Nawaitu Stay With You

Nawaitu Stay With You
4.Memaafkan



Hari berikutnya,,,


Adam tak putus asa, ia kembali menemui Hana di gerbang kampus.


"Pagi..cantik.." sapa Adam dengan penuh senyum.


"Pagi," jawab Hana singkat, kemudian hana langsung pergi. Ia bahkan tak menatap Adam.


Hari berikutnya,,,


"Assalamualaikum cantik..selamat sore, aku antar pulang yuk," ajak Adam menyapa Hana yang duduk di halte.


"Waalaikumussalam, makasih, saya pulang sendiri aja,"


Hana masih menolak, ia tak tertarik sama sekali dengan Adam.


Hari berikutnya,,


Adam mengikuti Hana yang akan sholat Dzuhur di mesjid.


"Han..mau sholat ya, aku ikut," sapa Adam sembari menemui Hana.


"Kalau mau sholat mah sholat aja mas, lagian saf wanita kan beda sama saf laki-laki,"


Hana lalu pergi berjalan lebih dulu ke mesjid. Hari ini sama saja dengan hari sebelumnya. Adam tetap gagal mendapat perhatian Hana.


...**...


Malam itu Adam tampak rebahan di sofa kosnya. ia benar-benar tak habis pikir kenapa Hana masih saja cuek padahal ia sudah mendekati Hana selama beberapa hari.


"Kenapa dam? masih mikirin Hana?" tegur Joni yang baru muncul sembari membawa secangkir kopi.


"Entahlah aku bingung, baru kali ini aku meragukan ketampanan ku sendiri, apa aku udah nggak tampan lagi ya, kok si Hana nggak tertarik sama sekali sih,"


"Berarti Hana pinter dong, bagus kalau gitu," kata Joni yang malah menyudutkan Adam


"Nggak ngedukung bangat sih," balas Adam.


Tak lama kemudian Randi pun bergabung untuk mengobrol di kos.


"Baguslah, beberapa hari ini kamu udah ada sedikit perubahan, akhirnya kamu berhenti memacari banyak wanita," tutur Randi menatap Adam yang berbaring di sofa.


"Kan aku udah bilang, aku udah bosan pacaran, aku mau ngejar Hana aja," kata Adam, ia masih tak bisa berpaling dari Hana.


"Aku khawatir sampai kiamat kurang dua hari pun Hana nggak akan tertarik sama kamu," ucap Randi, ia tak begitu yakin jika perempuan seperti Hana akan menyukai Adam dengan segala kepribadian Adam yang tidak mencerminkan kriteria laki-laki Soleh.


"Kalian nggak mendukung bangat sih,"


"Ini fakta dam," Joni bersuara.


...**...


Keesokan hari yang cerah.


Kali ini Adam mencari informasi terkait Nomor WA Hana. Pagi itu Adam tak sengaja melihat Hana mengobrol dengan seorang muslimah.


Setelah Hana pergi, barulah Adam menemui perempuan yang tadinya mengobrol dengan Hana.


"Permisi..saya boleh minta tolong nggak," sapa Adam pada perempuan yang ia temui itu.


"Minta tolong apa?"


"Boleh minta nomor Hana? kamu pasti punya kan? ada urusan penting ini," pinta Adam


Perempuan itu tak mengerti apa apa hingga ia langsung memberikan nomor hp Hana.


...**...


Di kantin.


Adam menemui Sofi yang sedang bersama Kaira. Adam ingin meminta maaf atas perbuatannya.


"Sof..kali ini aku tulus, aku sadar aku salah, maafin aku ya," ucap Adam


"Enak aja..nggak nggak..kamu tuh buaya darat!" tegas Sofi yang masih patah hati.


Tiba-tiba Hana datang dan bergabung mengobrol.


"Sofi...aku bukannya ikut campur tapi bagaimanapun juga kan dalam Islam kita harus bisa memaafkan satu sama lain, putus pacaran bukan berarti kamu dan dia harus bermusuhan," tutur Hana menasehati Sahabatnya.


"Iya deh iya..aku maafin," ucap Hana mencoba memaafkan Adam.


"Alhamdulillah..." Adam tampak lega.


