
Delapan belas lewat sepuluh waktu menulis ini
Dan senja mulai meredup
Seperti Mimosa Pudica yang mengatup saat disentuh
Luruh perlahan rindu dan aku masih tidak peduli
Sampai kapan kamu tidak tahu
Biar Tuhan yang mengarahkan pada siapa pantas rasa ini dituju.
Kututup sore ini dengan satu puisiku dan lagu ‘Make You Feel My Love’ menemani. Kadang aku tidak percaya pada perasaan ini untuk Egy. Mungkin karena teduhnya Egy, karena menyentuh rasa nyaman ini, atau karena hanya Egy manusia satu-satunya?
Berkali-kali aku merasa menjadi anak yang tidak beruntung, karena tidak punya keluarga yang utuh. Tapi Tuhan juga maha adil, Dia datangkan Egy untuk Sena. Seperti Malaikat yang menjagaku tiap malam dari mimpi buruk, tidak bisa Egy melihatku bersedih. Dia selalu berusaha membuat hatiku menjadi tenang kembali.
‘Gy, sadar gak sih kalau kamu udah buat aku jatuh cinta?’
Sejuta pertanyaan yang aku sendiri tidak tahu, akan dimulai dari mana Semesta bantu menjawabnya.
“Lo gak sendirian, Sen. Kan ada gue?”
Setiap kalimatnya yang menenangkan itu, apa bisa aku artikan kalau Egy juga punya perasaan yang sama seperti perasaan aku ke dia? Atau sebenarnya tidak seharusnya aku mengotori persahabatan suci ini dengan perasaan cintaku yang bisa jadi akan menghancurkan semuanya? Barangkali, Tuhan memang sudah menetapkan Egy hanya untuk menjadi sebatas sahabatku saja? Karena bukti pertama kalau aku tidak ada tempat spesial di hatinya adalah aku tahu dia sedang jatuh cinta pada perempuan lain. Aku tidak pernah melihat bola matanya berbinar ketika membicarakan perempuan lain. Sejak pertama bertemu dengan dia, tidak satu pun perempuan yang dia dekati selain diriku sendiri.
Egy bukan laki-laki tukang TP-TP alias Tebar Pesona. Pesona Egy terpancar sendiri dari senyumnya yang ramah pada semua orang yang dia kenal, sikapnya juga hangat. Ketika pertama kalinya dia bercerita padaku sedang dekat dengan perempuan di Sekolah lain, seperti ada guncangan di dalam diriku, tapi aku berusaha kuat mengendalikan perasaanku sendiri. Sahabat sendiri sedang merasakan bahagia masa aku tidak ikut bahagia? Setidaknya membuat Egy merasa aku selalu mendukung dan ada untuknya setiap saat seperti dia ada untukku.
Jika sebuah persahabatan adalah sebuah tameng maka akulah sahabatnya yang akan terus berpura-pura berbohong tidak terperangkap dalam ikatan itu sendiri. Ibarat masuk dalam sebuah ruangan, di mana Egy akan masuk melalui pintu dengan baik tapi aku malah menyusup lewat jendela seperti pencuri. Ruangan itu terlalu nyaman bahkan aman, tapi aku malah berharap selamanya tinggal, aku sudah terjebak pada rasa itu. Tapi bagaimana sewaktu-waktu aku tertangkap basah? Bisa-bisa malah aku yang akan tinggal sendirian di sana dan Egy memilih tidak akan masuk kembali.
***
“Ayo, Sena sini kita foto bareng.” ajakan Tante Fira sore itu di depan rumah kami.
Setiap sore waktu kecil aku, Egy, Niko, Tante Fira, Om Kusuma dan Mama pasti berbincang-bincang. Kami bertiga main sepeda bersama sekedar mutar-mutar di Taman dan area Komplek. Tidak pernah jauh-jauh, kadang Egy main ke rumahku dan aku sebaliknya. Keluarga Egy baik sekali denganku bahkan rasa-rasanya sudah seperti saudara sendiri.
Karena Tante Fira tidak punya anak perempuan, kadang dia suka mengepang atau menguncir rambutku. Aku merasakan Tante Fira sayang padaku, begitu pun Om Kusuma selalu saja ada makanan yang di bawa ketika pulang dari tempat kerja untukku lalu Egy akan mengantarnya ke rumah. Mungkin mereka juga kasihan padaku, di umur yang masih kecil aku tidak bisa merasakan bagaimana bahagianya Egy punya sepasang orangtua yang menyayanginya.
