
Jadwal Adrian hari ini adalah menyelesaikan semua pekerjaannya mengantarkan paket, pulang cepat dan mampir ke rumah Tuan Gumilar untuk meminta penjelasan mengenai pernikahan sepihak yang jelas tidak sah ini.
Broom!!
“Paket!!!!”
Satu paket, dua paket, tiga paket.
Adrian terus menyetir motornya sembari mampir ke rumah-rumah untuk mengantarkan paket. “Paket!!”
Dan ketika mengatakan kata ‘paket’, Felicia akan menirukan ucapan Adrian dan berteriak “Paket!!” Melihat tindakan Felicia itu, Adrian sedikit merasa lucu dan aneh. Lucu karena teriakan yang keluar dari mulut Felicia hanya akan didengar oleh Adrian saja. Dan aneh karena Felicia sama sekali tidak mengeluh ketika harus ikut keliling di motor Adrian sembari mengantarkan paket-paket.
“Kenapa kamu nggak ngeluh ikut aku nganter paket?? Kamu nggak kepanasan??” tanya Adrian penasaran.
“Aku hantu. Nggak bisa ngerasain panasnya matahari. Tapi lain lagi kalo panasnya badan kamu, Adrian.” Felicia duduk di belakang, di atas tumpukan paket-paket yang Adrian antar sembari memeluk erat pinggan Adrian.
“Panas badanku??” tanya Adrian bingung.
“Gelang merah ini jadi penghubung antara kamu dan aku. Kalo kamu ada apa-apa, kayak sakit misal, aku bakal ngerasain. Bahkan kalo kamu kepanasan sekalipun, aku juga bisa rasain.”
“Ohhh … “ Adrian melirik gelang merah di tangan kanannya. “Aneh juga gelang dari tali merah yang sederhana ini bisa buat aku sama kamu terhubung. Trus bagaimana kalo ada apa-apa sama kamu? Apa aku juga bakal rasain??”
“Nggak! Kamu nggak bakal rasain kok. Gimana pun, aku ini hantu. Gelang itu ngikat kamu ke aku dan buat kamu bisa lihat aku, bicara sama aku dan bahkan mukul aku. Sebagai gantinya … aku bakal rasain apa yang kamu rasain. Itu adalah harga yang aku terima karena terikat dengan manusia. Tapi berkat itu … aku ngerasa kayak hidup lagi.”
Dari nada bicaranya, Adrian dapat dengan jelas menebak kalo Felicia memang benar-benar merasa senang terikat dengannya karena merasa dirinya hidup sebagai manusia dan bukan sebagai hantu.
“Trus kenapa nggak malu ikut aku nganter paket??” Kali ini Adrian bertanya sebagai seorang pria kepada wanita. Adrian selama ini selalu merasa rendah diri karena hidupnya yang tak punya masa depan yang jelas karena ulah ayahnya.
“Nggak. Nganter paket seru juga!! Naik motor juga seru juga!! Angin yang berembus kena wajah rasanya sejuk. Entah kenapa … tapi rasanya dulu sewaktu hidup aku juga pernah merasakan hal yang sama kayak gini.”
“Kamu aneh ya.” Adrian berkomentar sembari melirik ke kaca spionnya untuk melihat bagaimana Felicia menikmati angin berembus yang menerpa wajahnya.
“Mungkin. Kalo aku nggak aneh, aku nggak akan berakhir jadi hantu dan bergentayangan untuk waktu yang lama.” Felicia menjawab dengan nada santai karena terlalu menikmati angin yang tak pernah bisa dirasakannya ketika hidup sebagai hantu. “Setelah kamu selesai kerja, kita ma uke mana? Kamu dari tadi sepertinya ngebut banget kerjanya.”
“Ke rumah orang tuamu.”
“Rumahku?? Kenapa ke sana??” Felicia bertanya heran.
“Meminta penjelasan mengenai keadaan ini. Setidaknya aku harus tahu alasan kenapa mereka memilihku dan membuatmu terikat denganku. Mungkin keluargamu punya alasan tertentu melakukan hal ini.”
“Kalo kamu sudah tahu alasannya, apa kamu akan membuangku??”
Nada bicara Felicia terdengar sedikit sedih. Padahal hubungannya dengan Adrian baru sehari, tapi Felicia sudah merasa sedih mendengar ucapan Adrian itu.
“Kita lihat nanti. Aku akan jawab pertanyaan itu kalo aku tahu alasan keluargamu melakukan ini padaku.”
Sesuai perhitungannya sebelum bekerja tadi, Adrian yang mengebut pengirimannya hari ini berhasil menyelesaikan kirimannya lebih cepat. Targetnya tercapai dan Adrian punya lebih banyak waktu untuk ke rumah Felicia dan meminta penjelasan.
