Ocean of Love

Ocean of Love
spike



Pagi itu, Luna bangun dengan perasaan aneh yang tak bisa ia jelaskan. Seolah ada energi baru yang berdenyut dalam dirinya. Kepala penuh tanya, ia menuju kamar mandi untuk mencoba meredakan perasaan bingung yang melanda.


Luna (berpikir): "Mungkin mandi bisa membantu mengusir kegundahan ini."


Luna menghidupkan shower dan merasakan air hangat yang mengalir di tubuhnya. Ia menutup matanya, membiarkan pikirannya merenung, berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi.


Tak disangka, kalung Batu Kehidupan yang melingkar di lehernya mulai memancarkan cahaya terang. Cahaya itu semakin memenuhi kamar mandi hingga mencapai intensitas yang luar biasa. Luna membuka matanya dan tercengang melihat bayangan dirinya di cermin.


Alih-alih kakinya yang biasa, kini ia memiliki ekor duyung yang memukau. Luna menatap refleksi dirinya dengan takjub, mencoba mencerna kejadian yang baru saja terjadi.


Luna (berteriak): "Apa ini?! Aku... aku menjadi duyung?!"


Teriakan Luna membuat ayahnya bergegas menuju kamar mandi.


Ayah (khawatir): "Luna, ada apa? Kenapa kamu berteriak?"


Luna (dengan suara gemetar): "Ayah, aku tidak tahu apa yang terjadi! Lihatlah aku!"


Ayahnya berdiri di ambang pintu kamar mandi, terkejut mendengar teriakan Luna. Dia berusaha membuka pintu, tapi Luna berteriak lagi.


Luna (menjerit): "Jangan masuk, Ayah! Aku... aku berbeda!"


Ayah (bingung): "Berbeda? Apa maksudmu, Luna?"


Luna (dengan suara gemetar): "Aku... aku menjadi duyung, Ayah."


Ada jeda sejenak. Ayahnya terdiam, mencoba memahami apa yang baru saja didengarnya.


Ayah (dengan suara hampir tidak percaya): "Duyung? Luna, apa yang kamu bicarakan?"


Luna (dengan suara putus asa): "Aku tidak tahu, Ayah! Aku hanya tahu kalau tiba-tiba ekor duyung ini muncul menggantikan kakiku!"


Ayahnya menelan ludah, mencoba meredakan detak jantungnya yang berdebar kencang. Dia tidak yakin apa yang harus dia lakukan atau katakan. Dia hanya bisa berdiri di luar kamar mandi, merasa bingung dan khawatir.


Ayah (dengan suara lembut): "Luna, tenanglah. Kita akan mencari tahu apa yang terjadi. Aku akan mencari bantuan."


Luna (dengan suara histeris): "Tapi Ayah, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak bisa keluar dari sini dengan ekor duyung ini!"


Ayah (dengan tekad): "Kita akan menemukan solusinya, Luna. Aku akan segera kembali. Jangan panik, ya. Aku selalu di sini untukmu."


Ayah Luna berlari kembali ke kamarnya, membuka laci meja dan mengambil sebuah buku tua yang sudah lama tidak disentuh. Buku itu adalah warisan dari ibu Luna, sebuah buku yang berisi berbagai pengetahuan tentang Batu Kehidupan dan kekuatan-kekuatan yang terkait dengannya.


Ayah (menggumam): "Harus ada sesuatu di sini... sesuatu yang bisa membantu Luna..."


Dia membuka buku itu dan mulai membaca dengan cepat, mencari informasi yang dibutuhkan. Matanya berhenti pada satu halaman, di mana ada sebuah mantra yang bisa menghilangkan sisi duyung Luna.


Ayah (membaca): "Untuk menghilangkan sisi duyung, tubuh harus tetap kering... dan satu-satunya yang bisa mengubahnya kembali menjadi manusia adalah hewan kecil, seekor anak anjing laut yang berbeda, yang memiliki kekuatan embun es..."


Ayahnya terdiam sejenak, mencoba memahami apa yang baru saja dia baca. Dia mengingat ada sebuah cerita yang diceritakan ibu Luna tentang seekor anjing laut kecil bernama Spike, yang memiliki kekuatan embun es.


Ayah (menggumam): "Spike... itulah jawabannya. Aku harus menemukan Spike."


Ayah (dengan suara lembut): "Luna, aku perlu pergi sebentar untuk mencari penawar untukmu, nak. Coba tenangkan dirimu dan jangan keluar dari kamar mandi dulu, ya."


Luna (bingung): "Penawar? Ayah mau mencari penawar di mana?"


Ayah (dengan ekspresi bingung): "Eh... itu... aku... aku belum tahu. Tapi jangan khawatir, aku akan mencarinya!"


Luna (tertawa kecil): "Ayah, kamu terlihat bingung sekali. Apakah kamu yakin bisa menemukan penawarku?"


Luna (menggumam): "Semoga Ayah bisa menemukan penawarku. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan dengan ekor duyung ini."


Sementara itu, ayah Luna berlari ke sana kemari di luar rumah, mencoba mencari tahu di mana dia bisa menemukan anjing laut kecil bernama Spike. Dia tampak seperti ayam kehilangan anak, bingung dan panik, tetapi tetap bertekad untuk menemukan penawar untuk Luna.


