
Sofi dan Kaira sudah pulang lebih dulu. Kini tinggal Hana yang menunggu angkot di tepi jalan. Hana tampak kalem saat ia duduk di halte.
"Assalamualaikum..di jawab cinta, tak di jawab dosa," ucap Adam yang tiba-tiba muncul dan duduk di sebelah Hana.
"Ini kan laki-laki yang tadi," batin Hana, ia merasa risih dengan kedatangan Adam.
"Hei nona..kenapa salamnya nggak di jawab, dosa loh.."
"Waalaikumussalam," jawab Hana dengan tak ikhlas.
"Nama kamu Hana kan?" tanya Adam yang berniat kenalan.
"iya.."
"Aku Adam, kayaknya kita cocok deh, seperti moyang kita dahulu, Adam dan Hawa. Kalau kita Adam dan Hana,"
"Mas nya bisa jangan ganggu saya nggak? saya merasa terganggu mas," tegas Hana.
"aku nggak berniat mengganggu, cuma mau kenalan doang kok, oh ya mau aku antar pulang? aku bawa mobil tuh, dari pada nunggu angkot mending naik mobil kan,"
"Makasih tapi maaf, saya lebih memilih naik angkot dari pada naik mobil orang yang tidak saya kenal," cetus Hana yang tampak jutek.
"Kan kita udah kenalan, kamu Hana dan aku Adam, ya udah berarti udah saling kenal dong ya,"
"Kayaknya susah ya bicara sama laki-laki yang nggak punya adab kayak kamu, tadi kamu udah nyakitin teman saya, sekarang kamu mau apa lagi? saya tadi diam bukan karena saya senang sama kamu dan teman-teman kamu, tapi saya cuma mau berusaha berpikiran positif tentang kalian, tapi ternyata saya salah, kalian emang laki-laki nggak bener," gerutu Hana panjang lebar.
"Aku cuma mau memperbaiki semuanya emang nggak boleh?"
Hana tak memperdulikan lagi, ia tampak geram pada Adam.
"Saya sebenarnya mau hijrah, dan saya lihat kamu sangat cocok untuk di jadikan panutan, boleh nggak saya belajar dari kamu," tutur Adam sebagai bahan untuk modus.
"Sorry ya, saya nggak akan ketipu sama modus kamu, hanya orang bodoh yang merasa kesusahan untuk mencari referensi untuk hijrah, sekarang banyak ustad, dan dengan internet pun anda bisa mencari banyak informasi yang lengkap," tegas Hana.
"Perempuan yang seperti ini nih, cerdasnya tidak bisa di ragukan,"
"Permisi, Assalamualaikum, ucap Hana dan buru-buru pergi. Ia semakin geram pada sikap tidak sopan dari Adam yang selalu merayu wanita.
...*****...
Hana baru saja sampai di rumah, raut wajahnya tampak tidak baik. Kakak kandung Hana bernama Maryam menegur sang adik yang memasuki rumah dengan wajah masam.
"Kenapa nih, datang datang wajahnya udah manyun kayak gitu? ada apa?" sapa Maryam.
"Itu tadi ada orang ngeselin, oh ya Kakak mau kemana? tumben rapi bangat ,"
"Mau ke pengajian? kamu mau ikut?"
"Lain kali aja deh kak, masih capek pulang kuliah,"
"Oh ya udah kalau gitu, Ayah sama ibu lagi ke kondangan, kamu jaga rumah ya, aku pergi dulu, Assalamualaikum," ucap Maryam sembari melangkahkan kaki keluar rumah.
"Waalaikumussalam," jawab Hana dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.
...**...
Adam yang baru tiba di kos masih Memikirkan cara untuk mendekati Hana. Ia merebahkan tubuhnya di sofa sembari berpikir.
"Gimana? dapat nggak bidadari nya?" sapa Joni sembari duduk di sofa.
