
“Gue kira lo ga bakal tidur, tapi tetep ya lagi sedih aja lo bisa pules!” kudengar suara Gama sengaja membangunkanku dibelakangnya.
Ternyata aku tertidur dan sudah sampai di depan rumah. Aku kaget dan melepas tanganku yang bukan lagi memegang tas tapi memeluknya. Dari kapan posisi ini? Aku segera turun dari motor. Kulihat Gama menggerakkan badannya seperti sedang merasakan pegal.
“Lagian suruh siapa nganter gue!”
“Gak tahu berterima kasih lo!”
Aku rasa dia juga suka aku peluk sepanjang perjalanan tadi, belaga marah-marah segala. Seharusnya dia membangunkan aku kalau merasa tidak nyaman atau tidak suka. Dasar cowok modus!
“Jangan mikir macem-macem lo ya! Gue tahu apa yang lagi lo pikirin!” Si Manusia belagu ini dari tadi bisa menebak isi kepalaku.
“Yaudah, iya iya. Terima kasih!” aku langsung nyelonong meninggalkannya tanpa basa-basi.
“Nana?!” tiba-tiba mama muncul dihadapanku..
“Kok gak sama Egy? Egynya mana?”
“Ini temen kamu yang anter kamu tempo hari kan?” mama kelihatan bingung.
Duh urusan bakal jadi panjang nih, pasti deh mama bakal ngajak Gama masuk. Padahal aku sudah ingin sekali ada di kamar. Perasaan sedang kacau balau begini, aku merasa baiknya menyendiri.
“Iya, Tante. Saya Gama.” Gama langsung turun dari motor dan menyalami mama.
“Tadi Egy sampein pesan, katanya maaf gak nganter Sena pulang. Soalnya...” ucapan Gama berhenti dan melirikku.
“Egy lagi sama pacar barunya, Ma.” lanjutku meneruskan kalimat Egy. Mama terlihat seperti kasihan dengan anaknya ini.
“Oh, yaudah yuk Gama masuk dulu ke Toko, cobain Klapertart buatan Tante.” Benarkan dugaanku.
“Tapi kayanya Gama lagi buru-buru deh Ma, iya kan Gama? Aku mencoba mengagalkan ajakan mama pada Gama.
“Ga kok,” jawab Gama santai tanpa peka dengan sikapku yang mengusirnya secara halus. Aku mendelik padanya tapi dia acuh dan senyum-senyum.
“Bagus dong kalau gitu, yuk.” mama mempersilakan Gama masuk.
“Sekarang kamu duduk aja dulu, Tante siapin dulu Klapertartnya. Oh, iya kamu suka Kopi?” sikap mama baik sekali pada Gama.
“Gak usah repot-repot Tante,”
“Ga apa-apa, anggap aja ini ungkapan terima kasih Tante, karena sudah antar Nana pulang sampai rumah. Gimana suka Kopi? Atau?”
“Air mineral aja Tante,”
“Ok deh kalau gitu nanti mba Wati yang bawain, Tante tinggal dulu sebentar.”
Mama kelihatan senang sekali meski aku terus mencoba bersikap baik-baik saja dengan perasaanku yang acak acakkan sekarang. Entah Egy yang di sana, apa dia tidak kepikiran aku? Ah, untuk apa memikirkan aku? Dia kan sedang bahagia hari ini dengan pacar barunya.
“Bengong lo!” Gama mengagetkanku yang sedari tadi hanya diam di depannya.
“Lo tuh beruntung ketemu nyokap gue, anggap aja ya itu bayaran karena lo udah anter gue balik!”
“Sewot banget sih lo, beda banget sama nyokap lo yang lemah lembut! Jangan-jangan lo bukan anaknya lagi!”
“Lo mau gue usir!”
“Coba aja kalau berani!”
Suasana hati sedang rusak bisa-bisanya orang yang paling menyebalkan ada dihadapanku ini menambahnya menjadi buruk. Kalau bisa ku meminta pada Tuhan, aku ingin di skip saja hari Rabu langsung ke hari berikutnya. Biar saja hari itu tidak ada dan sekalian aku juga tidak ada di Bumi!
“Permisi,” ibu Wati datang dengan membawa Tampah yang diatasnya ada Klapertart, beberapa kue favorit di Toko dan minuman lalu menaruhnya satu-satu di atas meja.
