MY WIFE IS A GHOST

MY WIFE IS A GHOST
OLA, TEMAN FELICIA



            “Apa tadi yang kamu bilang??” Felicia bertanya lagi untuk memastikan tugasnya ketika tiba di apartemen di mana Ola tinggal. “Aku harus apa??”


            “Kamu bisa menembus tembok kan?? Bisa kamu lihat ke dalam apartemen temanmu itu??” Adrian bicara dengan sangat lirih karena saat ini dirinya sedang berjalan masuk ke dalam apartemen Ola. Dan berkat suara Adrian yang cukup lirih, Felicia harus sangat dekat dengan Adrian agar bisa mendengar suara Adrian.


            “Bisa. Selama jarak tertentu dari kamu. Karena gelang ini, aku tidak bisa jauh-jauh dari kamu, Adrian.”


            “Berapa jauh?” tanya Adrian lirih sembari memberi salam kepada petugas keamanan apartemen Ola.


            “Mau ke lantai berapa, Pak?” tanya petugas keamanan.


            “Lantai lima, Pak. Atas nama Ola.”


            Petugas keamanan mengecek nama yang Adrian sebutkan sebelum akhirnya mempersilakan Adrian lewat. Adrian berhasil melewati lobi dan kini berjalan menuju ke lift yang akan membawanya menuju ke lantai lima.


            “Paling jauh 1 km.” Felicia menjawab setelah mencoba jarak terjauhnya dari Adrian.


            “Cukup kalo gitu. Juga tolong pastikan letak kamera CCTV. Aku butuh berapa banyak kamera CCTV dari masuk hingga tiba di apartemen Ola.”


            “Oke. Ada lagi??” tanya Felicia semangat.


            “Kamu periksa ke dalam apartemen Ola selagi aku menunggunya dan memberikan makanan ini.”


            “Ya.”


            Ting! Pintu lift terbuka. Kebetulan hanya ada Adrian seorang yang menggunakan lift dan berkat itu … Adrian dapat melihat dan memperhatikan. Ini aneh!  Adrian berusaha mengingat alamat terakhir Ola yang diberikan oleh Eric padanya dan setelah mencari alamat itu, sebelum ini Ola tinggal di asrama dan kosan yang biasa. Adrian juga mengingat cerita dari Tuan Gumilar mengenai bagaimana akhirnya Felicia bisa berteman dengan Ola. Apartemen ini  … bagaimana pun aku melihatnya, apartemen ini adalah apartemen mahal. Bagaimana wanita serba bias aitu bisa tinggal di apartemen mahal ini?? Padahal sebelum ini, hidupnya masih serba biasa. Kenapa sekarang tiba-tiba berubah??


            Ting! Lift yang membawa Adrian ke lantai lima akhirnya terbuka. Adrian bersama dengan Felicia keluar dari dalam lift dan berjalan menuju ke apartemen Ola. Nomor 511, nomor 511. Adrian berusaha mencari nomor apartemen itu sembari memeriksa nomor-nomor pintu apartemen yang dilewatinya.


            Ini dia!!  Tepat sebelum memencet bel apartemen Ola, Adrian mengcdipkan matanya memberi isyarat kepada Felicia untuk masuk ke dalam apartemen Ola dan memeriksa bagian dalam apartemen itu.


            Ting! Tong!! Setelah memastikan Felicia masuk dengan menembus dinding, Adrian memencet bel apartemen Ola dan setelah tiga kali bel berbunyi, balasan terdengar dari bel. 


            “Ya??” Panggilan terdengar dari bel.


            Bahkan belnya pun dilengkapi dengan panggilan seperti ini. Adrian sedikit terkejut mendengar suara yang keluar dari bel.


            “Ki-kiriman makanan.”


            “Tunggu sebentar!”


            Tidak sampai satu menit kemudian, pintu apartemen terbuka dan wajah yang mirip dengan wajah yang ada di foto Felicia terlihat.           


            “Mas bukan kurir biasanya??” Wanita bernama Ola yang kini terlihat dengan riasan tebal, lipstick merah, kuku panjang dengan warna merah, muncul dengan membuka sedikit pintu untuk Adrian.


            “Saya orang baru, Mbak. Saya baru kerja seminggu.”


            “Ohhh!! Akhirnya Pak Aji nambah pegawai juga. Berarti usahanya semakin laris.” Ola menjawab sembari memberikan uang kepada Adrian.


            “Ya, Mbak. Lumayan ramai.” Adrian menerima uang dari Ola dan memberikan bungkusan makanannya kepada Ola. Adrian menghitung uangnya dan melihat jika uang diberikan Ola lebih. Adrian membuka tasnya dan berniat mengambil kembalian. “Kembaliannya, Mbak.”


            “Nggak usah, Mas. Buat Mas aja. Anggap saja uang bensin dan jalan kaki dari parkiran ke sini.”


            “Ma-makasih, Mbak.”


            “Semoga betah kerja di sana, Mas. Aku pelanggan tetap di sana, Mas.”


            “Ya, Mbak. Sekali lagi terima kasih dan selamat menikmati.”


            Setelah percakapan kecil itu, pintu apartemen Ola tertutup. Adrian sedikit mengulur waktu dengan membuka tasnya, memasukkan uangnya sembari memanggil nama Felicia lirih.


            “Kamu harus dengar ini, Adrian!!” Felicia bicara dengan semangat ketika kembali ke sisi Adrian.


