
“Kenapa kakinya diangkat, Nak? Apa ada sesuatu di bawah sana??” Tuan Gumilar menyadari tindakan kecil yang dibuat oleh Adrian karena ulah Felicia.
“I-ini … “ Adrian kesulitan memberi penjelasan mengenai air mata Felicia yang kini sudah menggenang di lantai rumah Tuan Gumilar. “Putri Bapak menangis mendengar ucapan Bapak baru saja.”
“Ohh … “ Tuan Gumilar menganggukkan kepalanya. “Semasa hidup, Felicia memang begitu. Dia itu mudah sekali menangis karena hal-hal kecil, tapi juga mudah tertawa karena hal-hal kecil. Jika anakku membuatmu kesulitan, mohon dimaklumi. Karena dia adalah anak perempuan satu-satunya bagi kami, jadi kami sedikit memanjakannya.”
Sedikit?? Adrian menggelengkan kepalanya ragu. Sepertinya tidak hanya sedikit tapi sangat memanjakannya. Adrian menggelengkan kepalanya lagi, kali ini tidak lagi ragu, tapi tegas. Tapi … ini bukan saatnya terharu masalah keluarga mereka, Adrian!!! Huft!!! Adrian menghela napas panjang untuk menyadarkan dirinya. “Maaf, Pak! Bisa saya bicara sekarang??”
“Ah silakan, Nak! Maaf saya terbawa perasaan sampai lupa tujuanmu datang kemari, Nak. Apa yang Nak Adrian ingin ketahui lebih dulu? Alasan atau apa?”
Huft!! Adrian menghela napasnya lagi berusaha untuk fokus dengan tujuan kedatangannya. “Felicia meninggal kapan? Meninggal karena apa dan kenapa dilakukan pernikahan sepihak seperti ini??”
“Dua bulan lagi adalah tepat setahun kematian dari Felicia. Sepuluh bulan yang lalu Felicia yang sedang kuliah di luar kota tiba-tiba mengalami kecelakaan saat perjalanan menuju kemari. Kami tidak tahu apa penyebab kecelakaan itu, tapi polisi menyimpulkan jika Felicia mengantuk dan akhirnya menabrak pembatas jalan.” Tuan Gumilar mulai menjelaskan apa yang terjadi pada Felicia. “Lalu mengenai pernikahan hantu ini, semua dimulai setelah tiga bulan Felicia dimakamkan. Istri saya-Devi, Ibu Felicia tiba-tiba mendengar dan melihat arwah Felicia berkeliaran di rumah. Berkat itu kami memanggil paranormal dan mereka mengatakan jika arwah Felicia gentayangan karena dia mati di usianya yang masih sangat muda.”
“Trus, kenapa saya yang Tuan pilih??” tanya Adrian penasaran. “Mengingat usia Felicia, dia mungkin saja punya seseorang yang disukainya.”
Tuan Gumilar mengangguk setuju dengan ucapan terakhir Adrian. “Saya juga berpikir begitu. Hanya saja menurut paranormal, mencari pengantin pria untuk Felicia tidak bisa sembarangan. Kami harus meletakkan uang di dalam amplop coklat yang kemudian diikat dengan tali merah. Uang ini kami taruh di jalan sebagai mahar, hanya saja tidak sembarang orang bisa melihat dan membuka tali merah itu. Jika kelahiran pria itu cocok dengan kelahiran Felicia, maka pria itu akan melihat amplop itu dan membuka tali merahnya. Itulah syarat dari paranormal mengenai pengantin untuk Felicia.”
Adrian teringat dengan pertanyaan Tuan Gumilar kemarin.
“Tali merahnya, apa kamu yang membukanya??”
“Ya, Pak. Ada di dalam.”
Seketika Adrian akhirnya paham kenapa Tuan Gumilar kemarin menanyakan hal itu padanya saat mengembalikan uang itu. Sial!! Sejak awal, orang ini tahu kalo aku membuka tali merah itu adalah pertanda jika aku adalah pasangan yang tepat untuk putrinya-Felicia. Sial!!! Dia sendiri yang bahkan memasangkan tali merah itu ditanganku dan membuat arwah Felicia terikat denganku!! Sial!! Sial!!
Adrian mengepalkan tangannya menahan amarahnya.
“Aku tahu kamu marah.” Felicia menyadari perasaan amarah Adrian. “Tapi jangan ambil pusing masalah ini, Adrian.”
“Apa maksudmu?” Adrian bertanya dengan suara lirihnya mendengar ucapan Felicia.
“Kamu lihat saja rumahku ini. Melihat rumah ini, tentunya kamu tahu kalau keluargaku kaya dan dari ucapan ayahku, kelihatan sekali jika ayahku ini sangat-sangat menyayangiku sebagai anaknya. Sama seperti mereka yang memanfaatkanmu untuk membuatku tenang, manfaatkan mereka juga, Adrian.”
Eh?? Adrian langsung menoleh ke arah sampingnya di mana Felicia sedang duduk sembari memandang sengit ke arah ayahnya sendiri-Tuan Gumilar. “Ka-kamu yakin aku boleh melakukan itu pada keluargamu??”
“Menikah denganku sama artinya kamu jadi menantu keluarga ini. Harusnya kamu paham arti kata menantu di sini, Adrian! Harta atas namaku, harusnya kamu juga bisa menikmatinya meski tidak banyak!” Felicia mencoba menjelaskan. “Coba kamu gunakan itu untuk membuat kesepakatan dengan ayahku.”