"Aku bingung, dia itu nggak tertarik sama aku apa gimana sih, emang ada ya perempuan yang nggak tertarik sama laki-laki tampan kayak aku," Adam bingung mengingat sikap jutek Hana tadi.
"Aku nggak akan menyerah, aku yakin bangat Jon, aku punya firasat kalau dia itu jodoh ku," tegas Adam yang amat yakin.
"Adam..adam..nggak semua hal di dunia ini bisa kamu miliki," kata Randi yang baru tiba.
"Kamu jangan gitu dong, bantu aku buat deketin Hana, kali ini beda Ran, aku janji sama diri ku sendiri, kalau Hana itu untuk masa depan ku, bukan buat main main doang kayak mantan mantan ku itu," tegas Adam dengan serius.
"Wanita baik baik seperti Hana hanya akan luluh dengan laki-laki yang baik pula, makanya dia itu kalau milih pendamping hidup bukan lihat good looking nya doang," ujar Randi.
"HM..ada benernya juga sih.." ucap Adam yang menyimak.
...**...
Keesokan harinya,
Pagi itu Hana tampak menunggu angkot di depan gang rumahnya.
Tiba-tiba mobil hitam berhenti di hadapan Hana. Kaca mobil terbuka, tampak wajah Adam yang menyapa Hana.
"Assalamualaikum..barengan yuk ukhti," sapa Adam.
"Waalaikumussalam, makasih, saya mau naik angkot aja!" tegas Hana. Tepat saat itu angkot berhenti di belakang mobil Adam. Hana pun langsung naik meninggalkan Adam.
Joni dan Randi yang juga ada di mobil Adam ikut menertawai kesialan adam.
"Kasian kamu dam, jangan menyerah tetap semangat, meski hasilnya kegagalan," ucap Joni menyemangati plus meledek Adam.
"Kok bisa ya..baru kali ini loh ada perempuan yang nggak mau naik mobil aku," Adam masih bingung dengan sikap dingin Hana padanya.
Pagi ini Adam mencoba menemui Sofi, ia berniat meminta maaf agar bisa mendapatkan simpati Hana.
Sofi yang duduk di taman kampus, terkejut melihat Adam menghampirinya.
"Ngapain lagi kamu ke sini? aku udah bilang jangan temui aku lagi!" tegas Sofi merasa geram.
"Sofi..aku mau minta maaf karena udah buat kamu sedih, jujur aku menyesali semuanya, mulai sekarang aku nggak akan nyakitin banyak perempuan lagi, aku udah tobat,"
"Bodoh amat," cetus Sofi yang tak perduli.
"Sofi..Allah saja maha pengampun masa kamu ngga mau maafin aku sih, maafin aku ya..kita masih bisa menjalin silaturahmi kan," tutur Adam bersungguh sungguh.
"Ya udah iya..iya..tapi ingat ya..kalau sampai aku tau kamu nyakitin perempuan lagi, awas kamu!" ancam Sofi
"Makasih sof, aku janji nggak akan mengulangi lagi, tapi sof, aku boleh minta tolong nggak?"
"Apa lagi,"
"Boleh minta nomor Hana nggak,please tolong kasih tau," pinta Adam dengan sungguh sungguh.
"Oh..jadi ini alasannya makanya kamu sok Sokan mau minta maaf segala, nggak..jangan harap aku kasih nomor Hana," tegas Sofi dan langsung pergi meninggalkan Adam.
Tak lama kemudian Hana lewat dari hadapan Adam. Tentu ini adalah kesempatan emas bagi Adam.
"Assalamualaikum ukhti.." sapa Adam
"Waalaikumussalam.." jawab Hana cuek.
"Hana..boleh minta nomor mu nggak soalnya aku mau konsultasi banyak hal mengenai perbaikan diri, iya aku tau ada referensi di internet, tapi aku kadang kan butuh yang bisa di ajak bicara langsung," bujuk Adam.
"Maaf, tapi saya tidak memberikan nomor saya pada sembarang orang," tegas Hana dan bergegas pergi.