
Suara nada dering HP membangunkan Luna dari tidurnya. Ia bangun sambil menguap dan segera menuju dapur untuk memasak makanan untuk ayahnya. Setelah masakan selesai, Luna dan ayahnya duduk bersama untuk sarapan. Mereka mengobrol sejenak.
"Ayah, jangan lupa nanti sore ada rapat di kantor," ingat Luna.
"Terima kasih, Nak. Semoga hari ini lancar untuk kita berdua," ujar ayahnya sambil tersenyum.
Setelah sarapan, Luna bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Dia pamitan kepada ayahnya dan bersalaman.
"Ayah, saya berangkat sekolah dulu ya," kata Luna.
"Semoga hari ini menyenangkan, Nak," kata ayahnya sambil mencium kening Luna.
Luna pun berangkat ke sekolah dengan penuh semangat,
Luna pergi ke sekolah dengan perasaan senang karena ia berharap hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan. Namun, begitu sampai di sekolah, perasaan senang itu segera berubah menjadi sedih. Ia melihat banyak siswa yang ditemani oleh orang tua mereka, dan hal ini membuat Luna merasa iri dan sedih karena ia merasa kurang mendapat dukungan dari orang tua.
Luna mencoba menahan air matanya dan berusaha untuk tetap tegar. Ia berpikir bahwa hari ini mungkin akan menjadi hari yang lebih baik jika ia mencoba untuk fokus pada hal-hal positif. Luna pun mencari Kalin, teman baiknya, dengan harapan mereka bisa menghabiskan waktu bersama dan menceritakan perasaannya.
Ketika Luna menemukan Kalin, ia melihat Kalin sedang tertawa bersama teman-teman lainnya. Melihat hal ini, Luna merasa sedikit lebih baik dan bergabung dengan mereka. Meskipun perasaan sedih dan iri masih ada di hatinya, Luna berusaha untuk menikmati waktu bersama teman-temannya dan mencari dukungan dari mereka.
Dalam hati kecilnya, Luna berharap suatu saat nanti ia akan memiliki keberanian untuk berbicara tentang perasaannya dan mendapatkan dukungan yang ia butuhkan dari teman-teman dan keluarganya.
Tentu! Mari kita coba lagi dengan gaya percakapan seperti di novel.
"Luna, ada sesuatu yang mengganggumu?" Kalin bertanya, melihat ekspresi Luna yang muram.
"Ah, Kalin," Luna menarik napas dalam-dalam, "Aku merasa sedih melihat banyak teman kita yang datang ke sekolah bersama orang tua mereka. Rasanya... aku iri."
Kalin mengangguk, memahami. "Luna, setiap orang punya cerita mereka sendiri. Mungkin mereka juga punya masalah yang kita tidak tahu."
"Tapi Kalin," Luna merasa kerongkongannya tercekat, "rasanya sulit untuk tidak merasa iri."
Kalin tersenyum lembut, "Aku tahu itu sulit, Luna. Tapi kamu juga punya banyak hal positif dalam hidupmu. Kamu punya kami, teman-temanmu, dan kamu adalah orang yang kuat dan mandiri."
Luna merasa air matanya menggenang. "Terima kasih, Kalin," bisiknya, "Aku merasa lebih baik berbicara denganmu."
Kalin meraih tangan Luna, memberikan tekanan ringan. "Itulah gunanya teman, Luna. Aku selalu ada untukmu. Kita akan selalu ada untuk satu sama lain."
Kalin melirik Luna yang mulai tersenyum, lalu berkata, "Nah, sekarang kamu sudah tersenyum, aku punya cerita yang pasti akan membuatmu tertawa."
Luna menatap Kalin dengan rasa penasaran, "Cerita apa?"
Kalin tersenyum jahil, "Ingat waktu kita pertama kali bertemu? Kamu tumpahkan jus jeruk di bajuku, dan aku berpikir kita tidak akan pernah menjadi teman!"
Luna tertawa terkekeh, mengingat momen konyol itu. "Ya, aku ingat! Aku merasa sangat malu dan tidak tahu harus berkata apa."
Kalin melanjutkan, "Tapi lihat kita sekarang, kita menjadi teman baik. Aku tidak pernah menyangka kita akan begitu dekat."
