On Going Pt 1

On Going Pt 1
2| Pertemuan Pertama



Bocah yang dulunya berwajah tampan nan imut sekarang berubah menjadi pria tampan yang dewasa. Siapa lagi kalau bukan Daniel? Sejak kejadian enam belas tahun lalu, Daniel merubah segala hal dalam dirinya.


"Woy El! Cepet kesini. Bantuin gue napa. Ini keadaan darurat banget. Omg sekarat woy" teriaknya di akhir kalimat


Tut


Panggilan dimatikan sepihak oleh Aidil, sahabat Daniel. Aidil memang ceplas ceplos tak berperasaan.


"Ma, aku pamit. Ada masalah di rumah sakit" itulah kalimat yang Daniel tulis untuk ibunya di sticky notes. Tak mungkin kan jika Daniel membangunkan ibunya pukul empat dini hari hanya untuk berpamitan? Yang benar saja!


Daniel bergegas melajukan mobilnya ke rumah sakit. Aidil, orang itu benar-benar gila!


"Cepetan El, lima menit lagi operasi dimulai" ucap Aidil tak sabaran


"Ruang operasi?"


"Udah selesai, lo tinggal siap-siap"


Mendengar itu Daniel langsung bersiap-siap. Kejadian seperti ini kerap terjadi pada seseorang dengan profesi dokter. Daniel dan dokter lainnya harus bersiap jika ada keadaan darurat seperti ini.


"Sebelum kita mulai, sebaiknya kita berdoa terlebih dahulu" ucap seorang suster


"Berdoa selesai"


Selama operasi berlangsung, Daniel merasa ada hal aneh dalam dirinya. Hal yang tak biasa telah terjadi, ada apa dengannya?


"Gimana dok? Apa operasi ayah saya berhasil?" Tanya anggota keluarga dari pasien, wajah mereka menyiratkan harapan


"Operasi berhasil" Daniel tersenyum tipis, penjelasan selanjutnya akan dijelaskan oleh rekan Daniel yang sama-sama mengoperasi pasien


"Makasih dok" tanpa sadar, seorang gadis memeluk Daniel dengan erat. Gadis itu terlalu bahagia mendengar kabar ini. Sedangkan Daniel terdiam sesaat. Ada rasa hangat saat gadis itu memeluknya.


"Woy Aluna! Apa-apaan sih" seseorang manarik tangan Aluna dengan kasar


"Eh ma- maaf dok, saya terlalu bahagia. Sekali lagi saya minta maaf dan terima kasih" ucapnya merasa bersalah. Diam-diam Daniel bernapas lega, untung saja Aluna tak sempat mendengar detak jantungnya yang berdetak terlalu cepat


"Semoga ayahmu segera pulih" Daniel pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Jantungnya terlalu berdebar sehingga otak cerdasnya tak tahu harus bagaimana.


"Agh kenapa dengan jantungku? Jangan-jangan penyakit dari pasien tadi menular?" Ucapnya sembarangan. Lihat kan? Daniel seperti orang bodoh sekarang.


"Cie yang abis dipeluk uhuy. Kuping lo juga merah banget, anjir. Ga percaya gue. Kok bisa sih" ucap Aidil yang datang entah dari alam mana


"Berisik" sarkas Daniel berusaha menyembunyikan rona merah yang menjalar hingga telinga. Dengan tergesa-gesa, Daniel meninggalkan rumah sakit


"Woy El! Thanks ya udah bantuin gue" teriak Aidil setara toa masjid


Sesampainya di rumah, Daniel mendapati ibunya tengah memasak.


"Wangi banget mah" Daniel menghirup wangi masakan Ibunya yang berterbangan ke seisi rumah


Rena tersentak kaget, "Astaga, El ngagetin. Untung tangan Mama gak kepotong"


Daniel meringgis, "Maaf mah, sini liat tangannya" Daniel menarik lembut tangan ibunya untuk sekedar mengecek. Takkan Daniel biarkan ibunya terluka, apalagi karena dirinya.


"Udah gak ada yang luka kok"


"Ini apa?" Penglihatan Daniel mulai menajam


"Itu cuma kecipratan minyak, biasa itu mah"


"Mulai sekarang Mama gak boleh masak" putus Daniel tak terbantahkan


"Huft iya deh tapi sesekali bisa kan?" Tanya Rena penuh harap. Rena tak bisa melawan Daniel karena anak itu sangat keras kepala. Apapun keputusan yang sudah diambil tak bisa di ganggu gugat


Rena kembali terkejut. Jangan bilang Ayahnya sudah tahu mengenai pengkhianatan Radit dengan Reva? Matilah Rena! Dulu ia berbohong pada Ayahnya mengenai perceraian itu.


