NOT A LOVE TRIANGLE

NOT A LOVE TRIANGLE
Shocking Day



Semakin hari semakin banyak tugas sekolah yang diberikan guru. Mengejar nilai, nilai dan nilai, mengikuti Bimbel untuk bisa mengikuti tes SNMPTN atau SBMPTN. Aku berusaha terus mengulang pelajaran yang diberikan guru di rumah. Impianku memang ingin melanjutkan sekolah ke jurusan yang aku ingini dan memperluas pertemanan. Sudah dari minggu lalu aku mengatur jadwal belajarku di rumah dan mengurangi menonton film Drama Korea.


*tok tok tok*


“Nana, lagi apa? Mama ganggu gak?” kepala mama nongol di balik pintu kamar.


“Ga kok Ma, cuma lagi evaluasi pelajaran aja. Masuk aja, Ma.”


“Duh, Nananya Mama makin rajin banget, gak ngeDrakor lagi nih?!” mama masuk sambil membawa sesuatu ditangan yang aromanya lezat sekali.


“Mendingan aku nyicipin kue baru buatan  Mama aja deh.” Aromanya menarik hidungku untuk cepat beranjak dari kursi belajar. Mama tertawa melihat tingkah anaknya.


“Tadaaaaa... Klapertart khas Manado!” seru mama melayangkan satu potongan dari sendoknya ke mulutku.


“Mmmmmm...” rasa gurih, lembut bercampur irisan kacang Kenari yang nyerah, Kismis yang manis empuk dan kayu manis bubuk yang wangi menari-nari indah di mulutku.


“Enak gak?” tanya mama yang sebenarnya tahu jawabannya dari ekspresi wajahku.


“Mana ada sih makanan yang dibuat Mama yang gak enak?” aku membuka mulutku dan mama langsung menyuapiku lagi.


Aku sangat kagum dengan wanita dihadapanku ini, dia mandiri dan kuat. Selalu ingin membuatku bahagia. Sejak papa pergi meninggalkan kami, mama banting tulang mencari nafkah untuk kami berdua bahkan mama tidak pernah mau menyusahkan keluarganya sendiri. Dengan hobinya yang suka sekali memasak dan membuat kue. Sedikit demi sedikit dari gaji bekerja di perusahaan Garment mama tabung dan membuat Toko Kue kecil-kecilan di rumah. Mama ubah halaman depan rumah menjadi Toko Kue yang dia beri nama “Toko Kue Sena” dari namaku sendiri.


Setelah itu mama memutuskan untuk keluar dari tempat kerja dan fokus mengembangkan Toko Kuenya. Aku melihat mama bahagia melakukan apa yang dia sukai dan ternyata banyak yang berdatangan ke rumah untuk membeli kue-kue mama, kurasa tangannya memang ajaib karena mama membuatnya dengan perasaan cinta. Dan aku selalu menjadi orang pertama untuk mencicipi kue buatannya setiap ada  menu baru di Etalase. Aku juga senang membantunya jika libur sekolah, kadang-kadang Egy juga membantu kami meski sekedar menaruh toping di atas kue.


Lalu usaha mama membuahkan hasil, tidak hanya bisa mencukupi kebutuhan kami berdua dan biaya sekolahku. Mama juga pelan-pelan merenovasi Toko dan membuatnya lebih luas bahkan bisa memperkerjakan dua orang pegawai. Awalnya hanya satu orang untuk menjaga Toko tapi setelah kejadian mama pingsan karena kelelahan memenuhi pesanan, aku meminta mama untuk menambah satu orang pegawai lagi yang bisa membantu mama membuat kuenya.


Memperkerjakan dua orang ibu yang bernama ibu Wati dan ibu Nur yang juga kebetulan sedang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebetuhan keluarganya. Sebenarnya waktu itu mama belum memerlukan bantuan tapi mama merasa iba karena nasib ibu Wati hampir sama dengannya, sama-sama tidak punya Suami tapi bedanya ibu Wati ditinggal karena Suaminya meninggal dunia. Lalu mama mencoba memperkerjakannya meski bayarannya tidak besar lalu mama merasa tertolong juga karenanya.


