NEW WORD FRAGMENT

NEW WORD FRAGMENT
Benua Ellions



benua yang terletak di sebelah tenggara , merupakan wilayah yang berdiri sendiri dengan sistem pemerintahan kekaisaran, namun semua itu telah berakhir. virus yang menyebar menyebabkan seluruh manusia yang tidak tahu apa apa, bahakan kaisar sekalipun mati dalam keadaan terduduk dengan mata yang terbelalak, permaisuri yang sedang menyusui putra ke- 3 nya pun terbaring dalam keadaan memeluk bayinya.


10 tahun berlalu


sesuatu tampak terlihat bergerak, seolah kehidupan kembali menghampiri beberapa orang, saat peristiwa itu terjadi telah berlalu beberapa tahun, semua seakan telah mati. namun otak mereka masih bekerja dengan baik, sebuah keajaiban menerpa kehidupan di dalam kerajaan tersebut terkhusus benua ellions secara umumnya. entah berkah dari dewa mana sehingga satu per satu kehidupan di benua ini kembali ke sediakala, binatang peliharaan yang harusnya mengganas karena terjadinya perubahan evolusi nampak jinak di benua ini, sungguh berkah berlimpah bagi semua orang yang telah bangkit dari kematian merela.


sang kaisar yang terlihat masih menganga, mulai menutup bibirnya, membuka perlahan matanya dan melihat serta merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya dan diri seluruh pasukan penjaganya, guratan di wajah, perubahan warna rambut, bentuk tubuh yang lebih atletis, dan juga warna mata yang menunjukkan ketajaman, kekejaman dan intimidasi dari manusia yang ada dalam ruang tahta.


selang beberapa waktu semua warga telah kembali dengan kehidupan baru mereka, sang kaisar dengan julukan " sang cahaya dari surga, kaisar agung ke X, Maha Raja Syah Warma, bendiri dari singgasana-nya, "wahai prajuritku jemputlah permaisuriku di dalam vavilum-nya, dan ingatkan sang pangeran serta putra mahkota agar datang keruang tahta, hari yang telah lama kita nanti telah tiba, kekuasan mutlak harus kita ambil kembali, dunia ini telah kembali ke posisi awalnya, poros kehidupan dengan semua kekuatan yang ada dalam tubuh kalian adalah buktinya, segerah laksanakan titahku". sang kaisar mengakhiri titahnya. prajurit yang berada di luar rungan serempak menunjukkan sikap hormat lalu berucap "laksanakan yang muliyah".


langkah mereka menggema di pelataran istana, terus berjalan dengan langkah tegap ala prajurit, di komandoi oleh kapten mereka, membagi diri dalam kelompok kecil untuk mempercepat penyampaian informasi yang telah "Di titahkan" oleh sang kaisar.


tiap kelompok yang terdiri dari lima orang dengan seorang kapten kecil bergerak ke tiap bangunan vavilium.


di sebuah bangunan megah dengan nuansa bunga yang menjadi pelengkap keindahan bangunan tersebut seorang wanita cantik umpama seorang dewi dari alam atas, membuka matanya, ia melihat anaknya yang dalam dekapannya, air mata-nya berlinang, bukan karena sedih namun ia merasa bahagia sebab biah hatinya dengan sang suami(kaisar), dalam leadaan


baik - baik saja. sebuah kesyukuran untuknya. menghapus air matanya " wahai, ibunda sangat bahagia saat ini, senyuman-mu, laksana mentari yang menerangi pagi, laksana pelangi yang mengiringi berhentinya hujan. teduh matamu laksana bulan purnama yang menghiasi malam yang mencekam. adakah di luar sana yang lebih baik darimu oh pangaran kecilku ?"


sang pangeran yang dari sebelum ibundanya membuka mata telah tersenyum, menyunginggkan bibir kecilnya dan tertawa renyah, entah apa yang terlihat lucu hingga suara anak yang baru berumur tiga tahun itu membuat ibunya terbangun dari siklus tidur panjangnya, namun sesuatu yang pasti di kening anak itu sebuah lambang mahkota yang amat sangat kecil nampak berkilau dan menyinari seluruh dunia, selama periode pembekuan tersebut ia juga masuk dalam keadaan vegetatif (pembekuan sel dalam tubuh, siklus otak di matikan, jantung berhenti berdetak ). saat membuka matanya cahaya itu telah lama sirna, hingga tidak meninggalkan kesan yang janggal.


ketukan pintu dari luar menggema, tok ko tok, "yang muliya permaisuri, izinkan prajurit kecil ini menyampaikan titah kaisar ". sebuah suara jatuh dari luar, menghentikan senyum dan tawa lucu sang bayi juga senyum indah sang permaisuri " dwipangka tungga dewi ",


sang permaisuri kemudian memperbaiki suasan hatinya, meredam rasa bahagianya sebuah 'titah' sang kaisar, sama artinya dengan keharusan tanpa ada bantahan untuk menolak apa lagi menyanggahnya.


