NOT A LOVE TRIANGLE

NOT A LOVE TRIANGLE
Egy



“Lagian sih lo Drakor-an mulu!” Egy melempar wajahku dengan gulungan tisu.


“Akhir episode Reply 1988 Gy, gue penasaran jadi deh gue begadang ngabisin episodenya. Lagian gue heran kenapa selalu pas sama jadwalnya bu Riri sih.”


“Apes ya apes aja, Sen!” Egy lahap menyantap Nasi Goreng ibu Marni di Kantin.


Aku rasa, aku dan Egy akan kangen sekali dengan nasi goreng favorit kita di Kantin sekolah ini nanti, mengingat kelulusan sekolah tinggal beberapa bulan lagi. Waktu terasa cepat sekali seperti naik Kereta. Jug gejak gejuk gejak gejuk Kereta berangkat. Jug gejak gejuk gejak gejuk hatiku gembira. Eh, kok malah nyanyi sih? Hahaha..


Beginilah suasananya, kalau sudah dekat dengan Egy. Sahabatku satu-satunya yang aku punya di dunia ini. Kalau lagi dekat sama dia bawaannya happy terus. Egy tidak pernah buat aku kecewa meski orangnya nyebelin. Kalau ingat kata-kata Alya, benar juga.


“Biasaya cowok yang zodiaknya Libra tuh, manly banget, dewasa, gak labil, cerdas, dan satu lagi yang perlu lo tahu, dia setia!.” Kata Alya terlihat yakin mendeskripsikan satu zodiak yang aku sebut. Sebenarnya aku sendiri tidak tertarik ikutan minta di ramal, karena Alya memaksa ya sudah dan yang dipikiranku cuma ada Egy yang lahirnya di musim hujan itu.


Alya hafal benar tiap detail karakter dari semua jenis perbintangan alias zodiak berdasarkan tanggal dan bulan lahir seseorang. Bak peramal, Alya juga bisa membaca garis tangan dan hampir semua temanku bertanya pada dia perihal zodiak pacar atau pun gebetannya. Tapi, otak Alya juga otak bisnis, harus sedia Ceban di saku untuknya sekali buka praktek. Banyak garis-garis yang Alya sebut, ada garis kepala, garis hati, garis hidup, nasib, dan entahlah apa lagi.


Aku diminta membuka telapak tangan yang paling banyak digunakan karena bisa menentukan 80% dalam membaca garis dan Alya mulai membaca telapak kananku. Alya hanya mau membaca dua garis tangan saja, karena jika lebih akan dikenai biaya tambahan. Dasar otaknya cuan sekali!


Garis tangan kehidupan melambangkan kesehatan dan kemakmuran pemiliknya. Merupakan garis horizontal dan letak garis ini ada dibawah garis kepala. Alya mulai memicing matanya dan mengangguk-angguk sendiri.


“Garis lo pendek, lo gampang mengalami gangguan kesehatan tapi tenang lo bakal jadi orang sukses.” Maksudnya kalau nanti aku kaya raya, uangnya cuma untuk biaya rumah sakit aja? Asal ceplos nih orang!


“Nah ini nih, yang pasti lo tungguin. Garis tangan hati alias kisah asmara lo.” Alya sengaja berdeham sebelum melanjutkan, dia kira aku penasaran apa?


“Wah-wah Sen, ckckckckck..” spontan aku mengernyitkan alis.


“Lo mudah patah hati!” sambil menunjukkan bentuk garis hati dan kepala yang bersinggungan di telapakku.


“ASBAK lo!” aku menarik tanganku, masa yang jelek-jelek terus yang disebutin? Mana boleh percaya! Dasar peramal gadungan! Aku jadi sewot hahaha..


Egy terbahak-bahak mendengar ceritaku yang abis diramal Alya dan hampir salah menuangkan kecap dengan kuah bubur ayam yang tempatnya sama di botol plastik. Tapi, ini yang membuatku bahagia melihat Egy bisa tertawa lepas karenaku. Dulu, aku bertanya pada diri sendiri dari mana mula aku mencintainya? Dan mungkin sekarang kutemukan jawabannya.


“Lo gak malu nangis di taman ini sendirian?” sosok anak laki-laki kala itu muncul mengagetkanku. Cepat-cepat aku menghapus air mata yang banjir di pipi lalu dia duduk disebelahku.


