
Bisa dibilang aku adalah orang yang sangat betah di kamar, jarang pergi keluar, nonton bioskop atau meluangkan waktu untuk sekedar nongkrong di Kafe dengan teman-teman. Aku merasa lebih nyaman jika sendiri, entah mungkin ini sudah kebiasaan dari kecil.
Kegiatan yang suka kulakukan di kamar adalah mendekor kamar ala aesthetic, membaca buku-buku puisi dari penulis favoritku dan mendengarkan musik. Kubuat playlist dari beberapa lagu yang sering aku dan Egy dengar dan nyanyikan, ini lagu favorit kita berdua. Kalau kata Egy ini lagu petuah untuk hati yang sedang merasakan kesedihan.
Chorus:
Lights will guide you home
And ignite your bones
I will try to fix you
Mendengar lagu ini ada yang kembali baik-baik saja di dalam diri, meski berulang mengingat dan mengulang rasa sakitnya. Kalau boleh, ingin aku tukar isi kepalaku dengan kepala Jojo, kucing betina kesayanganku. Yang Jojo pikirkan cuma kapan aku isi lagi tempat makannya ketika sudah habis kan? Atau menunggu jadwal aku bawa dia Grooming ke Salon?
Ada hal-hal yang memang tidak bisa kita kendalikan, yang disebut takdir. Waktu itu aku ingin sekali menahannya untuk tidak pergi tapi tidak bisa, aku terlalu benci melihat mama tersakiti.
“Semua manusia sama dapat ujiannya masing-masing, yang beda waktu dan porsinya saja dan itu hak Tuhan.” kalimat mama yang selalu aku ingat. Hatinya luas menerima segala rasa pahit yang diberikan papa tapi aku sendiri tidak bisa memaafkannya.
“Kalau bukan karena kamu, Mama gak akan bertahan.” ucapnya lagi yang membuatku merasa juga harus kuat karenanya. Kita berdua saling menguatkan.
Di kamar ini, dinding-dinding menjadi saksi kalau perempuan berhati lemah ini sama sekali tidak bisa menahan lukanya sendiri, tapi selalu berusaha berpura-pura kuat.
Dear Diri,
Yang merasa dunia tidak adil, dunia pilih kasih. Inget ya setiap kali pertanyaan dibenak “Kenapa mesti aku?” jawabannya adalah Tuhan mau kasih tahu, karena justru Tuhan lebih sayang dan memberikan kekuatan untukmu dua kali lipat dari orang lain.
Satu diantara kutipan dari Puisidisenja yang menjadi favoritku di Instagram yang beberapa bulan lalu aku ikuti, menjadi catatan baik yang kusimpan untuk diriku sendiri. Aku suka mengajak diriku untuk positive thinking karena kadang aku merasa takut pada hal yang sudah lebih dulu jauh aku pikirkan dan belum tentu akan terjadi.
Aku akui, sifatku memang ceroboh, aku kadang berpikir pendek jika sedang merasa panik atau cemas. Pernah suatu ketika aku dikabarkan jika mama jatuh pingsan dan aku masih di Sekolah. Tidak pikir panjang aku berlari menemui Egy di kelasnya dan langsung menghampiri tempat duduknya.
“Gy, anter gue pulang sekarang.! Nyokap pingsan!” seruku yang tanpa sadar aku sudah nyelonong masuk tidak permisi, padahal sedang ada guru yang memberikan pelajaran.
Aku pernah mengalami serangan panik atau yang disebut Panic Disorder, itu pertama kalinya aku alami semenjak papa dan mama selalu bertengkar. Papa sering sekali membentak mama di depanku bahkan beberapa kali pernah memukulnya. Diserang rasa takut yang luar biasa selama beberapa menit, dan adanya ketidakmampuan untuk mengendalikan diri sekalipun sebenarnya tidak ada sesuatu yang buruk yang benar-benar terjadi. Dan karena itu pula, aku tidak terlalu suka keramaian dan memilih sendiri lebih merasa nyaman.
“Sen, temenin gue dong ke Kotu nanti malem.” pinta Alya.
“Jauh amat, ngapain sih?”
“Kotu deket gitu dibilang jauh, makanya mainnya jangan sama Jojo mulu di rumah!”
“Plissss...!!” Alya memohon.
