Once Time

Once Time
[02- Miserable, guilty, and a haughty]



"Pfft, bodoh. Icarus nggak jatuh cinta sama Alectrona, Icarus kehilangan sayapnya karena rasa penasarannya. Joen, stop meromantisasi hal-hal yang ditulis dalam buku-buku romantis. Pada akhirnya, yang benar-benar mendorong seseorang itu adalah rasa penasaran dan ambisi yang besar." Joel terkikik geli mendengar perkataanku sebelumnya yang mengatakan tentang kisah Icarus yang diromantisasi sedemikian rupa. Ingatan ini, ketika kami masih duduk di bangku sekolah dasar. Joel adalah saudara kembarku, aku mungkin perlu membuat satu jilid buku untuk menjabarkan betapa berharganya ia dibandingkan diriku.


Bisa dibilang, hanya satu yang mungkin menjadi kelemahannya yaitu rela mengorbankan apapun demi diriku.


Mungkin aku belum memperkenalkan diriku, maka akan aku tulis sebuah penjelasan singkat tentang siapa aku. Aku Joen Vasant, kami berdua lahir di dalam keluarga dengan marga yang dimiliki semua anggotanya, yaitu Ardana. Untuk lepas dari belenggu bayang-bayang keluarga termashyur itu, kami kerap memilih menggunakan nama depan dan nama tengah kami.


Aku lahir beberapa menit setelah Joel, dan selepas aku lahir, ibuku dinyatakan meninggal. Benar, aku membunuh ibuku di hari pertama aku hidup. Joel lahir sebagai bayi yang sehat, sedangkan aku lahir dengan fisik yang lebih kecil dan dalam kondisi kelainan jantung. Yah, seharusnya aku memang tidak senang berlarian karena aku mungkin bisa mati kan? Tapi bagaimanapun, aku masih hidup dan itu cukup membuatku merasa frustrasi.


Sebenarnya seburuk apa aku hingga aku tidak mati dengan cepat padahal orang-orang bilang jika orang yang baik akan cepat mati. Mungkin karena pembunuhan pertamaku adalah ibuku.


"Yah, mungkin itu untuk batasan tertentu." jawabku yang saat itu masih kecil dan mengendikkan bahu. Wah, aku tampak cukup bersemangat di sana, membolak-balik halaman dongeng karya Grimm brothers hingga terbuka dongeng tentang Old Sutan.


"Tapi darimana kamu dapat ide itu? I think that's kind of a big deal enough." Setelah menertawakanku, saudara kembarku yang baik hati itu menatapku dengan penasaran.


"Yeah, I read it somewhere."


"Kamu datang ke history class Madame Laurette this day?" Pertanyaan lain diajukan olehnya.


"Nggak, it's my free time. I'll go to the game zone and play Pirates of the Caribbean."


"LOH! You leave me?!" Joel kecil melotot padaku dan bangkit dari duduknya yang malas-malasan, beralih menatapku dengan menggebu yang membuat aku masa kini tertawa kecil menyaksikan ingatan itu. Ah, aku ingin memeluknya. Andai saja aku tahu kita tidak memiliki waktu sebanyak itu, aku akan memperlakukannya dengan baik.


"Since you runaway from your class, that's ain't my responsibility." ujarku acuh tak acuh yang membuatnya menatapku dengan sirat memohon yang cukup lucu.


"Joen, I beg you."


________


Ingatan selanjutnya adalah ingatan di mana aku melihat Joel yang mungkin seumuran denganku. Kuakui, kami memang tidak jauh berbeda satu sama lain. Ia tampak tersenyum menatapku sementara aku mengernyitkan keningku.


Dia bisa melihatku?


"Joen, it's been a long time." ujarnya dengan suara bariton yang membuatku menatapnya bingung. "That might be rough for you, but I'm glad you're alive." lanjutnya, membawaku ke dalam dekapan yang kurindukan setengah mati.


"Kita belum saling bicara sejak saat itu."


"Am I die?" Aku bertanya padanya, dalam satu kalimat itu aku menghanjukkan jutaan harap bahwasanya sekarang aku tidak perlu kembali lagi ke tempat mengerikan itu. Biarpun aku hanya harus diam dan menatap kekosongan, itu tidak apa-apa. Itu tidak akan lebih buruk dibandingkan dengan mengingat betapa kejamnya rasa bersalah itu meligariku.


"You don't, but we meet." ujarnya, sementara aku merasa seperti dijatuhi sebuah batu. Ah, aku masih orang yang jahat, karena itu aku belum bisa mati.


"It's okay to cry in front of me." Ia kembali mendekapku, mengusap punggungku dengan sentuhannya yang hangat. Air mataku tumpah ruah, aku tidak bisa lagi bercanda tentang hidupku di hadapannya. Tidak ada rasa sakit yang signifikan, tapi kurasa, kesedihan mendalam di hatiku benar-benar meluap. Aku terisak-isak di pelukan saudaraku yang telah meninggalkanku karena kebodohanku, entah di tempat apa ini.


