My husband is the Demon King

My husband is the Demon King
3. Makanan dan minuman



setelah membersihkan wajahnya dari air mata, ia keluar dari kamar untuk mencari makanan dan minuman.


ia melihat jam di handphone judulnya dan dilihatnya sudah pukul 12:20 dan yang ia rasakan saat ini adalah kapal yang sudah berjalan.


di sana terdapat sebuah warung ah bukan tetapi seperti kantin yang menyediakan berbagai makanan camilan maupun makanan pokok.


ia berjalan ke arah Kanti tersebut dan membeli beberapa makanan dan minuman untuk di bawa ke kamarnya kembali.


"permisi mbak.." tanya Lily.


"iya mbak ada yang bisa saya bantu" sahut mbak kantinya dengan ramah.


"saya beli ini..dan bla bla bla bla" lumayan banyak karena mungkin Lily pun akan malas untuk keluar kamar.


"semuanya jadi 200 mbak"


"ini" menyerahkan uang ke mbak kantinya


" maaf mbak boleh saya bertanya?"


"iya mbak silahkan"


"sudah dari kapan kapalnya berangkat yaa"


"sudah dari tiga jam yang lalu mbak, bagaimana mbak?"


"ah engk saya tidak tau, karena tadi saya ketiduran di dalam kamar. kalau begitu saya permisi dulu mbak"


"iya mbak silahkan".


Lily hanya tersenyum dan mengambil barang belanjaanya. saat ia melewati dan berpapasan dengan beberapa orang tatapan orang orang itu seperti menginginkan Lily dan seperti akan memakainya.


Lily hanya berjalan dengan menunduk dan terus berjalan fokus pada kamarnya.


namun ia mendengar bisikan dari orang orang itu.


"ah kau benar begitu lezat dan sangat menggoda "


"bagaiman jika kita langsung memangsngny saja hemm dia hanya sendiri dan hanya gadis muda yang lemah"


"heh tahan jaga sikap mu ini bukan dunia kita"


dan bla BLA BLA BLA Lily tak bisa lagi mendengarnya karena jarak dari Lily dan beberapa orang tadi sudah cukup jauh.


Lily masuk kedalam kamarnya dan langsung menguncinya dengan rapat.


"ada apa dengan mereka tadi? mengapa melihatku seperti aku ini adalah makanan yang sangat lezat"


Lily bergidik ngeri dengan tatapan orang orang tadi.


kemudian Lily meletakan barang belanjaanya ke atas meja dan ia duduk di tepi ranjang lalu menikmati camilan yang ia beli tadi dengan santai.


masa bodo dengan tadi, yang terpenting Lily tidak akan membuat masalah dengan orang orang yang ia tidak kenal.


ia terus menikmati camilan dan juga minumnya dengan santai, melihat hamparan lautan yang luas dari jendela kecil yang ada di dalam kamarnya. dan yaa jendela itu tidak bisa di buka sama sekali karena mungkin sudah di desain memang tak bisa di buka.


selesai dengan camilanya Lily merebahkan tubuhnya lagi ke atas ranjang dan melanjutkan tidurnya tadi. yaa karena jika di fikir-fikir pun perjalanan juga masih sangatlah lama kan mengingat ini membutuhkan waktu beberapa hari dan nantinya Lily juga akan menaiki kapal lainya.


sungguh melelahkan sebenarnya tapi ia lakukan karena jika pun Lily tetap berada di kota yang ia tempat saat ini maka ia tak akan bisa menjalani kehidupannya seorang diri tanpa adanya orang tersayang yang ada di kehidupanya.


ia selalu membutuhkan orang yang menyayanginya di saat Lily butuhkan, dan Lily akan selalu membutuhkan keluarga.


Lily tak bisa jika harus terus terbayang kejadian yang menimpa kedua orang tuanya dan ia di tinggalkan dengan cepat.


di dalam matanya yang tertutup itu setetes air lagi keluar tanpa bisa di hentikan. setiap mengingat kejadian kedua orang tuanya Lily pasti akan merasa sangat sedih dan tak bisa melupakannya. ia merasa sangat kesepian tanpa adanya keluarga yang mendampinginya.


dan sekarang ini yang bisa ia lakukan adalah pergi ke kota yang di tepati paman dan bibinya, hanya mereka berdua lah orang yang bisa lily singgahi saat ini dan akan terus seperti itu.


#Vote and comenya 😍😘 kritik dan saran dari kalian itu akan sangat membantu banget buatkuπŸ˜‡πŸ˜Š