Mama merasa sejak menolong ibu Wati toko kue juga menjadi tambah ramai dan pesanan juga silih berganti. Mama merasa Tuhan memang adil, selalu ada kemudahan jika mencoba menolong sesama. Atas jerih payah dan kegigihannya, aku menjadikan mama sebagai Role Model dalam hidupku. Aku ingin seperti dia atas sikapnya yang bertanggungjawab dan tidak menyerah sekali pun aku tahu perjalanan sampai bisa ditahap ini tidak mudah untuknya. Luka batin atas masa lalunya justru membuat dirinya menjadi wanita yang semakin hari semakin menjadi lebih baik. “Masa lalu mengubah seseorang tapi tergantung dirimu.” Sebuah kutipan yang pernah kubaca dan mama adalah penggambaran baik dari kalimat itu.


“Ya sudah ini Nana lanjutin makannya sendiri, kalau mau lagi masih ada di bawah ya. Mama mau lanjut bantuin ibu Nur dulu di dapur.” mama beranjak keluar.


“Makasih ya, Ma.” ucapku lalu melihat senyum mama menghilang di balik pintu.


“Papa rugi banget ninggalin Mama.” ujarku sendirian.


*Dret dret dret dret*


Suara getaran handphone di atas meja membuyarkan lamunanku. Aku segera mengangkat panggilan dari sahabatku tercinta yang mungkin hanya sepuluh langkah dari rumahku.


“ Sen, gue di Jendela kamar nih.” ucapnya langsung di seberang sana.


Adalah kebetulan yang indah sekali kamarku dan kamar Egy berada di lantai dua masing-masing rumah kami dan jendela kami saling berhadapan. Kami sering melakukan ini jika sedang telepon-teleponan dan ke Jendela seperti sedang berbicara langsung.


“Terus????” jawabku sambil menghampiri Jendela.


“Lagi makan apan lo?” Egy melihatku yang masih mengigit sendok plastik.


“Klapertart.”


“Bukan buatan lo kan?”


“Bukan! Menu baru nyokap!” jawabku manyun dia tertawa diseberang sana.


“Sen, besok ke Dufan yuk!” ajaknya tiba-tiba.


“Ahh???” aku melongo.


“Besok kan libur tanggal merah, ga apa-apa sekali-kali kita refreshing.”


“Serius lo?” jawabku heran karena tumben sekali Egy mengajakku pergi ke tempat wahana permainan itu. Biasanya kalau mengajakku pergi keluar ya paling nonton film, nonton pentas musik dan Makan Mie Ramen.


“Mau gak nih!? Kalau gak mau nyesel lo!” mimik wajahnya dari sana terlihat mengesalkan sekali.


“Tumben banget sih ngajak gue ke sana! Lagian wahana apa yang mau lo naikin? Palingan cuma naik Poci-poci! Nyali lo kan kecil!” sengaja aku membuatnya kesal.


“Jangankan naik Poci-poci, masuk Istana Boneka aja lo minta pulang!” Egy malah membalikkan kata-kataku.


“Yeee kenapa jadi gue! Terus ngapain coba kita ke sana?! Kaya gak ada tempat lain aja!”


“Gue mau suasana baru dan menantang adrenalin gue.” jawabnya sok serius.


“Gaya! Lo mau naik Tornado!?”


“Ada yang lebih serem dari itu gak?” dia berhasil membuatku jengkel.


“Mana gue tau..” aku sengaja mengeraskan suaraku agar langsung dia dengar.


“Ya udah fix besok jam 9 pagi gue kita pergi ya!” katanya mengakhiri telepon.


“Gue mau mandi dulu, daaaaa...” katanya lagi diseberang sana lalu menghilang.


Padahal dia belum tahu aku mau ikut atau tidak dengan ajakannya tapi kemana pun perginya kalau bersama dengan Egy bukankah hal yang sangat menyenangkan? Tapi benar juga katanya tadi, mencari suasana baru dan menantang adrenalin sekali-kali tidak ada salahnya. Merfresh otak yang belakangan ini tegang karena terus belajar. Pastinya besok akan seru-seruan berdua dengan Egy di sana dan menjadi moment pertama.


***


‘Gue tunggu di Toko sambil makan Klapertart! Plisss dandannya jangan lelet!’ Satu pesan dari Egy muncul di layar handphoneku padahal kulihat masih jam 8 pagi.


