
Seketika aku merasa duniaku gelap, cahaya kebahagiaan itu menghilang. Dirga kenapa kamu tega meninggalkanku. Kamu tau kan berapa lama kita mempersiapkan pernikahan ini, kenapa semuanya jadi sia-sia
Liza sudah tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya, tubuhnya menjadi ringan dan diapun jatuh pingsan. Seketika keluarga dari kedua belah pihak dan para tamu menjadi histeris dan menghampiri Liza.
1 Bulan kemudian
Tragedi itu masih saja terus terlintas di benakku, aku sama sekali masih belum percaya aku ditinggal mati oleh calon suamiku. Kenapa tuhan memberikanku kebahagiaan dan kesedihan disaat yang bersamaan.
Liza menangis dibalik jendela kamarnya, bibirnya pucat, pipinya selalu basah dengan air mata. Ya dia masih larut dalam kesedihan, padahal sudah sebulan lamanya tragedi itu berlalu.
Tok... Tok... Tok...
"Za.... ini aku Yura... Za... kamu makan dulu ya, aku gak mau kamu sakit". Kata Yura dibalik pintu kamar berwarna Soft Pink.
Seperti biasa Liza enggan menjawab, selama sebulan ini makannya hanya sedikit bahkan lebih parah lagi seminggu setelah tragedi itu dia hanya minum air tidak menyentuh makanan sedikitpun. Alhasil dia harus dilarikan ke Rumah Sakit untuk di infus.
"Za.... Plese kamu jangan gini terus, aku takut ka...". Belum sempat Yura menyelesaikan ucapannya dari belakang ada yang menepuk pundak Yura.
"Biar aku aja yang bicara ". Ucap Rika adik dari Dirga sambil tersenyum.
Tok... Tok.... Tok....
"Kak Liza ini aku Rika.... Kak, menurut kakak Kak Dirga bahagia disana kalau Kak Liza keadaannya kayak gini terus? Enggak kak, Kak Dirga juga pasti sedih. Tolong relain kepergian Kak Dirga biar Kak Dirga jalannya lapang karna kakak udah ikhlas".
"kak.....". Ucap Rika sambil menyentuh pundak Liza dan dibalas pelukan di pinggang oleh Liza.
"Aku gak kuat Rika, gak kuat hiks". Sambung Liza dan menguatkan pelukannya.
"Sabar kak, tuhan gak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambanya. Aku percaya setelah ini kakak akan mendapatkan kebahagiaan kakak yang sesungguhnya".
"Kebahagiaan aku Dirga, dia.....". Ucap Liza setengah berteriak.
Yura dan Rika hanya saling memandang mengisyaratkan biarkan dia istirahat dulu.
_ _ _
Di Ruang Tamu
"Selama ini keluarga kak Liza belum ada yang menjenguknya kak?". Tanya Rika
"Belum Rika, kamu tau sendiri kan ayahnya pergi entah kemana sejak Liza berumur 17 tahun dan kakak perempuannya.... Dia tidak pernah perduli dengan Liza". Jawab Yura sambil menutup hidung dan mulutnya.
"Kasihan Kak Liza, aku tidak tega melihat keadaannya. Kalau dibiarkan terus, psikisnya bisa kena kak". sambung Rika
"Psikis? tidak, kumohon jangan. Lantas apa yang harus kita lakukan Rika. Jujur aku bingung".
"Bawa ke psikiater".
"Psikiater, aku yakin Liza pasti tidak akan mau. Dia pasti mengira kalau aku menuduhnya gila". Yura tidak ingin keadaan Liza memburuk jika dia tau Yura membawanya ke Psikiater.
"Cobalah kakak sembunyikan ini dari kak Liza, jangan sampai dia tau kalau kakak membawanya ke psikiater. Aku punya kenalan psikiater hebat di Jakarta kebetulan dia teman kakakku waktu kuliah". Sambung Rika sambil memberi kartu nama seorang Psikiater.
"Baiklah Rika akan aku coba".