Once Time

Once Time
[03- Fiction between reality, they said: hold it on even it hurts to die]



Dua minggu berlalu dan aku masih menjadi penghuni setia ruang rawat inap ini. Hal yang berbeda hanyalah seseorang memindahkan kamarku yang awalnya merupakan bangsal ekonomi menjadi bangsal VIP. Masa bodoh dengan semua itu, aku memilih berpura-pura tidak tahu apapun. Tidak ada yang datang atau menjengukku. Yah aku tahu, aku memang sendirian di dunia yang dingin ini.


Mau mengutuk seperti apapun, mau menyalahkan seperti apapun, takdir tidak akan berubah. Hidup memang selalu sulit, terlebih mungkin untukku, sejak dulu. Aku pernah beberapa kali iri terhadap ayah yang terkadang lebih memilih Joel dibandingkan diriku dan berandai-andai bagaimana jika hanya ada aku. Benar, semuanya terwujud, dan entah ini kali keberapa aku menyesali keinginan itu. Lebih baik aku melihat bayangan langkah kaki ayahku yang masuk ke kamar tidur Joel setiap malam alih-alih dibuang dari kartu keluarga seperti ini. Aku memang anak yang cukup menyedihkan, tidak memiliki satu pun teman, dan aku menghancurkan keluargaku. Dahulu aku berandai berada dalam keluarga di mana hanya ada aku, ayah, dan ibu. Tapi sepertinya, sekarang aku mungkin lebih berharap mereka menjadi keluarga tanpaku saja.


Ayah, Ibu, dan Joel.


Aku masih ingin mati, setiap ada kesempatan, aku masih berharap untuk mati. Tempat ini memang tidak cocok untukku, tapi apa boleh buat, karena memang aku bisa melakukan apa?


Jendela besar di hadapanku menampilkan awan yang bergerumul, tidak ada secangkir americano yang menyesakkan lidahku dengan empat expresso shots seperti biasanya. Mungkin yang kuambil adalah satu setiap hari sebuah langkah untuk mendekat kepada kematian. Jika masih belum diberi kesempatan, maka aku akan mengupayakannya perlahan.


Aku kini sedikit berpikir, lalu tokoh utama dari novel-novel menyedihkan yang pernah kubaca apakah pernah berpikiran sama denganku? Mengapa mereka akhirnya ingin hidup?


Beberapa saat berlalu, aku selesai berpikir tentang hal itu. Tidak akan terjawab dan kini atensiku beralih pada siluet yang tampak di balik pintu kamar yang tidak sepenuhnya tertutup.


"Halo!" Gadis aneh itu mengintip dari celah pintu lalu perlahan membukanya yang membuatku menatapnya dan mengerutkan keningku.


"Aku buat cookies, mom tell me to share it because I made a lot. Can I put it here?" tanyanya, masuk kamarku tanpa alasan dan memberiku kukis seperti seorang sales.


"With nuts in it?" tanyaku sementara ia mengangguk dengan semangat.


"That's pretty right! I added pistachio and wallnut."


"Ah, I have allergy for that."


Dia tampak terkejut, namun tidak putus asa. Gadis itu lantas meletakkan satu kotak sesuatu dan kembali melanjutkan perkataannya, "So I bought a gourmet marshmallow several times, I think you have to try it. It has raspberry jam inside, get well soon."


"Why give that to me? That's yours."


"Indeed, but now yours because I want you to try it."


Setelah aku diam beberapa saat, aku membuka mulutku. "Thank you."


Dia tampak senang, lalu melambaikan tangannya dan keluar dari kamarku.


___


"Haloo, anyone here?" Keesokan harinya, gadis aneh yang tidak aku ketahui siapa namanya itu kembali lagi dengan nuansa yang lebih ceria. Memangnya manusia bisa sebahagia itu? Dalam hidupku, aku hanya menyaksikan hal-hal yang tidak terlalu menarik, mungkin pula karena hidupku memang jauh dari kata menarik.


"I'm here, I can't move." jawabku singkat, sembari membaca ******** seperti biasanya.


"Hehe," Ia terkikik dan berjalan menuju ranjang tempatku berbaring. "Aku tanam tulip dan udah berbunga. Vas itu kelihatan kosong, aku taruh di sini ya." Tanpa persetujuanku, ia memberi vas kaca itu air dan meletakkan beberapa tangkai tulip di sana.


"Oh! Aku baca itu!"


"Apa?" tanyaku mengernyitkan keningku.


"Omniscient Reader's Viewpoint."


"Yah, itu memang terkenal."


"Melankonis ya."


Aku menoleh, cukup tertarik pada pendapatnya dan meletakkan ponselku. "Kenapa?"


"Aku mungkin nggak akan bisa jadi Kim Dokja."


"Kamu memang nggak bisa isekai ke dunia lain."


"Ih, bukan itu maksudnya." Untuk pertama kalinya setelah kematian Joel aku bisa tertawa dengan lepas karena melihat ekspresinya yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Wah.. you have a really nice smile." Yah, aku tahu itu. Aku sering mendengarnya, tentunya ketika semua orang memuji Joel. Tidak ada yang memujiku seperti gadis aneh ini, tapi setidaknya wajah kami memang mirip jadi aku mengambil kesimpulan seperti itu.