Setelah berpikir panjang aku terima ajakan Alya, lagian jarang sekali Alya minta ditemani. Lalu sorenya Alya menjemputku pakai sepeda motornya. Dari kecil hidup di Jakarta baru kali ini juga pergi ke Kota Tua. Tidak ada salahnya pergi untuk sekedar melihat ada apa di dunia luar, secara hidupku bisa dibilang kebanyakan hanya di rumah saja.
Masuk ke lapangan Alun-alun Fatahillah yang ramai, banyak orang-orang berkelompok duduk bersama sambil memakan cemilan yang mereka bawa atau mereka beli di jajanan kaki lima dan menikmati udara sejuk angin di malam hari. Dan banyak juga yang berduaan, rasa-rasa Kota Tua hanya milik mereka berdua. Jakarta indah juga ya kalau malam hari? Gumamku pada diri sendiri.
“Gak iri lo lihat mereka?” tanya Alya sambil sekilas melirik orang yang sedang berpacaran.
“Nyam..nyamm..” aku ogah menjawab sambil makan Telur Gulung yang barusan aku beli.
“Nah ini yang gue cari,” tiba-tiba Alya menarik tanganku ke pusat sebuah lapak yang sedang ramai.
Sebuah lapak Peramal yang membuat Alya ternyata ngebet mengajakku ke sini. Alya memang tidak jauh-jauh sukanya dengan hal yang seperti ini, sejak duduk dekat dengannya di kelas yang dia baca pasti cara mempelajari Garis Tangan atau buku-buku yang berbau tentang Ramalan. Entah, mungkin menjadi Peramal cita-citanya kelak. Apa dia tidak punya cita-cita yang lain?
Alya menarikku masuk ke dalam kerumunan sampai di depan lapak Peramal “Ambil yang positifnya dan ubah yang negatifnya.” pungkas seorang perempuan paruh baya dengan pakaian serba hitam pada semua pengunjung lapaknya. Dan tidak lama kemudian setelah kita melihat pengunjung di ramal, Alya juga meminta dilihat garis tangannya. Tiap detail garis tangan Alya dijelaskan artinya, Alya mengangguk-angguk seakan sedang menerima pelajaran praktek dari buku Meramal Garis Tangan yang selama ini selalu dia baca.
Setelah selesai Alya menyuruhku untuk mencoba di ramal menggunakan kartu Tarotnya tapi aku tidak mau, aku katakan padanya kalau aku tidak percaya dengan hal-hal seperti itu. Tapi Alya terus memaksaku didepan Peramal itu.
“Coba saja sekali, GRATIS spesial untuk kamu hari ini!” ujar si Peramal terlihat agak kesal ketika aku mengucapkan tidak percaya dengan sebuah ramalan.
Lalu kulihat Peramal itu memegang satu tumpukan kartu Rider-Waite Tarot dan memintaku untuk memberikan pertanyaan padanya atau menanyakan hal apa yang ingin aku tahu sebelum dia mengocok kartunya. Setelah itu dia menyuruhku memisahkan set kartunya kemudian dia ambil beberapa kartu untuk dia tebarkan di atas meja lalu aku kembali diminta memilih tiga kartu diantaranya dan perlahan dia membukanya. Jantungku mulai merasa berdebar-debar.
Kartu yang dia buka adalah Strenght, kalau kulihat gambarnya seperti seorang perempuan sedang memegang seekor singa. Saat ditanya tadi hal apa yang ingin aku tahu yang dipikiranku tidak lain adalah Egy, iya bagaimana perasaan dia padaku, apakah dia juga sebenarnya merasakan hal yang sama?
“Arti kartu ini adalah kekuatan batin, keberanian, keyakinan, kebijaksanaan, kemauan dan ketabahan tapi arti sebaliknya adalah ketidakmampuan untuk menjaga keyakinan. Kamu perempuan yang cukup kuat dalam menghadapi segala masalah tapi tergantung kamu, kapan kamu mau gunakan kekuatan itu. Soal pertanyaanmu tadi, Saya rasa ini juga berhubungan. Kamu tidak bisa memaksakan itu jika pada akhirnya hubungan yang kamu anggap spesial itu tidak seperti yang kamu harapkan dan.. bisa jadi kamu akan merasakan sebuah kehilangan.” tuturnya panjang tapi akhir kalimatnya membuat dadaku terasa sesak dan panas.