‘Semangat amat!’ balasku disertai emoji menguap.


“GPL!” pesannya lagi. Aku langsung bergegas ganti pakaian.


“Untungnya sudah mandi!” gumamku.


Tak perlu berpikir lama untuk memakai baju apa, aku langsung mengambil T-shirt, Cardigan, celana Jeans pendek dan langsung mengenakannya. Memoles sedikit wajah dan memberikan sentuhan warna Nude pada bibirku. Mini Shoulder Bag dan sepatu Kets  menambah penampilan Matching nan santai pagi ini lalu buru-buru aku menghampiri Egy di Toko.


Dari kejauhan mama senyum-senyum melihat anaknya berseri-seri. Tapi mata Egy sudah melongo melihatku menghampirnya lalu dia menyoroti penampilanku dari atas ke bawah.


“Nana sayang celananya di ganti ya?” sudah feeling Egy akan protes.


“Tapi kan adem Gy,” kataku dengan wajah memelas agar Egy tidak jadi menyuruhku ganti celana.


“Kenapa suka jadi pusat perhatian orang-orang sih?” melihat wajahnya aku langsung membalikkan badanku dan meluncur kembali ke kamar.


“Kenapa susah banget sih bilang kalau dia  takut gue dilirik orang lain!” aku bergumam kesal.


Memang dari dulu Egy kadang-kadang suka mengomentari apa-apa yang aku pakai. Bahkan seragam sekolahku, dari mulai baju dan roknya. Mungkin karena Egy tidak punya adik atau kakak perempuan, ya jadi begini menjagaku layaknya saudara perempuannya sendiri. Tapi, aku memang suka dengan caranya, berarti dia memang sayang padaku kan?


“Mau lagi Klapertartnya Gy?” tanya mama pada Egy yang melihat tempat bekas kuenya ludes tanpa sisa.


“Cukup kayanya, Tan. Makasih Hehehe”


“Mau berangkat sekarang?” tanya mama


“Iya, Egy ajak Sena keluar dulu ya Tan.”


“Tante gak pernah khawatir kalau Nana perginya sama kamu.” Mama sambil melirik menggodaku. Sepertinya mama memang sudah menyadari bahwa anaknya ini jatuh cinta dengan anak tetangga depan rumahnya.


“Ya sudah Ma, aku sama Egy pergi dulu ya.” pamitku pada mama sambil mencium tangannya begitu pun dengan Egy.


“Kita naik mobil?” tanyaku setelah melihat Egy mengeluarkan kunci mobil milik Tante Fira.


“Males gue naik motor, lo ketiduran mulu sih.” ledeknya lalu wajahku berubah masam sekilas.


“Gak ajak Niko?”


“Dia pergi latihan Band.”


Hatiku merasakan sesuatu yang aneh, apa akan ada yang terjadi? Ah, ini hanya perasaanku saja. Kita kan memang ingin seru-seruan nanti.


“Mau gue puterin lagu apa, Sen?”


“Balada Insan Muda.” jawabku dengan nada happy.


“Eee..cie.. yang lagi jatuh cinta!” godanya.


“Apan sih!” jawabku senyum-senyum.


Balada insan muda dimadu cinta


Ingin dia selalu ada dekatku


Tak ingin waktu terasa cepat berlalu


Tiada lagi ada senja kecewa


Jingga langit merdu bernada kasih


Rangkai sejuta warna pelangi cinta bersama


Lirik lagu dari Diskoria yang menjadi favoritku akhir-akhir ini, menemani awal pagi yang indah bersama Egy. Di dalam mobil berdua, bernyanyi bersama, melantunkan nada-nada cinta bersama orang yang aku cinta. Romantis kan? Tapi, andai dia tahu? Di sebelah dirinya ada perempuan yang hatinya selalu merasa bahagia jika dekat dengannya. Ada harapan bak sayap yang ingin selalu di kepakkan hingga terbang tinggi. Ada cahaya yang selalu menuntunnya berjalan di dalam kegelapan sampai akhirnya dia merasa bahwa dia memang tidak pernah sendirian.