“Lo gak sendirian, Sen. Kan ada gue,” katanya sambil memelukku.


Sejak saat itu, mungkin perasaan lain tumbuh berselimut rasa nyaman dan perlindungan darinya. Segala tentangku Egy bisa tahu, tapi tidak dengan perasaanku untuknya. Mungkin Egy hanya menganggapku sahabat kecilnya yang butuh perlindungan karena aku hanyalah anak tunggal dari keluarga yang Broken Home.


“Terus kemarin dianter Gama sampe rumah?” aku sengaja tidak menjawab.


“So..rrr..ryy.. gue ada latihan soal kemarin. Gue malah kaget kalau Gama anter lo balik.” aku masih sengaja diam.


“Kenapa lo diem? Biar ga kentara ya kalau lo seneng banget dianter cowok idola seluruh kaum hawa disini?”


“Apan sih lo!” ledekan Egy memancing beteku lagi.


“Kemarin itu hari Rabu, Gy!!”


“Pliss deh, Sen! Masih aja percaya!”


“Lo masih inget kan, Rabu-Rabu sebelumnya, apa yang udah terjadi sama gue!?”


“Itu karena lo terlalu percaya! Karena alam bawah sadar lo dipengaruhi hal-hal negatif dan mendorong itu semua menjadi kenyataan!” ujar Egy.


Seperti masuk kuping kiri keluar kuping kanan, perkataan Egy tidak kugubris. Aku sendiri tidak tahu, mengapa kalimat perempuan paruh baya di Kota Tua malam itu teriyang di kepalaku. Kalau saja tidak mau menemani Alya untuk melihat pertunjukan dan melihat lapak peramal, mungkin aku tidak akan sial.


“Eh, Sen. Nanti gak pulang bareng dulu ya?” kata Egy pelan.


“Kenapa?”


“Mauuu.. jemput Putri.” Wajahnya terlihat senang.


Ini kali pertama aku tahu Egy jatuh cinta, dia sudah cerita padaku minggu lalu dan dia bilang saat ini sedang PDKT dengan perempuan yang dia sebut tadi namanya. Ada yang terasa perih di dalam hatiku tapi aku pura-pura bersikap senang di hadapannya. Kalau saja Putri itu, aku?? Ahhh... kenapa aku tidak bersyukur saja sih? Bersyukur karena selalu ada sosok Egy dalam hidupku yang runyam ini. Belum tentu kan, Putri bisa memiliki Egy? Tapi aku sudah lebih dulu punya dia di dunia ini.


“Iya.. iyaa...” kataku dengan nada malas.


“Makanya jangan nonton Drakor terus!”


“Apa hubungannya!?”


“Ya, masa mau jomlo mulu??!”


“Mending gue nonton Drakor! Jelas ketawa sama sedihnyanya karena apa!” tangkisku.


“Dih! Emang gak mau kalah lo!” tangan Egy langsung mengacak-ngacak poniku.


Kalau aku sama Egy sudah berdua di Kantin dan kita bikin suasana rame sendiri, pasti ada saja yang menyindir. Mereka selalu mengira aku dan Egy berpacaran. Ya, gimana tidak dianggap begitu? Pergi ke Sekolah sama Egy, pulangnya iya, ke Kantin apa lagi. Kita terlihat tidak bersama hanya ketika kita di kelas masing-masing, Egy di jurusan IPA, yang murid-muridnya otaknya rata-rata encer semua dan ketika kita di rumah masing-masing, aku dan Egy kebetulan satu komplek, rumah kita saling berhadapan pula.


“Sahabat rasa pacar nih!” tiba-tiba perempuan satu kelas Egy nyeplos melewati meja kami. Dan Egy selalu menimpalinya dengan kalimat yang sedang viral itu “IRI BILANG BOS!”. Mungkin siapa yang tidak iri? Akan kuceritakan bagaimana laki-laki didepanku ini.


Nama lengkapnya Egy Kusuma Wijaya. Ya,nama belakang itu dari nama lengkap ayahnya. Ibunya bernama Fira Yunita dan Adik laki-lakinya bernama Niko Kusuma Wijaya. Egy hanya dua bersaudara dan jelas tidak punya saudara perempuan jadi pantas, aku merasa dijaga olenya. Sikap penyayang Egy sudah terlihat sejak pertama kali aku bertemu dengannya pada sore itu di taman yang tidak jauh dari rumah kami.


