Ocean of Love

Ocean of Love
pengorbanan seorang ibu



Luna, penuh semangat dan determinasi, berdiri di tengah ruang keluarga. Dia mengangkat tangannya ke udara dan berteriak, "Aku akan melindungi Batu Kehidupan dan mengalahkan para Dark Devil! Aku akan menjadi pahlawan yang hebat dan menjaga keseimbangan dunia! Hiduppp!"


Tepat saat Luna berteriak, pintu rumah terbuka dan ayahnya masuk, baru pulang dari kerja. Dia terkejut melihat Luna berteriak dan menggepalkan tangannya di udara.


Ayah (menahan tawa): "Luna, apa yang sedang kamu lakukan? Aku baru saja pulang dan mendengar teriakanmu dari luar rumah."


Luna (merasa malu): "Oh, ayah! Maafkan aku, aku hanya... eh... sedang memotivasi diri sendiri."


Ayah (tertawa): "Haha, itu sangat lucu, sayang! Aku suka melihat semangatmu. Teruslah berjuang, dan jangan lupa untuk bersenang-senang juga!"


Mereka berdua tertawa bersama, dan suasana menjadi lebih ringan. Meskipun Luna sedang menghadapi tantangan besar, dia tahu bahwa dia memiliki dukungan dari ayahnya, dan itu memberinya kekuatan lebih untuk melanjutkan perjuangannya.


Luna (mengumpulkan keberanian): "Ayah, aku ingin bertanya tentang beberapa hal yang sudah lama membuatku penasaran."


Ayah (dengan senyum hangat): "Tentu saja, sayang. Apa yang ingin kamu tanyakan?"


Luna (dengan serius): "Pertama, aku ingin tahu tentang kalung ini yang selalu kubawa. Apakah ayah tahu sesuatu tentang kalung ini dan apakah ada cerita di di balik kalung ini


Luna (dengan ekspresi serius): "Ayah, aku ingin tahu lebih banyak tentang kalung ini. Apakah ada kisah khusus tentang kalung ini yang perlu aku ketahui?"


Ayah (sedikit gugup): "Oh, kalung itu? Itu hanyalah perhiasan keluarga yang sudah lama kita miliki. Tidak ada yang istimewa tentang kalung itu, sayang."


Luna (mengerutkan kening): "Ayah, aku merasa kamu berbohong padaku. Aku bisa melihatnya dari ekspresimu. Tolong, beri tahu aku kebenarannya."


Suasana di ruang keluarga menjadi tegang saat Luna menatap ayahnya dengan tajam, menunggu jawaban yang jujur. Ayahnya menarik napas dalam-dalam, menyadari bahwa dia tidak bisa terus menyembunyikan kebenaran dari Luna.


Ayah (dengan suara bergetar): "Luna, aku minta maaf karena telah berbohong padamu. Kamu benar, ada kisah di balik kalung itu, dan ini adalah saat yang tepat untuk aku menceritakannya." Suasana menjadi tegang, hening menyelimuti ruang keluarga.


Luna (dengan mata membara): "Ayah, aku harus tahu. Apa sebenarnya makna di balik kalung ini?"


Ayah (menatap Luna dengan serius): "Kalung ini... bukanlah sekadar perhiasan, Luna. Ini adalah Batu Kehidupan, peninggalan ibumu. Orang yang memakainya... mereka memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan dunia."


Luna (terkejut): "Batu Kehidupan? Menjaga keseimbangan dunia? Ayah, apa maksudmu?"


Ayah (dengan suara berat): "Luna, kalung ini memiliki kekuatan yang sangat dasyat. Jika penggunanya terancam, mereka akan diberikan kekuatan untuk melindungi diri dan orang-orang di sekitarnya. Ibumu adalah penjaga sebelumnya, dan sekarang kamu adalah penjaga Batu Kehidupan."


Luna (dengan wajah khawatir): "Ayah, Dua hari yang lalu, para Dark Devil datang ke sekolah kami, mencari Batu Kehidupan ini. Aku tidak tahu harus berbuat apa, jadi aku menyembunyikannya."


Mendengar hal ini, ayah Luna terkejut dan wajahnya berubah pucat.


Ayah (kaget dan panik): "Kenapa kamu tidak memberi tahu aku sejak kemarin, Luna? Apakah segel kekuatan Batu Kehidupan terbuka? Kita harus segera mengeceknya!"