Glup. Adrian menelan ludahnya mendengar penjelasan Felicia. Memang benar apa yang Felicia katakan. Keluarga ini memanfaatkanku sebagai cara untuk membuat arwah Felicia tenang, jadi saudah seharusnya aku mendapatkan bayaran untuk itu. Aku bukan biksu yang hanya berbuat baik dan menerima pembayaran dengan doa dan pahala! Aku hanyalah manusia dengan segudang masalah yang menumpuk dan butuh penyelesaian yang mana penyelesaian yang aku butuhkan kebanyakan berhubungan dengan uang.
Buk!! Tanpa Adrian sadari, Tuan Gumilar sudah berlutut di depan Adrian dan memasang raut wajah memohon kepada Adrian.
“Nak, saya mohon, tolong bantu putriku-Felicia. Kami sudah menunggu tujuh bulan lamanya dan nyaris kehilangan harapan kami. Jika sampai peringatan setahun kematiannya arwah Felicia masih belum tenang, kelak Felicia tidak akan bisa berenkarnasi. Saya mohon, Nak. Saya akan melakukan apapun untukmu sebagai bayarannya.”
“Pak! Jangan begini!!” Adrian yang merasa tidak tega dan sungkan langsung bangkit dari duduknya, dan duduk di lantai, sama seperti Tuan Gumilar.
“Lihat!!” Felicia bicara sembari ikut duduk di lantai mengikuti Adrian. “Ayahku bilang akan melakukan apapun kan?? Lakukan sesuatu dengan itu, Adrian! Katakan apa yang kamu inginkan!!! Harusnya dengan menggunakan kalimat itu, kamu bisa mendapatkan uang atau apapun yang kamu inginkan!!”
“Bagaimana kalo begini, Nak?? Felicia putriku punya jatah harta warisan, aku bisa memberikan setengah warisan Felicia padamu, Nak. Aku bisa memberikannya asal kamu membantuku membuat arwah Felicia merasa tenang.”
Tuan Gumilar memberikan tawaran yang benar-benar menggiurkan kepada Adrian. Hanya saja … Adrian masih merasa ragu untuk menerima uang dengan cara ini. Rasanya seperti sedang memeras orang lain!!, pikir Adrian.
*
“Kenapa tidak langsung menerimanya, Adrian??” Felicia mengomel pada Adrian ketika berada di rumah setelah Adrian meminta waktu tiga hari kepada Gumilar untuk memikirkan tawaran Gumilar.
“Aku ragu, Feli!! Aku merasa cara yang kamu beri itu seperti sedang memeras orang lain. Apa kamu tidak lihat Ayahmu benar-benar memohon padaku? Apa kamu nggak marah??” balas Adrian.
“Aku nggak tahu. Satu-satunya perasaan yang bisa aku rasakan, semuanya hanya berhubungan denganmu, Adrian. Melihatmu marah, aku juga merasa marah. Melihatmu kesal, aku juga merasa kesal. Melihatmu senang, aku juga ikut senang,” balas Felicia. “Aku bingung denganmu, Adrian. Kamu dapat jakpot besar, tapi masih ragu untuk menerimanya.”
Jakpot yah?? Adrian melihat Felicia yang sedang duduk melayang di udara dengan bibirnya yang manyun. Benar! Harusnya aku menerima jakpot itu!!
“Kalo kamu ingin aku menerimanya, apa yang bisa aku lakukan untukmu, Feli??” tanya Adrian.
“Lakukan beberapa hal untukku. Kebanyakan lainnya adalah pekerjaan yang mudah, tapi satu hal mungkin sedikit berat.”
“Apa itu?” tanya Adrian lagi.
“Alasan di balik kematianku.”
“Bukannya kamu mati karena kecelakaan??” tanya Adrian bingung.
“Ya, hanya saja … aku menangkap sorot keraguan di mata ayahku tadi. Aku yakin … ayahku juga merasa tidak yakin dengan penyebab kematianku itu.”
Adrian berpikir sejenak. Itu memang bukan hal yang mudah. Tapi bukan hal yang mustahil menginagt pekerjaanku dulu. huft! Adrian mengembuskan napasnya setelah merasa yakin dan membuat keputusan. “Baik, kita lakukan itu!! Aku akan menerima tawaran ayahmu dan membalasnya dengan menemukan alasan kematianmu.”
Felicia tersenyum mendengar jawaban Adrian. Hanya saja bibir Felicia kembali manyun ketika mendekat ke Adrian. “Itu tadi … permintaanku utamaku. Tapi permintaanku yang lain bisa kamu berikan kecupan di bibirku ini, suamiku??”
Adrian langsung mendorong jauh wajah Felicia yang semakin dekat padanya. “Masalah ini, jangan harap kamu bisa mendapatkannya!! Aku bisa membantumu menemukan alasan di balik kematianmu tapi jangan harap membeli tubuhku!!”
“Pelit!! Padahal kamu juga bakalan merasa senang nantinya!” Bibir cemeberut Felicia kini berubah menjadi tanda kesalnya.
“Dari mana kamu belajar logika itu, Feli??”
“Aku tidak ingat. Hanya saja … dalam pikiranku, kalimat itu muncul begitu saja. Entah kenapa … aku merasa jika semua lelaki sama: melihat wanita sebagai objek pemuas nafsu mereka.”