"baiklah, aku menerima titah kaisar, tunggulah, pangeran kecil masih tertidur, beritahukan ini pada kaisar " (padahal permaisuri sedang berbohong, sebenarnya permaisuri merasa tidak enak bertemu saat belum mandi, belum wangi kan ilfi si kaisar, hhh ).


setelah membersihkan diri sekaligus berbenah di bantu oleh dayang (pelayan) sang permaisuri telah kembali ke keadaan semula, dengan body gold yang menawan, sepasang mata indah dengan warna ruby di tengahnya, warna rambut yang berkilau indah di pandang mata, sebuah mahakarya yang sulit untuk sekedar di lihat saja.


berjalanan menuruni tangga dengan menggendong sang anak, dengan langkah yang anggun ia perlahan mengarahkan arah pandang-nya pada sang kaisar lalu kembali menunduk. mendekat lalu duduk di singgasana.


sang kaisar yang melihat sang istri telah duduk di sampingnya hanya tersenyum samar, ia kemudian mengalihkan pandangan mata-nya pada sang putra "pangeran ke-tiga, pangeran assoka tirta warma". tampa di sangka anak yang berumur tiga tahun itu juga balik menatap sang kaisar, sebuah senyuman yang indah terlihat dari wajah kecilnya, suara cadel menggema dari bibir kecilnya " ayah caical, apa caca tidhak datyang (ayah kaisar apa kakak tidak datang).


menyambut suara kecil dan cadel itu sang kaisar pun berucap " mereka akan datang anak manis, tunggu saja kedatangan mereka, duduk dan makan hidangan yang ada di hadapanmu kalau kamu bosan menunggu ya ?"


hingga akhirnya seluruh petinggi kekaisaran, pangeran, dan putri telah berkumpul, peristiwa itu ternyata tidak memusnahkan salah satu bahkan secara keseluruhan manusia di lingkup wilayah tersebut terselamatkan dari kematian.


" kami menyambut titah yang muliyah "


serempak tamu undangan, pangeran dan putri, membungkukkan tubuh mereka 90*,


" baik yang muliyah" jawab hadirin dan hadirat lainnya


setelah tamu undangan dam para pangeran dan putri telah duduk di tempat mereka masing - masing, sang kaisar langsung berujar dan memaparkan apa yang akan ia sampaikan pada pertemuan kali ini


" seng sengaja mengumpulkan kalian semua, sebuah badai besar yang baru saja ,menghinggapi kerajaan kita telah membangunkan potensi dalam diri tiap individu di ke- kaisaran ini. mungkin juga ada yang tidak terbangun saat baru terbangkitkan dari kematian sesaat lalu tersebut, namun bukan berarti mereka tidak punya akan tetapi mereka perlu bekerja keras agar potensi tersebut dapat semua orang keluarkan.


seng ingin kalian semua menyebar dan data semua rakyat kita yang telah membangkitkan potensi dari diri mereka masing - masing, jangn melewatkan satu individu pun, dan juga periksa pada diri beberapa dari mereka yang belum bisa membangkitkan kekuatannya, bawah ke- istana, seng sendiri yang akan membuka potensi mereka, apa kalian paham ?"


serempak mereka menjawab " paham yang muliyah"


" bagus kalau kalian paham" sambung sang kaisar


" dan untuk para pangeran dan juga putri, aku tahu kalian telah membangun potensi kekuatan kalian , sesuai dengan apa yang terlihat di balik mataku, kaliqn telah melampaui apa yang seharusnya bisa kalian miliki, namun tidak mengapa, dengan kekuatan kalian zen ini merasa sudah saatnya kalian tahu siapa kita yang sebenarnya."


"untuk para tamu saya persilahkan lalian untuk beristirahat dulu, besok kalian dapat kembali ke tempat masing - masing dan jalankan apa yang telah zen ini perintahkan, silahkan bubar."


" baik yang muliyah" kompak mereka membubarkan diri dengan dengan teratur.


setelah ruang rapat tinggal sang kaisar, permaisuri, putra mahkota, pangeran, dan purti, krmbali sang kaisar melanjutkan ucapannya yang sempat terpotong saat meminta para pejabat kekaisaran membubarkan diri.