Ayah Luna mulai bercucuran keringat, menyadari betapa bahayanya situasi ini bagi keluarga mereka dan keseimbangan dunia. Dia segera mengambil kalung dari tangan Luna dan memeriksanya dengan cermat, mencari tanda-tanda bahwa segel kekuatan Batu Kehidupan mungkin akan terbukak


Ayah (dengan suara bergetar): "Tidak...segel ini sudah terbuka, Luna."


Luna (dengan suara gemetar): "Ayah, ada apa sebenarnya? Kenapa kamu tampak begitu cemas?"


Ayah (dengan suara penuh penyesalan): "Aku minta maaf, nak. Aku seharusnya menjelaskan semuanya padamu lebih awal."


Luna (dengan mata berkaca-kaca): "Ayah, apakah ini ada hubungannya dengan ibu?"


Ayah (dengan suara hancur): "Iya, Luna. Ini semua ada hubungannya dengan ibumu."


Luna (dengan suara lembut): "Ayah, aku mau tahu. Apa yang terjadi?"


Ayah (dengan mata berkaca-kaca): "Luna, jika segel Batu Kehidupan ini terbuka, maka keseimbangan dunia akan terganggu. Para Dark Devil akan mulai mencarinya. Kamu harus menjaga kalung ini dan jangan biarkan kalung ini rusak. Dan satu hal lagi, Luna... apakah kamu bisa mengontrol kekuatanmu?"


Luna (dengan wajah pucat): "Tidak, Ayah. Aku belum bisa mengontrol kekuatanku."


Ayah (menangis): "Oh sayang, aku minta maaf... Pengguna kalung ini tidak boleh mencintai seseorang. Jika tidak, tatanan dunia akan rusak."


Luna (terkejut): "Berarti ini... ini ada hubungannya dengan ibu, bukan?"


Luna (dengan suara bergetar): "Ayah, apakah ini berarti... ibu meninggalkan kita karena cinta yang dia miliki untuk kita berdua akan menghancurkan keseimbangan dunia?"


Ayah (menatap Luna dengan sedih): "Ya, Luna. Ibumu sangat mencintai kita, dan dia tahu bahwa cintanya akan membawa bahaya bagi dunia. Dia membuat keputusan terberat dalam hidupnya, meninggalkan kita demi menjaga keseimbangan dunia."


Air mata mengalir deras di wajah Luna saat dia mencoba memahami pengorbanan yang telah ibunya lakukan. Hatinya penuh dengan rasa sakit, kehilangan, dan kekaguman.


Luna (menangis): "Ayah, bagaimana kita bisa hidup tanpa ibu? Bagaimana aku bisa menjalani hidupku tanpa mencintai seseorang? Apakah ini takdirku?"


Ayah (dengan suara penuh kasih sayang): "Luna, kita harus belajar menerima kenyataan ini dan menghargai pengorbanan ibumu. Aku tahu ini sangat sulit bagimu, tapi kita harus tetap kuat dan menjaga warisan yang ibumu tinggalkan. Aku akan selalu di sini untukmu, dan kita akan melewati ini bersama."


Mereka berdua berpelukan erat, saling menguatkan satu sama lain di tengah kepedihan yang mereka alami. Meskipun hati mereka hancur, mereka tahu bahwa mereka harus melanjutkan hidup demi menghormati pengorbanan ibu Luna dan menjaga keseimbangan dunia.


Saat ayahnya memeluk Luna, tiba-tiba kalung itu mulai bercahaya dengan intensitas yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Cahaya tersebut semakin terang seiring dengan isak tangis Luna yang semakin keras. Kemudian, sesuatu yang ajaib terjadi.


Di luar rumah, langit yang cerah tiba-tiba menjadi mendung, dan hujan kecil mulai turun, membasahi atap rumah. Hujan ini tampaknya mencerminkan perasaan Luna yang sedih, dan mereka menyadari bahwa ini adalah hasil dari kekuatan yang belum terkontrol dalam diri Luna.


Ayah (terkejut): "Luna, lihat apa yang terjadi! Kekuatanmu mulai terwujud. Kita harus segera mencari cara untuk mengendalikan kekuatan ini sebelum situasi semakin sulit."


Luna (dengan mata berkaca-kaca): "Ayah, aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku takut kekuatanku akan membahayakan orang-orang yang aku cintai dan dunia ini."


Ayah (dengan tekad): "Jangan khawatir, Luna. Kita akan mencari cara untuk mengendalikan kekuatanmu. Aku yakin kita akan menemukan solusi, dan aku akan selalu di sini untuk membantumu."