
Mungkin dalam satu bulan dirawat, separuh dari waktuku dihabiskan dengan meladeni gadis bernama Aley yang tidak pernah berhenti mengejutkanku. Ia beberapa saat yang lalu dengan semangat memberiku raspberry javachip frappucino dan memaksaku untuk meminumnya sampai habis sementara ia membelikanku ukuran venti dengan whipped cream di atasnya. Aku tidak tahu, tapi gadis itu selalu memberiku rasa raspberry seakan-akan wajahku mirip dengan buah beri itu.
Pagi ini, dia tidak menggangguku. Benar, itu bagus.
Namun, hal yang paling mengejutkan bagiku adalah siapa sangka ia memiliki selera musik yang sama persis denganku. Aliran RnB, band-band Indie, dan musik country bahkan musik klasik yang cocok untuk kudengarkan memenuhi ipod yang ia berikan padaku. Kuakui, gadis itu aneh.
Dengan kruk, aku memilih untuk keluar dari kamarku dan berjalan ringan menatap area rumah sakit yang sibuk. Sebenarnya berapa lama lagi aku harus di sini? Satu bulan menghabiskan waktu di tempat ini cukup mengerikan, yah, setidaknya, masih ada gadis itu.
Ketika selepas beberapa saat aku memandang lantai, aku mememilih menatap lurus saat aku sampai di koridor rumah sakit dekat dengan taman tempatku biasa menghabiskan waktu dengan gadis aneh yang tidak diketahui asal-usulnya itu. Sekejap, aku membeku. Tatapan mataku bertemu dengan seseorang yang menjadi bagian besar rasa bersalahku.
"Lo kelihatan baik-baik aja."Sarkasme itu membuatku menanggapinya dengan tersenyum walau aku menghela napasku samar. Baik-baik saja sementara jelas kaki kananku patah dan tangan kiriku juga patah. Setidaknya luka itu terlihat jelas, begitu pula pakaian pasien yang kukenakan. Dia memang pandai dalam permainan kata sejak dahulu.
"Percobaan bunuh diri lagi? Lo sama sekali nggak menghargai jantung itu."
"Gue nggak mencoba buat bunuh diri." sergahku.
"Oh ya?"
"Memangnya lo hati-hati?" lanjutnya, menatapku dengan tatapan menghardiknya.
Aku menghela napasku pelan, "Serena,"
"Kenyataan lo punya wajah yang sama kayak Joel bener-bener buat gue kesal. Rasanya gue pengen hancurin wajah lo. Lo itu benar-benar nggak tahu diuntung."
"Kenapa Joel harus peduli sama orang kayak lo? Terlalu lemah itu dosa lo kenapa dia yang harus nanggung!"
"Gue mohon, jangan kayak gini."
"Kenapa? Lo bahkan nggak sadar karena lo Joen meninggal. Lo nggak pernah lihat jasadnya kan? Andai lo tahu, andai aja lo—
"Gue capek, gue nggak mau berdebat." Aku memotong perkataannya dengan paksa.
"Daripada capek lebih baik kalau lo mati."
"Iya gue juga berharap mati, gue nggak mau hidup ini, gue nggak mau ambil hidup Joel, tapi gue nggak bisa berbuat apa-apa Serena."
"Lo bisa kok bunuh diri." Ah, perkataannya menjadi sebuah kekuatan bagiku.
***
Dalam skenario terburuk yang pernah disimulasikan di dalam benakku, kurasa sekarang perwujudan itu sendiri. Benar, mungkin beberapa saat aku terbuai, sedikit gangguan kecil, dan rasa penasaran itu menipu kesadaranku. Serena benar, rasa bersalah ini memang tidak pantas untuk dilupakan. Rasanya hidup seperti ini bukanlah hal yang benar.
Atap rumah sakit ini tidak memiliki pagar pembatas, mungkin karena ini bukan rumah sakit jiwa. Aku diam dan menatap betapa tingginya gedung ini. Jika aku menjatuhkan diri, mungkin aku akan cukup lama berada di udara sementara tubuhku tertarik gravitasi. Setelah menyentuh aspal, tubuhku akan remuk.
Kurasa di kehidupanku ini, aku bukanlah seorang protagonis aku hanyalah seorang penjahat yang tidak memiliki panggung besar selain untuk sebuah penghakiman. Aku kembali pada ingatan-ingatanku, di mana Serena dan Joel tampak bahagia satu sama lain. Ya, aku menghancurkan pertunangan mereka berdua. Andaikata aku bertahan dan tidak mengungkit apa yang terjadi padaku, akankah semuanya berbeda?
Persetan dengan baik-baik saja. Tidak ada seorang pun selain saudaraku yang akan peduli terhadapku sekarang. Pikiranku berkecamuk, aku teringat semua hal yang terjadi dan semua itu menjadi fakta serius yang tiba-tiba kembali seperti bom-bom kecil yang meledak dan perlahan-lahan mengikis kesadaranku.
Aku muak.
Namun, aku tahu diri. Aku membuat Joel kehilangan nyawanya, membuat pertunangannya dengan Serena dibatalkan sementara keluarga gadis itu sangat membutuhkan sokongan perusahaan ayahku. Seperti cara kerja dunia yang kejam, keluarga Serena mengalami kebangkrutan. Ayahku terlalu emosional ketika dirinya kehilangan Joel, hingga perusahaan kecil yang membutuhkan investasinya itu bukanlah skala prioritasnya lagi yang tengah mati-matian mempertahankan kewarasannya.