"You did well Joen, I believe that you'll never give up for your happiness, for your better future." Joel menepuk-nepuk punggungku. Yah, air mataku membasahi pakaiannya, mungkin. Joel memang orang seperti itu,  itu mengapa ayah benar-benar terpukul ketika dirinya kehilangan Joel. Seharusnya aku yang mati, aku yakin semua orang sudah siap dengan kematianku karena aku memang kerap sakit.


"No." Joel menatapku dengan marah, dia menggeleng dan tampak kesal. "You never hurt me, that never be your fault. That's my choice, that's what I can do for you.. even I failed.. sorry."


"That's never be your fault." ujarku. Tidak ada satu kali pun aku pernah menyalahkannya. Semua yang terjadi pada kami, bukanlah salahku maupun salahnya. Tidak semua orang memang mau mengerti, begitu adanya.


Kuakui, Joel adalah muse bagiku. Saudaraku, separuh hidupku, dan cintaku.


"Forget about it Joen, I hope, you can life happily." ujarnya padaku, tersenyum dengan senyuman yang tidak pernah bisa disandingkan dengan apapun. Seperti mengantar kepergianku, ia lantas mengecup keningku. Kami berpisah dan sepertinya selama kami tidak bersama, Joel tumbuh.


Yah benar, ia tumbuh dewasa, jauh dariku.


"I'll wait on you until the actual time come. See you, Brother." Lidahku kelu dan napasku tercekat ketika aku melihatnya semakin kabur dan entah pergi kemana lagi diriku setelah ini.


***


"Kamu bisa mendengar saya, Joen?"


"Kamu cukup berkedip saja."


Aku berkedip.


"Selamat, benar-benar keajaiban kamu sanggup bertahan setelah cedera separah itu. Jantungmu baik-baik saja, dan luka-luka lain akan membaik seiring berjalannya waktu. Untuk sementara kami belum bisa melepas ventilator, istirahatlah dahulu."


Ah, aku belum mati. Ini benar-benar keterlaluan. Ini sakit, rasanya hatiku sakit. Luka di dalam hatiku mungkin mustahil untuk bisa sembuh. Samar-samar, aku bisa mendengar suara televisi yang mungkin dinyalakan oleh orang di sebelahku.


Putra Harmadi Wiyono, pemilik firma hukum terbesar di negara ini sukses dalam debut politiknya. Ini membuktikan bahwa umur bukanlah segalanya, dan umur bukanlah perihal kecakapan.


Ardesa Juanda Wiyono. Aku tahu persis nama itu. Kami menghadiri sekolah yang sama saat kami menginjak bangku menengah pertama. Ia menindasku, mengatakan jika aku adalah anak autis karena aku adalah anak yang kesulitan bersosialisasi. Benar, aku memang lemah dan sakit saat itu. Aku sama sekali tidak mampu melawannya, dan diam seperti orang bodoh. Semua itu terus berlanjut hingga kami hadir di sekolah menengah atas yang sama. Awalnya karena kami menghadiri kelas yang berbeda, kami tidak bertemu. Lagipula, aku mungkin jauh lebih berani dibandingkan pada saat-saat itu.


Saat itu, ia menemukanku dan mulai mempermainkanku seperti seorang kacung. Ketika lantas aku jatuh sakit, aku menceritakan semua hal itu kepada Joel. Benar, kesalahan terbesarku adalah menceritakan hal itu kepada Joel. Saudaraku yang lugu dan baik hati itu menemuinya, dan seperti yang semua orang pikirkan, ia tidak lagi pulang. Ardesa membuat Joel yang saat itu tengah membelaku tidak sengaja terjatuh ke jalanan, dan tepat ketika mobil berkecepatan tinggi menyambar tubuhnya. Sementara aku koma karena penyakitku ketika mendengar kabar kematiannya, jantungnya dicangkokkan ke dalam tubuhku.


Ayah menjadi orang yang berbeda, ia menyalahkanku, karena ayah seorang pebisnis. Firma hukum milik Keluarga Ardesa bukanlah sesuatu yang bisa dimusuhi begitu saja. Mereka memegang kendali besar atas politik dan pemerintahan, sehingga jalan apa yang bisa dipilih oleh ayahku yang harus memikirkan nasib bisnis serta koleganya?


Perasaan inferior itu menjadikannya melampiaskan semua ketidakberdayaannya padaku.


Rasanya seperti ribuan panah menusukku. Orang jahat yang menindasku, orang jahat yang membunuh Joel, dan orang jahat yang mengubah ayah itu hidup dengan kehormatan. Ia hanya hidup semakin baik sementara aku terus memohon untuk mati setiap malam dan menatap kosong dinding setiap pagi hari tiba. Apa aku lebih jahat dibandingkan dengannya yang menghancurkan hidup kami dengan mudah seperti ini?


Lantas bisakah seseorang mengatakan padaku hal jahat apa yang telah aku lakukan agar aku bisa memperbaikinya dan mati? Kenapa harus aku.. di antara semua orang yang pernah berbuat jahat, kenapa harus aku yang terus ditimpa kemalangan seperti itu? Tidakkah seseorang setidaknya menjelaskan padaku perihal apa kesalahan yang telah aku lakukan alih-alih menghukumku tanpa sepatah kata pun?


Ini terlalu berat untukku, kurasa aku.. tidak lagi bisa menahannya lebih jauh.