Pada hari itu, aku pergi dari rumah sambil menangis dengan menggunakan sepeda yang sengaja aku kayuh dengan kencang dan sialnya aku terjatuh. Karena waktu itu papa pulang dengan membawa seorang anak perempuan yang aku rasa umurnya tidak jauh dibawah umurku. Papa bilang ke mama untuk menerima anak itu, tapi mama tidak mengiyakan, lalu terjadilah sebuah keributan sepasang manusia dewasa dan aku memilih untuk tidak melihatnya.


“Lagi latihan buat lomba balap sepeda ya?” tiba-tiba anak laki-laki itu datang menyelamatkanku. Anehnya, tangisku malah menjadi tapi sebenarnya aku juga merasakan malu.


“Itu lututnya berdarah,” Aku malah baru merasakan sakit ketika Egy menyadarkanku kalau ternyata lututku berdarah karena luka didalam hatiku rasanya lebih sakit.


“Aduh... sa..kiiitt...” spontanku aku berteriak karena melihat darah.


“Sebentar ya, aku ambill obat, jangan kemana-mana dulu.” Egy langsung berlari cepat entah kemana lalu secepat kilat dia kembali membawa obat dan penutup lukanya. Dan tanpa di suruh atau diminta Egy mengobati luka di lututku. Aku sempat terperangah, pikirku siapa anak laki-laki baik ini? Dan sejak saat itu, untuk kesekian kalinya ketika aku menangis Egy akan selalu ada. Anak baik yang aku rasa memang sengaja Tuhan kirimkan untuk hidupku yang kusut ini. Pertemuan pertama dengannya yang tidak bisa aku lupakan, manis sekali bukan?


Dan nilai plusnya dari seorang Egy adalah wajahnya yang hitam manis, kalau kuibaratkan dia seperti Lee Seung-Gi salah satu aktor favoritku di Drakor. Lesung pipinya yang tampak malu-malu ketika tersenyum, badannya yang tinggi, lengannya yang lumayan berotot karena dia suka sekali berolahraga, apalagi Basket menjadi salah satu olahraga favoritnya. Dan dia juga ternasuk pacar idaman cewek-cewek di sekolahku ini. Makanya, wajar kalau perempuan di sini iri padaku dan aku merasa bangga dan beruntung dekat dengannya.


“Gy, setelah istirahat lo diminta ke


ruang Ibu Sarah.” tiba-tiba teman laki-laki sekelas Egy sebentar menghampiri kami.


“Ok, habis ini gue ke sana, makasih Ndri.” jawab Egy.


“Mau ngapain, Gy?” tanyaku.


“Kan bulan ini gue jadi ketua Mading.”


“Ooooh...”


“Oh doang ini?”


“Lah terus? Harus waw gitu?”


“Yeee! Kali ini, lo harus ikutan Mading yang bakal gue buat!” pintanya.


“Apan tuh?”


“Nanti aja lihat di Mading.”


Bisa aku tebak sih, palingan dia menyuruhku menempelkan satu puisi karyaku sendiri di Mading nanti. Dia tahu hobiku yang satu ini, selain suka membaca buku puisi aku juga pernah beberapa kali membuat puisi. Tapi aku tidak percaya diri, hanya Egy yang pernah membaca satu puisiku dan itu hanya tentang alam.


Aku berpikir, apa aku coba saja mengungkapkan perasaanku dengannya lewat puisi? Tapi, aku takut kalau Egy bisa tahu itu puisi buatanku. Bisa-bisa, dunia Lawak berubah menjadi dunia Persilatan. Tidak bisa aku bayangkan kalau Egy tahu sahabatnya ini diam-diam menyukainya sejak lama, akan seperti Kanebo kering sikap kita nanti. Mungkin, begini saja sudah cukup, kenapa aku berharap lebih? Tapi kenapa tidak kalau memang bisa lebih?