Setelah berjam-jam mencari, ayah Luna akhirnya menemukan petunjuk tentang di mana dia bisa menemukan anjing laut kecil bernama Spike. Petunjuk itu mengarahkannya ke pantai di sebelah timur kota, tempat koloni anjing laut biasanya berkumpul.


Ayah (menghela napas lega): "Akhirnya, sebuah petunjuk yang jelas. Semoga aku bisa menemukan Spike di sana."


Dengan harapan baru, ayah Luna berlari menuju pantai, berharap bisa menemukan anjing laut kecil yang disebut-sebut dalam buku itu. Dia tiba di pantai saat matahari mulai terbenam, dan melihat sekelompok anjing laut sedang bermain di tepi air.


Ayah (berteriak): "Spike! Apakah Spike ada di sini?"


Anjing laut-anjing laut itu menoleh ke arahnya, tampak bingung. Ayah Luna merasa sedikit kikuk, tetapi dia tahu dia tidak punya pilihan lain.


Tiba-tiba, seekor anjing laut kecil dengan bulu yang berkilauan seperti embun es melompat ke arahnya. Dia tampak berbeda dari anjing laut lainnya, dan ayah Luna tahu dia telah menemukan Spike.


Ayah (gembira): "Spike! Akhirnya aku menemukanmu. Bisakah kamu membantu kami?"


Spike, anjing laut kecil itu, menatap ayah Luna dengan mata yang penuh keceriaan. Tiba-tiba, dia melompat kembali ke dalam air dan mulai berenang menjauh dari pantai. Ayah Luna menyadari bahwa Spike mungkin menguji tekadnya.


Ayah (bersungguh-sungguh): "Tunggu, Spike! Aku serius, kami membutuhkan bantuanmu!"


Ayah Luna, tanpa ragu, melepas sepatunya dan melompat ke dalam air, berusaha mengejar Spike. Dia berenang secepat mungkin, tetapi anjing laut kecil itu terus bergerak lincah di dalam air, sesekali melompat dan membuat ayah Luna terkejut.


Di tengah kejar-kejaran itu, mereka berdua menciptakan momen lucu yang tidak biasa. Ayah Luna, seorang pria paruh baya, berenang di laut sambil mengejar seekor anjing laut kecil, berharap bisa meminta bantuan untuk mengembalikan putrinya menjadi manusia lagi.


Setelah beberapa menit berusaha mengejar Spike, ayah Luna akhirnya menyerah. Dia merasa lelah dan kecewa, tetapi dia tahu dia harus kembali ke rumah dan memberi tahu Luna apa yang terjadi.


Ayah (menghela napas): "Maaf, Luna. Aku tidak bisa mendapatkan Spike. Aku... aku gagal."


Dia berjalan pulang dengan hati berat, merasa gagal sebagai ayah. Ketika dia membuka pintu rumah, dia terkejut melihat Luna berdiri di ruang tamu, tampak seperti manusia lagi.


Ayah (terkejut): "Luna! Kamu... kamu kembali menjadi manusia lagi? Bagaimana ini bisa terjadi?"


Luna (tertawa): "Ternyata penawarnya adalah keringkan tubuhku, Ayah. Aku hanya perlu keluar dari kamar mandi dan mengeringkan diri, dan voila! Aku kembali menjadi manusia."


Ayah Luna terkejut dan kemudian tertawa. Dia merasa lega dan bahagia, tetapi juga sedikit malu karena dia telah berusaha keras mencari penawar yang ternyata ada di rumah mereka sepanjang waktu.


Luna (bertanya): "Ayah, kamu pergi kemana? Dan mencari apa?"


Ayah (dengan wajah merah): "Aku... aku pergi mencari Spike, anjing laut kecil yang disebut-sebut dalam buku ibumu. Buku itu mengatakan bahwa dia bisa membantu mengubahmu kembali menjadi manusia."


Luna (tertawa): "Oh, Ayah! Kamu benar-benar melakukan semua itu untukku? Kamu benar-benar luar biasa!"


Ayah (tersenyum): "Tentu saja, Luna. Aku akan melakukan apa saja untukmu."


Setelah tertawa dan berbagi cerita, suasana di ruangan itu menjadi tenang. Ayah Luna menatap putrinya dengan penuh kasih sayang, merasa lega bahwa semuanya sudah kembali normal.


Ayah (dengan suara lembut): "Luna, aku sangat bangga padamu. Kamu menghadapi semua ini dengan keberanian dan kekuatan yang luar biasa. Kamu adalah putriku yang hebat."


Luna (dengan mata berkaca-kaca): "Terima kasih, Ayah. Aku tidak bisa melalui semua ini tanpa dukunganmu. Kamu selalu ada untukku, bahkan ketika situasinya tampak tidak mungkin."


Mereka berdua berpelukan erat, saling memberi kekuatan dan kasih sayang.


Ayah (berbisik): "Ingatlah ini, Luna. Tidak peduli seberapa kerasnya hidup, selalu ada cara untuk mengatasinya. Kamu adalah bukti hidup dari itu. Jadi, jangan pernah merasa takut atau ragu. Kamu lebih kuat dari apa yang kamu pikirkan."


Luna (mengangguk): "Aku akan mengingatnya, Ayah. Terima kasih."