Once Time

Once Time
Epilogue



Terkadang, berbicara tentang kebahagiaan itu adalah bagian semu abu-abu dari sebuah perwujudan konklusi tentang manakah hal baik yang bisa diterima oleh seseorang. Satu sama lain, takaran itu selalu berbeda, seperti sebuah idealisme tentang keadilan yang digenggam oleh kepercayaan pada adanya ketuhanan. Kuakui, itu retorisme belaka karena tidak ada acuan pasti yang mana memperlihatkan pilihan antara ini atau itu yang lebih mendekati jawabannya.


Kembali lagi, terhadap presepsi. Seperti hal-hal yang cukup filosofis.


Baiklah, sampai di sini, kita mengungkit hal-hal yang mendasari kehidupan seperti kasih sayang, cinta, rasa kasihan, pengorbanan, dan mungkin sisi yang lain seperti keburukan. Bahkan menjadi seorang mesias sekali pun, tidak pernah menjamin seseorang mendapatkan apa itu kebahagiaan absolut.


Kurasa beberapa bulan sudah berlalu semenjak percobaan bunuh diriku, dan gadis bernama Aley itu pergi ke luar negeri untuk menyelesaikan urusannya. Dia sepertinya terlalu khawatir aku akan mati ketika aku sendirian jadi kami bertukar nomor. Beberapa kali facetime dengan layar komputer dan beberapa kali kami membaca webkomik yang sama untuk teman bersenang-senang. Kurasa setelah mengenalnya, hidup menjadi lebih baik.


Benar, solusi dari segala masalah adalah tidak sendirian. Kurasa, itu yang kudapatkan.


Ting!


Ting!


Ting!


Alley


|I'm back today haha


|Tell me that you finish TCF


|I read I'm not that kind of talent lately


^^^Indeed, but I haven't touch the novel|^^^


^^^Oh, I read the manhwa. Fully angst|^^^


^^^Why you always looking for the pathetic one|^^^


|Hahaha, fate


|Peoples keep saying they're holy traumatizing


|Bro you're traumatizing one lol. Should be compare for


^^^Crazy, what kind of joke you made|^^^


^^^But I admit it|^^^


|What you do lately?


^^^Prepare for my better life|^^^


|No way, glad. I feel like a savior


^^^Hahah lmao|^^^


|See ya, when I arrived


|Let's see you better than kdj or not


^^^From the beginning I know the answer|^^^


|Hahah, you're right. No one can beat him :p


^^^Safe flight|^^^


|Yeah lol, have a good nap


^^^Lmao|^^^


Aku menutup ruang obrolan itu, duduk di depan komputerku, menatap catatan-catatan yang berserakan dan menyesap gelas americano milikku. Sekarang aku masih lemah, tapi bukan berarti aku akan terus membiarkan diriku ditindas oleh takdir yang kebanyakan berpihak pada orang-orang buruk. Kontribusi atas apapun itu, mungkin diperhitungkan untukku, cukup menyesakkan tapi bagaimana lagi?


Salinan lukisan The Isle of the Dead di hadapanku mengingatkanku pada Dies Irae, nyanyian-nyanyian orang mati dalam bahasa Latin kuno. Sebenarnya, aku sedikit penasaran saat itu seperti apa Styx River. Keagungan, kematian, dan jalan keluar. Tiga implikasi yang sulit dipecahkan dan tidak berarti apa-apa setelah sekarang aku memiliki tekad untuk bertahan.


Kuakui, cukup sulit.


Ting tong


Aku mengabaikannya, jika dia serius, pasti akan ada bel kedua.


Ting tong


Aku bangkit dari dudukku.


Ting tong


Dia cukup tidak sabar, aku mempercepat langkahku.


Ting tong


Ting tong


Buru-buru sekali dia. Tanpa melihat rekaman cctv aku memilih untuk mempercepat langkah menemui tamu pertamaku.


Klek


Pintu terbuka, dan aku bisa melihat seorang gadis menyodorkanku kukis yang cukup familiar.


"Ada kacangnya?" tanyaku.


"Ya, ada wallnut sama pistachio—


"I have nuts allergy." ujarku menanggapi jawaban yang pernah kudengar. Dia mendongak dan membeku.


"Alley." Aku sengaja menyebutkan namanya dengan salah, gadis itu juga tampak terkejut menatapku yang muncul dari balik pintu. Dari mana dia tahu rumahku? Aku bertanya-tanya, berpikir dengan jernih apakah dia menyelidikiku atau mencuri keterangan administrasiku dari rumah sakit. Kukira penerbangannya akan lama karena sekarang baru saja terhitung tiga jam sejak kami selesai dengan ruang obrolan.


"Ini flat kamu, Joen?" Dia menatapku tidak percaya.


"Kamu tinggal di sini juga?"


"Gila, I was here when I arrived at the first day I moved. Around several months ago. Karena unit kita sebelahan, aku mau menyapa kamu tapi unit ini selalu kosong. Dan.. kamu di rumah sakit sementara setelah itu aku pergi karena urusan dan sekarang kita di sini lagi..?" Aku cukup terkejut dengan fakta bahwa orang yang memencet bel berbulan-bulan yang lalu adalah gadis ini dan sekarang kami berhadapan. Aku tidak membukakannya pintu tapi kami tetap bertemu. Dia membuka pintunya sendiri.


"Kamu selalu pencet bel lima kali." Aku menyadarkannya.


Aley mengendikkan bahu, "My habbits."


"You don't have to ring the bell anymore, 4951, that's my pin." ujarku padanya, dan menyadari bahwa ini kali pertamaku memiliki seseorang yang mengtahui nomor pin rumahku.


"It's fate, it's ain't coincident from the really beginning, Joen."


Ah dia benar, tidak mungkin skenario acak sampai sejauh ini.


"Let me in!"


"Welcome, Companion." ujarku menyingkir dari pintu dan membiarkan gadis itu masuk.


"4951? You don't have to hurt me like this!"


"Haha."


.......


.......


.......


.......


.......


...Once Again | Fin...