“Silakan Mas di makan.”
“Mas, ini artis ya?” tiba-tiba ibu Wati bertanya pada Gama dengan wajah sumringah.
Gama terlihat salah tingkah dan canggung karena ibu Wati terus melihatnya. Ada-ada saja pertanyaan ibu Wati. Mana bisa orang kaku begini jadi artis!?!
“Mana cocok sih bu orang kaya gini jadi artis!?” sahutku keki.
“Bener deh saya pernah lihat di TV Mba,” kata ibu Wati yakin.
“Ibu salah lihat kali atau mungkin kebetulan wajahnya mirip saya.” Gama menjawabnya malu-malu.
“Iya kali ya, ya sudah kalau begitu Mas silakan menikmati makanannya.” Lalu ibu Wati kembali ke dalam.
“Yaudah sekarang lo cepet deh makannya!”
“Kenapa sih, buru-buru banget. Makan tuh ada aturannya, harus pelan-pelan dan menikmati. Lagian ini kan jamuan dari nyokap lo ya gue harus hargai?” banyak cingcong nih manusia dihadapanku ini.
“Ok, kalau gitu. Lo makan di sini sendiri. Gue mau ke kamar!” aku berdiri.
“Gak sopan banget sih lo!” tiba-tiba Gama juga berdiri.
Mama dan Ibu Wati bahkan Ibu Nur langsung muncul dari dalam. Mungkin mereka kaget mendengar kegaduhan dan mereka mengira aku dan Gama bertengkar padahal kalau mereka tahu aku dan Gama ini memang sudah seperti Tom and Jerry kalau dipertemukan. Mana bisa baik-baik dengan manusia yang satu ini?!
“Ada apa, Na?” mama bertanya menghampiri kami.
“Ennnggaa kok Ma,gak ada apa-apa.” jawabku jadi gugup.
“Kenapa, Gama?” mama juga bertanya pada Gama.
“Ini Tante Sena mau langsung ke kamar padahal saya baru mau makan kuenya.” Gama menjawab polos.
“Jadi maksudnya kalian ini lagi berantem?” mama memastikan lagi.
“Ga Ma, ini Nana mau ke kamar sebentar mau ganti baju nanti Nana ke sini lagi. Lagian kita juga gak berantem.” aku jelaskan ke Mama meski sedikit berbohong.
“Kalian pacaran?” pertanyaan mama membuatku melongo, mungkin mama menyimpulkan begitu karena mama melihat kita bertengkar seperti orang pacaran.
“Bukan Tante, kita cuma temen di Sekolah.” Gama langsung menjawab dengan wajah sedkit memerah.
“Tapi kok kaya orang pacaran??” tanya mama lagi heran melihat kita berdua.
“Ma, kasihan Gama mau makan Klapertartnya dulu.” aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Oh, ya ampun.. maaf Gama Tante jadi banyak tanya. Ayo, duduk lagi dan silakan menikmati varian baru Toko Roti Sena. Semoga suka ya,” mama langsung ramah kembali.
Mama juga menyuruhku duduk sebentar dan mama juga mengatakan jangan bersikap begitu jika ada seseorang sedang bertamu apalagi sedang berkunjung ke Toko. Dan si Gama kuperhatikan hari ini hobinya cengengesan, dia merasa senang diatas penderitaanku hari ini.
Akhirnya aku tidak jadi lari ke kamar karena mama ikut menemani Gama walau menahan rasa jengkel. Tapi tidak kusangka orang yang menyebalkan ini begitu mudah akrab dengan mama dan kulihat mama asik ngobrol dengan Gama. Apa pun yang dibicarakan dari generasi yang jauh berbeda ini bisa nyambung, dari mulai bahas kue, bagaimana cerita dibalik Toko Roti Sena sampai bintang Bollywood yang mama suka. Dan kuperhatikan Gama sangat menikmati semua kue yang dihidangkan untuknya, hampir semua dia makan. Iyalah nikmat, semua kue buatan mama enak dan gratis pula.
“Tapi kamu mirip sama bintang film loh, Gama?”
“Ga Mama, Ga Ibu Wati, bilangnya Gama artis terus. Mukanya pasaran tahu Ma” ketusku.
