
"Kita harus bagaimana? Berita tentangmu sudah viral za. Ucap Yura panik.
"Biarlah aku tidak perduli". Jawab Liza yang sedang terbaring lemah pasca pingsan.
Tak lama Bian pun datang untuk melihat kondisi Liza. Semenjak ditemukan pingsan kemarin, Entah kenapa Bian sangat mengkhawatirkan keadaan Liza.
"Bagaimana keadaanmu?". Mendekati hospital bed Liza.
"Ah Bian... terima kasih kamu sudah menggendong Liza sampai ke UGD, kalau tidak ada kamu aku mungkin akan kesulitan membawanya sampai RS". Jelas Yura.
Mendengar penjelasan Yura, Liza sedikit terkejut dan merasa bersalah karna selama ini sikapnya terhadap Bian sangat buruk.
"Ya, yang penting sekarang dia tidak apa-apa. Kau sedang melihat apa?". Sapa Bian membuyarkan konsentrasi Liza yang sedang terfokus ke layar hp yang dia pegang.
"Aaaah...itu". Sambung Yura
"Kamu lihat saja". Jawab Liza memberikan hpnya kepada Bian.
"Ini sudah waktunya Liza makan, aku akan memanggil suster dulu. Silahkan kalian mengobrol". Ucap Yura.
Yura memberikan waktu kepada Bian untuk menenangkan Liza. Yura takut emosi Liza akan semakin terganggu karna berita itu. Berita yang memberitakan tentang kondisi psikis Liza pasca ditinggal mati oleh tunangannya, berita tentang Liza yang pingsan digendong ke Rumah Sakit oleh seorang laki-laki. Dan yang membuat viral, dirinya dituduh hamil oleh laki-laki yang menggendongnya.
"Jika diammu bijak, maka diamlah. Tapi jika diammu di injak, maka bicaralah. Supaya mereka diam". Ucap Bian memecah keheningan sesaat, Liza menatap Bian dan tersenyum sinis.
"Tak perlu teriak jika hanya ingin didengar. Karna terkadang, cara terbaik untuk didengar adalah tetap diam". Sambung Liza
"Ada waktu dimana kita diam dan ada waktu dimana kita harus bicara, dalam kasusmu ini kamu harus bicara agar mereka tahu kondisimu yang sebenarnya". Ucap Bian meyakinkan Liza.
"Tidak perlu menjelaskan siapa dirimu kepada orang yang membencimu, karna mereka tidak akan percaya itu". Sambung Liza
"Tapi yang menyukaimu butuh penjelasan darimu, agar mereka tetap percaya padamu". Ucap Bian menegaskan bahwa Liza harus klarifikasi.
"Ah...satu hal lagi. Reputasi yang baik adalah kunci, karna jika seseorang mengatakan hal buruk tentangmu tidak ada yang akan percaya". Bian mencoba menegaskan kembali bahwa Liza harus benar-benar mengklarifikasi berita hoax yang sudah beredar luas tentang dirinya dan Liza.
Aku harus tenang, butuh 1000 cara untuk menghadapi wanita keras kepala ini.
Tiba-tiba Yura datang memecah keheningan dan suasana yang canggung antara Liza dan Bian.
"Aku ganggu ya? ya sudah aku tidak mau mengganggu kalian". Ucap Yura bingung melihat tatapan Liza dan Bian yang sama-sama sedang menahan amarah.
"Tidak usah, aku saja yang pergi". Sambung Bian dengan nada kecewa.
"Za.....kenapa sih kamu selalu bersikap kasar sama dia". Ucap Yura ketika Bian sudah di luar kamar pasien.
"Dia itu cowo paling nyebelin tau gak? dia itu sebenarnya gak tau apa-apa tentang aku. Cuma... sok tau aja dia". Jawab Liza ketus.
"Ya memang gak tau, karna kamu gak ngasih tau". Sambung Yura dengan wajah polosnya.
"Kenapa juga aku harus kasih tau, emang dia siapa?". Ucap Liza dengan nada yang lebih tinggi.
"Liza........". Yura berkata dengan nada membentak dan membuat Liza kaget.
"Dia itu psikolog, orang yang akan membantu menghilangkan kehaluan kamu. Awalnya aku sabar, sabar sesabar-sabarnya menghadapi kamu. Tapi lama-lama kamu nyebbelin tau gak. Kamu tau dia gak pernah marah walaupun sikap kamu selalu angkuh sama dia, dia selalu tersenyum dan selalu menanyakan perkembangan kamu sama aku, kemarin dia yang menggendong kamu sampai ke UGD. Tapi apa balasan kamu, dia malah ikut viral karna berita gak jelas itu. Dia bukan public figure seperti kamu, dia hanya seorang psikolog yang butuh privasi. Sekarang dia hanya ingin kamu klarifikasi, agar berita ini gak berlarut-larut dan dia gak disangkut pautkan lagi". Jelas Yura menahan emosinya yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan Bian dan Liza di balik pintu.
Liza hanya bisa diam dan bingung harus merespon apa, Yura yang selama ini dia kenal tidak pernah marah sampai seperti ini kepadanya.
"Perdana nih lo marah sama gue". Ucap Liza tersenyum kaku mencoba menggoda Yura.
"Sekarang aku harus tegas sama kamu, kamu pilih mau diterapi dan klarifikasi berita ini atau kamu gak akan ketemu aku lagi". Ucap Yura tegas.