
Kini Renz dihadapkan dengan situasi yang tidak dia inginkan, enam senapan di arahkan ke dirinya dan bersiap untuk menembaknya kapan saja, tetapi senapan tersebut terlihat sangat asing di matanya
Senapan tersebut terlihat seperti sangat modern dan sangat canggih dengan sinar merah menyinari senjata tersebut, modelnya mirip senapan Bizon namun dengan scope yang keluar secara otomatis.
“Siapa kau? Dan kenapa bisa berada disini?” Tanya salah satu pria yang mengarahkan senjata ke arah Renz
“Aku tidak tahu, tolong jangan menembakku dengan senapan itu” Ucap Renz dengan sangat tenang untuk membuat orang yang mengarahkan senjata percaya kepadanya
“Turunkan senjata kalian” Ucap seseorang yang baru saja bertanya kepada Renz memerintah teman temannya untuk menurunkan senjatanya dari arah Renz
“Baiklah, berapa umurmu?” Tanya salah satu orang tersebut
“delapan belas” Ucap Renz sambil terus memperhatikan pakaian dari orang orang tersebut yang sangat modern, yaitu jaket dengan banyak saku dan tulisan ditambah mereka semua memakai masker yang dapat terbuka dan tertutup dengan sendirinya. Pakaian mereka terlihat sangat asing di mata Renz
“Baiklah nak, namaku Zon Dengar tempat ini sangat tidak aman sebaiknya kau ikut kami dan akan kami jelaskan semua yang terjadi. Begitu pula kau harus menjelaskan tentang dirimu kepada kami” Ucap orang tersebut sambil memegang Pundak Renz dan melirik salah satu temanya untuk memberi Renz sebuah makanan kaleng
“Makanlah, aku yakin kau belum makan sangat lama”
“Terima kasih, akan kumakan nanti”
“Baiklah ayo kita pergi dari sini”
Mereka berenam pun pergi dengan Renz mengikuti di belakang, Renz kini masih memperhatikan makanan kalengnya yang sangat aneh karena disana tertulis daging ikan, namun saat Renz mencium baunya tidak seperti sebuah ikan.
Setelah berjalan cukup lama mereka akhirnya menemukan sebuah cahaya terang yang menunjukan bahwa itu jalan keluar dari hutanm tersebut.
“Baiklah ini dia jalan keluarnya” Ucap pria bernama Zon yang Bersama Renz memberi tahu jalan keluarnya
-Akhirnya aku akan mengetahui ada apa dengan dunia ini sebenarnya. Batin Renz
Saat harapan sudah muncul di hadapan Renz terdapat sebuah kejadian yang datang kepadanya tanpa ia duga.
“Akhhh!!!” Teriak salah satu pria yang sedang berjalan Bersama Renz
Renz pun mengarahkan kepalanya ke arah pria tersebut dan melihat orang tersebut sudah penuh dengan darah dan di bagian leher nya sudah terbuka seperti terkena tebasan oleh sebuah pedang yang sangat tajam, orang tersebut langsung mati begitu saja dalam sekejap.
“Bersiap semuanya ada serangan!!!” Teriak Zon memperingatkan teman-temannya
“Angkat senjata kalia-“ Ucapan salah satu laki laki yang berada di samping kanan Renz terhenti karena ia pun terbunuh dengan cepat namun kali ini pria tersebut di tusuk di bagian perut.
Renz pun Kembali ketakutan dan kebingungan akibat banyaknya pembunuhan tanpa penjelasan di sekitarnya, karena orang yang membunuh orang di sekitarnya masih belum terlihat karena situasi di dalam hutan kini cukup gelap akibat banyaknya pepohonan yang sangat lebat dan tinggi menutupi sinar matahari
Renz pun berusaha untuk mengambil salah satu senjata yang dijatuhkan oleh laki laki yang berada di sampingnya, namun ia merasakan gigitan yang sangat cepat di lengan kananya dan tangan kanan dari Renz putus begitu saja.
“Aaaakhhhhh….!!!!!” Teriak Renz yang sangat keras akibat tangannya yang putus dan terjatuh ke tanah begitu saja karena digigit oleh hewan yang menyerupai seekor anjing berwarna putih dengan bola mata merah menyala dan anjing tersebut memiliki dua kepala.