“Kamu artis ya?” mama menegaskan lagi pertanyaanya pada Gama.
“Bukan, Tan. Mungkin memang iya wajah saya pasaran.”
“Terus kamu sama Sena sering bareng-bareng di Sekolah?” mama seperti mulai mengintrogasi.
“Mmm. Kita.. cuma temen biasa Tante,”
“Serius?” mama melihat aku dan Gama secara bergantian.
“Mama apa sih pertanyaannya gitu? Aku sama Gama hanya kebetulan temanan, ga disengaja, dan kebetulan aja dia anter aku pulang karena Egy gak bisa.” Aku berharap mama tidak berpikir kalau aku dan Gama sedang pendekatan atau sedang pacaran.
“Jadi beneran bukan pacaran??” mama masih penasaran sekali.
“Bukan Ma,”
“Gak, Tante.”
Serentak aku dan Gama tidak mengiyakan dan mama baru mengangguk pelan. Mana pernah aku berpikir akan jadi pacar makhluk aneh ini, dekat dengannya juga aku mana sudi kalau tidak terpaksa. Yang banyak dipikiran aku hanya Egy apalagi untuk saat ini, aku berpikir bagaimana caranya menerima Putri sebagai pacar pertamanya.
“Wah Tante seneng loh kamu habisin semua kuenya,”
“Enak banget Tante,” Gama tersipu malu.
“Bohong, Ma. Dia sebenarnya laper!”
“Gak kok, Tante. Beneran enak. Ini aku mau beliin buat orang rumahku.”
“Beneran nih?” mama senang mendengar pernyataan Gama.
“Beneran Tante, aku mau orang rumah juga tahu kalau Toko Roti di sini semua kue dan rotinya enak. Jadi kalau mereka mau beli bisa langsung pesen online.” ucap Gama turut berterima kasih pada Gama atas suguhannya.
“Saya juga mau langsung pulang aja Tante, kasihan Sena mau nenangin hatinya dulu eh maksud saya istirahat.” Gama sengaja menyinggungku.
“Bagus deh kalau tahu diri!”
Kulihat mama heran dengan sikap ketusku pada Gama. Aku yakin setelah Gama pulang nanti mama akan bertanya perihal ini. Lalu mama menyiapkan pesanan Gama untuk di bawa pulang sementara Gama menunggu.
“Makanya punya sahabat itu gak usah di bawa baper!” masih sempat Gama membuatku jengkel.
“Apan sih maksud lo?! Kok lo sok tahu banget!”
“Lo ngaca aja gih, orang lain juga bisa tahu kali!” Gama balik ketus.
“Lagian bukan urusan lo!”
“Iya, bukan urusan gue sih. Tapi gue kasihan aja sama lo.”
“Ngapain lo kasihan sama gue, gue..” belum sempat marahku berlanjut Mama yang langsung menghantarkan pesanan Gama.
“Ini Gama pesanan kamu dan gak usah kamu bayar ya.”
“Yang ini aku bayar aja Tante, tadi kan aku sudah dikasih gratis sama Tante.” Gama menolak
“Udah-udah kamu bawa aja buat orang rumah kamu. Tante, bakal senang banget loh kalau kamu gak nolak.”
Gama canggung mau tidak mau menerimanya dengan rasa tidak enak hati dan karena mama memaksa. Kulihat mama senang sekali bertemu dengan Gama, Gama juga memperlakukan mama dengan sopan dan mudah merebut hati mama tidak seperti denganku yang sedari tadi hanya terus bersitegang dengannya.
“Ya sudah Tante saya pamit pulang, saya akan sampaikan kue-kue enak ini dari Tante ke orang rumah. Saya yakin orang rumah akan bilang enak juga kue di Toko Roti ini. Terima kasih banyak Tante dan maaf kalau merepotkan.”
“Terima kasih juga karena kamu sudah baik dengan Sena dan jangan lupa sering-sering ke sini ya,” aku tidak menyangka akan mengatakan itu pada makhluk ini.
Gama hanya tersenyum dan langsung menancap gas motornya. Akhirnya, aku bisa bernapas dengan lega dan semua uratku tidak tegang lagi karena menahan rasa jengkelku padanya tadi. Sebaiknya memang langsung ke kamar daripada mama langsung menanyakan perihal Gama lebih jauh.