I could make you happy, make your dreams come true


Nothing that I wouldn't do


Go to the ends of the Earth for you


To make you feel my love


To make you feel my love


Lagu tepat selanjutnya yang kebetulan sekali sering kuputar waktu sore sambil memandangi jendela kamar Egy seperti satu tanda sebenarnya semesta sedang bermain-main denganku. Semesta seakan mengajakku untuk memecahkan teka-teki perasaanku sendiri. Seakan memberitahu bahwa perasaan ini ada untuk aku akui dan tidak perlu aku khawatirkan bagaimana ujungnya. Mungkin tidak perlu dipahami tapi mencoba untuk mengerti bahwa perasaan ini patut kusyukuri karena dia bertumbuh dari hal-hal baik yang selalu Egy berikan untukku.


Mungkin bukan waktunya yang tidak tepat atau salah tempat. Tapi, mencintai adalah hal yang tidak bisa kita atur sendiri untuk jatuhnya pada siapa. Karena hati adalah perasaan-perasaan yang sejati, jadi percaya saja pada Intuisi itu. Bukankah Intuisi itu juga yang akan bisa menemukan jawaban dari semua pertanyaanmu sendiri?


Cuaca cerah pagi ini juga mendukung dan akhirnya kita sudah sampai masuk Dufan. Rasanya lupa kapan terakhir ke sini? Eh tunggu, terakhir ke sini kan waktu sama papa dan dua keponakannya? Iya, aku ingat. Hmm, lama juga ya..


“Kita tunggu sebentar di sini ya,” kata Egy sambil celangak-celinguk seperti mencari seseorang.


“Putttt...!” teriak Egy memanggil seseorang. Kulihat ada wanita cantik berambut panjang tersenyum menjawab panggilan Egy dan menghampiri kami. Itu Putrikah? Gebetan Egy? Yang Egy ceritakan?


“Kamu lama gak nunggunya?” tanya Egy pada Putri dengan wajah yang ceria.


“Enggak kok.” jawab perempuan itu sambil melihat ke arahku.


“Oh, iya.. Put ini Sena, sahabatku yang aku ceritain ke kamu, dan Sen ini Putri yang juga gue ceritain ke lo.” Egy memperkenalkan kami.


Lalu aku dan Putri saling menyapa. Pantas saja Egy naksir sama Putri, Wong cakep begini? Apalah aku? cuma sahabatnya yang bisa dapat perlindungannya saja tapi gak bisa dapat hatinya? Seketika perasaan gembiraku berubah jadi rasa pesimis.


“Ya, Bro gue udah di sini. Lo langsung ke sini aja.” tiba-tiba Egy menjawab satu telepon entah dari siapa. Kenapa Egy gak bilang sih kalau datang ke sini gak cuma berdua aja?


“Tenang, lo gak akan jadi nyamuk.” bisik Egy padaku dan aku hanya melihatnya bingung.


Tidak lama seorang laki-laki yang tidak asing menghampiri kami. Seakan aura dari tubuh tegap dan tingginya terpancar dan bisa kutebak meski berjarak beberapa meter. Si Manusia Es nan sombong berjalan seperti menghentakkan es di setiap langkahnya dan hatiku menjadi ketar-ketir. Akan ada perang dunia ke berapa ini?


“Loh?” Gama heran melihatku.


“Ya, masa kita cuma berdua aja ke sini? Rasanya aneh!” ucapk Egy pada Gama seakan menjawab pertanyaan.


“Ga sama dia juga kali.” Gama sengaja melirikku.


“Emangnya gue mau ada lo di sini.” kataku mulai sengit.


“Plisss dong! Jangan pada bete! Kita kan mau seru-seruan.” Egy menengahi kami.


Entah apa maksud Egy, mungkin dia masih berpikir insial puisiku itu benar untuk Gama. Makanya, dia sepertinya bermaksud menjadi Mak Comblang dengan sengaja mengajak Gama ke sini tanpa aku tahu. Egy memberi isyarat agar aku tersenyum tapi semangatku mulai hilang.


“Kamu berani gak naik Tornado?” Putri menantang Egy.


“Aku?” Egy gugup. Aku tahu Egy kan takut dengan ketinggian.


“Mana berani dia, Put. Egy kan cemen,”  kataku meledek Egy.


