
Luna (berbisik pada Kalin): "Kalin, lihat ini! Buku ini menjelaskan tentang asal-usul Batu Kehidupan dan bagaimana mereka menyegel para Dark Devil di zaman dulu. Kita harus tahu lebih banyak tentang ini."
Kalin (berbisik kembali): "Aku tidak percaya, Luna. Jadi, Batu Kehidupan yang kamu miliki adalah salah satu dari batu-batu yang menyegel para Dark Devil? Kita harus berhati-hati."
Mereka terus membaca buku itu dengan penuh perhatian, mencoba menyerap setiap informasi penting yang ada di dalamnya.
Luna (terkejut): "Oh, tidak! Jadi, jika Batu Kehidupan ini rusak, dunia akan dikuasai oleh kejahatan, dan para Dark Devil akan bebas berkuasa? Kita harus melindungi batu ini dengan segala cara!"
Kalin (setuju): "Ya, Luna. Kita harus bekerja sama untuk menjaga Batu Kehidupan ini dan melindungi dunia dari ancaman para Dark Devil."
Tiba-tiba, mereka berdua terkejut dan berteriak tanpa sadar karena informasi yang mereka temukan di buku itu.
Penjaga perpustakaan (menegur): "Hei, kalian berdua! Ini perpustakaan, jadi tolong jaga suara kalian. Jika kalian ingin berbicara, keluarlah dari sini."
Luna (meminta maaf): "Maaf, Pak. Kami tidak bermaksud mengganggu. Kami akan keluar sekarang."
Mereka pun meninggalkan perpustakaan dengan hati-hati, membawa informasi penting yang baru saja mereka temukan tentang Batu Kehidupan dan para Dark Devil.
Kalin (berbisik pada Luna): "Kita harus membuat rencana untuk melindungi Batu Kehidupan ini, Luna. Kita tidak bisa membiarkan para Dark Devil menghancurkan keseimbangan dunia."
Luna (setuju): "Kamu benar, Kalin. Mari kita bicarakan lebih lanjut tentang ini di tempat yang lebih aman."
Mereka pun pergi ke tempat yang lebih tenang dan mulai merencanakan langkah-langkah yang harus mereka ambil untuk melindungi Batu Kehidupan dan menghadapi ancaman para Dark Devil yang ingin menguasai dunia. Mereka tahu bahwa tanggung jawab besar ada di pundak mereka, dan mereka harus bekerja sama untuk menjaga keseimbangan dunia serta melindungi teman-teman dan keluarga mereka.
Luna (berbisik pada Kalin): "Kita harus merahasiakan informasi ini, Kalin. Jangan biarkan siapa pun tahu tentang Batu Kehidupan dan ancaman para Dark Devil. Kita harus melindungi teman-teman dan keluarga kita."
Kalin (setuju): "Tentu saja, Luna. Kita harus bekerja sama dan menjaga rahasia ini. Aku akan selalu mendukungmu."
Mereka berbicara panjang lebar tentang rencana mereka untuk melindungi Batu Kehidupan dan menghadapi para Dark Devil. Tiba-tiba, bel sekolah berbunyi, menandakan bahwa hari sekolah telah berakhir.
Luna (menghela nafas): "Waktunya pulang, Kalin. Kita akan melanjutkan pembicaraan ini nanti."
Ketika mereka berjalan keluar dari sekolah, Luna dipanggil oleh Alden, murid baru di sekolah mereka.
Alden (dengan senyum ramah): "Hei, Luna! Aku ingin mengajakmu mengerjakan tugas bersama nanti sore. Bagaimana menurutmu?"
Luna, yang merasa terbebani oleh rahasia Batu Kehidupan dan ancaman para Dark Devil, merasa tidak bisa menerima ajakan Alden.
Luna (menolak dengan sopan): "Maaf, Alden. Aku sangat menghargai ajakanmu, tapi aku punya banyak hal yang harus aku kerjakan sendiri nanti sore. Mungkin lain kali kita bisa mengerjakan tugas bersama."