Mereka terus mengobrol, mengenang berbagai kenangan lucu dan menyenangkan yang mereka alami bersama. Mereka berbicara tentang kegagalan mereka dalam ujian kimia, petualangan mereka di kamp sekolah, dan bagaimana mereka selalu berusaha menolong satu sama lain.
"Bagaimana dengan saat kita tersesat di kamp sekolah?" Kalin menggoda. "Kita berdua panik, dan akhirnya menemukan jalan kembali setelah mengikuti suara burung!"
Luna tertawa terbahak-bahak, "Ya! Itu sangat konyol! Siapa sangka burung itu akan membawa kita kembali ke perkemahan?"
Kedua sahabat itu terus tertawa dan bercerita, saling menghibur dan mengingatkan satu sama lain tentang betapa kuat persahabatan mereka. Percakapan yang panjang dan menyenangkan ini membuat Luna merasa lebih ringan dan bahagia, mengusir perasaan sedih dan iri yang sempat menghantuinya.
Dentang bell sekolah berdering tajam, memecah kesunyian pagi dan menandai awal hari belajar. Luna dan Kalin, tenggelam dalam percakapan mereka yang penuh tawa, bergegas menuju kelas mereka. Mereka duduk bersama di belakang kelas, tempat yang selalu mereka pilih.
Tak lama setelah mereka duduk, pintu kelas terbuka lebar dan guru mereka masuk. "Baiklah, anak-anak," katanya, suaranya mengisi ruangan, "Kita punya siswa baru hari ini."
Seorang pemuda berjalan masuk, langkahnya penuh percaya diri. Nama pemuda itu adalah Alden. Seketika, semua perempuan di kelas berbisik-bisik dan saling berdesis. Alden, dengan wajah tampan dan aura yang memikat, segera menjadi pusat perhatian.
"Wow, lihat Alden! Dia sangat tampan!" bisik salah satu cewek.
"Aku rasa dia adalah pria terganteng yang pernah aku lihat!" bisik cewek lainnya.
Kalin menoleh ke Luna, wajahnya memerah. "Luna," bisiknya, "Aku rasa aku menyukai Alden."
Luna menoleh kaget, "Benarkah, Kalin? Kamu baru saja melihatnya."
Kalin mengangguk, "Aku tahu, Luna. Tapi ada sesuatu tentang dia... Aku merasa tertarik padanya."
Luna tersenyum, "Nah, ini akan menjadi semester yang menarik, bukan?"
Alden berdiri di depan kelas, semua mata tertuju padanya. Ia menarik napas dalam-dalam dan mulai berbicara.
"Halo semuanya, nama saya Alden. Saya baru pindah ke sini karena pekerjaan ayah saya," kata Alden, suaranya tenang dan pasti. "Saya sebelumnya bersekolah di Jakarta, dan ini adalah kali pertama saya pindah sekolah. Saya berharap kita bisa menjadi teman."
Kata-kata Alden mengisi ruangan, membuat semua orang terdiam sejenak. Ada sesuatu tentang cara dia berbicara, tenang dan percaya diri, yang membuat semua orang di kelas, termasuk Luna dan Kalin, merasa terpukau.
Kalin menatap Alden, matanya berbinar. "Luna," bisiknya, "Aku rasa Alden adalah orang yang baik. Aku benar-benar merasa tertarik padanya."
Luna tersenyum, "Kamu harus berbicara dengannya, Kalin. Mungkin dia juga merasa sama."
Kalin mengangguk, "Mungkin kamu benar, Luna. Aku akan mencobanya." Dan dengan itu, semester baru yang menarik bagi Luna dan Kalin dimulai.
Alden menatap kelas, "Ada yang ingin ditanyakan lagi?"
Seorang cewek berambut coklat mengangkat tangannya, "Alden, apa hobi kamu?"
Alden tersenyum, "Saya suka membaca dan bermain sepak bola."
Cewek lainnya bertanya, "Alden, apa nama lengkap kamu?"
Alden menjawab, "Nama lengkap saya Alden Alexander Santoso."
Tiba-tiba, Kalin berdiri, wajahnya memerah tapi penuh percaya diri. "Alden, apakah kamu punya pacar?"
Kelas meledak dalam tawa. Luna juga ikut tertawa, menutupi wajahnya dengan tangan karena malu atas ulah Kalin. Kalin duduk, wajahnya merah tapi ia juga tertawa.
