NATHAN

NATHAN
03



Nathan menatap teman baiknya dengan kesal karena dia malah tertawa dan bukan menjawab apa yang ia tanyakan.


"Gue nanya, apa yang lucu?" tanya Nathan dengan ketus.


Temannya itu masih tertawa dan belum menjawab apa yang Nathan tanyakan sampai beberapa menit lamanya.


"Eh lo kenapa nanya kayak gitu?" tanya Tara yang sudah berhenti tertawa.


Kali ini Nathan menatap temannya dengan satu alis terangkat, dia merasa aneh atas apa yang baru saja pria itu tanyakan padanya.


"Memang enggak boleh? Gue cuman penasaran," kata Nathan asal.


Kamu cemburu Nathan harusnya kamu mengakui hal itu.


"Bukan enggak boleh, tapi aneh karena lo nanya kayak gitu. Gue enggak tau Jeffry lagi deketin Nami atau enggak, tapi kayaknya dia memang suka sama Namira," jelas Tara.


"Lo kenapa bisa bilang gitu?" tanya Nathan lagi.


"Ya keliatan lah! Memang lo enggak liat dari cara dia lihat Namira aja udah beda Nath," kata Tara.


"Kalau Nami? Menurut lo dia suka sama Jeffry enggak?" tanya Nathan lagi.


"Lah itu mah tanya dia jangan gue," kata Tara dengan sedikit kesal.


"Ya masa gue nanya kayak gitu," protes Nathan.


Gengsi lah Nathan kalau mau nanya.


"Memang kenapa? Ya lo tanya lah kalau lo penasaran," kata Tara.


Belum sempat Nathan bicara temannya itu sudah lebih dulu bersuara.


"Lo suka kan sama Namira??" tebak Tara.


Nathan langsung diam. Dia tidak memberikan jawaban apapun dan malah sibuk dengan pikirannya sendiri.


Dia suka Namira? Iya, dia suka, tapi Nathan tak bisa mengutarakan perasaannya.


Masalahnya Nathan tau kalau Namira tidak menyukainya dan hanya menganggap dirinya sebatas teman.


"Suka, tapi dia enggak suka gue," jawab Nathan akhirnya.


Jawaban itu membuat Tara melongo tidak percaya. Pria itu memang tau kalau Nathan menyukai Namira, tapi dia tidak menyangka kalau teman baiknya itu akan bicara jujur padanya.


"Gimana caranya??" tanya Nathan ditengah keterkejutan temannya itu.


"Hah?"


"Gimana caranya supaya cewek suka sama kita?" tanya Nathan dengan lebih jelas.


"Hah?"


"Tar jangan buat gue mau mukul lo sekarang," kata Nathan yang mulai emosi.


"Nanti.. sebentar gue masih kaget," katanya.


Nathan berdecak kesal dan tak lama kemudian makanan yang keduanya pesan datang juga.


"Lo suka Namira terus lo mau deketin dia?" tanya Tara yang tidak perduli dengan makanannya.


Ini langka soalnya Nathan suka sama cewek.


"Ya iya memang kurang jelas yang gue bilang tadi?!" tanya Nathan dengan sedikit emosi.


Tara tertawa pelan ketika mendengar pria itu kesal mendengar perkataannya.


"Kalau mau deketin cewek ya lo jangan cuek-cuek lah Nath perhatian dikit," kata Tara.


Kali ini Nathan mendongak dan menatap temannya itu dengan penuh keseriusan.


"Kalau gue..."


"Jalan bukan belajar!" seru Tara sebelum Nathan sempat menyelesaikan perkataannya.


Nathan pun langsung diam dan mencoba untuk mencerna apa yang baru saja Tara katakan padanya.


"Oke, terus apa lagi?" tanya Nathan.


"Terus.... lah Nadhin," kata Tara tiba-tiba.


Pria itu menatap ke arah Nadhin yang memasuki kantin bersama dengan Adnan. Suara Tara itu membuat Nathan menoleh dan menatap ke arah yang sama.


Terlihat raut wajah kesal di sana karena kembarannya itu pergi bersama Adnan lagi padahal tadi bilangnya akan pergi ke kantin bersama Lula.


Mungkin Nadhin merasa diperhatikan hingga dia tiba-tiba saja menatap ke arah Nathan dan matanya membulat ketika melihat tatapan tajam itu.


"Nan ada Nathan," bisik Nadhin sambil menepuk pelan lengan Adnan.


Perkataannya itu membuat Adnan menoleh dan menatap ke arah Nathan yang memang menatap keduanya.


"Yaudah gabung aja dari pada misah nanti tiba-tiba kita disamperin sama dia," kata Adnan sambil tertawa pelan.


Nadhin tersenyum lalu mengikuti pria itu menghampiri Nathan dan juga Tara.


"Katanya sama Lula," sindir Nathan.


"Lupa hari ini Lula balik lebih cepet karena kita beda dosen," kata Nadhin jujur.


"Mau pesen apa Dhin?" tanya Adnan ketika gadis itu sudah duduk disamping Nathan.


"Mie..."


"Pesenin nasi dia baru sembuh," kata Nathan sebelum Nadhin sempat menyelesaikan perkataannya.


"Tan gue tuh sakit demam bukan perut, jadi enggak masalah kalau...."


"Pesenin apa aja Nan yang penting nasi enggak usah dengerin dia," kata Nathan tanpa peduli rengekan kembarannya itu.


Adnan hanya mengangguk singkat lalu pergi memesan makanan dan meninggalkan Nadhin yang kini cemberut.


"Tan ih gue tuh..."


"Lo mau minum obat kan? Enggak ada ceritanya sebelum minum obat makan mie," omel Nathan.


"Gue aja enggak bawa obat.... ehhh!" seru Nadhin yang sadar kalau dia keceplosan.


"Dhin.."


Wajah Nathan langsung berubah serius yang membuat Nadhin meringis pelan. Bodoh sekali kenapa dia harus keceplosan sih??


"Itu... maksudnya kan udah sembuh jadi enggak usah minum obat. Kan itu obat penurun panas ya Tan gue kan udah enggak panas, jadi enggak perlu diminum kan? Ya kan Tar?" kata Nadhin sambil tertawa canggung.


Dia berusaha menghindari tatapan Nathan yang menusuk padanya.


"Ya kan Tar? Udah enggak demam ya enggak usah minum obat kan? Ya kan?" kata Nadhin sambil menendang pelan kaki Tara di bawah meja.


"Ohh.. iya iya enggak usah kan itu obatnya untuk nurunin demam, jadi kalau enggak demam ya enggak usah diminum," kata Tara.


Nathan tak menanggapi dan masih setia dengan wajah seriusnya yang membuat Nadhin berusaha keras menghindari tatapan itu.


Aduh dia takut!!?


••••


Hai hai haiii siapa suka cerita ini???