
Hari ini aku sudah kembali fit seperti sedia kala. Kak Satria sedang berada di sekolah, sedangkan aku tidak ke sekolah hari ini karena aku akan mengikuti olimpiade sekitar jam sembilan pagi
Setelah sarapan tadi, aku memutuskan untuk mengulang kembali pelajaran yang akan keluar, sebab tadi malam aku tidak belajar karena sedang sakit sehabis pulang dari mall. Bayangkan saja kalian akan mengikuti olimpiade tanpa persiapan sedikitpun, rasanya ah mantap
Kemarin aku sempat menyentuh buku, hanya saja kemarin aku mempelajari ilmu geografis, materi yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang akan keluar di olimpiade nanti. Aku membaca buku geografis dengan tujuan untuk memperbaiki mood yang memburuk akibat terpeleset saat keluar dari kamar mandi kemarin sore
Hingga buku itu tamat pun, mood ku belum kembali baik. Jadi aku memilih untuk membaca novel bergendre action yang isinya penuh dengan mistery dan strategi. Novel itu cukup membuatku kembali ke mode normal
"Kamu udah siap sayang?" Tanya bunda yang sedang menyiapkan bekal mekanan yang akan ku bawa ke tempat olimpiade nanti
"Udah bunda" ucapku. Aku membereskan semua buku dan bersiap berangkat ke tempat olimpiade
"Jangan lupa di makan yah. Jangan jajan di tempat sembarangan, terus jangan naik ojol, kamu naik taksi aja" ucap bunda. Memang beginilah bundaku, dia selalu mengkhawatirkan banyak hal tentang anak anaknya
"Iya bunda" ucapku pelan. Aku mencium pipi bunda lalu berangkat. Sesampainya di tempat olimpiade, aku berkumpul dengan teman sekelompokku. Dalam satu kelompok berjumlah tiga orang. Satu laki laki, dan dua perempuan
Sejujurnya aku malas jika harus mengikuti olimpiade secara berkelompok. Aku ingin mengikuti olimpiade sendirian tanpa bantuan siapa pun
"Kalian harus semangat mengikuti olimpiade ini. Bapak harap, kalian bisa membawa nama baik sekolah kita. Bapak menunggu kabar baiknya" ucap seorang guru yang umurnya sudah cukup tua
"Baik Pak" ucap dua orang yang menjadi teman sekelompokku. Namanya Sila dan Raja, mereka yang menjadi teman sekelompokku
"Di harapkan untuk semua peserta olimpiade fisika segera memasuki tempat yang telah di sediakan karena sebentar lagi perlombaan ini akan kita mulai. Dan di mohon untuk para juri untuk segera menempati tempat yang telah kami sediakan, terima kasih"
Setelah juri dan peserta olimpiade berada di tempat yang telah di sediakan, olimpiade fisika ini pun di mulai dengan berawalan doa menurut keyakinan masing masing
Author pov
Berdoa pun selesai. Perlombaan bergengsi ini pun di mulai. Pertanyaan pertanyaan yang telah di susun untuk mengetahui siapakah yang pantas membawa piala olimpiade kali ini. Terdapat sepuluh kelompok dari berbagai sekolah yang berlomba lomba memenangkan olimpiade ini
"Mohon maaf, sepertinya di kelompok B terdapat seseorang yang tidak memenuhi kriteria untuk mengikuti olimpiade ini" ucap seorang juri dengan wajah galak seakan siap menelan siapa saja yang berada di hadapannya
"Semua peserta telah memenuhi kriteria sesuai dengan yang sudah kami tentukan" ucap seorang panitia pelaksanaan
"Peserta yang bernama Kirana Aurellia tolong maju sekarang" ucap juri itu tak mau terbantahkan. Dengan wajah tanpa ekspresi, Kirana pun maju
"Umur berapa kamu?" Tanya juri itu saat Kirana sudah berada tepat di depannya. Juri itu bingung kenapa Kirana tidak gugup atau takut saat berada di hadapannya, secara juri itu adalah salah satu orang dengan wajah yang terkesan sangat galak dan menakutkan bagi siapa pun yang melihatnya apalagi dengan jarak yang dekat
"Lima belas tahun" ucap Kirana dengan tenang
