My Psychologist

My Psychologist
First Impression



Pukul 10 Pagi Bian sudah tiba di rumah Liza, kebetulan hari Sabtu jadwal kuliahnya libur. Ketika dia ingin mengetuk pintu tiba-tiba pintu itu terbuka, keluarlah dua orang wanita yang tampaknya sedang bertengkar. Ya mereka Liza dan Yura. Liza berjalan cepat dengan wajah kecewa sedangkan Yura berusaha mengejarnya dengan wajah yang merasa bersalah.


"Liza... dengerin aku dulu, aku gak ada maksud menuduh kamu gila, gak". Teriak Yura berusaha memegang lengan Liza tapi Liza tepis.


Liza menatap dalam Yura seakan dia berkata aku tidak percaya. Sesaat tatapan Liza mengarah ke arah Bian yang terpaku di belakang Yura. Yura pun baru sadar kalau ada seorang tamu yang datang.


"Maaf...Kamu siapa?". Tanya Yura menghampiri Bian.


"Ooh....saya Bian Psiko..... ah saya adiknya Devina". Jawab Bian. Hampir saja dia mengatakan Psikolog, dia tau keadaan yang sedang terjadi kalau Liza tidak ingin bertemu dengannya.


"Ah.... Bian, iiya hm.... bagaimana ya. Maaf bisa kamu tunggu saya di dalam, ada kesalahpahaman sedikit disini. Nanti saya menyusul". Sambung Yura dengan sedikit terbata-bata karna takut Liza tau.


"Dia Psikolognya kan?". Liza berkata tiba-tiba menatap Yura dan Bian dengan tajam.


"Bu...bukan Za, dia...".


Melihat Yura terbata-bata karna bingung mencari alasan, Bian pun berinisiatif untuk memperkenalkan dirinya yang sebenarnya dan tujuan dia datang untuk apa.


"Iya saya Psikolog, perkenalkan nama saya Bian saya diminta kakak saya Devina seorang Psikiater terkenal di Jakarta datang ke sini untuk bertemu dengan Liza". Sambung Bian dengan percaya diri.


"Aku kecewa sama kamu ra". Liza berkata dengan mata yang berkaca-kaca dan buru-buru pergi.


"Berita buruknya Gak ada yang abadi di dunia ini, Berita baiknya begitupun dengan masalahmu". Sambung Bian menatap Punggung Liza dan diikuti menatap tubuh Liza yang begitu kecil dan ramping.


Mendengar perkataan Bian, Liza menghentikan langkahnya. Kata-kata itu mengingatkan Liza pada seseorang.


"Ibu". Ucap Liza lirih


Saat Liza sedang mencerna kenapa bisa kata-katanya sama dengan apa yang dikatakan ibunya dulu ketika dirinya sedang mengalami masalah, Yura dengan cepat membawanya masuk.


"Silahkan masuk, maaf ya saya jadi tidak enak".


"It's ok, sudah biasa". Sambung Bian dengan senyumnya yang manis membuat Yura salah tingkah.


_ _ _


Di Ruang Tamu


"Maaf ya saya agak lama". Ucap Yura sambil duduk menghadap Bian.


"Jadi? Masih mau diteruskan?". Sambung Bian.


"Tentu mas eh pak, eh maaf saya harus panggil apa ya?".


"Bian aja, 91 kan?".


"Iya kok tau". Jawab Yura malu-malu


"Dari kakak saya, kakak saya tau dari Rika".


"Ah...iya, jadi apa yang harus kita lakukan sekarang".


"Saya harus face to face jadi.... mau gak mau saya harus ngobrol untuk tau sampai mana psikisnya terganggu".


"hm....tapi Liza sepertinya....hari ini...". Yura berkata ragu-ragu karna kondisi Liza yang sepertinya bukan saat yang tepat untuk menerima konseling.


"Why not? lebih cepat lebih baik kan?". Sambung Bian dengan senyumnya yang manis, sekali lagi membuat Yura salah tingkah.


"Baiklah... terserah padamu saja, aku pasrah". Ucap Yura tidak sadar karna terpana ketampanan Bian.


"Maksudnya". Sambung Bian Bingung.


"Ah.....maksud saya up to you, kamu yang tau gimana baiknya hehehe. Mari saya antarkan ke Balkon". Jelas Yura malu-malu.


"Balkon?".


"Iya Liza sekarang lebih senang menyendiri disana, saya agak khawatir takut dia punya niat yang aneh-aneh".


"Oke let's go".


_ _ _


Balkon


"Aku tau kamu sebenarnya sadar kalau tunanganmu sudah tidak ada". Mencoba membuyarkan lamunan Liza.


Liza terdiam dia hanya membalas tatapan Bian, jidatnya berkerut seakan dia sudah siap mengeluarkan isi hatinya kau salah besar.


"Bicaralah aku ingin membantumu". Maju mendekati Liza.


Lagi-lagi Liza tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ketika Bian mendekatinya diapun segera mundur.


