NATHAN

NATHAN
00



"Nathan?"


Suara penuh kelembutan itu membawa Nathan Wijaya untuk sadar setelah dia nyaris terlelap dalam keadaan duduk di sofa.


"Astaga ke kamar aja sayang," kata sang ibu.


Nathan tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Matanya menatap ke arah kasur dimana ada kembarannya yang tengah tertidur lelap.


Sejak kemarin Nadhin Wijaya mengalami demam yang cukup tinggi hingga dia hanya beristirahat di kamar selama satu hari penuh. Sedangkan Nathan yang merasa khawatir pada kembarannya itu memilih untuk tidur sofa karena takut jika nanti Nadhin butuh sesuatu.


Terlihat sekali di wajahnya jika dia sangat mengantuk dan hal itu membuat Adara merasa cemas.


"Ke kamar Nathan istirahat di kamar kamu," kata Adara sambil mengusap pelan kepala anaknya.


Nathan menggelengkan kepalanya lagi. Bukan pergi pria itu malah membenarkan letak bantal kursi dan membaringkan tubuhnya di sofa panjang itu.


"Nathan nanti kamu sakit loh sayang, enggak papa biar Mama yang jagain Nadhin lagipula demamnya sudah turun," bujuk Adara.


Sayangnya Nathan tetaplah Nathan. Selain itu mungkin karena mereka kembar juga Nathan jadi merasa cemas ketika berada jauh dari Nadhin ketika gadis itu sakit.


Dia tidak akan tenang, jadi lebih baik tidur di sofa seperti sekarang.


"Enggak papa jangan khawatir Ma," kata Nathan.


"Tapi, besok kalau Nadhin sudah lebih baik tidurnya di kamar ya?" kata Adara.


Kali ini Nathan mengangguk faham. Baru saja dia akan memejamkan mata Nadhin sudah mengeluarkan suara yang membuatnya segera bangun.


Nathan berjalan mendekat dan melihat Nadhin yang baru saja meringis pelan.


"Nadhin?"


Nathan memanggilnya dengan penuh kelembutan seraya mengusap kepala kembarannya. perbuatannya itu membuat kening Nadhin yang semula berkerut kembali seperti semula.


Gadis itu terlihat sudah lelap kembali hingga membuat Nathan merasa lega. Sedangkan itu dari tempatnya berdiri Adara tak bisa menahan senyum harunya ketika melihat kedua anaknya.


Dulu Adara sendirian setelah ibunya tiada bahkan ketika sakit pun Adara terpaksa mengurus dirinya sendiri, tapi lihat kedua anaknya sekarang. Mereka berdua sangat menyayangi satu sama lain hingga Adara merasa begitu tersentuh.


Nathan benar-benar seperti Devano yang sangat mengkhawatirkan kembarannya.


"Nathan, tidak papa sudah kamu tidur aja tadi Nadhin sudah minum obat besok dia pasti membaik," kata Adara.


Nathan mengangguk faham. Pria itu kembali menuju sofa dan berbaring di sana sembari menjaga kembarannya jika dia membutuhkan sesuatu.


Meskipun terlihat cuek, tapi sebenarnya Nathan sangat menyayangi kembarannya juga kedua adiknya.


••••


Saat pagi hari atau lebih tepatnya sebelum memakan sarapan Nathan mengecek suhu tubuh Nadhin dengan menempelkan telapak tangannya di dahi wanita itu.


"Gue udah enggak papa Tan," kata Nadhin pelan.


Nathan tak memberikan tanggapan, dia mengusap pelan kepala kembarannya itu sambil tersenyum.


"Buruan makan biar gue suapin," kata Nathan.


Tak ada tanggapan yang Nathan berikan membuat Nadhin menatap pria itu yang hanya diam sambil menatapnya juga.


"Iya iya disuapin," kata Nadhin.


Nathan tersenyum lagi lalu pria itu mulai menyuapi Nadhin makan dengan penuh kesabaran.


"Jangan kecapean," kata Nathan ketika Nadhin masih mengunyah makanannya.


Tak ada tanggapan yang Nadhin berikan. Dia menatap Nathan ketika pria itu mengusap lagi kepalanya.


"Makannya juga dijaga jangan makan mie terus apalagi pedes," ujar Nathan.


"Iya."


"Jangan hujan-hujanan," kata Nathan lagi.


"Iya."


"Kalau cuacanya lagi mendung terus anginnya lumayan besar pakai jaket," kata Nathan yang masih belum selesai memberikan peringatan.


Kali ini Nadhin tak mengatakan apapun. Dia kembali diam sambil menerima suapan yang Nathan berikan padanya.


"Habis makan minum obat terus istirahat," kata Nathan yang hanya Nadhin tanggapi dengan anggukan singkat.


Menit demi menit berlalu Nathan sudah menyuapi kembarannya makan hingga akhirnya semangkuk bubur itu habis juga. Nathan tersenyum senang lalu memberikan segelas air bersama dua butir obat yang harus Nadhin minum.


Begitu selesai Nathan yang hendak ke dapur untuk menaruh mangkuk kotornya menghentikan gerak tubuhnya ketika Nadhin menahan tangannya.


"Makasih ya Tan kata Mama semalaman lo jagain gue sampai tidur di sofa padahal enggak perlu Nathan," kata Nadhin.


Nathan tersenyum lalu mencubit pelan pipi Nadhin seraya berkata.


"Kalau lo lagi sakit gue mana bisa jauh-jauh Nadhin, nanti kalau lo butuh sesuatu gimana?" ujar Nathan.


"Tapi, bukan berarti lo harus tidur di sofa juga Nathan pasti enggak enak kan? Badan lo pasti sakit semua," kata Nadhin sambil memasang raut wajah sedihnya.


"It's better. Lebih baik badan gue sakit karena tidur di sofa daripada lo kebangun dan butuh sesuatu, tapi enggak ada gue di sana," kata Nathan yang membuat Nadhin semakin terlihat sedih.


Nathan tersenyum lagi sebelum beranjak dari tempatnya duduk dan pergi ke dapur dan meninggalkan Nadhin yang kini menatapnya. Gadis itu terlihat sedih pasalnya dia sering kali marah pada Nathan karena dia menyebalkan, tapi ternyata Nathan teramat menyayanginya.


Ternyata hati Nathan begitu lembut dia sangat menyayangi kembarannya itu.


••••


Halo semuanya ini dia cerita anak-anaknya Devano💗


Sesuai judul cerita ini akan lebih fokus ke Nathan ya, tapi tetap kok Naura dan Maura terutama Nadhin juga bakal sering muncul🥰


Ceritanya bakal penuh sama Nathan yang berusaha untuk jadi kakak yang baik untuk adik serta saudara kembarnya.


Juga Nathan yang mulai mengenal seorang wanita dalam hidupnya.


Ikutin terus kisahnya yaaaa💗