“Kata siapa?? Kalau gue berani gimana?” tantang Egy.


“Yaudah kalau kamu berani kita naik berdua.” ajak Putri dengan semangat.


Akhirnya mereka berdua naik dan meninggalkan aku dan Gama. Aku rasa Manusia Es ini juga punya nyali yang kecil. Gama melihat sekeliling mencari tempat duduk. Dia mengajakku tapi tidak bisa dengan baik-baik.


“Mau berdiri terus lo nunggu mereka?” dia berjalan menuju kursi di depan dan mau tidak mau aku mengikuti langkahnya dan kami duduk berdua.


Gama memainkan handphonenya dan aku resah dengan perasaanku. Sepertinya aku harus mencari moodku kembali dengan berjalan-jalan dan tinggalkan manusia menyebalkan ini di sini. Lagi pula dia sedang asik dengan dirinya sendiri, pasti nanti Egy mencariku atau bisa telepon.


Berkeliling di area ini melihat banyak orang bersama dengan teman, kekasih atau keluarganya dengan ceria membuat pikiranku terbuka. Bahwa hidup memang terus berputar, entah kapan atau di mulai hari ini aku harus siap menerima perubahan. Merelakan orang yang terkasih demi kebahagiaannya satu pembuktian kalau kita memang tulus cinta padanya. Perubahan yang bisa mendewasakan hati, meski butuh pelan-pelan belajar untuk menerima perubahan itu sendiri. Dan cepat atau lambat aku juga pasti menemukan kebahagiaanku sendiri.


Sampai di depan satu wahana Turangga-Rangga aku tertarik untuk menaikinya. Memoriku seketika memunculkan kenangan bersama papa. Aku juga masih ingat perasaanku pada waktu itu, perasaan bahagia yang tidak bisa lagi aku rasakan. Papa menemaniku menaikinya, menjagaku takut kalau nanti anaknya jatuh. Senyum dan tawa lepas itu pernah kita rasakan bersama sebelumnya, bekas peluk hangatnya memang tidak bisa aku pungkiri. Jadi, tidak apa-apa kan kalau aku juga rindu padanya?


“Dasar anak bocah!” Gama sudah ada di depan wahana dan dia melihatku turun dari Komedi Putar.


“Emangnya cuma anak bocah aja yang boleh naik ini!”


“Tuh, temen lo muntah turun dari Tornado!”


“Kan gue bilang juga apa, sok-sok an sih dia!” aku langsung berlari menemui Egy.


“Eh, Nyil! Emang lo tahu mereka dimana?!” Gama menghentikan aku.


“Di tempat yang tadi kan?”


“Sok tahu!” tiba-tiba Gama menarik tanganku dan berjalan kearah yang dia tahu dimana Egy dan Putri.


Aku terperangah dan tidak mengelak tanganku dipegang Gama. Ada perasaan yang berdetak cepat tapi aku tidak merasa tergangggu. Spontan sekali sikapnya tanpa rasa risih menggenggam tangan perempuan ini yang selalu bertengkar dengannya tiap kali bertemu. Aku tidak mengerti baik atau bagaimana laki-laki ini? Atau memang sikap dinginnya hanya topeng!


Kulihat Egy dan Putri ada di dalam restoran cepat saji dan dari jauh Egy melihat kami heran. Aku tahu pasti karena Gama masih menggenggam tangaku. Aku ingin melepaskan tangannya tapi Gama malah terus berjalan menghampiri mereka


“Jadi udah akur nih?” tiba-tiba Putri nyeletuk.


“Apan!” wajah Gama terlihat agak malu. Gama langsung melepaskan tanganku dan seakan tidak sadar kalau sepanjang perjalanan hingga sampai dia tidak melepaskannya.


“Eheeemmm! Ayo duduk-duduk! Ga usah sungkan!” Egy meledek aku dan Gama.


“Katanya lo muntah!? Macem-macem si lo!” kataku mengalihkan suasana canggung.


“Gue cuma mual sedikit, udah fine-fine aja kok.” jawab Egy.