"Pasti Kakekmu udah tau tentang pengkhianatan Radit. AAAAAA MAMA HARUS GIMANA?" Rena segera berlari ke kamarnya


Daniel pun melanjutkan langkahnya ke ruang kerja. Daniel yakin bahwa Kakek tuanya itu sudah mengetahui tentang pengkhianatan Radit sedari awal. Mengingat koneksi Kakeknya yang tersebar luas, sangat tak mungkin jika rahasia sekecil itu belum diketahui.


"Saya sudah mendapatkan informasinya"


Tut


Daniel mematikan telponnya sepihak. Sedangkan Rafa -- Teman sekaligus sekertaris Daniel berdecak sebal.


"Mari kita lihat" Daniel membuka email yang Rafa kirimkan. Mengingat kejadian tadi, bibirnya terangkat membentuk senyuman. Ini kali pertama dirinya tak terkontrol. Bahkan Daniel tak fokus untuk sekedar berbicara


Aluna Jazzlyn


•> Kelahiran 01-01-1998, California


•> Mahasiswi tingkat akhir berprestasi di sebuah universitas terbaik


•> Tak pernah menjalin hubungan karena memiliki Kakak yang posesif


•> (dsb)


Daniel membaca dengan seksama, sampai mata tajam itu terhenti pada kalimat "Aluna suka sama Gery" WTF... Pikiran Daniel mulai berkecamuk. Siapa Gery? Mungkin itu Kakaknya, ah tidak. Disini tertulis Aluna tidak memiliki Kakak laki-laki. Lalu siapa? Jangan bilang itu calon pacarnya?


Ah shit! Daniel melempar ponselnya hingga hancur berkeping-keping


"Aku harus lebih unggul dari Gery sialan itu!" Tekad Daniel


Daniel kembali mencari informasi tentang Gery, tapi sialnya ia tak menemukan apapun. Jangan-jangan Gery orang penting?


Daniel semakin pusing. Mungkin ia harus bertemu langsung dengan Gery untuk mengetahui sosoknya.


Sedangkan di lain tempat, Aluna menggenggam tangan ayahnya lembut. Sehabis operasi, Aluna sangat bahagia mendengar kabar jikalau operasi ayahnya sukses. Hari ini terbilang hari yang membahagiakan bagi Aluna, sebab ia dan kakaknya -- Alina -- berhasil membujuk sang ayah untuk melakukan operasi


Ayahnya yang keras kepala itu membuat dirinya khawatir jika penyakit mematikan itu dibiarkan begitu saja.


"Ayah cepet sadar ya. Aluna, Kak Alina, sama Bunda bakal jagain Ayah sampai sembuh" lirih Aluna


"Udah dek, lo makan dulu sana. Biar gue yang jagain Ayah disini" ucap Alina memegang bahu adiknya


"Engga kak, biarin Aluna disini jagain Ayah"


Emosi Alina tiba-tiba meningkat, "Lo pikir gue gak bisa jagain Ayah, gitu?"


Aluna menggeleng cepat. Kakaknya mulai terbawa emosi. "Yaudah, aku ke kantin dulu. Kakak mau nitip sesuatu?"


"Gak"


Setelah keluar dari ruang inap, Aluna menyadari sesuatu. Ternyata rumah sakit ini memiliki suasana yang terkesan nyaman untuk pasiennya. Ada taman bunga, air mancur dengan ikan di dalamnya, rumah pohon, dan masih banyak lagi. Bangunan mewah ini sekilas tampak seperti tempat wisata, bukan rumah sakit.


"Ah segarnya" angin pagi menerpa wajah cantiknya. Jam segini rumah sakit sangat sepi. Hanya beberapa orang saja yang terlihat.


Saat tengah mengamati pemandangan, Aluna mengingat kejadian dimana ia memeluk dokter tampan itu karena terlalu bahagia mendengar operasi Ayahnya berjalan lancar. Aluna benar-benar tak sengaja melakukannya.


"Aluna, apa yang kau lakukan? Agh pasti dokter tampan itu menganggap kau perempuan genit" Aluna mengacak rambutnya frustasi.


Aluna berani bersumpah, ia tak sengaja memeluk dokter itu. Aluna akui jika dokter itu sangatlah tampan dengan mata tajam, alis tebal, bibir tipis, kulit mulus, dan tak lupa dengan tatapan tajamnya. Tapi itu tak membuatnya berani hingga memeluk dokter tampan itu