"Jangan berbohong! Kamu terlihat seperti bocah SMP" ucap juri itu
"Lihat saja nanti, kamu pasti akan kalah di olimpiade ini" ucap juri itu dengan tatapan tajam bagai silet
Tanpa kata Kirana kembali ke tempat peserta olimpiade. Sila ingin bertanya apa yang mereka bicarakan tadi kepada Kirana, namun ia urungkan karena rasa takut dengan tatapan membunuh yang Kirana miliki. Selain itu Kirana juga tidak memiliki teman seorang pun alias ia tidak butuh
Kesehariannya di sekolah hanya di habiskan dengan belajar di perpustakaan. Lalu kembali ke kelas saat pelajaran di mulai. Hanya kegiatan itu saja yang Kirana lakukan, ia malas meladeni orang yang terlalu banyak berbicara apalagi orang yang sibuk mengomentari hidup orang lain
"Pertanyaan pertama..." Pertanyaan demi pertanyaan mulai di ajukan. Ada sekitar empat puluh pertanyaan yang harus di jawab cepat untuk merebut point. Kirana menjawab sebanyak 90% sendirian. Sedangkan dua temannya menjawab masing masing satu pertanyaan
Juri yang menegur Kirana sampai tersedak air liur nya sendiri. Bagaimana tidak? Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Kirana menjawab tanpa membuat cakaran atau berpikir terlebih dahulu
"Dia jawab spontan apa gimana sih? Otaknya encer banget perasaan" ucap juri itu dalam hati. Dua juri yang lainnya terpukau dengan otak yang Kirana miliki. Padahal ini adalah olimpiade fisika yang harus memerlukan cakaran agar mendapat jawaban yang tepat. Tapi Kirana berbeda, dia menjawab semua soal tanpa membuat cakaran atau perhitungan. Semua di hitung langsung di dalam otaknya
"Kamu hebat. Dan selalu begitu" ucap seseorang yang turut hadir di olimpiade itu
"Baiklah, pengumuman akan kami..." Ucapan mc terpotong oleh ucapan juri yang bermulut pedas dengan name tag Sinta
"Kamu akan saya tes sekarang. Saya tidak yakin bahwa kamu bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan begitu cepat. Mungkin saja kamu sudah mendapat bocoran soal dari pihak yang tidak bertanggung jawab" ucap bu Sinta masih dengan mata melotot
Kirana merasa malas untuk meladeni juri ini. Bukannya takut, tapi ia ingin segera bertemu dengan kasur kesayangannya di rumah. Apalagi hari ini terasa sangat panas, ia ingin membeli ice cream bersama Satria lalu bermain di taman
Dengan berat hati Kirana maju ke depan untuk menunjukkan bahwa dia tidak mendapat sedikitpun bocoran soal untuk olimpiade
Beberapa menit pun berlalu. Juri itu terdiam saat semua pertanyaan yang ia ajukan bisa dengan mudah Kirana jawab
"Tuduhan macam apa itu?" Batin seseorang yang sudah naik pitam
"Jadi bagaimana?" Tanya salah satu panitia. Juri itu mengangguk, akhirnya olimpiade kali ini di menangkan oleh kelompok B alias kelompok Kirana bersama dua teman lainnya
"Otakku memang seperti ini. Jika kau tidak terima, itu urusanmu" ucap Kirana menatap bu Sinta tajam. Lalu ia memutuskan untuk langsung pulang
"Gimana sayang? Kamu berhasil?" Tanya bunda saat Kirana telah tiba di rumah. Dengan senyum bangga, Kirana mengangkat mendali emas yang bertuliskan 'Juara satu olimpiade fisika tingkat nasional'
"Anak bunda emang selalu the best. Bunda bangga banget sama kamu, kamu bener bener hebat" ucap bunda terharu. Sudah sekian banyak piala dan mendali yang ku bawa pulang ke rumah. Sampai sampai, kamarku penuh tanpa ada space sedikitpun untuk menaruh barang lain. Semuanya di penuhi dengan buku, piala, dan mendali
Bunda mencium pelipis Kirana sambil sesekali memeluknya sayang. "Makanan yang bunda masakin udah kamu makan kan?" Skakmat! Aku lupa memakan bekal yang bunda siapkan
Author pov end