Alden (sedikit kecewa): "Oh, baiklah. Tidak apa-apa, Luna. Semoga kamu bisa menyelesaikan apa yang harus kamu kerjakan. Sampai jumpa besok!"
Luna (berbisik pada Kalin): "Kita harus merahasiakan informasi ini, Kalin. Jangan biarkan siapa pun tahu tentang Batu Kehidupan dan ancaman para Dark Devil. Kita harus melindungi teman-teman dan keluarga kita."
Kalin (setuju): "Tentu saja, Luna. Kita harus bekerja sama dan menjaga rahasia ini. Aku akan selalu mendukungmu."
Mereka berbicara panjang lebar tentang rencana mereka untuk melindungi Batu Kehidupan dan menghadapi para Dark Devil. Tiba-tiba, bel sekolah berbunyi, menandakan bahwa hari sekolah telah berakhir.
Luna (menghela nafas): "Waktunya pulang, Kalin. Kita akan melanjutkan pembicaraan ini nanti."
Ketika mereka berjalan keluar dari sekolah, Luna dipanggil oleh Alden, murid baru di sekolah mereka.
Alden (dengan senyum ramah): "Hei, Luna! Aku ingin mengajakmu mengerjakan tugas bersama nanti sore. Bagaimana menurutmu?"
Luna, yang merasa terbebani oleh rahasia Batu Kehidupan dan ancaman para Dark Devil, merasa tidak bisa menerima ajakan Alden.
Luna (menolak dengan sopan): "Maaf, Alden. Aku sangat menghargai ajakanmu, tapi aku punya banyak hal yang harus aku kerjakan sendiri nanti sore. Mungkin lain kali kita bisa mengerjakan tugas bersama."
Alden (sedikit kecewa): "Oh, baiklah. Tidak apa-apa, Luna. Semoga kamu bisa menyelesaikan apa yang harus kamu kerjakan. Sampai jumpa besok!"
Luna dan Kalin pun melanjutkan perjalanan pulang mereka, dengan pikiran penuh tentang rahasia yang mereka pegang dan tanggung jawab yang ada di pundak mereka. Mereka tahu bahwa perjuangan mereka baru saja dimulai, dan mereka harus bekerja keras untuk melindungi dunia dari ancaman para Dark Devil.
Luna duduk di ruang keluarga, terus merenung tentang ibunya. Dia menggumam dengan nada sedih, "Aku selalu merasa ada bagian dari hidupku yang hilang karena tidak mengenal ibu. Aku ingin tahu apa yang terjadi padanya, kenapa ayah begitu tertutup tentang cerita ibu."
Luna melanjutkan, "Namun, aku tahu bahwa hidup ini penuh dengan tantangan dan misteri. Aku tidak bisa terus-menerus bersedih tentang hal-hal yang tidak bisa aku ubah. Aku harus belajar menerima kenyataan dan fokus pada apa yang bisa aku lakukan untuk menjadi lebih baik."
Dia mengambil napas dalam-dalam dan berkata dengan penuh semangat, "Aku akan berusaha keras untuk mencari tahu tentang ibu, tapi aku juga harus tetap kuat dan melindungi teman-teman dan keluarga yang aku miliki sekarang. Mereka membutuhkan dukunganku, terutama dalam menghadapi ancaman para Dark Devil."
Luna melanjutkan, "Aku akan menggunakan rasa penasaranku tentang ibu sebagai motivasi untuk terus belajar, berkembang, dan menjadi pribadi yang lebih baik. Aku akan menjadi pahlawan yang bisa melindungi orang-orang yang kucintai dan menjaga keseimbangan dunia."
Dengan tekad yang kuat, Luna bangkit dari duduknya dan memutuskan untuk menghadapi semua rahasia dan tantangan dalam hidupnya dengan kepala tegak. Dia tahu bahwa dia harus menjadi kuat demi orang-orang yang ia cintai dan demi masa depan yang lebih baik.