“Pak, saya yang kemarin datang. Apa saya bisa bertemu dengan Tuan Gumilar?” Adrian yang berdiri di depan gerbang rumah Felicia, memberi tahu kedatangannya kepada penjaga.
“Ada perlu apa, Mas?”
“Ini masalah mengenai Felicia.”
Mendengar alasan kedatangan dari Adrian, petugas keamanan sekaligsu penjaga itu langsung emnghubungi bagian dalam rumah dan tidak lama kemudian membukakan pintu gerbangnya kepada Adrian.
“Adrian.” Felicia menghentikan Adrian tepat di depan pintu masuknya.
“Ehm??”
“Kamu deg-degan??” tanya Felicia.
“Sedikit.”
“Kenapa?? Apa karena mau ketemu dengan mertuamu??” Felicia bertanya dengan wajah polosnya dan kemudian membuat senyuman nakal. “Tenang saja, keluargaku harusnya tidak akan menggigit atau menerkammu. Beda lagi sama aku.”
Jantung Adrian yang tadi berpacu lebih cepat, langsung kembali ke denyut normalnya ketika mendengar ucapan Felicia. Adrian mengerutkan alisnya sebelum mengangkat tangannya untuk menyentil kening Felicia. “Kalo kamu berani melakukannya, mungkin aku bisa membuat terlempar lebih jauh dari kemarin.”
“Hiks, hiks!!” Air mata Felicia jatuh dengan raut wajahnya yang juga ikut merasa sedih. “Kasian sekali aku ini. Kenapa bisa menikah dengan suami kejam kayak gini?? Kamu nggak mau malam panas, nggak mau cium aku, juga memelukku. Kalo bukan aku yang meluk, kamu nggak bakal mau peluk.”
Huft!! Adrian menghela napas melihat Felicia menangis. “Berhenti mengeluarkan air mata buaya itu! Aku nggak akan tertipu untuk kedua kalinya!”
“Cih!! Kamu tahu??” Air mata Felicia langsung mengering dan raut wajahnya langsung berubah menjadi wajah kesal.
Adrian kembali berjalan, ketika melihat pintu rumah Felicia terbuka. “Kamu mungkin memang wanita, tapi kamu adalah wanita licik dan juga mesum. Wanita seperti kamu adalah wanita yang harus aku waspadai!”
“Kamu datang, Nak??” Tuan Gumilar langsung menyapa Adrian ketika Adrian masuk ke dalam rumah.
“Ya, Pak. Saya datang.”
“Karena kamu bilang kamu datang mengenai Felicia, harusnya kamu datang karena sudah bertemu dengannya dan berniat untuk meminta penjelasan bukan??” Tuan Gumilar menebak dengan benar alasan kedatangan Adrian.
“Ya, Pak.”
Setelah mempersilakan Adrian duduk dan minuman datang, Tuan Gumilar mulai bicara mengenai alasan yang membawa Adrian ke rumah ini.
“Bagaimana rupa putriku?” Tuan Gumilar mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan wallpaper ponselnya yang menggunakan foto Felicia. “Apa wajahnya sama dengan fotonya??”
Adrian memperhatikan foto di ponsel Tuan Gumilar dan membandingkannya dengan Felicia yang duduk di sampingnya yang kini memasang wajah sok manis. Cih!! Adrian merasa kesal melihat wajah sok manis dari Felicia. “Masih sama kok, Pak. Bedanya mungkin kulitnya yang sekarang lebih pucat.”
“Apa putriku baik-baik saja??”
“Eh??” Adrian mengerutkan alisnya mendengar pertanyaan itu. Adrian bingung harus menjawab karena tak ada jawaban yang tepat untuk menggambarkan apakah Felicia baik-baik saja. “Harusnya baik-baik saja selain kakinya yang tidak menapak tanah dan lebih suka melayang.”
“Senang bisa mendengar kabarnya darimu, Nak. Jujur saja … aku ingin bisa melihatnya seperti kamu. Sayangnya … kami-aku dan ibunya tidak bisa melihatnya.”
Tes, tes. Tangan Adrian merasakan sensasi dingin karena Felicia. Adrian melirik Felicia dan melihat Felicia sedang menangis.
“Apa??” tanya Felicia sembari menghapus air matanya yang berjatuhan bak air mengalir. “Ini bukan air mata buaya kayak tadi. Ini benar-benar air mata sedih.”
Adrian mengangkat kakinya sedikit. “Aku tahu. Tapi air matamu mengalir terlalu deras seperti kran bocor.”