Meski begitu aku sangat bersyukur dan masih merasa beruntung, setidaknya selalu ada mama yang sosoknya sendiri sudah melengkapi ketidak hadiran seorang ayah untuk anaknya. Aku tidak merasa kesepian, semua patut ku syukuri. Lalu bagaimana aku bisa dengan lancang punyai perasaan ini untuk Egy?
Kenapa harus mempunyai perasaan sebegini rumit? Bukankah rasa cinta itu menyenangkan? Mungkin bukan rumit tapi Ngejelimet. Woy sama aja!? Beda! Ngejelimet itu ibarat mau ngomong apa, tapi yang diucapin apa, ya.. kaya waktu Niko tanya ke aku yang membuat aku Gelagapan menjawabnya.
“Kak, suka sama Kak Egy gak?”
“Plisss deh, Kooo! Masa Egy sih!” aku jawab dengan wajah yang belaga sok cool padahal nahan hidung supaya tidak kembang kempis.
“Ohhh, kirain suka.” Niko menganggukkan kepala sambil mencebikkan bibirnya.
Aku ambil aman karena sepertinya Niko menangkap gelagatku, bisa berabe! Secara sikap Niko bertolak belakang sekali dengan kakaknya, Egy tenang tapi Niko rusuh. Seringkali dibelakang Egy dia meledekku, dia memojokkanku untuk mengaku saja kalau suka dengan kakaknya. Katanya lagi jangan sampai Egy jadi punya orang lain. Aku berusaha acuh pada ledekan yang nyatanya selalu membuatku kepikiran.
Aku pandangi foto bersama waktu sore itu di meja belajarku, kita memang sudah seperti keluarga lalu bingkai disebelahnya ada foto aku berdua dengan Egy waktu kecil, tidak ada yang berubah. Dan tidak boleh ada yang berubahkah? Bahkahkan pada perasaan di dalam hati?
‘Baik-baik ya jaga perasaannya, jangan sampai lepas kontrol.’ aku menepuk-nepuk lembut perasaanku sendiri.
***
“Udah nempelin puisi lo belum di Mading?” tanya Egy tapi aku hanya diam.
“Wooyyy, Nanaaa Suranaaaaa... Hellaaww.. jangan pura-pura budeg.” Egy berteriak sambil terus mengendarai motornya, aku menahan tawa dibelakangnya.
“Cengengesan lagi lo!” Egy mengintip wajahku di kaca Spionnya.
“Penting banget emang?” jawabku dengan wajah datar.
“Oh, jadi lo gak mau buatin puisi buat gue?”
*deg deg deg deg deg* suara hatiku berdegup.
Jadi dia belum periksa Mading? Aku memang sengaja menunggu jam terakhir pelajaran supaya tidak kentara ada pin tulisan baru. Aku pura-pura ke Toilet agar tidak ada yang melihatku diam-diam menempelkan selembar kertas puisiku di Mading. Siapa yang tahu kalau aku ini jatuh cinta sama sahabatnya sendiri kecuali yang tahu hanya seekor Kucing? Aku hanya berani menceritakan ini pada Jojo walau Jojo menanggapi dengan suaranya yang sesekali terdengar “Meong.” saja.
Tiba-tiba hujan turun tanpa permisi seperti sebuah rasa yang tidak pernah tanya boleh atau tidak punya rasa untuk Egy pada hatiku. Egy lalu meminggirkan motornya tepat di depan Warung Kopi.
“Pas banget, Sen! Rotbak dulu yuk!” seru Egy.
Lalu kami masuk dan Egy langsung memesan. Roti Bakar rasa kacang cokelat dan susu hangat Ovaltine sudah menjadi kesukaan Egy yang sudah kuhafal dan aku hanya ingin minum teh manis hangat saja, kadang melihat Egy makan saja aku sudah kenyang duluan. Soalnya kalau melihat Egy makan, rasanya cara dia menghargai makanan dihadapannya itu sepertinya nikmat sekali. Aku jadi ingat ketika aku membuatkan Brownies Kukus spesial untuknya, karena itu kali pertama aku membuat sebuah makanan. Bermodal panduan mama tanpa campur tangannya dengan percaya diri aku membuatnya.