Entah tiba-tiba aku berdiri dan marah pada peramal itu. Aku tidak suka dengan kata-katanya yang kurasa mengada ngada, itu sebabnya aku tidak suka sekali di ramal. Siapa dia bisa menentukan akhir ceritaku? Bahkan tentang hubunganku dengan sahabatku yang kucintai?
“Anda ga berhak mengatakan hal itu pada Saya? Siapa anda bisa-bisanya menentukan ceritanya di hidup orang lain? Dasar Peramal Gadungan!” aku rasa aku sedang kesurupan, memaki orangtua dihadapanku ini. Spontan Alya dan para pengunjung kaget dengan sikapku yang tidak terima dengan ramalan kartunya.
“Dengar ini, kamu akan merasakan sial karena melakukan ini pada Saya! Kamu akan merasakan sial di setiap hari lahirmu!” Dengan sumpah serapahnya dia mengatakan kalimat itu padaku. Seperti gelegar di dalam hatiku, tiba-tiba marahku berubah bernyali takut. Apa yang barusan aku lakukan padanya? Alya menyuruhku meminta maaf pada Peramal itu karena sudah membuat kegaduhan tapi terlanjur Peramal itu mengusir Aku dan Alya. Dengan cepat Alya mengajakku untuk segera meninggalkan lapak Peramal itu.
“Sena-Sena! Udah GILA lo ya!!?!”
“Nyesel gue ngajak lo ke sini!” aku hanya diam karena bingung.
Entah setelah kejadian itu, aku seperti dihantui rasa bersalah dan kalimat Peramal itu seperti mempengaruhi otakku. Semua kejadian yang tidak enak pasti aku selalu mengarah pada kalimatnya yang kurasa itu sebuah kutukan. Dari mulai Handphoneku yang tercebur di got, aku yang hampir keserempet motor, dompetku yang tiba tiba hilang, sampai-sampai Jojo tumben-tumbenan pipis saat aku sedang memangkunya.
“Ma, hari lahirku hari apa?” tanyaku pada mama
“Rabu.”
Aku membuka sebuah paket dari Online Shop yang kemarin lusa aku order produknya. Hari ini hari Rabu, kemarin-kemarin juga Rabu. Perasaanku sudah tidak enak duluan sebelum membukanya. Benar saja setelah kubuka, produk yang ku pesan tidak sesuai dengan deskripsi foto produk penjualnya. Masa iya hari lahirku menjadi hari yang sial gara-gara Peramal itu?
“Yaudah, gue temenin buat minta maaf ke Peramal itu, yuk?” Ajak Alya.
Akhirnya aku dan Alya kembali lagi pergi ke Kota Tua, aku berniat meminta maaf padanya. Aku mengakui kesalahanku karena tidak sepantasnya aku marah-marah padanya didepan banyak orang waktu itu, apa lagi dia orang tua. Tapi, setelah sampai di sana lapak Peramal itu tidak ada. Sudah sampai tiga kali aku dan Alya kembali ke sana dan lagi-lagi tidak ada. Kemana ya? Apa karena aku dia sudah tidak lagi jadi Peramal? Huh, aku menyesali perbuatanku padanya. Kenapa sih aku bisa tersulu emosi? Hanya karena dia mengatakan suatu hal yang belum tentu terjadi.
Tidak kusangka aku akan takut jika hari Selasa telah selesai, sudah dua kali aku juga di hukum ibu Riri karena tidak mengerjakan tugas dan dua kali hari Rabu aku apes karena hukumannya. Kenapa bisa sumpah serapahnya jadi kenyataan pada diriku? Aku kan tidak percaya dengan hal seperti ini? Ini tidak masuk akal. Meski berkali-kali Egy juga mengingatkan agar aku tidak mempercayai kalimatnya. Itu hanya luapan emosi seorang ibu-ibu yang marah karena sikapku padanya cukup kurang ajar dan secara tidak langsung aku menyerap semua kata-katanya dan jadilah sebuah Ultimatum yang terekam terus di kepalaku.
“Ini pelajaran buat lo, lain kali jangan cepet marah. Apalagi bertindak kaya gitu sama orangtua. Dosa!” Egy menasehatiku.
“Lagian, pertanyaan lo apa si ke dia kok bisa dia jawab kaya gitu??” kedua kalinya Egy bertanya hal yang sama.
