NATHAN

NATHAN
01



Setelah beristirahat dia hari penuh Nadhin sudah merasa keadaannya kini membaik dan dia berniat untuk pergi ke kampus, tapi sepertinya niatnya itu akan dihalau oleh kembarannya yang kini berdiri di depan pintu kamarnya. Pria itu melipat kedua tangannya di dada yang membuat Nadhin menghela nafasnya panjang.


Dia menatap Nathan yang berjalan masuk dan menyentuh dahinya, lagi. Entah sudah berapa kali Nathan melakukan itu Nadhin saja sampai bosan.


"Gue enggak papa udah enggak demam dan Papa udah bolehin ke kampus," kata Nadhin dengan cepat.


Mendengar itu Nathan tertawa pelan dia dapat melihat raut wajah kesal di sana.


"Iya iya gue enggak bakal larang lo ke kampus asalkan dianter gue dan gue yang jemput juga," kata Nathan.


"Tapi... ah iya enggak usah larang gue ke kampus," kata Nadhin yang mengurungkan niatnya untuk menolak.


"Kelasnya sampai jam berapa?" tanya Nathan.


"Sampai jam tiga," jawab Nadhin jujur.


"Nanti gue bawain makan siang," kata Nathan.


"Astaga Nathan enggak perlu. Sumpah gue bakal makan siang nanti gue ke kantin sama temen," kata Nadhin dengan raut wajah lelah.


Yang benar saja masa pria itu ingin mengantarkan makan?!


"Gue enggak bakal bohong nanti gue pap," kata Nadhin lagi.


"Oke, sekarang ayo berangkat," ajak Nathan.


Nadhin menurut lagi kini bersama dengan Nathan gadis itu pergi keluar kamar untuk pergi ke kampus.


"Nanti kalau ada apa-apa langsung telpon gue aja," kata Nathan.


"Iya."


Entah sampai kapan Nathan akan memberikan peringatan padanya padahal sudah dia bilang kalau dia baik-baik saja.


Ah tapi, lebih baik menurut dari pada Nathan tak membiarkan dia pergi ke kampus.


••••


"Sumpah Lul capek banget gue sama Nathan."


Nadhin langsung berkeluh kesah pada teman baiknya begitu dia masuk ke dalam kelas dan dosen mata kuliahnya masih belum datang.


"Tetep aja yaaa gue tuh kesel! Demam doang astagaaa dan sekarang juga sembuh, tapi dia masih ajaa," keluh Nadhin.


Lula hanya tersenyum ketika mendengarnya. Gadis itu cukup mengenal Nathan karena Nathan sering menghubunginya untuk menanyakan Nadhin.


Biasanya Nathan paling sering menanyakan soal Nadhin dan Adnan karena pria itu sangat sensitif kalau kembarannya dekat dengan seorang pria.


"Lo ditanyain Adnan mulu katanya chat lo enggak dibales," ujar Lula.


"Ya gimana mau bales jangankan nyentuh handphone Lul gue nanyain handphone gue dimana aja si Nathan udah ngomel," kata Nadhin kesal.


Mendengar itu Lula langsung tertawa. Terkadang dia justru merasa iri melihat teman baiknya begitu disayang oleh keluarganya.


Lula sendiri bukan berasal dari keluarga broken home, tapi orang tuanya serta kakaknya termasuk orang yang cuek. Oleh karena itu dia sering kali merasa iri pada Nadhin yang begitu diperhatikan.


"Oh iya Adnan hari ini kelas kan? Gue kangen banget sama dia gara-gara Nathan gue enggak ketemu dia udah beberapa hari ini," keluh Nadhin.


"Kelas kok haha kangen doang lo pacaran enggak," ledek Lula yang membuat Nadhin langsung memasang wajah kesalnya.


"Gue takut didiemin satu tahun sama Nathan," kata Nadhin yang membuat tawa Lula pecah.


"Tapi, lo tau enggak sih?! Nathan lagi deket sama cewek!" kata Nadhin dengan antusias.


"Eh serius? Siapa ceweknya?" tanya Lula dengan raut wajah terkejut.


"Namira, gue lagi nungguin mereka pacaran biar gue juga bisa pacaran," kata Nadhin yang membuat temannya itu tertawa lagi.


Tentu saja itu benar kalau Nathan memiliki pacar tidak ada alasan bagi pria itu untuk melarangnya berpacaran juga kan?


••••


Yuhuuu jadi cerita ini sama cerita possessive brother kalau update selalu deketan yaaa💗


Bisa jadi ini duluan yang update bisa jadi possessive brother duluan yang update, tapi yang jelas mereka selalu update deketan🥰


Kalian suka ceritanya enggakkk????


••••