“Gak tawarin Mama buat dicobain dulu?” tanya mama waktu itu setelah Browniesnya sudah jadi.
“Ini pasti udah enak Ma, Nana yakin.” Jawabku PD.
“Karena pake cinta ya?” mama meledekku.
Tidak berlama-lama aku langsung tancap gas ke rumah seberang. Tidak perlu mengetuk pintu karena pasti seisi rumahnya sudah tahu siapa yang datang. Langsung berteriak memanggil satu anak laki-laki, bernama Egy. Tidak lama dia turun dari kamarnya dan langsung menemuiku di Ruang Makan. Aku letakkan dengan rasa bangga seloyang Brownies ciptaannku sendiri di atas meja.
“Nih, orang pertama banget yang harus menyobain kue buatan gue.” Aku memberikan sepotong kuenya pada Egy yang sudah kuiris.
Dengan satu lahapan lebar Egy langsung memasukkan Brownies itu ke dalam mulutnnya. Mengunyahnya dengan pelan, aku melihat ekspresi wajah Egy tanpa bisa aku mengerti, apakah kue itu enak saja atau enak sekali?
“Gimana, enak kan Gy?” tanyaku dengan senyuman super yakin.
Kali ini wajahnya Egy berubah seperti terpaksa menelan kue Brownies itu. Tapi tetap mengatakan enak meski sudah terlanjur membuat kadar percaya diriku memudar karena melihat wajahnya. Niko dan Tante Fira yang sedari tadi ada jadi penasaran dengan rasa kuenya.
Kulihat Tante Fira malah tertawa tapi malah wajah Egy berubah lagi menjadi sok polos. Dia takut rasanya bilang tidak enak padaku karena pasti aku akan melayangkan kepalakan tanganku ke pundaknya dengan keras.
Sore itu menjadi hal kelewat sangat percaya dirinya aku akan hal yang aku yakini bisa membuat orang yang kusayang bangga dengan apa yang ku beri. Ketika akhirnya tawaku pecah karena aku menertawakan diriku sendiri, barulah Egy berani mengeluarkan tawanya juga. Mana bisa marah pada Egy dengan tingkahku sendiri? Egy hanya berusaha menghargai jerih payahku saja dan tidak mau melihatku kecewa.
***
“Cuma Teh Manis aja nih?” tanya Egy, aku hanya mengangguk.
Setelah Egy menghabiskan semua Roti Bakarnya. Tiba-tiba Egy mengeluarkan selembar kertas yang kukenali di dalam tasnya. Itu kan puisiku? Buat apa Egy mengambilnya? Jangan-jangan dia tahu kalau itu puisiku? Duh..
“Sejak kapan punya Mesin Tik di rumah?” pertanyaan diluar dugaan.
“Kapan belinya? Kok gue gak tahu?” aku hanya nyengir Kuda.
“Gerah juga ya jadinya padahal hujan kan ya diluar?” Egy menyindiriku dengan mengipas-ngipas lehernya pakai kertas puisiku. Kuranng ajar! Aku memang sengaja menggunakan Mesin Tik yang baru kubeli beberapa waktu lalu agar tulisan tanganku tidak dikenalinya.
“Emang apa-apa lo harus tahu?” Aku menarik kertas itu dari Egy.
“Semesta tuh ga dukung lo buat bohong sama gue, Sen.”
“Apan?”
“Ngapain ngumpet-ngumpet kaya maling kalau cuma buat nempelin itu puisi, untung gue lihat!” aku tercengang. Kok bisa kebetulan Egy lihat sih? Kalau pun tiap aku menyimpan sesuatu hal darinya dan pada akhirnya Egy bisa tahu seharusnya tak butuh waktu lama untuk Semesta memberitahu Egy kalau sahabatnya ini menyukainya kan?
Apa mungkin ini kesempatan yang Semesta kasih? Apa sekarang waktu yang tepat kukatakan? Apa ini sebuah peluang? Tapi tampaknya Egy tidak penasaran untuk siapa puisi ini kubuat? Hujan diluar mulai mereda tapi ada yang terus deras di dalam perasaan.