Egy menyodorkan aku dan Gama air mineral di botol berukuran kecil yang sudah di pesan terlebih dahulu. Duduk kami saling berhadapan, Egy disamping Putri dan mau tidak mau Gama di sampingku. Aku langsung menghabiskan minuman, entah kenapa aku merasa gugup setelah Gama menggandeng tanganku tadi. Egy memperhatikanku yang salah tingkah.


“Oke, to the point aja ya...” ucap Egy terlihat serius.


“Sebelum kita pesan makanannya, gue mau sahabat gue, Sena dan kebetulan juga ada Gama di sini, jadi saksi.” nada bicara Egy mengubah gugupku jadi sesuatu yang menakutkan, mungkin aku sudah bisa menebaknya.


“Put, setelah kita PDKT. Aku rasa gak butuh waktu lama lagi buat nembak kamu. Kamu mau kan jadi pacar aku?” kalimat Egy pada Putri menggetarkan perasaanku. Aku menahan diri untuk tetap baik-baik saja. Kulihat mata Putri berbinar seperti bahagia di tembak sahabat tercintaku sedunia. Aku bisa apa?


“Mau.” tanpa ragu Putri langsung menjawabnya.


Gama sempat menoleh padaku, tapi aku harus terlihat biasa saja bahkan harus berpura-pura bahagia karena Egy sedang bahagia. Egy tersenyum lebar mendengar jawaban Putri. Entah aku harus bersikap bagaimana sedangkan hatiku sakit begini.


“Yeee.. selamat ya! Akhirnya sahabat gue gak jomlo lagi!!!” tiba-tiba aku  menepuk tangan, heboh sendiri.


“Wah, selamat ya.. ternyata gue di sini supaya jadi saksi jadian lo doang?” kata Gama sambil menyelamati Egy dan Putri.


Egy dan Putri terlihat senang sekali, tapi aku menahan rasa sakit. Seakan ingin menghilang saja dari hadapan mereka. Ini hari yang sangat mengejutkan sekali, Gy! Kenapa aku selalu berekspektasi pada Egy? Egy juga berhak punya bahagia, meski bukan aku orang disampingnya. Egy hanya menganggapku sahabatnya saja dan tidak pernah lebih, harusnya aku juga tahu diri.


“Makasih ya Gy, kamu udah pilih aku jadi pacar kamu, yang pertama lagi!” ucap Putri dan tiba-tiba Putri mencium pipi Egy di hadapan aku dan Gama tanpa permisi.


Aku mematung melihatnya, wajah Egy berubah memerah. Yang aku tahu, ini pertama kali Egy di cium oleh perempuan. Spontan aku memegang perutku seolah sedang merasakan sakit dan pamit ke Toilet lalu berjalan cepat. Semua perasaan bercampur aduk tidak tertahankan dan mereka bertiga kaget melihat sikapku, biar saja berpura-pura sakit perut yang terpenting aku harus menyembunyikan perasaan ini dulu.


“Sen??? Lo ga apa-apa??” ternyata Egy mengikuti ke Toilet, suaranya terdengar dari luar.


“Ennngga apa-apa kok, Gy..” aku menghela nafas menahan tangis dan berusaha menjawab Egy.


“Serius, Sen? tanyanya lagi memastikan.


“Lo lagi PMS ya?” Egy malah mengira begitu. Memang yang dia tahu, kalau aku sedang PMS perutku selalu sakit tapi lebih baik dia menyangka begitu dari pada dia tahu aku menangis di dalam sini karena dia.


“Iyaaa..” jawabku berbohong.


Setelah memastikan aku masih baik-baik saja Egy kembali ke tempatnya dan aku menghapus air mataku, memastikan wajahku bisa berakting lagi lalu keluar. Gama melihatku aneh dan Putri memasang wajah tanya. Aku merasa tidak enak pada mereka, seolah merusak sebuah moment mereka. Tapi, ya sudahlah.. aku memang tidak begitu pintar meyembunyikan perasaan dan ini lebih baik dari pada aku berpura-pura pingsan. Lebay sekali sih!? Tapi apa kalian tahu bagaimana rasa sakitnya?


“Gue balik duluan aja boleh gak, Gy? tanyaku yang sudah terlanjur merasa tidak enak.


“Sorry ya Put, gue ngerusak moment lo berdua sama Egy ya?”