            Tapi Adrian hanya bisa menganggukkan kepalanya sembari melirik ke arah kamera CCTV untuk memberi peringatan pada Felicia jika saat ini dirinya tidak akan bisa bicara banyak dengan Felicia.


            “Ehm.”


            Ting!! Adrian yang sedang menunggu lift, akhirnya melihat pintu lift itu terbuka. Adrian yang hendak masuk ke dalam lift, langsung terhenti begitu melihat sosok yang berdiri di dalam lift dan berjalan keluar melewati Adrian. Wanita itu!!! Apa yang dilakukannya di sini??


            “Adrian??” Felicia yang merasa bingung melihat Adrian membeku, langsung memanggil Adrian. “Hei, Adrian?? Kamu tidak masuk?? Liftnya akan segera tertutup loh!!”


            Tangan Adrian gemetar karena tiba-tiba teringat akan kejadian delapan tahun yang lalu di mana hidupnya berubah hanya dalam waktu singkat. Wanita itu!! Kalo saja wanita itu tidak muncul di hidup ayahku, mungkin aku dan ibuku …


            “Adrian??”’ Felicia memanggil lagi.


            “Ya.” Adrian menjawab lirih sembari melihat sedikit ke arah wanita yang baru saja melewatinya berjalan ke arah lorong apartemen. Adrian mengepalkan kedua tangannya berusaha untuk menahan amarahnya karena teringat kejadian pahit delapan tahun yang lalu.


            “Adrian?? Cepat masuk!!” Felicia kali ini bicara sembari sedikit mendorong Adrian. “Jangan bilang kamu naksir wanita seperti itu!!”


            Felicia memasang wajah cemburu dan membuat Adrian tidak punya pilihan lain untuk masuk ke dalam lift.


            “Feli, tolong ikuti wanita itu!! Aku ingin tahu apartemen nomor berapa yang didatanginya!!”  Adrian bicara dengan lirih sebelum menekan tombol lantai satu.


            “Kamu nggak benar-benar suka dengan wanita itu kan??” Felicia memastikan masih dengan wajah cemburunya lengkap dengan bibirnya yang sedikit manyun.


            “Nggak! Aku nggak mungkin suka dengan wanita seperti itu!!” Adrian menjawab dengan nada dinginnya.


            “Oke kalo gitu. Tapi kamu harus beri aku penjelasan nanti.”


Tepat setelah Felicia pergi memeriksa wanita itu, Adrian langsung terduduk lemas di lantai lift. Sial!!!! Kenapa aku harus bertemu dengan wanita itu di saat seperti ini??? Kenapa aku harus ketemu dia lagi??


            *


            “Kenapa, Bu?? Kenapa Ibu tidak menceraikan Ayah??”


            Ingatan lama Adrian itu muncul lagi dalam benaknya dan membuat Adrian merasa sedikit terpuruk lagi.


            “Ibu dan Ayahmu sudah menikah lebih dari dua puluh tahun. Hanya karena satu kesalahan Ayahmu, Ibu tidak bisa membiarkan Ayahmu terpuruk sendirian, Adrian!”


            “Tapi, Bu!! Ayah selingkuh dari Ibu!! Ayah bersama dengan wanita lain dan wanita itu telah membuat Ayah kehilangan usahanya!! Karena Ayah, sekarang Ibu juga harus kehilangan rumah makan warisan Ibu dan rumah kita juga!!”


            “Kamu mungkin masih belum mengerti, Adrian!! Meski ayahmu selingkuh dari Ibu, nyatanya dia kembali pada Ibu, Adrian. Bukankah itu artinya Ayahmu masih mencintai Ibu??”


            Air mata Adrian menetes teringat kenangan pahitnya saat itu. Delapan tahun yang lalu bahkan hingga sekarang, Adrian masih tidak mengerti cinta seperti apa yang ibunya miliki untuk ayahnya setelah semua yang terjadi karena ayahnya.


            “Adrian?? Kenapa kamu menangis??” Felicia yang baru saja kembali dari memeriksa apa yang Adrian minta langsung panik melihat Adrian menangis.            


            “A-aku nggak papa.” Adrian bangkit dari duduknya di lantai tepat sebelum pintu lift terbuka dan menghapus air matanya.


            “Nggak papa gimana?? Kamu nangis gini!! Siapa yang berani buat suamiku nangis kayak gini??” Felicia langsung memasang wajah terimanya.


            “Aku beneran nggak papa.” Adrian menjawab dengan lirih sembari berjalan keluar dari lift, melewati lobi dan menuju ke tempat parkir di mana motornya diparkir.


            Hup! Felicia tiba-tiba memeluk Adrian yang masih berjalan. Felicia memeluk Adrian dan membuat kakinya terikat di belakang punggung Adrian.


            “M-mau apa kamu, Feli??” Adrian yang panik, masih berusaha menahan dirinya dan bicara dengan lirih pada Felicia.


            “Aku hanya akan memelukmu saja, Adrian. Aku tiba-tiba ingat Kakakku juga sering melakukan ini ketika aku sedang kesal karena apa yang terjadi di sekolah.”


            Karena sedang berada di luar, Adrian hanya bisa membiarkan Felicia. Adrian yang tadi menangis karena ingatan buruknya, kini merasa lebih baik berkat pelukan Felicia.


            Harusnya pelukan hantu wanita mesum ini terasa dingin, tapi entah kenapa pelukannya saat ini terasa hangat sama seperti pelukan ibuku.