“Sena, sebentar Mama mau bicara.” dengan cepat mama langsung menahan langkahku.
“Nana capek banget Ma, mau langsung ke kamar.” aku memasang wajah lesuh.
“Gama itu siapa?” ternyata mama masih penasaran.
“Kan tadi udah dijawab Ma?”
“Habis Mamah heran kok kamu kayanya gak suka sama dia?” bener kan mamah akan menanyakan ini.
“Iya, aku emang kaya gitu Mah kalau bukan sama Egy.”
“Tapi Gama itu baik kan sama kamu?”
“Baik kok Mah,” jawabku supaya mama percaya.
“Ya, jangan gitu dong sikap kamu ke dia, dia kan baik?”
“Iya Mah,” jawabku pasrah.
“Kamu ga apa-apa Egy punya pacar?” mama langsung menanyakan hal yang sensitif.
Aku hanya terdiam, entah aku harus menjawab apa. Sepertinya mama memang sudah tahu bagaimana perasaanku dengan Egy dan mungkin mama sudah membaca dari sikapku pada Egy. Lalu untuk apa aku menyembunyikannya meski aku tidak menjawab apa pun pertanyaan mama itu?
Tapi mama langsung memelukku seakan diamku memang jawaban yang membuatnya ikut merasakan apa yang aku rasakan. Untuk saat ini aku memang butuh pelukan apalagi dari pelukan mama sendiri. Tiba-tiba air mataku menetes dan aku memeluk erat mama, sudah terlanjur begini biar saja mama tahu kalau anaknya ini sedang patah hati.
“Ya sudah, engga apa-apa. Perasaan kamu enggak salah buat Egy dan yang terpenting persahabatan kamu sama Egy enggak akan pernah berubah sampai kapan pun, mungkin lain halnya kalau kalian sampai pacaran pasti deh rasanya gak akan seindah persahabatan.” ucapan mama dan pelukan mama bisa membuat perasaanku tenang.
Memang benar kata-kata mama, Tuhan juga menakdirkan Egy mungkin hanya bisa jadi sahabatku dan aku rasa Tuhan memang adil. Bisa saja benar, mungkin persahabatan ini akan berakhir karena ego kita masing-masing kalau aku dan Egy pacaran. Bukankah seharusnya aku bahagia karena melihat Egy bahagia? Bukankah memang begitu seharusnya jadi sahabat? Tapi bagaimana kalau sahabatnya sendiri punya perasaan lebih?
Tuhan menakdirkan perasaan ini untuk Egy karena mungkin Tuhan tahu aku bisa menjaganya meski memilikinya lebih tidak mungkin. Memang lebih baik begini saja, Egy tidak akan pernah tahu bagaimana perasaan aku sebenarnya untuknya dan aku berpura-pura tidak merasakan perasaan ini untuknya, aku hanya tidak ingin kehilangan dia. Cukup persahabatan suci ini selamanya.
Ini bukan waktu yang salah atau pada siapa cinta jatuh, tapi Tuhan menitipkan perasaan itu. Bagaimana perasaan itu tumbuh dengan seiring waktu. Dibunuh atau dibiarkan saja tumbuh? Tuhan sang maha pemilik cinta bukan? Jika perasaan ini memang sengaja Tuhan ciptakan di hatiku untuk Egy pasti Tuhan juga mempersiapkan bagaimana seharusnya cinta itu ada kan?
Jadi, aku percaya cinta itu tidak mengekang, tidak mengikat dan tidak memaksa. Cinta itu sesuatu yang tidak seharusnya kita genggam untuk berusaha dengan keras kita miliki. Walaupun tidak bisa di pungkiri perasaan sakit itu ada tapi kalau terus dalam dirasakan sakitnya aku rasa akan merusak kesucian cinta itu sendiri. Jadi bebaskanlah dan hatimu akan menjadi lebih longgar untuk menghirup perasaan cinta yang lain, apa pun bentuk cintanya.
Tidak ada yang salah dari mencintai pada siapa pun orangnya tapi bagaimana dirimu bisa sadar bahwa mencintai itu sudah satu paket dengan merelakan. Siapa tahu setelah ini, cinta yang tidak pernah kuduga akan datang untukku? Tuhan sedang mempersiapkannya. Percayalah!