“Engga kok, Sen. Engga apa-apa, gue kira lo kenapa-kenapa, gak tahunya lagi PMS.” Lega juga mendengar jawaban Putri, dia malah menghampiriku dan mengusap pundakku. Ternyata Putri gak hanya cantik tapi juga baik, dia tidak berpikir macam-macam atas kejadian yang spontan tadi.


“Yaudah yuk kita anter kamu pulang,” kata Putri.


“Gak usah Put, biar Unyil gue yang anter balik. Gy, lo tetep di sini aja sama Putri.” tiba-tiba Gama mengatakan itu pada Egy dan Putri. Wajah Egy dan Putri melongo. Bersamaan mereka berdua melirikku, siapa lagi yang dia sebut Unyil itu kalau bukan aku?


“Sorry, maksud gue si Sena.” kata Gama berusaha tetap cool lalu Egy dan Putri tertawa.


“Gue malah berterima kasih dan seneng kalau Sena lo anter pulang, iya kan Put?” Egy mesem-mesem dengan Putri.


Kenapa tiba-tiba Makhluk Es ini mau mengantarku? Rasanya memang tidak mau. Tapi, aku memang ingin cepat sampai rumah dan ingin hari ini juga cepat berlalu. Eh, wait!? Ini hari apa? Aku langsung melihat handphoneku dan memastikan kalau hari ini bukan hari Rabu. Ah?? Aku tidak percaya! Ini hari Rabu??


“Ayo pulang!” ajak Gama tanpa ku menolak.


“Gam, nanti tolong bilang ke nyokapnya Sena ya maaf gue gak anter dia balik.” kata Egy.


“Gak usah, nanti gue sendiri aja yang bilang ke nyokap. Sorry ya Gy, gue jadi balik duluan.”


“Engga apa-apa,” Egy mengusap kepalaku dan tersenyum.


‘Maaf ya Gy, ngerusak hari spesial lo. Harusnya gue sebagai sahabat ngedukung kebahagian lo kan? Tapi, gue harus belajar merelakan lo dulu ya..” gumamku.


Aku tidak menyangka kalau hari ini bisa sebegitu mengejutkanku dari hari Rabu kutukan sebelum-sebelumnya. Apa benaran kutukan hari Rabu itu memang nyata? Kenapa aku harus percaya ini?


“Pake pura-pura sakit perut lagi lo, ketebak banget!” celetuk Gama di depanku. Sedari tadi aku memang hanya diam sampai naik ke motornya.


“Gue emang sakit perut!”


“Gue emangnya gak tahu kalau lo Jealous?” Gama menebak tepat. Bagaimana dia tahu? Sedangkan Egy dan Putri tidak mengira begitu.


“Sotoy lo! Mendingan lo cepet deh ngendarainnya!” jawabku ketus tapi Gama tertawa sambil melihatku di kaca Spionnya.


Sialan, kok dia bisa tahu? Bagaimana kalau dia mengadu kecurigaannya pada Egy? Dalam-dalam menyembunyikan perasaan malah orang lain yang bisa menebaknya. Kenapa semeta lucu sekali, manusia Es ini peka juga ternyata.


“Tenang aja, gue gak bakal bilang ke Egy. Jadi rahasia lo bisa aman.” Dia seakan tahu isi kepalaku juga dan membuatku  terdiam tidak bisa membantah.


Sepanjang perjalanan pulang, sepoi angin tidak lagi membuatku mengantuk. Perasaan kacau ini menemaninya, aku tidak peduli siapa punggung laki-laki di hadapanku ini. Tidak sadar kepalaku sudah menempel dibelakangnya. Memeluk tasku sendiri, merasakan sakit dan air mata tidak bisa kutahan lagi untuk jatuh ke pipi. Biar saja, Gama tidak akan tahu kalau aku menangis di belakangnya. Mungkin dia mengira aku sedang tertidur.


“Mungkin bukan bertepuk sebelah tangan tapi ruas-ruas jarimu memang tercipta untuk menggenggam tangan seseorang yang tepat.”


Seolah semesta membisikkan kalimat itu lewat hembusan angin ke telingaku dan membelai lembut keningku. Ya, secepatnya aku akan baik-baik saja. Semoga...