
Nadhin berusaha keras menghindari tatapan kembarannya yang terus menatap ke arahnya selagi dia memakan makan siangnya.
Tapi, dia beneran tidak bawa obat karena demamnya sudah turun dan seharusnya itu bukan masalah besar kan?
Seharusnya Nathan tidak perlu marah kan?
Dia kan tidak demam, jadi tidak perlu memakan obat penurun demam. Astaga Nadhin sangat malas meminum obat.
"Tan makan dah jangan liatin Nadhin terus enggak bakal kabur dia," kata Adnan yang membuat Arthan segera mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Lo diem!" katanya dengan ketus.
"Buset Tan muka lo biasa aja," ujar Tara.
Nathan mendengus kesal. Dia tidak suka karena Nadhin tidak mau mendengarkan padahal gadis itu diminta untuk meminum obatnya hingga habis.
"Kan udah enggak demam..."
"Tapi ada obat yang lain yang di suruh habiskan sama dokter kan? Lo kan denger kata dokter ada vitamin yang harus lo habisin Nadhin," omel Nathan.
"Yaudah nanti malem aja minumnya," kata Nadhin yang membuat Nathan berdecak kesal.
"Lagian sekali enggak minum kan enggak papa Nathan," kata Nadhin lagi.
"Terserah."
Nathan mengatakannya dengan ketus. Bukan menghabiskan makanannya dia malah berdiri dan pergi meninggalkan kantin.
"Woy Tan mau kemana?" panggil Tara.
"Kelas."
Nathan pergi begitu saja dan mengabaikan Nadhin yang memanggilnya. Katakan saja dia berlebihan, tapi sikap Nathan ini memang menurun dari sang ayah.
Selepas Nathan pergi Nadhin menghela nafasnya kasar. Wajahnya langsung berubah tidak bersemangat bahkan dia pun malas untuk menyantap makan siangnya.
"Makan Din enggak usah dipikirin lo kan tau Nathan enggak bisa marah lama-lama sama lo," kata Tara.
"Iya sih, tapi kan Tar dia tuh kalau lagi ngambek bikin sedih tau langsung diem gitu kalau mau diajak ngomong ngehindar," kata Nadhin.
"Iya nanti pas di rumah kamu ngobrol lagi aja sama Nathan yang penting makan dulu jangan sampai enggak makan nanti Nathan malah makin marah," kata Adnan mengingatkan.
"Iya iya."
Akhirnya Nadhin menyantap makan siangnya dengan tidak berselera. Meskipun dia juga suka kesal kalau Nathan banyak melarang, tapi dia juga tidak suka kalau kembarannya itu sudah diam saja.
Masalahnya Nathan kalau lagi ngambek beneran deh bikin bingung soalnya dia enggak akan mau diajak ngobrol. Jangankan mengobrol Nadhin terlihat ingin membuka suara saja dia pasti sudah langsung kabur.
Ah tau deh nanti aja dipikirin di rumah.
••••
Maura dan Naura menanyakan hal itu ketika sang kakak menjemputnya ke sekolah, tapi Nathan tak memberikan jawaban apapun. Dia hanya mengangkat bahunya acuh sebagai tanggapan dari pertanyaan itu.
Karena mereka berdua tidak memiliki keberanian untuk bertanya lebih lanjut, jadi keduanya memilih untuk diam saja. Sepanjang perjalanan Nathan benar-benar tak bersuara bahkan hingga mereka sampai di rumah.
Saat akan turun dari mobil barulah dia berbicara.
"Langsung ganti baju," kata Nathan.
"Siap Bos!" keduanya langsung patuh.
"Kalian tadi makan siang enggak?" tanya Nathan lagi.
"MAKAN!"
"Makan dong kan dibawain bekal sama Mama."
Jawaban keduanya membuat Nathan mengangguk singkat. Kemudian dia mengambil sekantung plastik yang ada di jok depan.
"Nih buat kalian," kata Nathan.
Si kembar langsung tersenyum senang. Naura mengambil alih plastik belanjaan sang kakak dan betapa senangnya dia ketika melihat ada banyak sekali snack kesukaannya dengan Maura di dalam sana.
"Makasih Kakkk!"
"Hm yaudah sana turun Kakak mau balik ke kampus bentar," kata Nathan.
"Eh masih ada jam memangnya? Bukannya ini udah sore Kak?" tanya Maura bingung.
"Mau jemput temen..."
"Temen apa pacar?" goda Naura.
"Naura."
"Siap salah! Oke ayo Ra kita makan sambil netflix pasti seru," kata Naura dengan penuh semangat.
Nathan menggelengkan kepalanya pelan dan setelah memastikan kedua adiknya itu masuk ke dalam rumah dia kembali melajukan mobilnya. Pria itu kembali ke kampus untuk menjemput Namira yang pasti sebentar lagi akan pulang.
Namira mengikuti organisasi dan tadi Nathan mengatakan bahwa dia akan menjemputnya setelah gadis itu selesai. Entahlah Nathan tidak mengerti kenapa dia harus melakukan ini, tapi dia ingin.
Dari pada Namira pulang dengan lelaki lain, iya kan?
••••