
"Aku udah ngumpulin koran yang terbit tujuh tahun lalu. Sekarang waktunya untuk mencari tahu dan memulai rencana" gumamku
Beberapa halaman di koran membahas tentang pembunuhan satu keluarga yang terjadi delapan tahun lalu, dan itu adalah berita tentang keluargaku. Tidak ada yang tahu bahwa masih ada satu anggota keluarga yang bertahano hidup hingga sekarang setelah pembunuhan itu
Ada relawan yang mau mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Dan mereka menemukan satu informasi bahwa pembunuhan itu sudah di rencanakan sejak dulu, hanya saja mereka mencari waktu yang tepat untuk memulai aksi. Di ketahui bahwa dalang dari pembunuhan itu adalah satu kelompok besar yang tersebar di seluruh Indonesia
Mereka mengincar keluargaku karena papa ku adalah seorang mafia yang mempunyai banyak bukti dan informasi yang dapat mereka ambil untuk kepentingan pribadi. Namun dengan keras papa menolak memberikan sekecil apapun informasi yang ia ketahui, dengan emosi yang sudah naik ke ubun ubun, mereka pun merencanakan pembunuhan itu
"Kamu harus belajar untuk berdamai dengan masa lalu. Memang sulit, tapi harus. Kakak bakal bantuin kamu buat nemuin dalang dari pembunuhan itu. Kakak bakal berusaha semaksimal mungkin buat bantu kamu" ucap kak Satria serius. Kini kami berada di dalam ruangan rahasia dengan penerangan minim
Disini lah tempatku menggumpulkan bukti dan informasi yang selama ini aku dapatkan. Ruangan ini tersembunyi dan kedap suara. Tak ada yang tahu tempat ini selain diriku sendiri dan kak Satria. Dulu hanya Aku yang tahu, namun entah bagaimana caranya kak Satria bisa menemukan tempat rahasia ini, aku pun tak tahu
"Kamu ingat logo ini?" Kak Satria mengeluarkan kain kecil berwarna biru tua dengan logo topi hitam bergaris putih. "Iya, aku ingat kak. Ini logo yang mereka pakai waktu itu" ucapku yakin
"Berarti kakak gak salah orang" gumam kak Satria yang membuatku bingung. "Hah? Kak Satria udah tau siapa dalang dari semua ini?" Tanyaku penasaran
"Belum, tapi sebentar lagi semuanya akan terungkap" ucap kak Satria dengan smirk nya. Ini pertama kalinya aku melihat kak Satria senyum semengerikan itu. Biasanya ia hanya akan menunjukkan senyum manis atau senyum mengejek yang sering ia tampilkan
"Di koran ini banyak hal yang janggal. Semua informasi ngga sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi. Aku masih ingat walaupun samar samar, tapi wajah keluargaku... Masih belum ku ingat" ucapku lirih di akhir kalimat
"It's okay, nanti kakak bakal berusaha nyari foto keluarga kamu. Sekarang kita harus menyelidiki hal lain" ucap kak Satria serius. Aku menatapnya dengan tatapan yang tak dapat di artikan. Sungguh, aku sangat berterima kasih kepada yang maha kuasa karena telah mengirimkan malaikat sebaik kak Satria dan bunda
"Lihat kak, disini ada alamat percetakan koran. Kita bisa pergi ke sana dan mencari tahu orang yang menulis semua informasi ini" ucapku sambil menunjuk koran tujuh tahun lalu. Kak Satria mengambil koran itu dari tanganku, "ayo kita kesana sekarang" ucap kak Satria
Motor yang kami tumpangi mulai membelah jalanan kota yang tampak sangat ramai. Sesekali kami terhenti karena jalanan macet, namun kak Satria seperti tak sabaran dan langsung menancapkan gas lalu menyelip kendaraan lain yang menghalangi. Tak banyak yang mengumpat dan hampir celaka dengan keterkejutan
"Cih! Awas saja kalau dia sampai kenapa napa. Akanku penggal kepalamu" gumam seseorang dari dalam mobil sambil memperhatikan orang yang membawa motor dengan kecepatan di atas rata rata
Brukh
Kedua mobil saling bertabrakan yang mengakibatkan mobil keduanya hancur. Kak Satria memutuskan untuk berhenti untuk memastikan. Takutnya tabrakan itu terjadi karena dirinya membawa motor dengan kecepatan yang terbilang tinggi
"Sini aku bantu" ucapku menjulurkan tangan. Lelaki itu tampak berdarah di sekitar dahinya. Mungkin saja ia terbentur saat terjadinya kecelakaan itu
"Makasih" ucap lelaki itu. "Mau di bawa ke rumah sakit ngga? Takutnya ada apa apa" ucapku. Entah kenapa aku menjadi... Emm sedikit khawatir
Lelaki itu tersenyum. "Tidak usah. Terima kasih telah membantu saya. Oh iya kenalin nama saya Cio" ucapnya menjulurkan tangan untuk berkenalan. Hey apa kau sudah gila? Di saat seperti ini malah mengajak berkenalan, batinku
"Kirana" ucapku menerima uluran tangan itu dan bersalaman. Sedangkan kak Satria tengah sibuk dengan korban yang satunya lagi. Oh iya! Aku lupa dengan keberadaan korban itu
"Kepalanya pecah" ucap orang orang yang mengerumuni korban kecelakaan yang satunya lagi. Aku terkejut, pastinya. Dengan langkah kecil aku mendekat ke arah korban itu. Sepertinya dia sudah mati, bagaimana tidak? Orang orang hanya sibuk memperhatikan organ yang keluar dari kepala korban itu
"Kak telpon ambulance sekarang" ucapku lirih. Ini kedua kalinya aku melihat sesuatu yang tragis. Aku takut, sungguh. Aku tidak ingin orang lain bernasib seperti keluargaku
Beberapa menit pun berlalu, ambulance segera datang. Begitu juga dengan polisi yang akan menyelidiki tkp kejadian. Organ kepala korban itu hancur lebur. Otak dan matanya sudah tak lagi berada di tempat seharusnya. Wajahnya juga hancur, darah segar mengalir secara percuma. Kakinya terjepit mobil yang ia kendarai
"Bagaimana kau bisa baik baik saja setelah kecelakaan besar ini?" Gumamku menatap lelaki yang bernama Cio itu lekat lekat
"Hukum alam? Mungkin" ucapnya santai. Astaga, bagaimana dia bisa sesantai itu setelah maut mencoba menggambil nyawanya? Mana masih muda
"Dek ayo kita pergi. Masalahnya udah selesai" ucap kak Satria. Aku mengangguk, namun sebelum itu aku mendekat ke arah orang yang tadi mengerumuni korban yang tragis. Kami memutuskan untuk pulang karena cuaca yang tidak memungkinkan
"Kakak ngga liat logo di pakaian korban itu?" Tanyaku. Pasalnya aku melihat dengan jelas ada logo yang tercetak di baju pria tua yang kini kepalanya hancur
"Benarkah? Lalu apa yang akan kita lakukan?" Tanya kak Satria menaiki meja di ruangan rahasia tempat kami memecahkan misi ini
"Aku menggambil dompetnya. Ternyata logo itu berhubungan dengan organisasi mafia yang bernama Hidden Black. Ini berhubungan dengan logo itu secara langsung. Lihat di bagian topi bergaris putih ini melambangkan persembunyian di dalam kegelapan" ucapku serius
"Kau sangat pandai Kirana. Oh iya, tadi kakak juga gak sengaja nemuinĀ kertas ini di depan pintu rumah" ucap kak Satria mengeluarkan kertas berwarna kuning dengan sedikit cipratan darah