
Seminggu lamanya, Adrian telah bekerja di resto milik Pak Aji. Karena jam kerja Adrian hanyalah jam kerja part time, jam kerja Adrian mulai dari jam 10-17 sore. Dari penjelasan Haris, resto Pak Aji akan sangat ramai di siang hari terutama saat jam makan siang. Di malam hari juga ramai, tapi tak seramai siang hari karena beberapa orang menghindari makan makanan pedas di malam hari.
Tapi sejak kedatangan Adrian, pelanggan Pak Aji semakin ramai saja dan Pak Aji berniat untuk membuat Adrian bekerja full time dan bukan lagi part time.
“Adrian!!” Di saat Adrian sedang makan sorenya sebelum pulang bekerja, Adrian dipanggil oleh Pak Aji.
“Ya, Pak.” Adrian yang kali ini sedang makan mie ayam lava buatan Bisma, langsung menghentikan makannya ketika mendengar panggilan dari Pak Aji.
“Kita bicara sambal makan saja, Nak.” Pak Aji menghampiri Adrian dan duduk di samping Adrian yang sedang makan di bagian belakang dapur bersama dengan Bisma.
“Kerjamu selama seminggu ini cukup bagus, Nak! Bapak berniat untuk membuatmu kerja full time dan bukan part time, gimana??”
Adrian diam sejenak sembari memikirkan tawaran itu dan sedikit melirik Felicia yang duduk di sampingnya.
“Kamu mau menerimanya?” tanya Felicia.
Adrian meletakkan mangkuk mienya. Kalo saja … aku tidak harus mencari informasi mengenai Felicia, mungkin aku akan menerima tawaran ini. Bekerja di sini cukup menyenangkan. Bahkan lebih menyenangkan dari pada menjadi kurir. Ditambah lagi, aku dapat makan siang yang enak dan gajinya perminggu lebih besar jika dibandingkan dengan gaji mingguan dari menjadi kurir. Hanya saja …
“Mohon maaf, Pak. Kalo saya tidak punya sesuatu yang harus saya lakukan, mungkin saya akan merasa senang bekerja dengan Bapak dan dengan senang hati menerima tawaran Bapak. Tapi saya datang kesini dan tinggal di kota ini mungkin tidak akan lama.”
“Tidak akan lama??” Pak Aji mengulang karena tidak paham.
“Ya, Pak.” Adrian menganggukkan kepalanya.
“Kenapa?” Bisma yang makan di samping Adrian, menghentikan makannya karena merasa penasaran dengan jawaban dari Adrian.
“Saya ke sini untuk … “ Adrian diam sejenak memikirkan bagaimana statusnya dengan Felicia. Apa aku harus mengatakan bahwa aku telah menikah?? Tapi di KTP-ku, aku masih berstatus lajang. Gimana kalo begini saja … “Saya ke sini sebenarnya untuk mencari tahu alasan calon istri saya meninggal, Pak.”
“Calon istri??” Pak Aji dan Bisma bicara bersamaan, karena kaget mendengar Adrian sudah punya calon istri.
“Ya. Sepuluh bulan yang lalu, calon istriku meninggal karena kecelakaan saat perjalanan pulang dari kota ini.” Adrian membuat sedikit kebohongan tentang hubungannya dengan Felicia.
“Kok calon istri sih??” Felicia yang tadi sudah merasa senang karena suka dengan rasa masakan Bisma, langsung memasang wajah cemberut lengkap dengan bibir manyunnya karena tidak terima dirinya dianggap sebagai calon istri Adrian. “Aku ini istrimu!! Bukan cuma calon istri!!”
Di saat begini … kenapa kamu nggak pake otakmu buat sedikit berpikir, Feli??? Adrian hanya mengomel di dalam benaknya mendengar protes dari Felicia.
“Bukannya calon istrimu mati kecelakaan?? Kenapa masih menyelidikinya??” tanya Pak Aji heran.
“Benar.” Bisma juga setuju.
“I-itu begini … “ Adrian menjelaskan sedikit keadaan Ibu Felicia dan membuat keadaan Ibu Felicia itu sebagai alasan kedatangannya ke kota Y. “Meski pada akhirnya saya nggak jadi nikah dengan Feli, saya nggak tega dengan Ibu Feli. Jadi agar Ibu Feli tenang, saya datang kemari untuk memastikannya saja. Hanya saja … karena saya tidak terlalu mengenal Feli karena perjodohan kami dikarenakan janji kakek kami, saya sedikit kesulitan. Saya bekerja di sini karena resto ini adalah resto paling dekat dengan kampus Feli.”
“Kampus?” Bisma sedikit kaget mendengar ucapan Adrian. “Jangan-jangan calon istrimu itu adalah mahasiswi di universitas dekat sini??”
