
Setelah mengeluarkan semua barangnya dari dalam mobil yang membawa Eric dan mengeluarkan motor dari mobil box yang mengikuti dari belakang, Adrian mengucapkan terima kasih pada Eric dan sekalian berpamitan dengan Eric.
“Terima kasih untuk bantuannya.”
Eric mengabaikan ucapan terima kasih dari Adrian dan menatap ke arah belakang Adrian di mana Adrian akan tinggal.
“Kamu yakin akan tinggal di sini?? Kontrakan kecil seperti ini??” tanya Eric.
Adrian melihat kontrakan kecilnya yang menurutnya cukup besar karena kontrakannya terdiri dari dua ruang: ruang depan sebagai dapur, kamar mandi dan bahkan motor bisa masuk, dan ruang kedua sebagai ruang tidur. Mau bagaimana pun Adrian melihatnya, kontrakannya ini sudah sangat baik mengingat dirinya hanya akan tinggal sekitar dua bulan saja.
“Kenapa?? Ini menurutku cukup baik,” balas Adrian.
“Lalu bagaimana adikku-Feli akan tidur??”
Ehh?? Mendengar pertanyaan dari Eric itu, Adrian langsung melihat ke arah Felicia yang berdiri di sampingnya sembari tersenyum bangga.
“Kami tidur bersama donk, Kak. Apa Kakak lupa pria ini adalah suamiku??”
Huft!! Adrian hanya bisa menghela napas mendengar ucapan Felicia. Aku masih sayang nyawaku! Memberi orang ini jawaban yang sama dengan adiknya, hanya akan memperpendek umurku!! Sebelum menjawab, Adrian memberikan senyum getirnya pada Eric pertanda kebohongannya. “Feli nggak tidur di kasur! Dia tidur melayang!! Jadi tidak masalah buat Feli mau tidur di mana saja.”
“Eh??”
“Kok bilang gitu sih??” Felicia protes. “Kalo kamu takut tinggal bilang aja sama Kakakku kalo aku yang suka diam-diam memelukmu saat kamu tidur!!”
Adrian hanya bisa mengabaikan protes dari Felicia sementara Eric sedikit kaget dengan jawaban Adrian. Tapi dengan cepat Eric mengubah ekspresinya dan bersikap seolah menerima jawaban aneh dari Adrian itu sebagai jawaban yang biasa saja. Eric mengulurkan tangannya ke arah asistennya dan sebuah amplop muncul dari dalam tas milik asisten Eric. Amplop coklat itu kemudian berpindah tangan hingga akhirnya tiba di tangan Adrian melalui Eric.
“Ini adalah data kuliah, jurusan, jadwal, dosen hingga beberapa teman Feli sewaku kuliahnya.”
“Terima kasih banyak. Ini sangat membantu sekali.” Adrian tersenyum sedikit menerima informasi penting itu dari Eric.
“Kamu tentu punya rencana kan??” tanya Eric dengan menyipitkan matanya menatap Adrian.
“Y-ya, aku punya. Hanya saja … rencana itu mungkin berubah-ubah tergantung keadaan nantinya.”
“Bagus.”
Eric mengubah sedikit pandangan tajamnya kepada Adrian dan sekali lagi mengulurkan tangannya ke arah asistennya dan kali ini sebuah kertas kecil dengan ukuran kertas kartu nama muncul di tangan asisten Eric sebelum akhirnya berpindah tangan ke tangan Adrian.
Sepertinya bukan pekerjaan mudah untuk bisa jadi asisten pria ini!! Gimana bisa asistennya tahu apa yang dia inginkan hanya dengan mengulurkan tangannya?? Adrian memandang kartu nama Eric di tangannya dan sibuk menilai pekerjaan asisten Eric.
“Hubungi aku kalo butuh bantuan. Nanti akan ada orangku yang akan membantumu.”
“Te-terima kasih.” Sekali lagi, Adrian mengucapkan terima kasihnya kepada Eric.
“Kalo begitu ak-“
“Tunggu sebentar!!”
Tadinya kaca jendela mobil Eric hendak menutup sebagai tanda percakapannya dengan Adrian sudah berakhir. Tapin Adrian dengan cepat menahan kaca jendela itu dengan tangannya dan membuat Eric terkejut dengan tindakannya.
“Ada yang kamu butuhkan?” tanya Eric.
“Bukan. Tapi ada yang ingin aku tanyakan.”
“Apa?”