Benar, dan semua orang tentu menyalahkanku sebagai penyebabnya. Setidaknya jika ayahku terlalu kuat sebagai pihak yang disalahkan, bukankah masih ada aku yang bahkan tidak punya kekuatan untuk sekadar berdiri? Untuk bertahan hidup, terkadang seseorang perlu menyalahkan orang lain, dan akulah yang mengambil peran kambing hitam itu di sini walaupun aku tidak pernah ingin ditindas, diperlakukan seperti kacung, dan dipukuli seperti sebuah samsak.
Hari ini aku tidak menangis, aku menatap langit dengan dingin. Orang-orang yang mati sebagai orang baik akan pergi ke langit, lantas kemanakah orang sepertiku pergi ketika mati?
Pertanyaan itu mulai menghantuiku, membuatku merasa penasaran setengah mati bagaimana rasa kematian itu.
Mungkin tinggal satu langkah hingga aku hancur berkeping-keping dalam arti yang harfiah. Rasa sesak menggerogoti dadaku yang terbakar dengan hawa panas yang terasa tidak menyenangkan. Perasaan ini terlalu bercampurbaur menjadi hal yang semu sementara aku merasa cukup tenang. Andai saja, aku mati ketika aku dilahirkan.
Tapi aku tidak menghiraukannya, beban moralitas itu terlalu berat bagiku.
"Jangan!"
Bruk
Aku diam ketika aku ditarik ke belakang, ketika aku terjatuh dan kurasa kaki kananku cukup sakit. Gadis itu tepat di hadapanku, kami berdua terduduk berhadapan sedangkan ia menangis. Aku memilih mengulurkan sapu tanganku padanya, sementara dia tampak semakin menangis dan meraihnya dengan cepat.
"Jangan.. jangan lompat."
Aku masih diam dan melihatnya sebelum aku mengulaskan senyumanku dan menghela napas. Jemariku terulur dan aku menepuk pelan ujung kepalanya, "It's too much, I can't handle it anymore."
Dia menggeleng, masih menangis.
"Kamu bukan orang jahat, kenapa kamu harus mengakui hal yang nggak seharusnya kamu akui!" Ah, kurasa dia mendengar percakapan itu.
"Itu memang sulit dipahami, tapi aku memang bukan orang baik."
"Itu preferensi, itu timbangan yang bodoh, itu timpang. Manusia cuma senang menghakimi, jangan terpengaruh." Sebenarnya, aku memang sudah terpengaruh selama ini. Aku hidup di dunia manusia, bagaimana bisa aku tidak terpengaruh?
Seperti cuci otak, doktrinisasi, penghakiman itu seperti dogma agama yang terus kudengarkan selama ini. Penghakiman itu separuhnya omong kosong, separuhnya kenyataan. Moralitas mendorongku untuk tetap membaca kenyataan, menutup separuh kebohongan itu, dan menciptakan neraka itu sendiri.
"Jangan mati, jangan mati sebelum bahagia. Setidaknya, kalaupun cuma satu kali, tokoh-tokoh novel itu bahagia sebelum mereka mati. Mereka punya hidup yang lebih baik, jadi, hidup Joen, hidup sampai kamu merasa berterimakasih pernah dilahirkan."
Air mataku tetap jatuh walaupun aku tidak ingin menangis di hadapannya.
Ah, kapan ya terakhir kalinya seseorang menahanku seperti ini? Alih-alih merasa buruk dan memalukan, ini terasa hangat.
"Hahaha." Aku tertawa ketika air mata itu tumpah ruah di pelupuk mataku.
Aku bukannya ingin mati.
Aku hanya takut menghadapi apa yang ada di depanku, seperti seorang pengecut.
Aku takut merasa kesepian lebih jauh lagi.
Aku takut terus menerus sendirian sementara semua orang bisa berbagi kebahagiaan.
Aku takut terus hidup dengan merasa bersalah hingga mau gila rasanya.
Aku.. aku ingin hidup tanpa bayang-bayang masa lalu, bukannya mati, bukannya melarikan diri, aku ingin hidup bahagia.
Aku hanya.. ingin seseorang datang.
Sekarang, aku menangis di hadapannya, seperti anak kecil yang kehilangan panutannya. Entah aku kehilangan harapanku, atau aku menemukan jalan untuk kembali. Semuanya aneh, perasaan ini, keinginan ini, di tengah tempat sunyi yang membuatku terus memikirkan hal-hal tidak penting seperti masa depan. Kurasa menurutku, orang-orang putus asa bukanlah ingin mati, mereka lelah. Mereka lelah untuk terus dirundung oleh trauma dan rasa takut.
Pada kenyataannya, yang aku inginkan hanyalah kehidupan yang normal. Aku meromantisasi bunuh diri sebagai jalan menuju kehidupan baru, mengesampingkan fakta bahwa aku bisa saja berakhir lebih menyedihkan. Namun, apa yang bisa kulakukan lagi? Bukankah terlalu lama aku kehilangan arah selama ini? Setidaknya, biarlah aku selesai dengan kehidupan ini, terlalu menyakitkan rasanya.
"Joen!"
"I'll be right here, I'll be here beside you, I'll be your companion to bear it!" Gadis itu meninggikan nada bicaranya, menyentakku, sementara aku tertawa kecil dengan perasaan yang abu-abu. Dia membawaku ke dalam dekapannya, mengusap punggungku, dan menangis di bahuku seakan-akan sekarang aku berbagi kesedihan dengannya.
Memang jika begitu.. apa hidupku akan jauh lebih baik?
Haruskah sekarang aku hidup, sekali demi diriku?