Alden tertawa, "Tidak, saya tidak punya pacar."
Kalin menatap Alden, matanya berbinar. "Baiklah, terima kasih sudah menjawab," katanya, mencoba menahan tawa.
Semua orang di kelas masih tertawa, dan Luna merasa ini adalah salah satu momen paling lucu yang pernah ia alami. Meski malu, ia merasa senang melihat Kalin berani bertanya dan membuat suasana kelas menjadi lebih ceria.
Kelas kembali tertawa, dan Luna merasa hangat melihat bagaimana semua orang menikmati momen ini.
Bapak guru melanjutkan, "Baiklah, cukup tertawanya. Sekarang, Alden, silakan duduk di tempat yang sudah disediakan. Mari kita mulai pelajaran hari ini."
Alden mengangguk, tersenyum, dan duduk di kursi yang ditunjukkan. Bapak guru mulai menulis materi pelajaran di papan tulis, dan murid-murid membuka buku mereka.
Sementara itu, Luna dan Kalin berbisik di belakang kelas.
"Aku bangga padamu, Kalin," Luna berbisik, matanya bersinar.
Kalin tersenyum, "Terima kasih, Luna. Aku merasa malu, tapi aku senang melihat semua orang tertawa dan menikmati momen itu."
"Kamu tahu," Luna melanjutkan, "mungkin kamu dan Alden bisa menjadi teman baik. Siapa tahu, mungkin lebih dari itu."
Kalin mengangguk, "Hehe, mungkin. Tapi sekarang, mari kita fokus pada pelajaran."
Mereka berdua kembali memperhatikan pelajaran yang sedang dijelaskan oleh bapak guru. Meskipun masih merasa malu, Kalin merasa bahagia karena berhasil menciptakan momen yang seru dan menghibur di kelas. Dan siapa tahu, mungkin ini adalah awal dari sebuah persahabatan baru dengan Alden.
Jam pelajaran berlalu, dan sekarang saatnya untuk olahraga. Siswa-siswa bergerak ke lapangan, membicarakan strategi permainan dan membentuk tim. Alden, dengan mudahnya, bergabung dengan sekelompok anak laki-laki dan mulai berkenalan.
"Hai, Alden," kata salah satu dari mereka, "Kamu suka sepak bola?"
Alden mengangguk, "Ya, aku suka. Di sekolah lama, aku biasa bermain sebagai penyerang."
"Keren! Kamu harus bergabung dengan tim sepak bola sekolah kita," kata anak laki-laki itu.
Sementara itu, Kalin sedang duduk di bangku, menonton Alden dari kejauhan. Tiba-tiba, Alden berjalan mendekatinya.
"Hai, Kalin," kata Alden, tersenyum, "Aku mendengar kamu bertanya tentang pacar tadi. Itu lucu."
Kalin merasa wajahnya memerah, "Ah, itu... Hanya bercanda saja."
Alden tertawa, "Aku tahu. Tapi itu membuatku tertawa. Kamu berani, dan itu keren."
Kalin merasa jantungnya berdetak kencang. "Terima kasih, Alden," katanya, tersenyum malu.
Mereka berdua kemudian mengobrol tentang berbagai hal, dari olahraga hingga hobi mereka. Kalin merasa gugup tapi senang, dan berharap bahwa ini adalah awal dari persahabatan baru dengan Alden.
Sementara siswa lain masih asyik bermain olahraga, Kalin memutuskan untuk mencari Luna. Ia berlari melewati lapangan, matanya mencari-cari sosok Luna di antara kerumunan siswa.
"Luna!" panggil Kalin, berharap temannya itu mendengarnya. Tapi, dengan semua kegaduhan di lapangan, suaranya nyaris tenggelam.
Kalin berlari lebih jauh, melewati grup-grup siswa yang sedang bermain bola basket dan voli. Ia melihat Luna duduk di bangku dekat lapangan tenis, tampaknya sedang menikmati hembusan angin.
"Luna!" teriak Kalin lagi, kali ini lebih keras. Luna menoleh dan tampak terkejut melihat Kalin berlari ke arahnya.
"Kalin, apa yang terjadi?" tanya Luna, tampak khawatir.
Kalin, masih bernafas kencang, menjawab, "Aku baru saja berbicara dengan Alden! Dia sangat ramah, dan kami punya banyak kesamaan!"
