
Secangkir americano yang telah dingin menjadi pelabuhanku, tempatku menjatuhkan atensi dan bersandar pada leather sofa sebelum menghela napasku dengan berat. Aku membuatnya, meraciknya tadi pagi untuk menemani pagiku dalam ruangan apartemenku, yang ternyata sama sekali tidak kusentuh hingga kini.
Pahit. Aku menyesapnya sekali, kopi hitam colombia itu, sebelum aku memilih meletakkannya.
_______________
To do list :
hari libur
_______________
Ah, kosong rupanya. Aku mengucapkannya dengan nada yang kuyu.
Aku mungkin memang tampak seperti seorang otaku gila yang menghabiskan waktu-waktu istirahatku untuk membaca novel maupun komik-komik aksi fantasi melihat ruangan ini memiliki banyak koleksi webkomik dan ******** yang sudah diterbitkan. Yah, aku tidak keberatan, memang begitu adanya. Membayangkan tokoh-tokoh utama melakukan berbagai keberhasilan, menyingkirkan kemalangan, hidup bahagia, itu cukup menyenangkan. Seakan aku masih memiliki ambisi untuk melihat perwujudan dari kebahagiaan itu.
Ting Tong
Aku tidak menghiraukannya. Suara bel itu terulang selama lima kali sebelum penekan menyerah dan berpikir mungkin aku tidak ada di dalam. Ya sudah, lagipula, itu tidaklah penting. Jika itu orang-orang dekatku, mereka pasti tahu apa kata sandi kamar ini walau mungkin kini tidak ada yang mengetahuinya. Aku menatap layar komputer di hadapanku, tampak dengan jelas sebuah novel online terbuka.
Omniscient Reader's Viewpoint
Judul itu membuatku tertawa kecil, kuakui, alur ceritanya luarbiasa. Penulisnya pasti seorang jenius, aku tahu itu. Aku benar-benar larut di dalamnya. Seperti kesedihanku yang ikut menghayati kisah tokoh utama. Yah, begitulah.
Ting!
Ting!
Jayden Codax Co.
|Where are you?
|You've had forgotten?
^^^No|^^^
^^^I'll be there after the others|^^^
|Yea, ik it's unforgiven
|Don't you ever forget his sacrificial
^^^I know, I don't deserve that|^^^
|Anw goodluck
Aku memilih meninggalkan ruang obrolanku bersamanya, lantas menghela napas kembali dan mengubur diriku ke dalam sofa dengan selimut yang menemaniku begadang semalaman untuk membaca webkomik kesukaanku. Ruang apartemen sebesar 54 meter persegi dengan dekorasi yang bisa dibilang masuk ke dalam kelas luxury ini merupakan tempatku tinggal. Memang sebenarnya tidak masuk akal, namun itu sepadan dengan namaku yang dikeluarkan dari kartu keluarga dan menjadi satu-satunya anggota dalam kartu keluargaku yang baru.
Entah untuk apa aku hidup, untuk apa pula aku masih terus bernapas, aku cukup ragu.
Jam digital yang diletakkan dekat televisi telah menunjukkan pukul 12.23 p.m. Aku lantas melangkah ke kamar mandi dan selesai bersiap untuk pergi. Kota ini tampak padat, terlebih matahari telah benar-benar menduduki singgasananya. Hingga bus kota tiba, aku menunggu dengan duduk di halte. Beberapa orang memandangku, sekadar iseng, dan aku pun kerap melakukan hal yang sama.
Bus dengan tujuan yang cukup jauh itu telah sampai. Aku melangkahkan kakiku naik, menempelkan kartu uang elektrikku, dan memilih bangku dekat jendela. Jalanan yang padat dan panas yang menyengat, begitulah yang namanya weekend di kehidupanku.
Tempat yang aku tuju ada di hadapanku. Sebuah pemakaman umum.
Ya, benar. Aku sampai.
Langkah yang putus-putus, dan esensi tidak menyenangkan menjalar di seluruh tubuhku seakan-akan aku seorang pendosa yang masih belum selesai dengan pertobatannya. Aku menerimanya, tidak ada lagi sangkalan maupun perlawanan. Aku terlalu lelah untuk berusaha, aku terlalu lelah pula untuk menyalahkan. Aku.. terlalu lelah untuk hidup.
Joel Milano
Nama itu terukir dengan jelas pada batu nisan makam yang menjadi ujungku untuk melangkah. Tidak ada banyak orang, mungkin hanya aku, di sini. Peringatan kematian yang kesekian kalinya saudaraku, seseorang yang jauh lebih berharga dibandingkan diriku, seseorang yang jauh lebih bersinar dibandingkan bintang terbesar sekalipun. Ketika ia redup dan bayanganku muncul sebagai sebuah entitas, disaat itulah, aku menjadi nebula yang baru. Aku memang tidak pernah mengharapkan penghargaan yang muncul atas balasan dari aksi heroik. Begitu pula penghargaan yang aku dapatkan dalam merebut paksa hak milik yang bersangkutan. Aku tahu diri, dan aku cukup tahu diri untuk tidak mengharapkan apapun.
Memang, tapi bukan berarti aku tidak merasakan apa-apa. Bukan berarti pula aku tidak merasa sakit hati ketika aku tidak mampu menyalahkan apapun kepada siapapun.