"Makasih ya sofi, makasih juga Hana, kamu udah bujuk Sofi," ucap Adam berterima kasih pada Sofi dan Hana


Hana masih tetap istiqamah menundukkan pandangannya di hadapan Adam. Meski ia tau bagaimana buruknya Adam namun tetap saja akhlaknya yang mulia menuntun ia harus membujuk Sofi memaafkan Adam.


"Kalau gitu aku permisi ya..assalamualaikum," ucap Adam, namun yang ia tatap sedari tadi hanyalah Hana.


Adam pun pergi meninggalkan Hana dan kedua sahabatnya di kantin.


"Kamu kok nyuruh aku maafin dia sih Han," gerutu Sofi yang komplain pada Hana.


"Sofi..seberapa buruk pun dia, kita tidak berhak memvonis dia, aku tau kamu marah sama dia, dan aku pun sebenarnya nggak suka dia nyakitin kamu kayak kemarin, tapi aku sadar harusnya kita mendukung dia untuk memperbaiki kesalahannya," tutur Hana dengan kelembutannya menasehati Sofi.


"Iya juga sih," Sofi sedikit luluh.


"Lagian kamu juga salah sof, kamu mudah bangat Nerima laki-laki, jadi perempuan harusnya jual mahal dong, lagi pula kan kita udah janji nggak akan pacar pacaran," ucap Kaira menatap Sofi.


"Iya..iya..aku sadar kok kalau aku juga salah dalam hal ini, mulai sekarang kita JOMBLO FISABILILLAH," kata Sofi seraya membuat janji pada diri sendiri dan sahabatnya.


"Janji ya..jangan pacar pacaran lagi," tegas Hana memulai perjanjian antara sahabat.


"Oke..kita jomblo FISABILILLAH ya, tapi kalau nikah boleh dong ya.." tutur Kaira melirik Hana dan Sofi.


"Emang kamu ada calonnya?" tanya Sofi meledek Kaira yang selama ini tak pernah berteman dengan laki-laki.


"Nggak sih, tapi nanti pasti ada lah..."


"Kalian tuh ya..udah mikirin Nikah, nggak pusing sama tugas kuliah," kata Hana mengingatkan kedua sahabat tentang tugas yang semakin hari semakin menumpuk.


...**...


Malam hari,


Seperti biasanya, usai sholat isya Hana harus menyelesaikan tugas kuliahnya. Ia tampak serius belajar di kamar.


Ting..


Sebuah chat dengan nomor tak dikenal masuk ke WA Hana.


"Assalamualaikum," itulah isi chat yang membuat Hana bingung.


"Waalaikumussalam, ini siapa ya," balas Hana


Hana masih penasaran menatap layar hp nya yang kini hanya terlihat: 08 sedang mengetik...


Tak lama kemudian, muncul balasan chat nya. "Ini Adam. Maaf ganggu kamu Han,"


Hana membalas lagi. "Ada apa?


Adam: Kamu mau nggak besok ikut aku sama teman teman ku berbagi sembako sama yang membutuhkan


Balas Hana: Insyaallah kalau sempat


Kali ini Hana tak menolak karena ini merupakan sebuah kebaikan. Hana tak menyadari bahwa ini hanyalah modus Adam.


08 sedang mengetik...


Adam: Hana belum tidur?


Hana : Belom


Adam : Maaf ya kalau sifat aku kemarin buat kamu merasa kesal dan marah


Hana : iya nggak pa pa yang penting kamu mau berubah


Adam: Insyaallah aku mau berubah


Adam tampak bahagia di kamarnya karena ini merupakan sebuah kemajuan hingga ia bisa chatting dengan Hana. Kebahagiaan nya tak terungkapkan lagi hingga ia melompat-lompat di tempat tidurnya.


"Woi..berisik bangat sih dam," tegur Randi yang terbangun dari tidurnya karena Adam yang berisik.


"Aku udah bisa lebih dekat sama Hana," ucap Adam meski Randi tak menanyakan itu.


Di sisi lain Hana melanjutkan tugas kuliahnya. Namun ia terpikir sesuatu. "Kayaknya lebih seru kalau aku ngajak Sofi sama Kaira deh, biar lebih rame besok," batin Hana mengingat ajakan Adam tadi.