“Ke sem-sem juga kan akhirnya sama Gama?!?” spontan aku kaget dengan pertanyaan Egy yang tidak kusangka.
“Ahhh??” aku melongo.
“Mau gue comblangin?”
“Apan sih, Gy!”
“Emangnya gue ga tahu insial G dalam puisi lo itu?”
Inisial G?? Astaga! Hanya gara-gara aku tidak mau memakai awal huruf E dari nama Egy lalu berpikir untuk memakai huruf tengahnya saja menjadi G agar tidak ketahuan, Egy berpikir itu puisi untuk Manusia menyebalkan itu? Boro-boro membuatkan puisi untuknya mengingat namanya saja tidak pernah terpintas apa lagi setelah kejadian itu? Lalu memikirkannya dan membuatkan puisi? Puisi itu hanya terinspirasi karena perasaanku padamu, Gy!
“Bukan untuk dia, Gy!” aku membantah kesal.
“Terserah, siapa pun orangnya yang berinisial G itu. Lo harus jujur sama gue kalau lo lagi suka seseorang!?” Egy mengambil kembali kertasnya dari tanganku.
“Gue aja gak pernah sembunyiin apa pun dari lo? Apa lagi soal gue suka sama Putri?”
“Lo malu cerita sama gue?” Egy memandangku yang menjadi lesu dihadapannya.
Puisi yang tadinya aku rasa untuk sedikit saja mencurahkan isi hatiku pada Egy, tapi kenapa Egy jadi salah tangkap? Kenapa juga harus inisial G yang aku buat? Kenapa tidak huruf Y saja atau sekalian To The Point jadi Dear, Egy saja! Tapi sepertinya Egy sudah terlanjur menduga insial huruf itu adalah Gama.
“Tapi, puisi itu bukan buat Gama, Gy!” aku sekali lagi memastikan agar Egy percaya.
“Semakin lo membantah, gue semakin yakin kalau puisi itu memang untuk Gama.” Egy tertawa meledekku.
“Yaudah, balik aja ah!” aku berdiri dari tempat duduk, aku kesal sekali dengan Egy. Kenapa Semesta tidak memberikan juga Kepekaan untuknya atas perasaanku!
“Yaelah, ngambekan lo.” Egy langsung membayar dan cepat keluar karena melihat wajahku yang sedang ditekuk sembilan.
“Lo tempat terbaik gue, saat apa pun masalahnya dateng di hidup gue. Lo tahu itu kan, Sen?”
“Iya, Gy.” Moodku sudah rusak.
“Jadi, gue juga pengen lo sebaliknya ke gue.” Egy melajukan motornya dengan pelan menyeimbangi suaranya agar terdengar olehku.
“Pegangan deh, bentar lagi lo juga ketiduran!”
Aku tidak hanya memegang pinggangnya tapi aku langsung memeluknya. Entah kenapa perasaanku menjadi sedih. Apa tidak boleh punya perasaan cinta melebihi dari persahabatan? Punggungnya ini sudah terlalu nyaman jika aku memang harus mendapatkan punggung yang lain kelak, aku tidak akan tahu pasti bagaimana rasa punggung orang lain jika aku hanya percaya bisa bersandar dengannya sampai bisa ketiduran.
Semesta seperti menentangku bahwa ini bukan jalurnya. Apa aku harus rela kalau memang Putri pemenang hati Egy? Jika mereka sampai jadi berpacaran, aku harus siap menerima perubahan keadaan. Egy akan jadi sering dengan Putri. Waktu akan berubah mungkin 90 derajat karena waktu Egy nantinya hanya untuk Putri dan aku akan sering melihat wajah Egy bersinar terus karena sudah meraskan jatuh cinta.
‘Rasanya kenapa sakit, Gy!’ tidak sadar aku memeluk Egy erat sekali, tapi sepertinya Egy hanya mengira aku sedang ketiduran dan takut terjatuh.
Perlahan langit sore lepas hujan menjadi terang, tapi Bumi masih di gerimisi. Angin mengelus dahiku berkali-kali, biasanya aku sudah jadi pulas. Tapi kali ini mata hatiku menangis pelan.
Langit cerah
Bumi basah
Aku cinta
Kamu tidak.