"Udah lama, Joel. Maaf, harusnya gue datang lebih awal karena gue nggak kesini di ulang tahun lo tahun lalu."
Aku meletakkan bouquet tulip yang aku beli beberapa saat yang lalu di atas makamnya, dan duduk. Jika saja aku yang mati, mungkin akan menjadi cerita yang lebih baik daripada cerita membosankan seperti ini. Kuakui, sejak dahulu sekali, hidup memang selalu seperti ini. Entah percaya atau tidak, memang seperti tidak ingin dilakukan, namun pada akhirnya aku tetap melakukannya.
Pengecut yang takut membunuh dirinya sendiri, itu aku.
"Kamu berani ke sini." Ah, tubuhku tanpa aba bergetar. Tanpa harus menoleh pun aku tahu siapa yang ada di belakangku. Ayahku, ayah kami, orang yang membuangku ke jalanan ketika aku menjadi sumber masalahnya.
"Maaf, saya akan pergi." Aku berbalik. Namun aku menunduk, tak berani melihat matanya yang mungkin mengungkapkan sedalam apa kebenciannya padaku. Jujur saja, itu menyakitkan. Itu menyakitkan ketika aku sadar bahwa aku tidak memiliki siapapun untuk menggenggam jemariku dalam kehidupan yang kujalani ini.
"Seharusnya kamu pergi seperti orang mati." Jawabannya dingin, itu cukup melukaiku.
"Saya belum mati." jawabku yang membuatnya diam. Mungkin ayahku tengah menatapku penuh penghinaan. Mungkin orang-orang akan berpikir bagaimana makhluk sepertiku terus-menerus diizinkan untuk hidup. Tapi bagiku, diizinkan hidup adalah sebuah cara terburuk untuk menyiksaku. Entah sebanyak apa penghinaan yang kuterima selama aku hidup, entah setakut apa diriku terhadap pagi hari hingga aku memilih untuk menghabiskan malam hari yang tenang sepanjang mungkin.
Mungkin pula, itu mengapa aku berlari seperti orang linglung yang kehilangan arah selama ini.
Itu melelahkan.
"Maka berlakulah seperti kamu sudah mati." Perkataan itu terlalu dingin. Aku hanya tersenyum sebelum memilih memberi salam kepada ayahku dan melangkah meninggalkannya. Ayahku adalah orang yang hangat, walaupun itu dahulu kala. Ayah biasanya memanggil namaku dengan lembut, walau mungkin sekarang ayah tidak akan sudi mengucapkan namaku. Beberapa kerabat yang datang bersamanya terkikik menatapku yang melewati mereka tanpa kepercayaan diri sedikitpun.
Aku terus melangkah hingga akhirnya aku berlari dan membiarkan air mataku jatuh. Benar, aku memang harus terus berlari dan melupakan apapun seperti apa yang kulakukan selama ini, seperti seorang pengecut. Entah berapa lama aku berlari hingga aku hanya bisa menemukan taman kosong yang terletak di pinggiran kota ini. Kakiku mati rasa, aku terduduk. Tidak ada siapapun di tempat ini. Hanya aku dan diriku, sementara aku memeluk kedua kakiku dan menatap jalanan kosong dengan pohon-pohon yang tengah membiarkan daun-daunnya berjatuhan sebab terguncang angin.
19.23 p.m.
Aku melangkahkan kakiku dengan gontai, pikiranku berkabut, dan aku tidak dapat bertindak dengan rasional. Hari sudah gelap dan aku menghabiskan waktu untuk meringkuk di tempat sepi tadi, sesekali membaca webkomik dan meletakkannya lagi karena aku tidak mampu untuk sekadar merasa fokus terhadap suatu hal. Perkataan ayah terlalu melukaiku, sepertinya.
Sepasang airpods menempel pada kedua telingaku sementara aku menaikkan volumenya menjadi volume penuh. Lagu The Night We Met milik Lord Hurron kuputar berulang-ulang, seperti sebuah penyesalan yang hanya dapat berbaur dengan atmosfer dan hilang sepeti abu yang tertiup angin. Pendar lampu-lampu jalanan yang menghadirkan nuansa jingga bersama bising kendaraan yang samar membuatku tetap memilih melangkah di sisi pejalan kaki.
Mungkin malam ini aku ingin pulang jalan kaki, jika besok pagi masih belum sampai, maka aku hanya harus kembali berjalan dan fokus pada kelelahanku tanpa perlu memikirkan apapun.
Sepanjang jalan terkadang aku menemukan orang-orang yang masih membanting tulang untuk bekerja. Beberapanya pun buruh-buruh pabrik yang mengajak anak-anaknya untuk pergi mencari hiburan murah. Aku hanya terus berjalan dan mengamati mereka semua, ekspresi senang, sedih, kecewa, marah, ataupun kesal terlihat dan itu cukup teatrikal.
Hingga saat itu aku memicingkan mataku dan melihat orang-orang memandangku dengan wajah ketakutan. Salah satunya berteriak, seakan-akan mengatakan,
"AWAS!"
Ah, itu ingatan terakhir sebelum aku merasa tubuhku terpelanting karena hantaman yang kuat dan aku terjatuh di aspal. Keadaan berubah menjadi heboh sedangkan aku merasa aneh. Sepertinya, aku bisa mati sekarang.