"kalian perlu tahu, dahulu wilayah kekaisaran ini, adalah wilayah yang besar, menyatu dengan pulau besar yang lain. wilayah ke-kaisarn kota saat ini hanya 30% dari wilayah kita yang sebanarnya" sang kaisar berhenti ingin melihat ekspresi anak - anaknya, terlihat mereka semua terkejut dengan informasi ini. namun terlihat mereka hanya diam saja tampa ada yang menyanggah, mereka menunggu informasi yang sengaja di tangguhkan oleh ayahanda mereka,. melihat sang anak terdiam dengan wajah penasaran dan rasa ingin tahu yang tinggi, sang kaisar tersenyum kecil " sungguh lucu wajah polos mereka , hihihihi" sang kaisar kembali me-normalkan wajahnya , lalu melanjutkan untuk menyampaikan informasi yang sengaja ia potong "dunia kita mengalami gejolak di-masa lalu, terjadi perang besar yang memyebabkan perubahan iklim di tiap bagian daratan dan lautan di dunia ini, banyak manusia yang jatuh dalam keputusasaan, namun apa daya kita yang hanya mengandalkan diri dengan peralatan perang seadanya ? tidak ada yang dapat kami lakukan, sebuah megara besar yang entah datang dari mana pengetahuan mereka, memorak - morandakan seluruh penjuru dunia, men-claim semua sumber daya yang ada, baik itu di dalam wilayah-nya maupun di wilayah bangsa lainnya, itu terus berlangsung menciptakan pertumpahan darah di mana - mana.


suatu peristiwa yang mencengangkan terjadi setelah penindasan tampa akhir itu, sebuah fenomena aneh tercipta, entah dewa mana yang melakukannya. sebuah penghalang besar muncul dari langit, daratan besar yang dulunya bersatu, mulai terpisah, goncangan dahsyat di daratan menyebabkan terjadinya pergeseran tanah,


gunung - gunung tinggi yang mengelilingi daratan mulai retak dan memisahkan diri, lempeng bawah laut mulai bergerak saling berlawanan arah, gletser kutub utara dan juga selatan dunia mengalami pengikisan hingga puncaknya semua daratan, membentuk pulau - pulau baru, dengan pengecualian dua daratan pusat yang menjadi inti dunia sebelumnya, dua daratan besar itu menghilang dari peradaban, serta dua daratan lainnya yang merupakan bagian dari daratan benua kita saat ini, namun peristiwa yang menimpah seluruh daratan pasti telah memusnahkan sebagian besar penduduk dua daratan pusat tersebut, terutama hal gila yang mereka gunakan untuk menguras sumber daya alam ini. dunia telah kembali ke- awal di mana wadah yang harusnya menghancurkan malahan memberi manfaat bagi kita yang selamat dan melalui peristiwa tersebut". kaisar mengakhiri ceritanya.


sang anak tertua atau putra mahkota angkat bicara " wahai ayahanda, jadi setelah semua manusia di benua ini telah terbangkitkan apa yang akan kita lakukan ? apa kita akan tetap di benua ini melatih dan mengembangkan diri atau pergi ke daratan besar itu ayahanda ? "sang kaisar yang mendapati pertanyaan itu lantas berucap " daratan itu telah kehilangan penduduknya anakku namun, lamu harus lihat kekuatan kita bukan apa - apa di bandingkan dengan hewan buas di lautan sana, baiknya kita tetap berada di daratan ini tidak perlu mencari daratan itu, namun sen ini masih penasaran dengan kemajuan perdaban tersebut untuknya ada niatan dalam diri zen untuk mengutus beberapa orang atau kelompok untuk berkunjung ke tempat tersebut, melakukan eksplorasi sambil mencari cetak biru kemajuan peradaban itu, apakah di antara kalian ada yang bersedia menjadi persambungan tangan sen ini ?


putra mahkota dan seluruh pangeran dan purti angkat tangan " kami bersedia ayahanda" jiwa petualangan mereka dan juga keingintahuan mereka akan dunia begitu tergambar dari raut wajah mereka.


mendengar ke- antusiasan anak - anaknya sang kaisar lantas berucap " siapkan diri kalian seminggi kedepan kalian akan berangkat bersama kelompok besar yang akan kita tentukan setelah pendataan selesai ".


"baik ayahanda kaisar" jawab mereka antusias.


petualangan dari wakil mc akan di mulai, mereka akan membuka pintu informasi dari benua yang entah di mana tersebut, namun semua akan indah dan menegangkan jika semua hal tak sesui dengan kenyataan. hari esok akan terbit mentari entah itu akan mendatangkan keindahan atau kesedihan...


(* perhitungan umur tetap pada saat sebelum peristiwa viris membekukan setiap sel dalam tubuh jadi umur seseorang tetap terhitung sesuai dengan alur awalnya* ).