“Melihat kamu sangat menyayangi Feli, kenapa kamu tidak menyelidiki penyebab kecelakan Feli? Kenapa harus Tante sendiri yang menyelidikinya hingga berakhir begitu??” Sejak pertama kali bertemu dengan Eric penasaran akan hal ini. Awalnya … Adrian mengira Eric mungkin ada hubungannya dengan kecelakaan Felicia karena Eric bukanlah anak kandung Tuan Gumilar dan istrinya-Devi. Tapi setelah menghabiskan waktu bersama selama dua jam perjalanan tadi, Adrian dengan jelas melihat jika Eric sangat menyyangi Felicia dan tidak ada alasan bagi Eric untuk mencelakai Felicia. Hanya saja … satu pertanyaan mengganggu Adrian. Kenapa bukan Eric yang mencari tahu alasan di balik kecelakaan Felicia.
“Enam bulan??” Adrian kaget.
“Tepat Felicia diterima kuliah, Ayah memilih pensiun dari posisinya dan memberikan posisinya padaku. Berkat itu … aku benar-benar sibuk dan tidak punya banyak waktu luang untuk Feli. Ditambah lagi Feli sengaja memilih kampus di kota ini karena ingin satu kampus dengan teman lamanya-Ola. Berkat itu aku hanya waktu beberapa kali mengunjungi Feli. Di tahun pertamanya, aku bisa mengunjungi Feli setiap tiga bulan sekali. Sayangnya di tahun keduanya, aku hanya bisa mengunjungi Feli dua kali dan terakhir aku bertemu dengan Feli adalah enam bulan sebelum kematiannya.”
“Maaf. Aku nggak bermaksud.” Adrian merasa bersalah karena akhirnya mengerti arti dari tatapan sendu Eric ketika membahas Felicia.
“Tidak masalah.” Eric mencoba untuk tersenyum meski senyumnya terlihat sedikit dipaksakan.
“Kakak jangan merasa bersalah!” Felicia yang mendengar ucapan Eric, hanya bisa mendekat ke arah Eric, membelai rambut Eric meski Eric tidak akan pernah bisa merasakan dan mendengarnya.
“Kata Feli, jangan merasa bersalah!” Adrian menyampaikan pesan Felicia pada Eric.
“Terima kasih.” Senyum Eric yang tadi sedikit dipaksakan kini terlihat sedikit lebih alami. “Apa ada lagi yang ingin kamu tanyakan, Adrian??”
“Ini soal Ola-teman Feli. Bagaimana dia??”
*
Setelah membongkar semua barang bawaannya yang hanya terdiri dari dua tas, Adrian membersihkan dirinya dan bersiap untuk pergi membeli makan malam. Setelah berkeliling kota Y di malam hari, Adrian kemudian memutuskan untuk makan di resto dekat kampus sembari mencari informasi. Dan kebetulan juga … resto sedang membutuhkan pekerja part time.
“Pak bisa saya melamar pekerjaan itu??” Adrian bertanya ketika makanan yang dipesannya datang.
“Tentu, Nak! Selama kamu orang yang cekatan, berwajah tampan dan pintar bicara, kamu bisa bekerja di sini.”
Adrian tersenyum mendengar syarat pekerja part time itu dari mulut pemiliknya yang berusia sekitar lima puluh tahunan. “Bapak bisa percayakan itu pada saya.”
“Kalo begitu besok datang kemari jam 10 pagi! Saya ini bukan orang yang ribet di mana saya harus menginterview seseorang yang mau bekerja.”
“Maksud Bapak?” tanya Adrian bingung.
“Besok cobalah bekerja selama tiga hari dan setelah tiga hari, saya akan beri keputusan untuk menerima atau menolak, Nak!”
Adrian tersenyum lagi. “Baik, Pak. Saya akan buktikan saya bisa bekerja dengan sangat baik.”
Setelah pria pemilik resto itu pergi, Felicia yang tadi hanya bisa diam dengan wajah bingung langsung membuka mulutnya dan bertanya.
“Kamu mau kerja di sini?”
Adrian menganggukkan kepalanya sembari memakan makanannya seolah anggukan kepala itu adalah tanda bahwa Adrian sedang menikmati makanannya.
“Kenapa??”
Adrian mengambil ponselnya dan bersikap seolah-olah sedang menerima telepon padahal sedang menjawab pertanyaan Felicia yang sedang duduk bersamanya. “Nanti akan aku jelaskan! Biarkan aku makan! Kamu tidak makan juga??”
Mendengar pertanyaan Adrian itu, wajah Felicia yang tadi penasaran kini berubah menjadi sumringah. Tanpa banyak bicara … Felicia mendekat ke arah Adrian dan menempelkan bibirnya ke bibir Adrian untuk merasakan makanan yang dimakan Adrian. Cup!