Ini kali pertama aku jatuh cinta, dan mencintai sahabatnya sendiri. Aku sering bertanya, kenapa harus Egy? Apa karena aku tidak punya siapa-siapa lagi selain Egy? Aku memang tidak pandai berteman dan tidak punya teman dekat. Ya, kadang-kadang ada Alya yang sering memaksa pergi meski tidak jarang aku menolaknya.


Duniaku memang terasa sepi jika tidak ada Egy, semenjak mama memutuskan berpisah dan papa yang entah saat ini dimana, aku merasa jadi orang yang kurang percaya diri. Mungkin itu efek dari perceraian mereka yang sangat aku benci dan sesali. Kenapa harus aku yang menanggung semuanya? Anak perempuan kecil berumur 6 tahun kala itu yang ditemukan sedang menangis sendiri di Taman oleh seorang anak laki-laki baik, kini seakan hanya ingin menggantungkan harapannya kepada sahabat tercintanya itu.


Dear, G.


Siapa yang bisa menebak sebuah rasa?


Jika kadang pemiliknya sendiri tersesat


Siapa yang mau jatuh cinta?


Jika seharusnya bukan kamu orangnya


Semesta memang belum mengatakan apa-apa,


Tapi kata iya dan tidak beradu punggung di kepala


Tiap malam aku bertanya, apa tidak boleh jika hatiku jatuh


padamu?


Tapi hening menjawab ragu takut berubah semu


Apa cinta itu sebenarnya hanyalah sebuah rasa takut? Atau


Mungkin aku hanya takut merasakan kehilangan?


Apa kamu bisa menolongku mencari jawabannya?


Seutas puisi untuk Egy tiba-tiba mengalir begitu saja, dari mana datangnya kalau bukan dari hatiku sendiri? Tempat Egy spesial di hatiku, tapi sampai kapan mampu diam-diam? Mungkin sekuat waktu membawaku untuk mengerti kenapa ada rasa ini untuknya. Tidak ada yang kebetulan kan di dunia ini? Tuhan memberikan alasan untuk setiap kejadian. Bahkan sejak bertahun-tahun lalu itu, ketika Tuhan tiba-tiba menhadirkan sosok itu untukku.


Tuhan memang adil, meski aku tidak tahu dimana keberadaan laki-laki yang aku sendiri bingung apa masih pantas kusebut sebagai papa yang sengaja menghilang bagai ditelan bumi. Tapi Tuhan memberiku hal yang tidak pernah aku duga sebelumnya, mungkin kehilangan dan kedatangan memang waktunya sudah tepat tapi kadang kita butuh


waktu untuk mengerti.


Egy adalah hal terbaik yang tidak pernah aku rencanakan dan karena Egy aku seperti punya cahaya yang bisa menuntunku kedepan karena sebelumya jalanku gelap dan pekat. Berkali-kali membenci diri sendiri dan marah pada Tuhan mengapa aku harus ada di bumi jika aku tidak bisa merasakan kebahagiaan? Tapi Egy mengajariku bahwa bahagia itu kita yang ciptakan sendiri.


Aku beruntung menemukannya tapi tiap kali kulihat lampu kamarnya masih menyala, selalu ada tanya yang sebaliknya. Apa Egy juga merasakan demikian? Apakah aku sahabatnya yang baik? Apakah aku punya arti untuknya? Apa aku bisa menolongnya saat dia sedang sulit? Apa aku bisa menghiburnya saat dia sedang bersedih? Apakah ada rasa sedikit saja untukku melebih rasa seorang sahabat? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul setiap malam sebelum tidur.


‘Gy, udah tidur belum?’ aku selalu mengirim pesan untuknya tiap malam untuk sekedar basa-basi dan mengucapkan selamat tidur.


Lucu, aku jadi suka menertawakan diriku sendiri sebab jatuh cinta mengapa rasanya aneh begini? Atau kenapa jatuh cinta tidak bisa kita rencanakan maunya dengan siapa? Satu-satu jawaban akan kutemukan, perjalanan masih panjang untuk menemukan arti cinta sebenarnya seperti apa. Hari ini aku hanya perlu jujur pada diriku bahwa rasa itu ada dan harus aku terima meski entah sampai kapan aku akan terus merasa bingung.


Setidaknya dia hadir melerai benang-benang semrawut di duniaku yang menyebalkan ini. “Terima


kasih, Gy, sudah hadir di hidupku yang kusut ini.”