Nawaitu Stay With You

Nawaitu Stay With You
5. Mulai berteman



Keesokan hari,


Pagi itu Adam, Joni dan Randi tengah menunggu kedatangan Hana.


Tak lama Hana dan kedua temannya telah tiba. Mereka bertiga menemui Adam CS.


"Assalamualaikum.." ucap Hana menyapa Adam dan temannya.


"Waalaikumussalam, aku kira kamu nggak bakal datang," ucap Adam menatap Hana


"Aku pasti menepati janji kok," ucap Hana seraya tersenyum.


Mereka pun memulai berpencar membagikan sembako pada masyarakat sekitar.


"Oh ya kalau boleh tau ini dana nya dari siapa ya," tanya Hana pada Joni, kebetulan mereka searah saat berpencar tadi.


"Dari Adam," jawab Joni


"Maasyaa Allah, Adam nggak bilang kalau ini dari dia, hatinya benar-benar ikhlas, tidak ingin pamer," batin Hana.


Satu jam kemudian mereka kembali berkumpul di tempat yang semula.


"Hana aku sama Kaira pulang duluan naik motor ya, soalnya kami mau ngerjain tugas, kemarin lupa ngerjain," ucap Sofi pada Hana, ia bermaksud pulang lebih dulu.


"Iya deh, nggak pa pa, aku nanti bisa naik angkot," balas Hana.


Sofi menatap ke arah Adam. "Awas ya dam, jangan macam macam sama teman ku ini," tegas Sofi mengancam Adam.


"Nggak usah khawatir, kami nggak akan ganggu Hana," kata Adam menatap Sofi.


Sofi dan Kaira pun pulang lebih dulu. Tinggallah Hana, adam dan juga kedua temannya.


Adam memberi kode pada Joni dan Randi agar pulang lebih dulu. Mereka pun dengan patuh langsung buru-buru pulang dengan alasan sakit perut.


"Sekarang kita mau ngapain lagi, semuanya udah pada pergi," tanya Hana pada Adam.


"Udah azan, kita sholat dulu aja, gimana?" Adam tampak pintar mengambil hati Hana.


"Iya, tapi mesjid nya masih jauh, aku naik ojek aja deh," tutur Hana


"Nggak usah, aku bawa mobil, nggak pa pa kali Han, kita kan nggak ngapa ngapain juga, lagi pula kalau naik mobil itu aman, kita masih bisa jaga jarak," kata Adam meyakinkan Hana


"Nggak pa pa nih, aku nggak ngerepotin?"


"Iya nggak pa pa," ucap Adam dengan senang hati.


Adam dan Hana pun berangkat ke mesjid dengan mobil Adam.


Selama perjalanan Hana tak berani menoleh ke arah Adam. Bukan karena benci, tapi Hana tak berani menatap wajah Adam yang memang tampan di setiap mata yang memandangnya. Hana khawatir dengan menatap Adam malah menimbulkan zina mata.


"Hana," panggil Adam.


"Iya dam,"


"Saya udah minta maaf sama sofi, tapi nggak tau deh dia tulus maafin saya atau nggak. Saya sadar Han, kalau saya itu udah melampaui batas, makanya saya mau berubah,"


"Insyaallah selagi kamu mau berubah, Allah pasti menerima taubat kamu," balas Hana


Adam sesekali menoleh ke arah Hana, menatap gadis manis nan Sholehah di sampingnya itu.


"Perempuan ini benar-benar beda, asli manis banget, mana tatapan nya ayu lagi, matanya indah, akhlaknya baik lagi," batin Adam sedari tadi melirik Hana.


"Tau Nggak sih, kamu itu kayak huruf tafkhim, tercetak tebal di pikiran ku," ucap Adam mencoba meluluhkan Hana.


"Ih apaan sih dam, mulai deh, katanya mau berubah,"


Hana geleng kepala melihat tingkah Adam yang merayunya.