"Kau tau 3 hal tersulit dalam hidup? Melupakan sakit hati, Menjaga rahasia, dan Memanfaatkan setiap waktu luang dengan baik. Aku ingin membahas yang ketiga, memanfaatkan setiap waktu luang dengan baik. Apakah kita sudah melakukaannya? Tuhan memberi kita hidup karna kita masih diberi kesempatan untuk melakukan yang terbaik untuk hidup kita, lantas bagaimana jika kita kehilangan orang yang kita sayang. Apakah kita akan sakit hati kepadanya atau.....".


"Cukup.... Kau tau 2 waktu terbaik untuk diam. Pertama, ketika kamu merasa seseorang tidak dapat memahami perasaanmu dari ceritamu dan Kedua, ketika seseorang dapat memahamimu tanpa penjelasan panjang lebar". Liza berkata dengan mata berkaca-kaca dan berlalu pergi.


Bian tersenyum sambil memperhatikan Liza yang berjalan cepat menuju kamar.


Dia tidak gila, dia hanya keras kepala, lantas aku yang ke berapa? dan aku rasa......Dia mulai sedikit terbuka


_ _ _


Di Rumah Bian


Percakapan di telfon


Bian : Kenapa kak?


Devina : Kakak iparmu masih ada pekerjaan disini dan kakak harus menemaninya, tidak apa kan?


Bian : Hm... aku bisa apa, kalau kakakku yang meminta


Devina : Oh iya bagaimana First impression mu terhadap Liza? Bagaimana dia cantik kan? kau sudah memberikannya terapi?


Bian : Cantik? wajahnya bagaikan bulan yang kesiangan pucat sekali dan asal kau tau dia tidak gila kak.


Devina : Mungkin karna dia tidak memakai lipstick jadi pucat. Siapa bilang dia gila, kau ini


Bian : Ya maksudku emosinya masih bisa dikendalikan, aku memancingnya untuk menceritakan keadaan hatinya yang sebenarnya tapi tidak mudah


Devina : Kau bilang emosinya masih bisa dikendalikan, seharusnya dia bisa mendengarkan arahanmu


Bian : Masalah yang utama bukan pada emosinya kak


Devina : Lantas apa?


Bian : Kepalanya


Devina : Kepalanya, kepalanya kenapa?


Bian : Keras


Devina : Keras? Maksudmu dia keras kepala?


Bian : Exactly, dia hanya tidak ingin meyakinkan dirinya kalau tunangannya sudah tidak ada. Intinya dia masih belum bisa menerima, tapi jika ini dibiarkan dia akan gila untungnya dia belum sampai ke tahap itu.


Devina : Syukurlah, kakak berharap kau bisa meyakinkan dia bahwa ditinggalkan itu tidak selamanya buruk.


Bian : Tapi.....


Devina : Tapi kenapa?


Bian : Sepertinya akan butuh waktu lama untuk meyakinkan orang yang keras kepala, dia harus merasakan yang namanya Bisa karna biasa. Jadi, hanya waktu yang bisa menjawab kapan dia bisa menerima kenyataan.


Devina : Kakak doakan semoga cepat.


Bian : Iya kak harus cepat, kau juga harus cepat ke Jakarta. Agar aku tidak pusing menghadapinya. Sepertinya dia cocok menjadi pasienmu ada kemiripan diantara kalian.


Devina : Mirip? Apanya yang mirip?


Bian : Keras kepalanya hahaha


Devina : Awas kau ya, baiklah kakak harus membantu kakak iparmu. Jaga kesehatan ya adikku bye.


Bian : Iya, tapi berapa lama lagi kau di Bali kak?


tut...tut....tut....


Woaaaaaah.......kakakku sungguh luar biasa


Tiba-tiba handphone Bian bergetar tanda ada panggilan masuk.


Percakapan di telfon


Samara : Hallo


Bian : Hallo bu


Samara : Anakku kau datang ke pernikahan kakakmu, kau bilang tidak akan datang


Bian : Maaf bu, tadinya aku tidak mau datang. Tapi aku tidak tega mendengar kakak menangis di telfon. Jadi aku memutuskan untuk datang.


Samara : Apa menangis?


Bian : Lagipula disana aku tidak bertemu dengan dia, ternyata dia menghindariku juga bu. Kakak bilang dia sudah pergi sebelum aku datang.


Samara : Hm....pasti ibumu malu bertemu denganmu, dia juga tidak ingin kau bertemu dengan suami barunya. Mungkin dia takut terjadi sesuatu.


Bian : Apa aku seburuk itu dimatanya


Samara : Maaf sayang, sepertinya begitu. Kau tidak usah bersedih masih ada ibu kan. Ibu sangat merindukanmu, jika ibu tau kau akan datang ibu pasti datang nak. Ibu akan membatalkan perjalanan bisnis ibu.


Bian : Maafkan aku bu


Samara : it's ok sayang yang terpenting kau bahagia


Bian : Terimakasih bu, Bu nanti aku hubungi lagi ada telfon masuk.


Samara : Baiklah sayang jaga kesehatanmu ya, ibu sayang padamu


Bian : Iya bu, ibu juga.


_ _ _


Yura : halo Bian ini aku Yura, tolong aku Liza pingsan


Bian : Apa?