Tetapi disaat anjing tersebut ingin Kembali menyerang Renz, perempuan berambut putih membunuh anjing tersebut dengan pedangnya dan tidak menyerang Renz
“Sebenarnya siapa yang menyerang kami, berani berani nya kau sialan maju sini kau brengsek!!” Ucap salah satu pria dari empat orang yang masih tersisa.
“Kalian semua menghalangi tujuanku saja, baiklah akan kubiarkan kalian mati dengan melihat wajahku” Terdengar sebuah suara seorang yang berbicara dari kegelapan di dalam hutan yang perlahan mulai terdengar semakin jelas.
Dari kegelapan tersebut pun akhirnya keluar seorang perempuan yang sangat cantik dengan rambut berwarna putih menggunakan jaket abu abu dengan banyak sekali tulisan abstrak di jaketnya
Menggunakan celana panjang berwarna hitam yang terdapat sedikit bercak darah seperti habis diinjak olehnya, perempuan tersebut membawa sebuah pedang berwarna merah di tangan kirinya yang sudah penuh dengan darah.
“SIapa kau, berani beraninya kau menyerang kami” Ucap Zon yang kini mulai ketakutan melihat perempuan tersebut sambil mengarahkan senjatanya dengan sangat grogi ke perempuan tersebut.
“Inilah yang aku rasakan disaat kalian semua menghancurkan keluargaku” Ucap perempuan tersebut yang tidak dapat dimengerti oleh satu orang pun yang ada disana.
“Apa yang kau ucapkan? Aku akan membunuhmu disini sekarang juga” Ucap pria yang berada di samping Zon mulai menarik pelatuk senapannya dan mulai menembak perempuan tersebut, senjata tersebut mengeluarkan sebuah peluru seperti pada umumnya namun peluru tersebut bercahaya layaknya sebuah laser dan berjalan dengan sangat cepat sekali.
Namun perempuan tersebut menghindari peluru tersebut dengan melompat kesamping sangat cepat hampir tidak bisa dikejar oleh peluru senapan tersebut.
“Gerakannya terlihat tidak seperti manusia normal, perempuan ini bukan orang biasa berhati hatilah semuanya” Ucap Zon memperingati ketiga temannya yang kini sedang berada di sampingnya
“Akhh…..!!!!!” Teriakan kembali terdengar dari salah satu teman Zon yang kini sudah tertusuk di bagian leher oleh perempuan tersebut, perempuan tersebut langsung mengarahkan pedangnya ke wajah Zon dengan cepat, tepat setelah menusuk bagian leher teman Zon yang berada disampingnya
Namun reflek Zon cukup cepat, ia dapat menahan pedang tersebut menggunakan senjata yang sedang ia pegang, kini senjata milik Zon berlubang dan tangan kanan dari Zon yang sedang memegang senjata tersebut pun di tendang oleh perempuan tersebut
Tendangan tersebut menyebabkan senjata milik Zon terjatuh dan kini ia tidak memegang apapun, pedang Kembali diayunkan oleh perempuan tersebut ke arah mata Zon, namun Zon menahannya dengan telapak tangan kiri miliknya hingga berlubang akibat tusukan pedang tersebut.
“Aghhhh…!!!” Teriak Zon yang sangat kesakitan hingga ia menunduk dan meringis kesakitan
Perempuan tersebut pun ingin menebas kepala Zon dengan cepat namun teradapat dua peluru yang menuju arahnya, perempuan tersebut meloncat dan menghindari peluru tersebut sambil berlari menuju orang yang menembakan senjata ke arahnya.
Dada dari salah satu orang yang menembakkan senjata tersebut kini sudah tertusuk oleh perempuan tersebut yang datang sangat cepat menuju arahnya.
Suara tembakan Kembali terdengar dan peluru mulai menuju Kembali ke arah perempuan tersebut, kini peluru tersebut di tangkis begitu saja menggunakan pedangnya.
“Apa? Mustahil dia dapat memotong peluru tersebut” Ucap pria terakhir yang masih berdiri di sana, ia terus terusan berusaha untuk menembakkan pelurunya ke arah perempuan tersebut namun perempuan tersebut Kembali memotong peluru yang datang ke arahnya dengan sangat mudah menggunakan pedangnya dan ayunan tangan yang sangat cepat, sambil berlari menuju pria tersebut untuk membunuhnya.