggarkan dasinya


"Ayo duduk duduk"Kataku bersemangat


"Kau belajar memasak Lylia?"Tanya Kakak, menarik kursi lalu duduk di sana


"Iyaa, aku baru belajar seminggu yang lalu sih, hehe..."Jawabku malu-malu "Tolong kritiknya ya~"


Kakak pun memotong Tamagoyakinya lalu memasukkannya ke mulut "Uhmm, ini enak-!"


"Wah iya-! Enak sekali-!"Puji Papa


"Sepertinya Lylia berbakat membuat makanan, apa tidak kita daftarkan saja dia ke les memasak?"Saran Mama


"Betul-! Pasti dia akan menjadi koki yang handal" Sambung Papa


"Lylia hebat ya"Puji Kakak sambil mengelus suraiku


"Uhh, kalian berlebihan deh-!"Teriakku karena malu


Setelah kami memakan makanan buatanku, Mama, Papa, dan Kakak pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat, apalagi kakak yang baru saja pulang dari Inggris.


"Lalala~"Senandungku sambil melepas kunciran rambutku dan melepas bajuku untuk menggantinya dengan piama


"Hmmm... Aku mau ke taman ah~"Gumamku sambil menyisir rambut.




Aku pun duduk di ayunan dan memandangi bulan, dan bintang di langit. Ku tutup mataku dan merasakan angin yang berhembus


"Huft..."Aku menghela napas dan merilekskan tubuhku dengan bersandar pada ayunan tersebut


Tak Tak Tak


Terdengar suara langkah kaki yang kian lama semakin terdengar, langkah kaki itu pun berhenti dan disusul suara seorang pria yang ku kenal, ya, itu kakakku


"Lylia, aku boleh menemanimu di sini kan?"Tanya- nya


"Tentu"Jawabku sambil tersenyum. Tetapi manik unguku tertuju pada nampan berisi teh dan macaron yang ada di tangan kakak "Kakak ingin meminum teh bersamaku?"Tanyaku


"Ya, sudah lama kita tidak melakukan Tea Party bersama"Jawab Kakak


"Ahaha, iya ya"kataku sambil duduk di seberang kursi yang kakak duduki


"Aku ingat teh kesukaanmu adalah Chamomile, paling suka jika meminumnya dibarengi camilan seperti macaron"Ucap Kakak sambil menyeduh teh yang sepertinya adalah Chamomile


"Wah, kakak masih ingat ya? Aku juga ingat kakak sangat suka Teh hijau dan red velvet"


"Pft-- Kau juga masih ingat ya?"


"Kakak masih menyukai red velvet?"


"Masih, aku sangaaattt menyukainya hingga kini" Teh yang sudah diseduhnya pun selesai, ia menyodorkan teh itu padaku


"Aku akan belajar membuat red velvet-! Lihat saja, aku akan membuatkannya untuk kakak" Ucapku sambil memakan macaron yang ada di piring kecil.


"Aku akan menantikannya Lylia"Katanya sambil meneguk tehnya


Hening, hanya ada suara serangga musim gugur yang seolah-olah menyanyikan sebuah lagi untuk kami berdua, rembulan yang mengintip di balik awan, hembusan angin yang menerpa rambutku terasa dingin.


"Aku rindu Kak Levi"Ucapku tiba-tiba saja. Kak Richard hanya diam mendengar perkataanku, menunduk, dan mengepalkan tangannya "Apa tak ada cara untuk mengembalikannya?" Tanyaku sambil menatap langit gelap.


Kak Richard mengangkat wajahnya sambil tersenyum miris "Meskipun kita memohon berkali-kali kepada tuhan pun, dia takkan kembali"


"Jika saat itu aku tidak memaksa berlibur ke Italia, apakah kak Levi akan berada di sini bersama kita? Meminum teh Chamomile bersama, memandangi langit yang sama"Kak Richard terbelalak mendengarku berkata seperti itu "Semua ini salahku, andaikan aku tidak memaksa berlibur ke--"


"Cukup-!"Potong Kak Richard, tubuhnya gemetaran, tangannya mulai dingin.


"Ah.. Maaf, aku malah membicarakan hal yang tidak perlu"Kataku memalingkan wajahku, aku tak mau Kak Richard melihat mataku yang berkaca-kaca


"Tak apa, menangislah... Terkadang seseorang perlu menangis untuk meluapkan emosinya" Mendengar hal itu, air mata yang tertahan di pelupuk mataku menetes, membasahi pipiku.


Melihat hal itu, Kak Richard mendekatiku lalu mendekapku. Aku pun menangis dalam dekapan Kak Richard, ahh... Ini memalukan, tetapi aku sudah tak kuat lagi.


"Aku... Aku merindukan kak Levi hiks, aku merindukan permainan gitarnya huwaaa...."


"Sudah sudah, aku di sini, aku tidak akan meninggalkanmu, aku janji"


"Ini salahku hiks, andaikan aku tidak memaksa berlibur ke Italia, Kak Levi pasti masih ada sampai sekarang"Tangisku sambil memeluk erat Kak Richard


"Lylia, ini bukanlah salahmu, ini adalah takdirnya, tak ada siapapun yang bisa mengubahnya" Katanya sambil mengelus suraiku, dan ya, dia juga mulai meneteskan air matanya meski tak sebanyak aku.


"Maaf Kak Levi, maaf Kak Richard... Aku egois... Maafkan aku"


Kak Levi, lebih tepatnya Levi Van Andersen, dia adalah kakakku dan kak Richard. Dialah anak sulung keluarga Andersen ,ia adalah seorang kakak yang baik bagiku dan Kak Richard. Ia selalu tersenyum, ia juga sangat jenius bahkan lebih jenius dibanding Kak Richard. Tetapi sayangnya di sudah tiada dalam kecelakaan tiga tahun yang lalu, tepatnya saat liburan musim panas tahun 2015.


Ini semua adalah salahku yang egois, yang hanya mementingkan diri sendiri. Aku tidak memikirkan Kak Levi maupun Kak Richard. Kematian Kak Levi adalah sebuah hukuman bagiku yang egois.