“Ya, Feli dulunya mahasiswi yang kuliah dekat sini.” Adrian menganggukkan kepalanya.
“Pak Aji … mungkinkah Nona yang selalu pesan nasi kari pedas kita itu, Pak?? Bukankah Nona itu sudah sepuluh bulan tidak datang kemari??” ujar Bisma dengan wajah terkejut.
“Kamu punya fotonya, Adrian?” tanya Bisma.
Beruntungnya Adrian mengambil foto Felicia bersama dengan Ola-temannya menggunakan ponselnya. Setiap malam, Adrian berkeliling kota Y untuk menemukan Ola. Hanya saja … berdasarkan alamat lama Ola yang diberikan Eric, Ola telah lama pindah dari asramanya dan pindah entah ke mana. Adrian menunggu selama seminggu dan berharap Ola akan mengunjungi resto milik Pak Aji. Sayangnya … Ola tidak pernah datang.
Adrian menunjukkan foto Felicia di ponselnya kepada Pak Aji dan Bisma. Dan benarnya saja dua rekan Adrian itu mengenali wajah Felicia.
“Benar!! Itu Nona yang selalu pesan nasi kari pedas kalo kami membuat menu makan sore dengan itu!!” seru Bisma dan Pak Aji bersamaan.
“Ehh?? Feli benar-benar sering kemari??” tanya Adrian.
“Tidak terlalu sering. Mungkin seminggu tiga kali. Kami hafal dengan baik Nona ini karena setiap kali ada nasi kari pedas, dia akan meminta itu. Dan kebetulan sekali … hari kunjungan tidak pernah berubah setiap minggunya. Tapi seingat kami namanya bukan Feli tapi Eli, begitulah temannya memanggilnya.” Pak Aji menjelaskan.
“Eli itu panggilan ayah dan ibunya. Sementara aku dan kakaknya memanggil Felicia dengan Feli.”
Bisma tertawa kecil mendengar ucapan Adrian dan membuat Adrian bersama dengan Pak Aji bingung.
“Kenapa kamu tertawa, Bisma?” tanya Pak Aji.
“Maaf sebelumnya.” Bisma berusaha menahan sedikit tawanya. “Entah kenapa panggilan Eli lebih cocok dengan panggilan Feli.”
“Kenapa?? Bukannya sama aja??” Pak Aji masih bingung.
“Heli, guguguk!! Kemari, guguguk!!” Bisma menyanyikan lagu itu dan membuat Adrian langsung menahan tawanya karena tak menyangka Bisma akan menebak dengan benar arti dari panggilan Feli untuk Felicia. “Bukankah terdengar mirip, Pak??”
“Eh???” Pak Aji kaget dan tidak percaya.
“I-itu memang benar.” Adrian menganggukkan kepalanya. “Aku memanggilnya Feli untuk menyindir Felicia.”
Adrian melirik ke arah Felicia yang kini semakin cemberut dan mengumpat padanya. “Sialan kamu, Adrian!!”
Maaf, Feli!! Sekali-kali kamu perlu merasa sedikit kesal seperti ini!! Nggak adil kan kalo aku terus yang merasa kesal setiap kali kamu membuat ulah dengan menciumku, memelukku saat aku tidur dan berusaha untuk mengintipku saat aku mandi kan?? Adrian masih tertawa kecil karena puas melihat reaksi Felicia. Sekali-kali, kamu perlu seperti ini dan aku bisa tertawa puas melihat kamu kesal!!
“Lalu bagaimana kamu mencari mengenai Nona Eli??” tanya Pak Aji.
Adrian kemudian menunjukkan foto Ola yang ada di samping Felicia. “Saya sedang mencari Nona ini. Dari yang saya dengar dari keluarga Feli, Ola merupakan teman baik Feli sejak SMP.”
“Kurasa mereka memang dekat. Nona Eli memang sering datang kesini bersama dengan nona itu dan satu teman prianya.”
“Pria??” Adrian kaget karena tidak pernah mendengar hal itu sebelumnya dari keluarga Felicia. “Apa Bapak tahu namanya??”
“Mungkin Ian, mungkin juga yang lain, Bapak tidak ingat. Bapak hanya ingat pria itu tidak suka dengan makanan pedas, jadi hanya beberapa kali Bapak melihatnya datang dengan Nona Eli dan temannya. Tapi teman Nona Eli itu … “
“Ya, Pak??” Adrian tidak sabar.
“Dia salah satu pelanggan yang sering minta diantar saat malam. Kamu tidak tahu karena selama seminggu ini kamu hanya kerja part time.”
Akhirnya … aku menemukan secercah harapan. Adrian melirik ke arah Felicia di sampingnya.