Luna tertawa, "Wow, itu hebat, Kalin! Aku senang kamu berani mengobrol dengannya. Tapi, kenapa kamu lari secepat itu?"
Kalin, tersenyum lebar, menjawab, "Aku begitu bersemangat sampai-sampai tidak bisa menunggu untuk memberi tahu kamu!"
Mereka berdua tertawa, menikmati kegembiraan dan keceriaan yang dibawa oleh Kalin. Meski berada di tengah lapangan olahraga, mereka merasa seperti berada di dunia mereka sendiri, saling berbagi cerita dan tawa.
Setelah percakapan dengan Kalin, Luna memutuskan untuk kembali ke kelas untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di meja. Dengan langkah ringan, ia berjalan menuju kelas, tidak menyadari bahwa takdir akan membawanya ke sebuah pertemuan yang tak terduga.
Saat Luna berjalan di depan pintu kelas, tiba-tiba pintu terbuka dan ia bertabrakan dengan Alden yang keluar dari kelas. Mereka berdua terkejut dan mundur beberapa langkah.
"Maaf," kata Luna, "Aku tidak melihat kamu."
Alden tersenyum, "Tidak apa-apa, aku juga tidak melihat kamu. Kamu baik-baik saja?"
Luna mengangguk, "Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih."
Ada jeda sejenak, di mana mereka saling menatap, merasakan getaran romantis yang mulai muncul.
Alden mengulurkan tangannya, "Oh, aku belum sempat berkenalan. Aku Alden."
Luna tersenyum dan menjabat tangannya, "Hai, Alden. Aku Luna."
Mereka berdua terus berbicara, saling mengenal satu sama lain. Percakapan mereka mulai dari sekolah hingga hobi dan impian mereka. Momen romantis ini menjadi awal dari sebuah persahabatan yang mungkin akan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Saat Luna dan Alden berbicara, suasana di sekitar mereka menjadi semakin hangat. Mereka saling tersenyum, dan seiring waktu, kedua pipi mereka memerah. Mereka saling bertukar cerita dan tawa, dan tanpa mereka sadari, ada benih-benih romantisme yang mulai tumbuh di antara mereka.
Namun, momen romantis mereka terganggu ketika Kalin tiba-tiba muncul. "Hai, Luna! Hai, Alden!" seru Kalin, tidak menyadari suasana yang ada.
Luna dan Alden terkejut dan langsung berhenti bicara. Mereka saling pandang, tersenyum malu, dan kemudian menoleh ke Kalin.
"Hai, Kalin," balas Luna, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya.
"Kamu tampak asyik berbicara," kata Kalin, "Apa yang sedang kamu bicarakan?"
"Kami hanya berkenalan," jawab Alden, tersenyum.
Kalin tampak senang mendengarnya, "Itu bagus! Aku senang kamu berdua bisa berkenalan."
Setelah itu, Luna dan Kalin meninggalkan Alden dan kembali ke lapangan. Meski suasana romantis mereka terganggu, Luna merasa bahagia. Ia merasa ada sesuatu yang spesial antara dirinya dan Alden, dan ia berharap bisa mengenal Alden lebih jauh.
Setelah mereka meninggalkan Alden, Kalin menoleh ke Luna dan tersenyum lebar. "Kamu tahu, Luna," kata Kalin, "Aku rasa kamu dan Alden cocok."
Luna tampak terkejut, "Apa? Kenapa kamu berpikir begitu?"
Kalin tertawa, "Kalian berdua tampak nyaman saat berbicara. Dan cara Alden melihatmu... Sepertinya dia juga merasa ada sesuatu."
Luna merona, "Oh, berhenti, Kalin! Kamu membuatku malu."
Kalin tertawa lagi, "Tidak, serius, Luna. Aku rasa kamu harus memberi Alden kesempatan. Siapa tahu, mungkin dia adalah pangeran impianmu."
Luna tersenyum malu, "Kita lihat nanti, Kalin. Sekarang, ayo kita kembali ke lapangan."
Mereka berdua berjalan kembali ke lapangan, sambil tertawa dan berbicara tentang Alden. Meski merasa malu, Luna tidak bisa menahan senyumnya. Mungkin, hanya mungkin, Kalin benar. Mungkin Alden adalah pangeran impian yang selama ini ia cari.