“Soal Bokap.” Kali ini aku menjawab tapi berbohong. Gimana jadinya kalau dia tahu yang sebenarnya? Bisa tambah malu aku.
“Lo ga bakal kehilangan apa-apa, Sen. Termasuk Bokap lo.” Egy mengelus lembut kepalaku seperti biasa ketika aku sedang bersedih. Padahal dia tahu sendiri, papa memang sudah sejak lama menghilang. Aku hanya mengangguk dan tersenyum simpul padanya. Apa kamu tahu Gy, Cuma kamu Gy yang bisa buat aku tenang. Rasa takut seketika kamu singkirkan tiap kali kamu memeluk aku.
Reda redam
Semua amarah
Semua gelisah
Semua kecewa
Dipeluknya
Semua baik-baik saja
Jika disismu
Ini semua puisi-puisiku yang tidak pernah putus untukmu. Dia akan selalu hidup untukmu dan tidak peduli seberapa lama lagi kamu tidak akan pernah tahu bahwa hati ini sudah jadi milikmu semenjak itu.
Hampir setiap malam aku bertanya kemana ya si Peramal itu? Kenapa tidak ada lagi di Kota Tua? Pernah aku dan Alya bertanya pada pengunjung di sana, mungkin kita pikir tidak ada salahnya bertanya dan mungkin saja tahu tapi tidak ada jawaban pasti. Aku gelisah karena kesalahanku sendiri, bersikap ceroboh dan mungkin aku sudah menyakiti hati Peramal itu.
Mungkin jadi Peramal satu-satunya Profesinya untuk mencari nafkah? Lalu aku merusak lapaknya dengan bersikap bodoh waktu itu. Mungkin rezekinya sudah aku rampas? Apa sekarang dia sedang kesusahan mencari pekerja lain? Aku memikirkan Peramal itu bukan hanya karena ucapannya yang aku rasa terus bergentayangan tapi juga aku merasa terlalu jahat jika memang aku benar-benar menghilangkan mata pencahariannya. Tega sekali aku! Tuhan beri petunjuk dimana Peramal itu?
Jika bertemu nanti aku berjanji memberi modal untukknya sebuah usaha kecil dari tabunganku sendiri. Bukan karena semata aku ingin ucapannya yang kuanggap kutukan itu hilang tapi aku juga ingat kata Egy.
“Kalau misalnya nanti ketemu sama Ibu itu, minta maaf yang tulus dan kalau bisa beri sedikit hadiah sebagai ungkapan permintaan maaf lo.” Hatiku terketuk jika tiap Egy mengingatkanku.
Aku terus mencari ibu itu setiap minggu tapi belum juga ketemu, bahkan sampai Egy juga membantuku. Apa bisa ya menggunakan Media Sosial untuk mencarinya? Media Sosial sekarang cukup efesiensi dalam penyebaran informasi. Apa lagi kalau pakai Aplikasi Video yang tengah digandrungi semua kalangan itu, siapa tahu aku bisa lebih cepat bertemu dengan Peramal itu dan mengakhiri kegelisahanku selama ini? Tapi, masa iya aku harus melakukan itu?
“Mau dicoba dulu ga?”
“Enggak dulu deh, Gy. Kita cari sekali lagi ya minggu depan?”
Egy tersenyum dan seketika kalimat Peramal itu menggangguku. Aku membayangkan jika kalimat Peramal itu benar ketika dia mengartikan kartu Strenght yang aku pilih. Apa benar aku akan kehilangan Egy? Satu-satunya manusia baik yang aku punya, yang aku rasa aku yakin sepenuhnya bisa kugantungkan kebahagiaanku padanya? Jika benar itu terjadi, bagaimana hidupku tanpanya? Kosong melompong mungkin tapi bukan seperti Tahu Pong.
‘Gy, bisa gak, lo berjanji gak bakal ninggalin gue?’ tanyaku hanya berani dalam hati ketika memandangnya.
“Kenapa, Sen?” tiba-tiba Egy bertanya karena tanpa kusadar aku cukup lama melihatnya.
“Ennn..nggaaak.. enggak kenapa-kenapa,” bibirku gugup.
‘Tuhan, makasih sudah kasih Egy buat Sena.’ gumamku sekali lagi, kali ini Egy melirikku curiga karena senyum senyum sendiri.