"Itu sih cuma modus laki-laki," balas Hana


"Hana..aku memang bukan laki-laki tinggi ilmu, dan aku mungkin tak jago merayu, tapi aku selalu berdoa pada Rabb ku, NAWAITU STAY WITH YOU,"


"Ih Adam apaan sih, kamu jangan main main deh, bercandanya jangan berlebihan," gerutu Hana yang jadi malu menatap Adam.


"Layaknya Hawa yang tercipta untuk Adam, kamu hanya akan jadi milik ku, jangan kira ini lelucon Hana, demi Allah saya cinta sama kamu dari sejak pertama melihat kamu," tutur Adam mencoba berusaha mengambil hati Hana.


Hana berusaha menahan diri agar tidak ter rayu dengan kata kata Adam. Meski tak bisa di pungkiri ia sedikit deg degan di dalam mobil.


Tak lama kemudian sampailah di sebuah mesjid. Hana turun dan bergegas pergi ke dalam mesjid. Adam menatap Hana yang tampak buru buru.


"HH..pasti dia malu malu tuh, Hana..Hana..kamu bikin saya diabetes aja, jadi orang kok manis bener dah," batin Adam tersenyum sendiri.


Usai sholat, Adam dan Hana bertemu kembali di depan mesjid. "Aku antar kamu pulang ya, di sini susah angkot Hana, kali ini kamu nggak boleh nolak," ucap Adam yang berdiri satu meter di samping Hana


"Iya deh, aku juga lagi mau cepat cepat pulang, takutnya bapak ku nyariin, soalnya tadi udah janji mau pulang cepat," tutur Hana,


Di dalam perjalanan,


Adam tampak melirik ke arah Hana sembari tersenyum manis. "Han.."


"Hm.." sahut Hana.


"Andai aja ini puasa, pasti aku bisa berbuka dengan melihat senyum kamu,"


"Hah.. maksudnya.."


"Iya, kan katanya kalau berbuka itu harus dengan yang manis manis, kamu kan manis, lebih manis dari apa pun," lanjut Adam.


"Ih..apaan sih dam," cetus Hana menahan senyum malunya. Hana sudah berusaha untuk memalingkan pandangannya dari Adam.


"Ya Allah..jauhkanlah hamba dari pandangan yang haram ini, hamba pastikan ini kali terakhir menaiki mobil bersama Adam," batin Hana, bagaimana pun Sholehah nya ia di mata orang lain, tetap saja ia hanyalah manusia biasa.


Sampailah di depan rumah Hana. Pak Rahmad (Bapak Hana) sedang duduk di teras sembari membaca koran. Ia terkejut melihat putrinya di antara seorang lelaki dengan mobil Hitam.


Ia langsung berdiri dan menemui Hana.


"Assalamualaikum om, saya Adam, teman Hana,"


"Waalaikumussalam..lain kali jangan antar anak saya kalau di mobil cuma ada kamu dan Hana," tegas pak Rahmad dengan wajah yang garang.


"Tenang aja om, saya bukan laki-laki yang seperti itu, saya,"


"Saya nggak perduli! dan kamu Hana, jangan pernah berduaan dengan yang bukan mahram mu," tegas Pak Rahmad


"Iya pak, tapi bapak jangan galak galak sama Adam pak, Adam cuma mau ngantar aku, nggak lebih kok, kita tadi dari pasar, bagi-bagi sembako," tutur Hana


"Kan kamu bisa pulang sama Kaira dan Sofi,"


"Mereka udah pulang duluan pak, harusnya sih aku bisa pulang sendiri kalau bapak nggak larang aku bawa motor," ucap Hana menatap bapaknya.


"Sudah-sudah sana masuk!" perintah pak Rahmad.


"Dam..aku masuk dulu ya, makasih tumpangannya, assalamualaikum," ucap Hana dan kemudian masuk ke dalam rumah.


Adam masih menatap langkah kaki Hana.


"Maaf tapi sebaiknya kamu pulang, sudah mau magrib," kata pak Rahmad pada Adam.


"Iya pak, kalau gitu saya pamit, assalamualaikum," ucap Adam sembari melangkah pergi.