"Kamu sering baca manhwa?" Topik mengenai hal yang biasa kulakukan mengalir dengan alami, dirinya menatapku dengan sungguh-sungguh, tidak seperti hanya mencari-cari bahasan yang bisa mengisi kekosongan ini.


Aku mengangguk, "Biasanya."


"Hmmm, you wishing isekai ditabrak truck-kun ya?" tanyanya sembari menyipitkan matanya dan menatapku dengan tatapan curiga.


"Iya."


Hening sebentar.


"Itu bohong. Siapa yang berharap hal kayak gitu terjadi memangnya." lanjutku, membuat candaan yang membuatnya menatapku dengan aneh. Ia berdiri dan mengambil satu kotak marshmallow yang belum sempat aku makan. Tidak perlu waktu lama hingga bungkusan plastik di dalam kotak terbuka dan gadis itu memaksaku untuk menelan satu bagian kotak besar marshmallow dengan sekali makan.


"Aku Aley."


Aku menatapnya, "Alley?"


"Mr.. Joen. Wah, nice to know you. Such a good name."


"Okay, back to topic then, aku nonton Alice in Borderland."


"Itu bagus."


"Satu menit berdarah-darah."


"Benar."


"Oh, I have to go. Kalau udah selesai baca novelnya jelasin ya! Aku nggak paham soalnya aku bodoh tapi aku tetep galauin Kim Dokja. Kim Dokja supremacy!"


Aku hanya tertawa tidak habis pikir dengannya. Hari ini aku tertawa tiga kali, karena gadis yang secara random masuk dan menawarkan kukis seperti bocah pramuka.


___


Hari ketiga di minggu ketiga, aku mulai perawatan rehabilitasi. Aku belajar berjalan, seperti anak kecil lagi, dengan perasaan yang masih sama. Yah, berharap aku mungkin jatuh dari gedung, atau alih-alih suntik nutrisi, itu ampul yang salah dan ternyata ampul untuk euthanasia.


Itu menghabiskan waktu cukup lama, dan sekarang aku duduk di kursi roda, memutar rodanya ke sana ke sini seperti orang bodoh di taman tempat rhondonendron mekar. Kilap-kilap jingga, di tengah senja yang redup dan sunyi membuatku diam.


Alih-alih berusaha, aku hanya melakukan apa yang diperintahkan. Seperti anjing, pion catur, bidak, yah apapun itu. Tidak ada visi misi menjalani hidup seperti resolusi ke depan. Aku hanya hidup saja, sampai mati. Kalau bisa, lebih cepat akan lebih baik.


"Udah selesai beluum bacanya?" Gadis itu muncul tiba-tiba seperti hantu, aku sedikit kaget sementara dia terkikik geli dan meletakkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie.


"Belum, pindah sebentar ke webkomik."


"Wah, aku juga baca webkomik soalnya banyak karakter yang ganteng." Aku tidak terkejut. Wajah dan tingkah laku otaku memang seperti itu. Bagaimanapun, itu memang sudah sepatutnya. Malah aneh, jika ia tidak memiliki ketertarikan kepada hal tersebut. Tampak seperti hipokrit sebagai penghiburan sepihak. Sesuai dengan apa yang tertanam pada korteks serebralku, itu wajar.


"Kamu di sini juga karena aku ganteng?" Aku melontarkan pertanyaan iseng, tidak berniat benar-benar memuji diriku. Kuakui kepercayaan diri seperti ini mengerikan dan memalukan. Tanpa niat yang jauh, aku tidak akan melakukannya lagi.


"Satu iya sih, dua aku nggak punya teman di sini, tiga daripada aku di kamar oma setiap saat."


"Kamu bisa baca webkomik."


"Aku baca ratusan, bagus-bagus sih, tapi kayaknya sekarang aku lagi tertarik sama yang lainnya."


"Nggak penasaran?"


"Nggak." jawabku cepat.


"Ih dasar convokiller."


"Aku suka lukisan-lukisan Claude Monet." Dia belum menyerah mengajakku berbicara.


"Sama."


"Wah, gila. Apa ini takdir?"


Takdir, ya? Apa bahkan detail kecil juga dikatakan sebagai takdir? Gadis di hadapanku cukup membuatku bertanya-tanya dengan segala tingkah tidak masuk akalnya. Tulip, marshmallow, webkomik, dia yang seorang otaku, dan apalagi setelah ini? Rasanya seperti beberapa tempat kosong terisi oleh ocehan-ocehannya.


"It's only coincident."


Dia berdecak, "Sama sekali nggak romantis."


"Memang."


"Ini." ujarnya sembari menyodorkan sesuatu padaku.


"Apa ini?" Aku menoleh ke arahnya dan mengernyitkan keningku.


"Ipod."


"I know."


"My favorite song, jangan lupa didengerin."


Aku mengangguk, tidak banyak berharap perihal selera musik kami apakah sejalan, "Oke."


"Mau apa?" Aku menoleh padanya ketika ia bangun dari kursi kayu tempatnya duduk dan melangkah ke belakangku. Kedua tangannya masih di posisi, di dalam saku hoodie merk olahraga yang cukup terkenal miliknya.


"Aku yang dorong ya, tangannya yang satu kan nggak bisa dipakai."


"Iya." Aku mengiyakannya tanpa berpikir panjang.